Saya tiba terlalu cepat. Hal yang
pertama terlintas di pikiranku begitu mulai melangkahkan kaki masuk ke kawasan
Monumen Nasional dini hari ini. Waktu masih menunjukkan pukul 02.35 WIB.
Meskipun begitu, warga Jakarta terlihat masih ramai menikmati sisa malam minggu
mereka. Beberapa kelompok anak muda tampak santai duduk di pinggiran pagar atau
taman sembari bersenda gurau. Bahkan tampak keluarga sedang berfoto-foto dengan
latar belakang tugu setinggi 132 meter ini. Anak-anak mereka tidak tampak
lelah, bahkan seperti asyik bernyanyi-nyanyi J.
Saya lalu berjalan-jalan di sekitar tugu sambil mencoba melemaskan kaki.
| Tenda-tenda pendukung kegiatan |
Hari minggu ini saya berencana
untuk ikut perhelatan akbar tahun ini, pertama kalinya diselenggarakan di
Indonesia, yaitu Jakarta Marathon 2013. Sebuah kegiatan yang selalu dinanti
oleh para penggiat dan penggemar olahraga lari dan menjawab pertanyaan mampukah
Indonesia memiliki event sekelas
marathon di Boston atau Tokyo. Dan, pagi ini, banyak dari kami, termasuk saya, akhirnya akan “naik
haji” untuk pertama kalinya karena untuk dapat mengikuti lomba lari 42 km,
paling tidak orang Indonesia harus pergi ke Singapura atau Hong Kong bahkan
hingga ke Eropa atau Amerika. Ya, ini adalah lomba marathon pertamaku :)
Hampir pukul 4, saya lalu mendekati
tenda mushola yang sudah disiapkan oleh panitia untuk sholat subuh. Beberapa
peserta sudah mulai tampak berkeliaran. Ada yang sudah mulai memasukkan tas
mereka di area penitipan yang sudah disediakan oleh panitia. Beberapa orang
mulai berfoto-foto dengan latar belakang spanduk atau booth sponsor. Saya lalu bertemu dengan kawan dari Semarang yang
akan ikut lomba di kategori half marathon atau 21 km.
| Bersama dua teman saya dari Semarang Runners |
| Semua sumringah! |
Kurang lebih 1 jam berlalu. Saya
sudah tiba di kilometer 10. Sungguh menyenangkan ternyata. Selain karena
matahari belum tampak utuh dan bersinar dengan teriknya, juga karena jalur 10
km pertama ini melewati tempat-tempat atau bisa dikatakan symbol kota ibukota
yang menjadi tujuan wisata utama. Sebut saja kota tua dengan Museum Fatahillahnya,
passer baru dengan kebudayaan India-Indonesia dan pusat perbelanjaan tertua di
Indoneisa nya. Simbol toleransi beragama seperti Gereja Katedral Jakarta dan Masjid
Istiqlal yang terletak berdampingan pun dilewati. Gedung Filateli Indonesia dan
Gedung Kesenian Jakarta pun tak luput menjadi daya tarik bagi mereka yang baru
pertama kali melewati daerah-daerah ini. Saya pun sibuk mengambil gambar sambil
berlari. Dalam hati saya berkata bahwa akan mengunjungi tempat-tempat ini untuk
jalan-jalan. Tentunya bukan napak tilas dalam bentuk lari sendiri. Setidaknya
tidak dalam waktu dekat ini :D
| Salah seorang peserta melintasi Gereja Katedral Jakarta |
Tanda kilometer 15 mulai terlihat
dari jauh, diikuti dengan tanda pos air minum dan kipas angin J. Tidak berapa lama
kemudian, jalur bersilangan dengan jalur masuk para peserta 10 dan 5 K. Senang
sekali melihat banyak orang yang ikut berlari, berkeringat namun penuh dengan
semangat, lemas tapi puas J
Hingga kilometer 27, saya masih
sibuk mengambil gambar, menikmati lari zig-zag sembari melebarkan tangan
membayangkan seoalh-olah sedang terbang di tanjakan kecil sebelum Jalan Rasuna
Said. Ada beberapa titik dimana komunitas lari memberikan semangat dan juga
busa dengan air dingin yang sungguh sangat menyegarkan, sorak-sorai warga yang
menonton dari tepi jalan serta anak-anak kecil yang menyodorkan telapak tangan
mereka untuk menyambut toss dariku. Hal-hal yang tentu saja memberikan rasa
senang dan semangat untuk terus berlari J
| Peserta ramainyaa |
Hingga masuk di kilometer 28.
Jalur sekitar 2-3 kilometer ini,
kemudian di sosial media, disebut sebagai Jalur Putus Asa. Betapa tidak, cuaca
panas sudah mulai menampakkan dirinya, jalan lurus hampir tanpa penyemangat,
pos air, sungguh sangat menyurutkan semangatku, dan hampir seluruh peserta.
Beberapa orang mulai tampak berjalan di trotoar atau sekedar berhenti untuk
meluruskan kakinya. Saya mulai gelisah. Musik favorit saya, yang mulai saya
pasang di kilometer 27 tadi sudah tidak mampu membangkitkan semangat saya.
| Peserta melewati Masjid Istiqlal |
Belok di kawasan gelora pemuda,
saya mulai bersemangat kembali. Ada pos air dan kipas angin. Saya puaskan untuk
mengguyur kepala dan tubuh saya dengan beberapa gelas air dingin. Sungguh
sangat menyegarkan. Saya lalu mulai berlari lagi dengan senang. Namun tidak
lama.
Di kilometer 30, Jalan Asia
Afrika, jalur mulai tidak steril. Kendaraan bermotor sepertinya dibolehkan
masuk ke jalur lomba. Beberapa peserta di depan saya tetap bertahan berlari di
jalan raya, disela-sela mobil yang melaju, motor yang sliweran diantara mobil.
Saya masih bertahan hingga beberapa puluh meter namun akhirnya mengalah dan
mulai berlari di atas trotoar hingga di depan Plaza Senayan tampak tanda pos
air. Sungguh, rasanya seperti mendengar beduk buka puasa telah tiba J
Masuk ke Jalan Hang Tuah, saya
mulai bersemangat kembali. Tidak ada kendaraan lalu lalang. Banyak pepohonan.
Sejuk. Beberapa petugas polisi tampak memberikan semangat. Disini, saya
memutuskan untuk berjalan sejenak. Masih tersisa waktu sekitar tiga jam sebelum
saya melewati batas waktu tujuh jam yang dibolehkan untuk kategori full
marathon ini. Tidak ada salahnya berjalan sekitar 15 menit, kira-kira begitu
yang saya katakan pada diri saya. Saya mencari pohon dan melakukan stretching untuk
menghibur kaki saya hehehe
Di sekitar kilometer 34, ada
sebuah panggung hiburan yang memainkan lagu-lagu samba. Oh iya, dalam ajang ini,
tidak kurang 17 panggung hiburan disiapkan sepanjang jalur 42 kilometer. Kepada
penampil di panggung sekitar kilometer 34, saya ucapkan terima kasih karena
lagu-lagu mereka sungguh menghibur bahkan membuat saya berputar-putar sejenak
seperti sedang berdansa dan mendapakan high-five dari beberapa orang disekitar
jalan raya hahaha
Jalur Sisingamangaraja ini juga
ada sebuah meja yang disiapkan oleh beberapa orang yang tmapak seperti komunitas
lari atau tim relawan yang juga sepertinya bukan termasuk panitia acara. Mereka
memberikan beraneka macam buah-buahan segar seperti potongan jambu klutuk dan
buah lainnya. Kurang sambel aja bisa bikin rujak nih, gurauku sambil mencomot
beberapa potong buah. Orang-orang ini, saya rekomendasikan masuk surga deh :D
Melewati Bundaran Senayan, masalah baru
muncul. Tapak kaki/forefoot saya mulai berteriak lelah. Nyeri tak tertahankan.
Saya berhenti. Menahan sakit. Di dalam sepatu saya, ujung jari-jari kaki saya
tekuk kedalam seperti sedang mencakar. Bahkan untuk berjalan pun sudah tidak
mampu. Disini, saya menahan sakit dan airmata.
Sebenarnya rasa sakit telapak
kaki mulai terasa sekitar 1-2 kilometer sebelumnya, namun masih bisa saya
tahan. Di kilometer 35 ini, saya seperti ingin menahan ambulans yang tadi saya
lewati sebelumnya. Kembali, saya berjalan sembari menahan rasa sakit. Saya
memang selalu berlari dengan forefoot dan mungkin karena sepatu yang saya
pergunakan sebenarnya adalah sepatu untuk trail atau teknik berlari saya yang
masih perlu terus disempurnakan, saya harus bisa menemukan cara berlari yang
bisa mengurangi rasa sakit dan tidak terkena batas waktu akhir.
Beberapa orang peserta mulai
melewati saya. Beberapa diantaranya memberi semangat untuk terus berlari.
Hingga kemudia saya melihat dari kejauhan penanda kilometer berikutnya dan pos
air. Saya lalu mulai berjalan cepat. Minum, menyiram seluruh tubuh, bisa
meberikan sedikit tenaga untuk terus belari
Melewati halte Karet Transjakarta,
saya kembali berjalan. Hingga patung Jend Sudirman. Entah kenapa, saya mulai
gila atau butuh hiburan, saya berhenti lalu menghadap patung Jend Sudirman. Ayo
semangat Jendral! Kira-kira seperti itu yang saya katakana hingga saya lalu
mulai berlari dengan target 10 menit per kilometer. Hinga setidaknya saya bisa
tiba tepat pukul 11 siang. Saya mulai berlari kecil dengan mendaratkan tumit
terlebih dahulu untuk mengurangi rasa sakit tapak kaki depan saya.
Hingga kemudian saya tiba di
bundaran air mancur kereta di depan monas, saya mulai bersemangat, mengeluarkan
kamera dan menyalakan mode video. Sejak kilometer 28 kamera saya sudah masukkan
ke tas pinggang karena “tersiksa” oleh Jalur Putus Asa itu J. Beberapa peserta yang
sudah finish terlebih dahulu, entah dari kategori half marathon atau full
marathon berdiri di tepi jalan memberikan semangat dan sekali lagi, menyodorkan
tapak tangan mereka dan saya menyambutnya dengan terharu. Disini, air mata saya
hampir jatuh karena terharu mendengar MC berkata untuk terus memberikan
apresiasi bagi peserta yang sudah mulai berlari sejak pukul 5 pagi ini. Tangan
kiri saya seketika mengepal dan saya seperti mendapatkan tenaga baru, entah
kenapa, saya bisa berlari sedikit lebih cepat.
| Komunitas IndoRunners |
Medali finisher yang dikalungkan
tidak saya pedulikan. Perasaan saya sudah bercampur aduk dengan rasa letih,
puas dan sakit. Saya ingin duduk saja. Saya seperti masih berlari.
Tidak berapa lama saya lalu
berjalan terus hingga ke bagian penitipan tas. Setelah mengambil tas, berjalan
perlahan, saya baru seperti tersadar bahwa lomba ini sudah usai. Banyak orang
berkeliaran dengan medali di leher mereka. Obrolan bahagia. Ucapan selamat dari
sesamanya. Raut wajah bahagia dan letih bercampur jadi satu. Dan entah kenapa, tiba-tiba. air
mata saya mengalir deras. Perasaan saya membuncah. Bercampur aduk. Saya berhasil
melakukannya. Saya tidak menyerah hingga garis finish. Ujung topi merah saya
yang masih basah oleh guyuran air saya turunkan agar tidak terlihat oleh orang
lain bahwa saya sedang menangis. Bukan terisak-isak, tetapi menangis deras. Bergejolak seperti rasa senang di dalam hati saya sekarang.
I did it. Yes, I did it. Saya
hampir menyerah di kilometer 35. Tapi saya tidak. I dit it. Berulang-ulang
kalimat itu kuucapkan disela-sela airmata yang terus keluar mengalir. Ingus
yang juga tidak mau kalah J. Siang ini, di kilometer 42, saya kehilangan "keperjakaan" :D
![]() |
| Akhirnya bisa punya satu :) |


No comments:
Post a Comment