Saturday, December 14, 2013

Trail Running - curhat galau.

Coba ketik kata trail running di mesin pencari internet, yang muncul adalah berbagai informasi dan foto tentang lomba lari lintas gunung, begitu terjemahan bebas saya. Lomba yang biasanya dilakukan di berbagai gunung di dunia dengan jarak dan tingkatan yang berbeda-beda. 

Di Indonesia, lomba lari gunung ini sudah dilakukan beberapa kali seperti di Gunung Gede Pangrango, Bromo Tengger Semeru atau Rinjani. Dua lomba terakhir dikategorikan sebagai ultra yaitu menempuh jarak diatas 55 kilometer! 


Tuesday, December 3, 2013

Mendaki Gunung Rinjani (5)

Malam pun tiba.

Gunung Baru Jari sesekali mengeluarkan lava pijar yang sungguh sangat cantik dipandang di kondisi gelap gulita seperti di tepi danau ini. Sebelum mengeluarkan lava tersebut, gunung berbentuk kerucut dan seperti topi petani ini bergemuruh seperti gempa. Kami sedikit merasakan gonangan kecil tersebut. 
Lava merah mengalir

Malam itu tidur kami sangat lelap. Mungkin karena makan layak hahaha sudah disiapkan oleh mas porter. Oh iya, malam itu ketika dua kawan saya tertidur lelap, mas porter mengajak saya untuk berburu ikan di sisi selatan danau. Tekniknya adalah menyorotkan lampu ke permukaan air, ikan datang karena tertarik cahaya dan boom! Parangnya dihantamkan ke ikan tersebut :) 


Mendaki Gunung Rinjani (4)

Saya memang tidak berhasil mencapai puncak Rinjani. Namun, saya belajar satu hal lagi disini. Bahwa mendaki gunung, bagi beberapa orang seperti saya, bukan hanya perkara mencapai puncaknya namun juga bagaimana memberi rasa senang kepada hati kita. Jangan pernah menyesal bila tidak mampu mencapai puncaknya. Bila bisa berada di gunung saja sudah membuatmu senang, itu sudah :) Mencapai puncak adalah nilai tambahnya :)

Pagi itu, karena kemarin kami banyak makan selama perjalanan, logistik kami sudah mulai menipis. Kami perkirakan hingga tiga malam kedepan, bisa-bisa kami harus berburu dan meramu seperti masa presejarah dulu hehehe. Lalu keputusan besar hadir. Kami menyetop rombongan yang akan turun dan bermaksud meminta sisa logistik mereka. Kalau perlu, kami beli hihihi. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada satu orang porter yang bermaksud turun setelah mengantarkan tamunya. Setelah kami cegat, porter itu kami beri uang untuk dibelanjakan logistik bagi kami tiga hari ke depan sekaligus kami tawarkan untuk menjadi porter kami hahaha. Rupanya dia bersedia dan berjanji akan menyusul kami keesokan harinya di danau. Malam ini dia ingin beristirahat dulu di rumahnya setelah beberapa hari di gunung. Sepertinya, hanya di gunung tempatnya kita memegang janji. Hampir bisa saya pastikan bahwa kalau di kota besar, begitu pegang uang, susah mendapat jaminan hanya dengan omongan seperti itu :)


Mendaki Gunung Rinjani (3)

Sepanjang perjalanan mendaki, yang membuat saya dan Isnu semakin lama adalah kami beberapa kali berhenti untuk memasak hahaha. Entah sekedar menikmati kopi atau teh panas hingga roti bakar atau mi instan telur. Sungguh, pendaki semena-mena. Konsekuensinya, saya harus bongkar pasang isi ransel :) 

Setiap ada kesempatan, memasak
Malam itu, saya mengalami keadaan yang tidak menyenangkan. Karena hujan deras sepanjang perjalanan, saya mendaki menggunakan jaket anti air. Hingga hujan reda, jaket tersebut tidak saya lepaskan karena sudah terlalu lelah. Tiba di ujung jalur pendakian pertigaan sebelum ke Danau Segara Anak dan sebelum masuk ke kawasan perkemahan Plawangan Sembalun, saya berhenti dan menunggu Isnu yang masih berada di kawasan hutan. Lampu senter saya mainkan menunggu signal jawaban dari Isnu. Disini kesalahan fatal saya lakukan.

Mendaki Gunung Rinjani (2)

Perjalanan menuju Sembalun ternyata cukup menyenangkan. Menyisir pulau sebelah timur, melewati hutan rimbun sungguh menyenangkan hati sekaligus mendebarkan jantung. Tanjakan curam dan kondisi jalan yang kurang baik sungguh perpaduan yang pas :) Biasanya , bila sedang dalam perjalanan di suatu daerah baru, saya akan betah untuk melamun dan memperhatikan apa saja dari balik kaca mobil. Membaca tulisan yang tertera di iklan atau papan penanda wilayah. Namun, kali ini saya puaskan untuk tidur :)

Pos Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani  

Isnu sedang mendengarkan penjelasan dari salah satu anggota TNI
yang sedang berada di kantor TNGR

Sekitar siang hari kami tiba di posko pendakian. Setelah melapor dan mendapatkan penjelasan tentang jalur dan kondisi terbaru dari petugas Taman Nasional, kami lalu menikmati suasana yang cukup cerah. Ransel kami letakkan di salah satu ruangan yang nantinya akan kami pergunakan sebagai tempat tidur kami malam ini sampai besok pagi mulai mendaki. 

Hingga sore menjelang, ada beberapa orang pendaki juga yang mulai tampak berdatangan. Pasangan muda dari Jakarta dan satu tim keluarga dengan anak perempuan mereka berumur sekitar 12 tahun yang rencananya akan diajak mendaki besok pagi :)

Malam itu, kami akhirnya merasakan dinginnya udara pegunungan setelah sekian lama bergelut dengan cuaca panasnya kota Jogjakarta dan Semarang. Dan tidur saya pun tidak nyenyak karena seharian tadi sudah menghabiskan waktu dengan banyak tidur di perjalanan. Kawan saya dan adiknya sudah molor entah sejak jam berapa tadi. 

Suasana disekitar posko ini cukup lengang meskipun sebenarnya ada perkampungan warga. Namun siapa yang tertarik duduk di berugak malam-malam di udara dingin seperti ini? Mending di dalam rumah yang hangat haha

Mendaki Gunung Rinjani

Ketika salah satu kawan baik saya mengajak untuk menutup tahun 2009 di Gunung Rinjani, saya tidak berpikir dua kali. Segera setelah mengambil libur akhir tahun, saya lalu mencari tahu dan mulai membaca ulasan tentang jalur pendakian yang banyak sekali ditemukan di internet. Tidak lupa mencari tahu transportasi darat dari Jogjakarta menuju ke Sembalun. Ya, kami putuskan untuk naik melalui jalur Sembalun dan turun di Senaru agar bisa pulang lewat pantai Senggigi yang terkenal hingga ke mancanegara itu :)

Kala itu, setahun penuh, saya nyaris tidak pernah berolahraga. Pekerjaan saya benar-benar membuat saya menjadi pemalas yang hanya hidup dari kenangan cerita-cerita pendakian gunung masa kuliah. Saya merasa masih kuat hanya dengan membayangkan jalur-jalur yang dulu kami libas dengan santainya. Bahkan sebulan rencana pendakian Rinjani ini, saya masih juga tidak menyiapkan waktu untuk berlatih fisik. Saya benar-benar hanya bermodalkan semangat, rasa senang bertamu ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan naik gunung! Hanya kata naik gunung yang benar-benar membuat saya senang! Namun, di kemudian hari, ketika sudah di gunung, penyesalan saya tentang tidak pernah berolahraga membayangi hingga berhari-hari :D

Sunday, December 1, 2013

Masai

Masai adalah nama yang kuberikan pada boneka singa berukuran gantungan kunci ini. Bonek yang diberikan oleh beberapa orang kawan saya sewaktu kami masih tinggal di Jogja. Sebenarnya, mereka memberikan boneka singa itu secara tidak sengaja. Sejatinya, mereka sedang berada di sebuah toko boneka untuk mencarikan hadiah ulang tahun bagi kawan saya yang lain, namun, tampang singa kusut itu seperti mengingatkan mereka tentangku, jadilah singa berambut kusut berwarna coklat itu dibelikan juga untukku.

Hingga kini, lima tahun lebih, si masai ini sudah menemaniku dalam berbagai perjalanan. Ke Gunung Ungaran,  Dataran Tinggi Dieng bahkan hingga ke Gunung Rinjani. 

Masai di jalur pendakian gunung Rinjani
 Saya ingat dulu ketika masih kuliah, ada kawan saya dari NTT. Tinggi, berambut gondrong, dan berkulit hitam. Bila sedang diam, tatapan wajahnya akan membuat anak kecil yang sedang rewel pasti duduk diam. Namun, setiap kali kami mendaki gunung, kawan saya ini akan selalu membawa boneka monyet berukuran telapak tangan dewasa. Muka rambo hati rinto, saya menyebutnya. 

Tidak ada yang istimewa dari si masai ini. Rambutnya semakin kusut. Kulit coklatnya sudah lusuh entah oleh tanah atau kotoran dari bis ekonomi. Kadang kalau lupa, si masai aku gantung di ritsleting ransel sampe tergencet-gencet di tumpukan bagasi :)) .   

memandang Gunung Sindoro dari Bukit Sikunir

duduk menyendiri di tepi danau Segara Anak di Gunung Rinjani
memancing ikan sama pak dhe Isnu di danau Segara Anak

Friday, November 22, 2013

Cinta Pertama

Entah kenapa, sore ini, ketika sedang membaca lagi artikel yang sedang saya kerjakan oleh penugasan bulan ini, tiba-tiba pengalaman mendaki gunung saya yang pertama kali 14 tahun lalu melintas di dalam kepala. Pengalaman yang mengenalkan saya satu hal. Gunung hutan dan ketinggian. Satu-satunya hal yang di kemudian hari, benar-benar menenangkan saya, dalam situasi apapun. 

Saya ingat, saat itu, karena ingin mendapatkan pengalaman mendaki gunung, saya menerima ajakan beberapa orang mahasiswa angkatan tua, begitu saya menyebut mereka, untuk ikut dalam rencana mereka mendaki Gunung Sindoro akhir pekan ketika itu. Agustus 1999. Cerita mereka tetnang perasaan menjejakkan kaki di gunung yang tingginya diatas 3000 meter, berjalan lebih dari lima jam, merasakan dingin mendekati 5 derajat celcius dan sensasi berdiri diatas awan, membuat saya penasaran dan tanpa berpikir dua kali, menyanggupi ajakan mereka. 

Tuesday, November 19, 2013

Karena sesungguhnya, oleh oleh terbaik dari setiap perjalanan adalah cerita. Banyak cerita :)

http://adventureblog.nationalgeographic.com/2013/11/19/video-adventurers-of-the-year-manifesto/


Kenangan sebuah Air Terjun

Saya pernah membaca bahwa manusia menyukai mengingat atau menyimpan kenangan karena hanya itu yang tidak pernah berubah, sedangkan manusia pasti berubah. Ya, kenangan akan indahnya pemandangan hutan dan air terjun yang kulihat ketika usia kanak-kanak itulah yang selalu membawaku ke tempat ini. Air Terjun Moramo.

Kira-kira 20 tahun lalu saya menyaksikan pemandangan yang paling melekat di pikiranku tentang hutan, pohon yang berukuran sangat besar hingga sinar matahari seperti berhenti di ujungnya, atau suara air sungai yang menenangkan hati dan betapa menakutkannya air deras yang mengalir dibebatuan seperti tangga itu. Entah mengapa, dari semua kenangan liburan masa kecilku, pengalaman jalan-jalan keluarga ke tempat itu selalu membekas. Hingga kini aku tidak tinggal lagi di kampung halaman, salah satu tempat yang wajib saya kunjungi setiap kali pulang menengok orang tua, adalah Suaka Alam Tanjung Peropa ini.



Senangnya dia hahaha
Kini, setelah saya berkeluarga, saya ingin berbagi jenis tempat indah yang jarang di temukan di Pulau Jawa ini kepada istri tercinta :). Jadi, dengan mengendarai motor, jadilah kami menikmati perjalanan sekitar 1,5 jam melalui pantai dan pegunungan. Cuaca cerah, mendekati panas menggila, mendukung perjalanan kami. 

Oh satu hal lagi, meskipun saya dilahirkan di kota ini, namun, saya tidak ubahnya seperti pelancong dari jauh :). Buta arah jalan membuat kami harus berhenti beberapa kali dan bertanya kepada penduduk yang kami temui. Karena tidak mau malu dianggap penduduk durhaka, yang bertanya adalah istri saya yang asli penghuni Pulau Jawa hahaha

Sebenarnya, kami juga melewati salah satu obyek wisata terkenal di kota Kendari yaitu Pantai Nambo, namun terus terang saja kami berdua bukan penggemar laut. Yes kami memang menyukainya tapi kami merasa cepat bosan bila di pantai hehehe jadi, kami putuskan untuk sekedar menengok dari balik helm kami dan meneruskan perjalanan. 

Monday, November 18, 2013

Berlari Menuju Matahari Terbenam

Bagi penggemar olahraga lari, salah satu hal yang pasti keluar ditanyakan begitu tiba di tempat yang baru adalah tempat masyarakat biasa berolahraga lari. Atau ketika ngobrol dengan orang, pasti disela-sela obrolan tersebut, akan mencari benang merah bisa-buat-lari-nggak-ya pasti akan terlintas di pikiran mereka. Begitu juga ketika Bung Tony, supir saya hari itu bercerita tentang lokasi menyaksikan matahari terbenam di Pantai Ampenan, pantai terdekat dari kota Mataram. 

Awalnya dia hanya bercerita pengalamannya sebagai supir wisatawan. 

"Saya pernah bawa Ari Lasso ke Pantai Ampenan karena dia pengen lihat matahari terbenam," ceritanya sembari menyetir mobil menyusuri Pantai Senggigi siang itu. 

"Dekat kok pak, paling enam atau tujuh kilo dari penginapan bapak," tambahnya. 

Segera, saya lalu berniat untuk berlari sore ini dengan tujuan matahari terbenam di Pulau Lombok. Cuaca sepertinya mendukung, dan sudah dua hari saya disini dan saya belum sempat untuk lari karena jadual keliling yang menghabiskan waktu mulai dari pukul 7 hingga 9 malam. Dan lagi, kamar hotel yang sungguh sangat nyaman membuat saya lebih malas bangun pagi untuk lari :D

Setelah tiba di penginapan, saya lalu membuka program peta dari Garmin dan mencoba mencari jalan menuju Ampenan, sebuah kawasan kota lama di Mataram. Hmm.. setelah mempeljari jalan, nama dan arah persimpangan, saya lalu bersiap-siap. Tentu saja semua akan lebih mudah dengan beragam aplikasi di telepon pintar, namun saya tidak punya. Dan yang lebih utama adalah berlari dengan menyesatkan diri adalah hal yang paling saya sukai. Perasaan kesasar dan menemukan hal baru sungguh membuat saya menyukai jalan-jalan. 

Enam-tujuh kilo berlari biasanya saya selesaikan dalam waktu kurang lebih 40-45 menit. Namun, kali ini saya putuskan untuk berlari santai saja menikmati sore dan mengambil gambar sesukanya. Dengan perkiraan waktu matahari terbenam pukul 18.00, saya putuskan untuk mulai lari keluar dari penginapan pukul 17.00. 

Satu pohon, satu kambing (2)

Hari 2

Sore ini, saya tiba di sebuah desa, bermaksud untuk melihat geliat masyarakatnya. Saya diantar oleh Bung Antok menuju ke berugak dimana beberapa orang pria sudah menunggu. Mereka adalah tokoh adat dan kepala dusun serta anggota masyarakat biasa. 

Nama desa ini adalah Gumantar. Baru berdiri pada tahun 1998, setelah memekarkan dirinya dari Desa Selengan. Desa yang terdapat di Kecamatan Kayangan ini terdiri dari 12 dusun dan dihuni oleh kurang lebih 1,600 KK. Lokasi desa ini cukup unik. Dengan luas wilayah 38,6 km2 , desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utaranya dan Taman Nasional Gunung Rinjani di sebelah selatan.


Dari dokumen analisis risiko partisipatif yang saya baca,  ditemukan bahwa ada beberapa bahaya bencana yang mengancam wilayah berpenduduk lebih dari 5,900 jiwa ini. Sebut saja kekeringan tahun 1983 di empat dusun, abu letusan Gunung Rinjani tahun 1993 yang menyebabkan ternak mati dan gangguan pernafasan masyarakat, bencana longsor yang merusak jaringan pipa air, jembatan, lahan pertanian pada tahun 2006 dan 2009.

Tingkat kerentanan di desa ini memang lebih rendah bila di bandingkan dengan desa sekitarnya seperti Desa Rempek. Namun, menurut saya, ada yang menarik perihal Desa Gumantar ini.

satu pohon, satu kambing (1)

Setelah didesak, dan diringi oleh tawa terbahak-bahak kawan-kawannya, pak Yurdin lalu mulai bercerita tentang pernyataannya akan satu pohon, satu sapi. Tidak butuh waktu lama hingga saya pun ikut tertawa bersama dengan yang lain. Sore itu, di sebuah berugak tua di tengah desa, kami bersenda gurau bersama meskipun saya baru berkenalan dengan mereka setengah jam yang lalu. 

Hari 1

Kali ini, perjalanan saya sedikit berbeda. Saya sedang mendapatkan sebuah penugasan dari salah satu lembaga kemanusiaan internasional yang berkantor di Jakarta untuk mendokumentasikan geliat masyarakat di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya pengurangan risiko bencana. Tanpa berpikir dua kali, tugas ini saya terima. Selama seminggu kedepan, saya akan berkeliling di kabupaten yang memiliki salah satu pesona alam terlengkap di Indonesia ini, termasuk dengan ancaman bencananya. 


Pulau Lombok. Ketik saja dua kata itu di mesin pencari internet dan bisa dipastikan mata dan senyum anda akan mengembang secara otomatis. Laut dua warna mengelilingi pulau-pulau kecil, langit biru, gagahnya Gunung Rinjani dan nikmatnya sajian tradisional sesungguhnya akan membuat anda lupa segala kesusahan dalam hidup atau carut-marutnya kota besar di negara ini. 


Segera setelah saya mendarat di bandara udara international Praya di Mataram, mencari transportasi menuju ke penginapan adalah langkah berikutnya. Staff dari mitra organisasi yang menugaskan saya belum terlihat. Seharusnya, seperti kesepakatan kami kemarin, dia akan menjemput sembari memberi gambaran tentang lokasi yang akan kami kunjungi seminggu ke depan. Damri adalah pilihan saya. Ada beberapa orang yang menawarkan jasa taksi plat hitam dan juga tersedia gerai taksi resmi namun, menikmati transportasi umum adalah cara paling efektif untuk mengenal daerah baru, sekaligus orang-orangnya. 

Dengan membayar sejumlah uang Rp 20 ribu, saya sudah duduk manis di dalam bis 3/4 berpendingin udara dan kursi empuk. Hmm.. nyaman juga, pikir saya saat itu. Biasanya saya akan mengajak berkenalan orang yang duduk bersebelahan dengan saya ketika saya berada di daerah baru, namun kali ini, saya seperti ingin menikmati pemandangan dari balik jendela, bagaimana perjalanan menuju ke kota Mataram. 

Sekitar 45 menit kemudian saya tiba di pemberhentian terakhir bis Damri ini, untuk jalur ibukota propinsi. Sesungguhnya bis ini akan menuju ke kawasan Senggigi, kawasan wisata yang paling diminati oleh pelancong baik dalam maupun luar negeri. Oh iya, tadi sepanjang jalan, saya tertidur di bis hihihi

Dari terminal bis Damri ini, saya lalu naik taksi menuju ke penginapan saya kali ini. Sang staff, sudah menghubungi saya dan ternyata dia ketiduran sehingga tidak bisa menjemput saya di bandara. Kami sepakat untuk bertemu di penginapan siang ini. 

Setelah check in dan masuk kamar, saya lalu bergegas menemui sang staff di lobby. Bung Antok, begitu kemudian saya memanggilnya. Lelaki berambut sepundak, berbadan kecil namun terlihat kekar. Kulit coklatnya terasa kuat sekali, Kupikir akibat terlalu banyak "main" ke desa-desa dan hutan-hutan seperti kegiatan lembaganya 20 tahun terakhir ini. Kami pun kembali sepakat untuk kembali bertemu pukul 4 sore dan segera menuju ke rumah salah satu narasumber saya. 

Ah, mandi terasa segar sekali. Sepiring nasi campur pun tandas. Es teh manis seperti meredakan konflik kekeringan di tenggorokan saya. Cuaca di Mataram sungguh sangat terlalu panasnya :)

Wednesday, October 30, 2013

Karena Mendaki Gunung adalah Candu

Ini cerita tentang pengalaman mendaki gunung saya yang pertama sejak kepindahan saya ke ibukota tujuh bulan lalu. 

Tentu saja, Gunung Gede Pangrango adalah tujuan saya. Gunung yang berlokasi paling dekat dengan Jakarta. Gunung yang terletak di Jawa Barat ini seperti gunung yang wajib didaki oleh penggemar olahraga mendaki gunung yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Lebih luas lagi, bagi pendaki di seluruh Indonesia. Gunung ini  semakin terkenal semenjak film GIE ditayangkan di layar lebar, hingga mereka yang belum pernah mendaki gunung pun menjadi penasaran untuk mencobanya. Sekarang, giliran saya :)

Berada di gunung atau hutan adalah salah satu dari tidak banyak hal yang membuat hati saya menjadi nyaman dan bahagian. Sejak pertama kali diperkenalkan oleh beberapa kawan lama saya, saya langsung jatuh cinta. Mendaki atau berlari di gunung dan ketinggian lalu menjadi definisi saya tentang kata nyaman :)

Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan dari setiap melakukan kegiatan pendakian gunung. Tentu saja. Bukan hal yang baru lagi. Namun, kali ini, saya belajar untuk lebih tertib administrasi. Pasalnya, untuk mendaki gunung Gede Pangrango, kita harus melakukan booking terlebih dahulu. Padahal, untuk mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah misalnya, kita tinggal datang ke Posko pendakian, mencatat data dan mebayar uang retribusi. Bila cuaca sedang bagus dan petugas Posko membolehkan, kita dapat langsung naik.

Untungnya, suami salah satu kawan di tempat kerja saya adalah penduduk asli Cibodas, titik pendakian yang saya rencanakan, sehingga bisa membantu untuk pengurusan SIMAKSI atau Surat Masuk Kawasan Konservasi sebagai syarat utama untuk bisa melakukan pendakian. Biasanya para pendaki dapat mengurus secara online di situs Taman Nasional Gede Pangrango, baru kemudian melapor kembali bila sudah berada di lokasi pendakian.

Ucapan Selamat Datang di TNGP

Monday, October 28, 2013

Hilang Perjaka di Kilometer 42 :)

Saya tiba terlalu cepat. Hal yang pertama terlintas di pikiranku begitu mulai melangkahkan kaki masuk ke kawasan Monumen Nasional dini hari ini. Waktu masih menunjukkan pukul 02.35 WIB. Meskipun begitu, warga Jakarta terlihat masih ramai menikmati sisa malam minggu mereka. Beberapa kelompok anak muda tampak santai duduk di pinggiran pagar atau taman sembari bersenda gurau. Bahkan tampak keluarga sedang berfoto-foto dengan latar belakang tugu setinggi 132 meter ini. Anak-anak mereka tidak tampak lelah, bahkan seperti asyik bernyanyi-nyanyi J. Saya lalu berjalan-jalan di sekitar tugu sambil mencoba melemaskan kaki.
Tenda-tenda pendukung kegiatan

Hari minggu ini saya berencana untuk ikut perhelatan akbar tahun ini, pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia, yaitu Jakarta Marathon 2013. Sebuah kegiatan yang selalu dinanti oleh para penggiat dan penggemar olahraga lari dan menjawab pertanyaan mampukah Indonesia memiliki event sekelas marathon di Boston atau Tokyo. Dan, pagi ini, banyak dari kami, termasuk saya, akhirnya akan “naik haji” untuk pertama kalinya karena untuk dapat mengikuti lomba lari 42 km, paling tidak orang Indonesia harus pergi ke Singapura atau Hong Kong bahkan hingga ke Eropa atau Amerika. Ya, ini adalah lomba marathon pertamaku :)

Hampir pukul 4, saya lalu mendekati tenda mushola yang sudah disiapkan oleh panitia untuk sholat subuh. Beberapa peserta sudah mulai tampak berkeliaran. Ada yang sudah mulai memasukkan tas mereka di area penitipan yang sudah disediakan oleh panitia. Beberapa orang mulai berfoto-foto dengan latar belakang spanduk atau booth sponsor. Saya lalu bertemu dengan kawan dari Semarang yang akan ikut lomba di kategori half marathon atau 21 km.

Thursday, October 24, 2013

Berlari ke Puncak Gunung Ungaran

Sabtu, 23 Februari 2013 pukul 10.00 WIB

Begitu tiba di puncak gunung ini, aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Aku sudah berlari selama satu jam. Sembari mencoba mengatur nafas yang masih tersengal-sengal akibat mencoba berlari tanpa berhenti di jalur yang terus menanjak ini, aku kemudian mengambil gambar sebuah tugu yang berdiri tegak di tengah-tengah dataran seluas 2-3 kali lapangan bulu tangkis ini. Tugu penanda puncak gunung Ungaran. Kabut tebal menutupi pandanganku. Pagi itu, dengan tersenyum senang, aku lalu tersadar. Aku sendirian di ketinggian + 2050 mdpl. Aku “memiliki” gunung ini untuk diriku sendiri J

Pukul 07.30. Posko pendakian Gunung Ungaran
Dengan sengaja aku seperti terengah-engah bernafas, berharap mengisi paru-paruku dengan udara segar pegunungan, menumpuknya dengan udara penuh polusi perkotaan. Udara sejuk membelai kulitku. Matakupun seperti dimanjakan oleh pemandangan alam dari ketinggian. Nun jauh disana terlihat siluet gunung Telomoyo dan Merbabu dan atap-atap rumah dari desa sekitar kaki gunung ini. Pepohonan cemara menjulang tinggi seperti ingin memaku langit yang biru. Sungguh, suasana yang selalu ingin kualami setiap pagi dalam keseharianku.
Bersama teman-teman baru dari Jogja dan Salatiga

Beberapa kawan yang datang bersamaku pagi ini terlihat mulai bercengkrama dengan kawan-kawan baru kami. Ya, pagi ini kami untuk pertama kalinya bertemu muka langsung setelah beberapa waktu sebelumnya berkenalan di sebuah group sosial media bagi penggemar olahraga lari. Kami mengajak mereka untuk bergabung bersama berlari di Gunung Ungaran. Tunggu. Berlari di gunung? Berlari? Bukan di jalanan kota atau dalam stadion olahraga pada umumnya?

Tuesday, October 22, 2013

Berlari Mengejar Kereta Uap

Namanya adalah Nik Nasrullah. Umurnya sekitar 34 tahun. Orangnya ramah, selalu tersenyum dan senang ngobrol dengan orang lain. Berperawakan tinggi, kulit coklat mendekati gelap :), Nik begitu kemudian saya memanggilnya, adalah asli dari Malaysia. Ini kali keduanya ke Indonesia, dan kedua-duanya adalah untuk liburan, namun kali ini dia mengisinya dengan liburan unik. Mengikuti acara lomba lari mengejar kereta uap :). Tunggu dulu. Lari ngejar kereta? *mengernyitkan kening. Hehehe. Sabar, nanti saya ceritakan deh.

Peserta di titik start
Nik mengaku baru senang dengan kegiatan berlari setahun terakhir ini. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu dengan bekerja, mengurus bisnisnya, seperti kebanyakan kita. Pola hidup tak sehat pun menjadi santapan sehari-harinya. Bertahun-tahun hidup seperti itu, Nik mengaku ada yang kosong dalam hidupnya. Meskipun secara ekonomi berkecukupan, namun kualitas bersama anak dan istrinya berkurang. Tubuhnya seperti setiap hari menjadi “rusak”. Hingga suatu hari, ketika sedang berada di sebuah hotel di luar kota, dia memutuskan untuk berlari mendaki bukit yang dia lihat dari balik jendela hotelnya.

Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, Nik merasa ingin berhenti dan kembali ke hotelnya. Rasa capek yang tak tertahankan membuatnya lebih banyak berjalan daripada berlari. Namun, ia tak ingin menyerah dan jarak sekitar 5 km pun ia selesaikan dengan catatan waktu lebih dari 1 jam, Nik mencoba mengingat pengalaman lari pertamanya disela-sela obrolan kami malam itu di teras. Udara sejuk ala daerah tinggi membuat kami berkali-kali menarik rapat jaket tipis kami.

Sejak saat itu, Nik mulai rajin berolahraga dan mengikuti berbagai macam perlombaan di Malaysia. Bahkan kini, dia sudah mengikuti perlombaan lari mulai dari 10 km hingga marathon 42K. Nik merasa hidupnya jauh lebih berkualitas sekarang.

Tuesday, October 8, 2013

Jalan – Jalan di Kebun Teh

Selalu menjadi perasaan menyenangkan adalah bila sedang bepergian dan mendapati diri sedang berada di kawasan kebun teh. Siapapun itu, sedang dalam kondisi hati yang sedih, akan seketika menjadi senang. Tidak percaya? Coba lakukan kegiatan yang satu ini. Jalan - jalan di antara tanaman teh atau yang biasa disebut Tea Walk.
menyusuri jalur menanjak

Ya, kegiatan tea walk sudah menjadi favorit para pelancong yang sedang berada di daerah-daerah sejuk di ketinggian. Sebut saja Puncak di Bogor, Jawa Barat atau Tambi di Wonosobo, Jawa Tengah. Selain menawarkan pemandangan spektakuler khas dataran tinggi, daerah-daerah tersebut juga menawarkan pilihan kegiatan seperti tea walk yang bisa dilakukan oleh semua umur. 

Menikmati Kehangatan di Ketinggian 2050 mdpl



Gunung Ungaran
Udara terasa sangat dingin malam ini. Suara gemericik air sungai terdengar beraturan. Angin menderu perlahan menggoyangkan alang-alang tempatku berbaring. Rerumputan basah oleh embun. Bergelung dalam kantung tidur yang kuhamparkan diatas rumput, kurasakan senyumku mengembang. Perasaan senang dan bahagia yang tulus karena perselingkuhan dengan gunung dan hutan.

Akhir pekan telah tiba! Bagi pekerja yang melewatkan kehidupan tiap minggu mereka dengan rutinitas tempat kerja, akhir pekan adalah surga yang selalu dinanti. Seperti hidup itu hanya untuk menunggu akhir pekan berikutnya. Dan kali ini, saya akan mengisi akhir pekan dengan mendaki gunung!
Menggunakan bis umum, perjalanan menuju Gunung Ungaran ditempuh sekitar satu jam dari Kota Semarang. Pemandangan khas kawasan daerah tinggi mulai tampak begitu masuk di kawasan wisata terpadu Bandungan. Jalan berkelok, angin sejuk dan tentu saja beragam jenis penginapan di kiri kanan jalan. Oh iya saya membayar sekitar Rp 7000an untuk ongkosnya.

Turun di Pasar Jimbaran, perjalanan lalu dilanjutkan menggunakan ojek sekitar 20 menit melalui desa dan jalan menanjak menuju Mawar, sebutan masyarakat setempat untuk Posko pendakian. Kondisi jalan bagus, sudah di beton. Di jalan saya melihat ada tempat wisata Umbul sidomukti yang terkenal dengan kolam renang alami empat tingkatnya dan banyak kegiatan outdoor lainnya seperti flying fox, trekking dan rapelling.
Setelah melapor di pos pendakian dan membayar biaya sebesar Rp 2.000/orang, saya mulai berjalan menyusuri jalur menanjak pendakian. Sekitar 20 menit kemudian, saya tiba di sebuah aliran sungai kecil dan memutuskan untuk beristirahat, membasuh wajah dan sekedar duduk menikmati udara sejuk di bawah rindangnya pepohonan. Tidak lama kemudian, perjalanan dihiasi oleh naik turun bukit dan hutan. Tampak di ketinggian seekor burung terbang rendah. Terlihat seperti burung elang sih J

Naik Prahu di Dataran Tinggi Dieng


Pemandangan di puncak gunung Prahu kala pagi hari
“ Kenapa para pendaki pada nggak mau ranselnya dibawakan ya mas? Apa takut dibawa lari ya?” tanya Rafiq, pemandu saya dini hari itu. Berjalan perlahan di belakangnya, saya hanya tersenyum dan memikirkan jawaban apa yang sekiranya paling masuk akal yang bisa kuberikan padanya.

“Mungkin para pendaki itu merasa tidak lengkap mendaki gunung kalau tidak bersusah payah memanggul ranselnya hingga ke puncak gunung, mas ”Jawabku  sembari tetap memperhatikan pijakan menanjak dalam gelapnya malam. Angin dingin yang menusuk tulang mulai membekukan jari-jariku.

“Ooo.. gitu ya mas. Soalnya anak-anak (teman-teman pemandu, penulis) disini nggak mungkin macam-macam mas sama tamu. Itu sama aja menghilangkan rejekinya sendiri. Anak-anak pasti berusaha membuat tamunya puas, mas, biar kalau kesini, mereka mau sama kita lagi..” jawabnya sembari mengarahkan lampu senternya mungkin sekedar mengecek apakah saya butuh istirahat atau tetap melanjutkan perjalanan menanjak dan berdebu ini. Kalimat Rafiq terakhir sempat membuat saya tersenyum geli, mengingat kembali masa-masa ketika saya masih aktif melakukan pendampingan pekerja seks di kota Semarang. Kalimat dan tujuannya sama namun dalam konteks yang berbeda J