Monday, October 28, 2013

Hilang Perjaka di Kilometer 42 :)

Saya tiba terlalu cepat. Hal yang pertama terlintas di pikiranku begitu mulai melangkahkan kaki masuk ke kawasan Monumen Nasional dini hari ini. Waktu masih menunjukkan pukul 02.35 WIB. Meskipun begitu, warga Jakarta terlihat masih ramai menikmati sisa malam minggu mereka. Beberapa kelompok anak muda tampak santai duduk di pinggiran pagar atau taman sembari bersenda gurau. Bahkan tampak keluarga sedang berfoto-foto dengan latar belakang tugu setinggi 132 meter ini. Anak-anak mereka tidak tampak lelah, bahkan seperti asyik bernyanyi-nyanyi J. Saya lalu berjalan-jalan di sekitar tugu sambil mencoba melemaskan kaki.
Tenda-tenda pendukung kegiatan

Hari minggu ini saya berencana untuk ikut perhelatan akbar tahun ini, pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia, yaitu Jakarta Marathon 2013. Sebuah kegiatan yang selalu dinanti oleh para penggiat dan penggemar olahraga lari dan menjawab pertanyaan mampukah Indonesia memiliki event sekelas marathon di Boston atau Tokyo. Dan, pagi ini, banyak dari kami, termasuk saya, akhirnya akan “naik haji” untuk pertama kalinya karena untuk dapat mengikuti lomba lari 42 km, paling tidak orang Indonesia harus pergi ke Singapura atau Hong Kong bahkan hingga ke Eropa atau Amerika. Ya, ini adalah lomba marathon pertamaku :)

Hampir pukul 4, saya lalu mendekati tenda mushola yang sudah disiapkan oleh panitia untuk sholat subuh. Beberapa peserta sudah mulai tampak berkeliaran. Ada yang sudah mulai memasukkan tas mereka di area penitipan yang sudah disediakan oleh panitia. Beberapa orang mulai berfoto-foto dengan latar belakang spanduk atau booth sponsor. Saya lalu bertemu dengan kawan dari Semarang yang akan ikut lomba di kategori half marathon atau 21 km.
Mendekati waktu perlombaan dimulai, saya dan kawan saya mulai mendekati titik start. Aura gembira pun mulai terasa. Orang-orang ramai bersenda gurau, menyapa teman-teman mereka, ngobrol tentang “kamu ikut kategori apa?” atau “wah gw ikut yang full dong, ini kan yang pertama!” dan banyak lagi obrolan menyenangkan lainnya. Semua orang seperti sudah lupa tentang betapa susahnya mendapatkan race package dua hari sebelumnya dimana hampir semua media sosial mengutuk panitia atas kurangnya persiapan mereka. Semua, pagi ini, berkumpul untuk bersenang-senang J.

Bersama dua teman saya dari Semarang Runners
Pukul 5. Lomba dimulai. Peserta bersorak sorai dan bertepuk tangan. Peserta elit dunia sudah melesat cepat. Sedangkan peserta hura-hura seperti saya masih sibuk memotret kiri-kanan hihihi.

Semua sumringah!

Kurang lebih 1 jam berlalu. Saya sudah tiba di kilometer 10. Sungguh menyenangkan ternyata. Selain karena matahari belum tampak utuh dan bersinar dengan teriknya, juga karena jalur 10 km pertama ini melewati tempat-tempat atau bisa dikatakan symbol kota ibukota yang menjadi tujuan wisata utama. Sebut saja kota tua dengan Museum Fatahillahnya, passer baru dengan kebudayaan India-Indonesia dan pusat perbelanjaan tertua di Indoneisa nya. Simbol toleransi beragama seperti Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal yang terletak berdampingan pun dilewati. Gedung Filateli Indonesia dan Gedung Kesenian Jakarta pun tak luput menjadi daya tarik bagi mereka yang baru pertama kali melewati daerah-daerah ini. Saya pun sibuk mengambil gambar sambil berlari. Dalam hati saya berkata bahwa akan mengunjungi tempat-tempat ini untuk jalan-jalan. Tentunya bukan napak tilas dalam bentuk lari sendiri. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini :D

Salah seorang peserta melintasi Gereja Katedral Jakarta

Tanda kilometer 15 mulai terlihat dari jauh, diikuti dengan tanda pos air minum dan kipas angin J. Tidak berapa lama kemudian, jalur bersilangan dengan jalur masuk para peserta 10 dan 5 K. Senang sekali melihat banyak orang yang ikut berlari, berkeringat namun penuh dengan semangat, lemas tapi puas J

Hingga kilometer 27, saya masih sibuk mengambil gambar, menikmati lari zig-zag sembari melebarkan tangan membayangkan seoalh-olah sedang terbang di tanjakan kecil sebelum Jalan Rasuna Said. Ada beberapa titik dimana komunitas lari memberikan semangat dan juga busa dengan air dingin yang sungguh sangat menyegarkan, sorak-sorai warga yang menonton dari tepi jalan serta anak-anak kecil yang menyodorkan telapak tangan mereka untuk menyambut toss dariku. Hal-hal yang tentu saja memberikan rasa senang dan semangat untuk terus berlari J

Peserta ramainyaa


Hingga masuk di kilometer 28.

Jalur sekitar 2-3 kilometer ini, kemudian di sosial media, disebut sebagai Jalur Putus Asa. Betapa tidak, cuaca panas sudah mulai menampakkan dirinya, jalan lurus hampir tanpa penyemangat, pos air, sungguh sangat menyurutkan semangatku, dan hampir seluruh peserta. Beberapa orang mulai tampak berjalan di trotoar atau sekedar berhenti untuk meluruskan kakinya. Saya mulai gelisah. Musik favorit saya, yang mulai saya pasang di kilometer 27 tadi sudah tidak mampu membangkitkan semangat saya.

Peserta melewati Masjid Istiqlal


Belok di kawasan gelora pemuda, saya mulai bersemangat kembali. Ada pos air dan kipas angin. Saya puaskan untuk mengguyur kepala dan tubuh saya dengan beberapa gelas air dingin. Sungguh sangat menyegarkan. Saya lalu mulai berlari lagi dengan senang. Namun tidak lama.

Di kilometer 30, Jalan Asia Afrika, jalur mulai tidak steril. Kendaraan bermotor sepertinya dibolehkan masuk ke jalur lomba. Beberapa peserta di depan saya tetap bertahan berlari di jalan raya, disela-sela mobil yang melaju, motor yang sliweran diantara mobil. Saya masih bertahan hingga beberapa puluh meter namun akhirnya mengalah dan mulai berlari di atas trotoar hingga di depan Plaza Senayan tampak tanda pos air. Sungguh, rasanya seperti mendengar beduk buka puasa telah tiba J

Masuk ke Jalan Hang Tuah, saya mulai bersemangat kembali. Tidak ada kendaraan lalu lalang. Banyak pepohonan. Sejuk. Beberapa petugas polisi tampak memberikan semangat. Disini, saya memutuskan untuk berjalan sejenak. Masih tersisa waktu sekitar tiga jam sebelum saya melewati batas waktu tujuh jam yang dibolehkan untuk kategori full marathon ini. Tidak ada salahnya berjalan sekitar 15 menit, kira-kira begitu yang saya katakan pada diri saya. Saya mencari pohon dan melakukan stretching untuk menghibur kaki saya hehehe

Di sekitar kilometer 34, ada sebuah panggung hiburan yang memainkan lagu-lagu samba. Oh iya, dalam ajang ini, tidak kurang 17 panggung hiburan disiapkan sepanjang jalur 42 kilometer. Kepada penampil di panggung sekitar kilometer 34, saya ucapkan terima kasih karena lagu-lagu mereka sungguh menghibur bahkan membuat saya berputar-putar sejenak seperti sedang berdansa dan mendapakan high-five dari beberapa orang disekitar jalan raya hahaha

Jalur Sisingamangaraja ini juga ada sebuah meja yang disiapkan oleh beberapa orang yang tmapak seperti komunitas lari atau tim relawan yang juga sepertinya bukan termasuk panitia acara. Mereka memberikan beraneka macam buah-buahan segar seperti potongan jambu klutuk dan buah lainnya. Kurang sambel aja bisa bikin rujak nih, gurauku sambil mencomot beberapa potong buah. Orang-orang ini, saya rekomendasikan masuk surga deh :D

 Melewati Bundaran Senayan, masalah baru muncul. Tapak kaki/forefoot saya mulai berteriak lelah. Nyeri tak tertahankan. Saya berhenti. Menahan sakit. Di dalam sepatu saya, ujung jari-jari kaki saya tekuk kedalam seperti sedang mencakar. Bahkan untuk berjalan pun sudah tidak mampu. Disini, saya menahan sakit dan airmata.

Sebenarnya rasa sakit telapak kaki mulai terasa sekitar 1-2 kilometer sebelumnya, namun masih bisa saya tahan. Di kilometer 35 ini, saya seperti ingin menahan ambulans yang tadi saya lewati sebelumnya. Kembali, saya berjalan sembari menahan rasa sakit. Saya memang selalu berlari dengan forefoot dan mungkin karena sepatu yang saya pergunakan sebenarnya adalah sepatu untuk trail atau teknik berlari saya yang masih perlu terus disempurnakan, saya harus bisa menemukan cara berlari yang bisa mengurangi rasa sakit dan tidak terkena batas waktu akhir.

Beberapa orang peserta mulai melewati saya. Beberapa diantaranya memberi semangat untuk terus berlari. Hingga kemudia saya melihat dari kejauhan penanda kilometer berikutnya dan pos air. Saya lalu mulai berjalan cepat. Minum, menyiram seluruh tubuh, bisa meberikan sedikit tenaga untuk terus belari

Melewati halte Karet Transjakarta, saya kembali berjalan. Hingga patung Jend Sudirman. Entah kenapa, saya mulai gila atau butuh hiburan, saya berhenti lalu menghadap patung Jend Sudirman. Ayo semangat Jendral! Kira-kira seperti itu yang saya katakana hingga saya lalu mulai berlari dengan target 10 menit per kilometer. Hinga setidaknya saya bisa tiba tepat pukul 11 siang. Saya mulai berlari kecil dengan mendaratkan tumit terlebih dahulu untuk mengurangi rasa sakit tapak kaki depan saya.

Hingga kemudian saya tiba di bundaran air mancur kereta di depan monas, saya mulai bersemangat, mengeluarkan kamera dan menyalakan mode video. Sejak kilometer 28 kamera saya sudah masukkan ke tas pinggang karena “tersiksa” oleh Jalur Putus Asa itu J. Beberapa peserta yang sudah finish terlebih dahulu, entah dari kategori half marathon atau full marathon berdiri di tepi jalan memberikan semangat dan sekali lagi, menyodorkan tapak tangan mereka dan saya menyambutnya dengan terharu. Disini, air mata saya hampir jatuh karena terharu mendengar MC berkata untuk terus memberikan apresiasi bagi peserta yang sudah mulai berlari sejak pukul 5 pagi ini. Tangan kiri saya seketika mengepal dan saya seperti mendapatkan tenaga baru, entah kenapa, saya bisa berlari sedikit lebih cepat.

Komunitas IndoRunners
Gerbang finish mulai terlihat. Beberapa kawan saya dari komunitas Semarang Runners yang ikut di berbagai kategori lainnya sudah berdiri disamping kiri memberikan semangat. Dan, mereka lalu ikut berlari bersama hingga kemudian saya masuk ke garis finish.

Medali finisher yang dikalungkan tidak saya pedulikan. Perasaan saya sudah bercampur aduk dengan rasa letih, puas dan sakit. Saya ingin duduk saja. Saya seperti masih berlari.

Tidak berapa lama saya lalu berjalan terus hingga ke bagian penitipan tas. Setelah mengambil tas, berjalan perlahan, saya baru seperti tersadar bahwa lomba ini sudah usai. Banyak orang berkeliaran dengan medali di leher mereka. Obrolan bahagia. Ucapan selamat dari sesamanya. Raut wajah bahagia dan letih bercampur jadi satu. Dan entah kenapa, tiba-tiba. air mata saya mengalir deras. Perasaan saya membuncah. Bercampur aduk. Saya berhasil melakukannya. Saya tidak menyerah hingga garis finish. Ujung topi merah saya yang masih basah oleh guyuran air saya turunkan agar tidak terlihat oleh orang lain bahwa saya sedang menangis. Bukan terisak-isak, tetapi menangis deras. Bergejolak seperti rasa senang di dalam hati saya sekarang.

I did it. Yes, I did it. Saya hampir menyerah di kilometer 35. Tapi saya tidak. I dit it. Berulang-ulang kalimat itu kuucapkan disela-sela airmata yang terus keluar mengalir. Ingus yang juga tidak mau kalah J. Siang ini, di kilometer 42, saya kehilangan "keperjakaan" :D

Akhirnya bisa punya satu :)
I did it J


Peta jalur Jakarta Marathon 2013






No comments:

Post a Comment