Saturday, December 14, 2013

Trail Running - curhat galau.

Coba ketik kata trail running di mesin pencari internet, yang muncul adalah berbagai informasi dan foto tentang lomba lari lintas gunung, begitu terjemahan bebas saya. Lomba yang biasanya dilakukan di berbagai gunung di dunia dengan jarak dan tingkatan yang berbeda-beda. 

Di Indonesia, lomba lari gunung ini sudah dilakukan beberapa kali seperti di Gunung Gede Pangrango, Bromo Tengger Semeru atau Rinjani. Dua lomba terakhir dikategorikan sebagai ultra yaitu menempuh jarak diatas 55 kilometer! 


Tuesday, December 3, 2013

Mendaki Gunung Rinjani (5)

Malam pun tiba.

Gunung Baru Jari sesekali mengeluarkan lava pijar yang sungguh sangat cantik dipandang di kondisi gelap gulita seperti di tepi danau ini. Sebelum mengeluarkan lava tersebut, gunung berbentuk kerucut dan seperti topi petani ini bergemuruh seperti gempa. Kami sedikit merasakan gonangan kecil tersebut. 
Lava merah mengalir

Malam itu tidur kami sangat lelap. Mungkin karena makan layak hahaha sudah disiapkan oleh mas porter. Oh iya, malam itu ketika dua kawan saya tertidur lelap, mas porter mengajak saya untuk berburu ikan di sisi selatan danau. Tekniknya adalah menyorotkan lampu ke permukaan air, ikan datang karena tertarik cahaya dan boom! Parangnya dihantamkan ke ikan tersebut :) 


Mendaki Gunung Rinjani (4)

Saya memang tidak berhasil mencapai puncak Rinjani. Namun, saya belajar satu hal lagi disini. Bahwa mendaki gunung, bagi beberapa orang seperti saya, bukan hanya perkara mencapai puncaknya namun juga bagaimana memberi rasa senang kepada hati kita. Jangan pernah menyesal bila tidak mampu mencapai puncaknya. Bila bisa berada di gunung saja sudah membuatmu senang, itu sudah :) Mencapai puncak adalah nilai tambahnya :)

Pagi itu, karena kemarin kami banyak makan selama perjalanan, logistik kami sudah mulai menipis. Kami perkirakan hingga tiga malam kedepan, bisa-bisa kami harus berburu dan meramu seperti masa presejarah dulu hehehe. Lalu keputusan besar hadir. Kami menyetop rombongan yang akan turun dan bermaksud meminta sisa logistik mereka. Kalau perlu, kami beli hihihi. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada satu orang porter yang bermaksud turun setelah mengantarkan tamunya. Setelah kami cegat, porter itu kami beri uang untuk dibelanjakan logistik bagi kami tiga hari ke depan sekaligus kami tawarkan untuk menjadi porter kami hahaha. Rupanya dia bersedia dan berjanji akan menyusul kami keesokan harinya di danau. Malam ini dia ingin beristirahat dulu di rumahnya setelah beberapa hari di gunung. Sepertinya, hanya di gunung tempatnya kita memegang janji. Hampir bisa saya pastikan bahwa kalau di kota besar, begitu pegang uang, susah mendapat jaminan hanya dengan omongan seperti itu :)


Mendaki Gunung Rinjani (3)

Sepanjang perjalanan mendaki, yang membuat saya dan Isnu semakin lama adalah kami beberapa kali berhenti untuk memasak hahaha. Entah sekedar menikmati kopi atau teh panas hingga roti bakar atau mi instan telur. Sungguh, pendaki semena-mena. Konsekuensinya, saya harus bongkar pasang isi ransel :) 

Setiap ada kesempatan, memasak
Malam itu, saya mengalami keadaan yang tidak menyenangkan. Karena hujan deras sepanjang perjalanan, saya mendaki menggunakan jaket anti air. Hingga hujan reda, jaket tersebut tidak saya lepaskan karena sudah terlalu lelah. Tiba di ujung jalur pendakian pertigaan sebelum ke Danau Segara Anak dan sebelum masuk ke kawasan perkemahan Plawangan Sembalun, saya berhenti dan menunggu Isnu yang masih berada di kawasan hutan. Lampu senter saya mainkan menunggu signal jawaban dari Isnu. Disini kesalahan fatal saya lakukan.

Mendaki Gunung Rinjani (2)

Perjalanan menuju Sembalun ternyata cukup menyenangkan. Menyisir pulau sebelah timur, melewati hutan rimbun sungguh menyenangkan hati sekaligus mendebarkan jantung. Tanjakan curam dan kondisi jalan yang kurang baik sungguh perpaduan yang pas :) Biasanya , bila sedang dalam perjalanan di suatu daerah baru, saya akan betah untuk melamun dan memperhatikan apa saja dari balik kaca mobil. Membaca tulisan yang tertera di iklan atau papan penanda wilayah. Namun, kali ini saya puaskan untuk tidur :)

Pos Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani  

Isnu sedang mendengarkan penjelasan dari salah satu anggota TNI
yang sedang berada di kantor TNGR

Sekitar siang hari kami tiba di posko pendakian. Setelah melapor dan mendapatkan penjelasan tentang jalur dan kondisi terbaru dari petugas Taman Nasional, kami lalu menikmati suasana yang cukup cerah. Ransel kami letakkan di salah satu ruangan yang nantinya akan kami pergunakan sebagai tempat tidur kami malam ini sampai besok pagi mulai mendaki. 

Hingga sore menjelang, ada beberapa orang pendaki juga yang mulai tampak berdatangan. Pasangan muda dari Jakarta dan satu tim keluarga dengan anak perempuan mereka berumur sekitar 12 tahun yang rencananya akan diajak mendaki besok pagi :)

Malam itu, kami akhirnya merasakan dinginnya udara pegunungan setelah sekian lama bergelut dengan cuaca panasnya kota Jogjakarta dan Semarang. Dan tidur saya pun tidak nyenyak karena seharian tadi sudah menghabiskan waktu dengan banyak tidur di perjalanan. Kawan saya dan adiknya sudah molor entah sejak jam berapa tadi. 

Suasana disekitar posko ini cukup lengang meskipun sebenarnya ada perkampungan warga. Namun siapa yang tertarik duduk di berugak malam-malam di udara dingin seperti ini? Mending di dalam rumah yang hangat haha

Mendaki Gunung Rinjani

Ketika salah satu kawan baik saya mengajak untuk menutup tahun 2009 di Gunung Rinjani, saya tidak berpikir dua kali. Segera setelah mengambil libur akhir tahun, saya lalu mencari tahu dan mulai membaca ulasan tentang jalur pendakian yang banyak sekali ditemukan di internet. Tidak lupa mencari tahu transportasi darat dari Jogjakarta menuju ke Sembalun. Ya, kami putuskan untuk naik melalui jalur Sembalun dan turun di Senaru agar bisa pulang lewat pantai Senggigi yang terkenal hingga ke mancanegara itu :)

Kala itu, setahun penuh, saya nyaris tidak pernah berolahraga. Pekerjaan saya benar-benar membuat saya menjadi pemalas yang hanya hidup dari kenangan cerita-cerita pendakian gunung masa kuliah. Saya merasa masih kuat hanya dengan membayangkan jalur-jalur yang dulu kami libas dengan santainya. Bahkan sebulan rencana pendakian Rinjani ini, saya masih juga tidak menyiapkan waktu untuk berlatih fisik. Saya benar-benar hanya bermodalkan semangat, rasa senang bertamu ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan naik gunung! Hanya kata naik gunung yang benar-benar membuat saya senang! Namun, di kemudian hari, ketika sudah di gunung, penyesalan saya tentang tidak pernah berolahraga membayangi hingga berhari-hari :D

Sunday, December 1, 2013

Masai

Masai adalah nama yang kuberikan pada boneka singa berukuran gantungan kunci ini. Bonek yang diberikan oleh beberapa orang kawan saya sewaktu kami masih tinggal di Jogja. Sebenarnya, mereka memberikan boneka singa itu secara tidak sengaja. Sejatinya, mereka sedang berada di sebuah toko boneka untuk mencarikan hadiah ulang tahun bagi kawan saya yang lain, namun, tampang singa kusut itu seperti mengingatkan mereka tentangku, jadilah singa berambut kusut berwarna coklat itu dibelikan juga untukku.

Hingga kini, lima tahun lebih, si masai ini sudah menemaniku dalam berbagai perjalanan. Ke Gunung Ungaran,  Dataran Tinggi Dieng bahkan hingga ke Gunung Rinjani. 

Masai di jalur pendakian gunung Rinjani
 Saya ingat dulu ketika masih kuliah, ada kawan saya dari NTT. Tinggi, berambut gondrong, dan berkulit hitam. Bila sedang diam, tatapan wajahnya akan membuat anak kecil yang sedang rewel pasti duduk diam. Namun, setiap kali kami mendaki gunung, kawan saya ini akan selalu membawa boneka monyet berukuran telapak tangan dewasa. Muka rambo hati rinto, saya menyebutnya. 

Tidak ada yang istimewa dari si masai ini. Rambutnya semakin kusut. Kulit coklatnya sudah lusuh entah oleh tanah atau kotoran dari bis ekonomi. Kadang kalau lupa, si masai aku gantung di ritsleting ransel sampe tergencet-gencet di tumpukan bagasi :)) .   

memandang Gunung Sindoro dari Bukit Sikunir

duduk menyendiri di tepi danau Segara Anak di Gunung Rinjani
memancing ikan sama pak dhe Isnu di danau Segara Anak