Friday, November 22, 2013

Cinta Pertama

Entah kenapa, sore ini, ketika sedang membaca lagi artikel yang sedang saya kerjakan oleh penugasan bulan ini, tiba-tiba pengalaman mendaki gunung saya yang pertama kali 14 tahun lalu melintas di dalam kepala. Pengalaman yang mengenalkan saya satu hal. Gunung hutan dan ketinggian. Satu-satunya hal yang di kemudian hari, benar-benar menenangkan saya, dalam situasi apapun. 

Saya ingat, saat itu, karena ingin mendapatkan pengalaman mendaki gunung, saya menerima ajakan beberapa orang mahasiswa angkatan tua, begitu saya menyebut mereka, untuk ikut dalam rencana mereka mendaki Gunung Sindoro akhir pekan ketika itu. Agustus 1999. Cerita mereka tetnang perasaan menjejakkan kaki di gunung yang tingginya diatas 3000 meter, berjalan lebih dari lima jam, merasakan dingin mendekati 5 derajat celcius dan sensasi berdiri diatas awan, membuat saya penasaran dan tanpa berpikir dua kali, menyanggupi ajakan mereka. 

Saya masih ingat, saya hanya membawa satu buah jaket berbahan katun yang diberikan kakak saya sebelum saya pindah ke Jawa, satu buah celan jeans belel yang sudah menemani saya sejak SMU, dan kemeja flanel merah yang juga sudah menemani saya sehari-hari. Para senior itu menyarankan saya tidak usah membawa banyak barang-barang. Daripada capek di jalan kata mereka. Bawa saja sarung dan kaos kaki, toh kita tidak akan tidur lama, tapi berjalan malam hari dan istirahat sesekali di perjalanan. Saya pun mengikuti anjuran mereka. Anjuran yang dikemudian hari akan saya sesali hahaha.

Saya masih ingat, saat itu saya membayar sekitar IDR 3,500 per orang untuk perjalanan bis ekonomi dengan tujuan Parakan, Temanggung. Dari Semarang menempuh waktu sekitar kurang lebih 3 jam. 15 tahun kemudian, harganya menjadi 10 kali lipat :). 

Sebagai anak baru, disana, semuanya diurus oleh senior saya. Mulai dari perbekalan yang seadanya, pendaftaran di posko pendakian dan jadual. Ingatan saya samar-samar, namun yang pasti, setelah beberapa tahun kemudian menjadi pendaki gunung, saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa kami bisa selamat kembali turun ke desa dengan perlengkapan dan perjalanan seperti itu :p 

Rombongan kami berempat. Saya sudah lupa nama mereka semua :). Yang saya ingat adalah tidak satu pun yang membawa perlengkapan memasak, alat P3K ataupun alat penerangan yang cukup. Hanya dua buah senter. Sekali lagi, saya tidak percaya sempat mempercayakan hidup saya pada orang-orang nekad seperti mereka :)

Seperti halnya bocah yang sedang diajak liburan orang tuanya, saya merasa senang sekali. Menikmati malam minggu dengan mendaki gunung, terdengar sangat gagah sekali. Apalagi, bagi orang yang baru saja sebulan meninggalkan kampung halamannya dan adalah pengalaman pertamanya keluar dari kampungnya, perjalanan ini seperti pemuda al kahfi yang baru saja keluar dari goa tempat tinggalnya. Saat itu, saya merasa takjub, untuk pertama kalinya akan merasakan udara sejuk mendekati dingin yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Maklum, tempat tinggal saya di kampung adalah tidak jauh dari pantai dan sehari-hari, panas dan gerah adalah selimut saya. 

Tiba di desa tempat posko pendakian, saya tak henti-hentinya tersenyum dan mengedarkan pandangan kemana-mana. Desa di kaki gunung, tanaman tembakau (ini adalah pengalaman pertama saya melihat tanaman yang menjadi bisnis besar di dunia dengan produk rokoknya!), kabut yang menyelimuti gunung besar itu, semuanya adalah hal-hal baru yang melekat erat di ingatanku. Anak-anak kecil berbaju tebal dan berpipi merah yang digandeng ibunya, bapak-bapak memakai sepatu boot karet dan menggendong karung baru saja kembali dari ladang serta rumah-rumah kayu yang sudah tua, melihat itu semua, seperti mengingatkan saya akan buku tentang pulau jawa yang saya baca di kampung dulu. Inilah gambaran dari cerita di buku pelajaran dulu. Setidaknya itu kesan yang kudapatkan saat itu. Dna, oh air yang sangat dinginn namun terasa sangat segarr. 

Ketika malam tiba, beberapa orang pendaki mulai berdatangan. Mereka dengan ransel-ransel besarnya, tampilan penuh keyakinan, rambut panjang dan berjalan dengan penuh percaya diri. Saya melihat mereka dengan kagum. Hebat bisa membawa ransel sebesar itu, pikir saya saat itu. 

Saya ingat ketika kami mulai berjalan, kami selalu tertawa-tawa dan bercerita panjang lebar. Sepertinya saati itu saya sempat bersyukur tidak membawa ransel sebesar menhir itu karena ternyata berjalan menanjak adalah melelahkan. 

Hal yang saya ingat berikutnya adalah kami tersesat. Benar-benar tersesat. Tadinya kami mengikuti jalan atau lampu-lampu senter pendaki yang terlihat dari kejauhan namun semakin lama jalan setapak mulai hilang dan tanaman mulai rimbun. Karena sudah jauh menanjak, senior saya mengusulkan utnuk terus mencari jalan baru. jadilah kami mblusuk, menebang semak, tanaman berduri dan beberapa kali terperosok hampir masuk ke jurang. Anehnya, saya justru senang dengan situasi itu. Saya bersemangat sekali sampai-sampai saya berada di paling depan dijalur satunya lagi, kami terbagi dua untuk mencari jalan namun masih dalam jarak yang dekat, bersama dengan salah satu senior yang paling dituakan, saling berteriak memberi informasi. 

Setelah beberapa jam, sepertinya sih, kami kembali ke jalur pendakian dan ternyata kami melewati jalur yang katanya tanjakan paling menyebalkan. Keesokan harinya, kami baru sadar bahwa jalur yang kami lewati adalah berada di perbatasan antara jurang dan jalur pendakian hihihi. 

Malam hari, yang kuingat adalah pengalaman akan rasa dingin yang sangat menyakitkan. Saya hanya duduk dengan celana jins yang bagian lututnya sudah sobek sana sini, kaos kaki dan sandal gunung, baju kaos, kemeja flanel dan jaket kain katun pemberian abang. Oh iya, ada topi bergambar bugs bunny entah milik siapa yang saya embat di kos-kosan hahaha. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya hanya duduk mengatupkan kedua lutut hingga kedagu, melingkarkan kedua tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh menahan dingin yang menggigit. Sarung sudah saya lingkarkan dan tentu saja tidak berarti apa-apa. 

Pendakian pertama saya saat itu tidak mencapai puncak gunung. Kami hanya berakhir di area hutan perbatasan kawasan puncak. Cuaca berkabut, tidak ada lagi makanan dan persediaan air minum seadanya, lalu kami putuskan untuk turun. 

Disini saya mengenal bunga edelweiss untuk pertama kalinya, melihat kabut tebal dan pemandangan hebat dari ketinggian. Rasa yang benar-benar membekas dalam hati. Entah kenapa, saya tidak merasa menyesal telah menyiksa diri dengan rasa lapar, dingin dan capek. Saya merasakan sesuatu hal yang menyenangkan hati saya. 

Hingga kini, 14 tahun kemudian dan semoga sampai saya tidak sanggup lagi berdiri, saya masih terus bisa diberi kesempatan untuk menikmati gunung hutan dan ketinggian, dimana pun di muka bumi ini.

Melihat kembali foto-foto pendakian pertama saya itu, saya sangat berterima kasih kepada senior-senior saya yang hanya sempat saya kenal selama empat bulan selama tinggal disana. Terima kasih karena mengenalkan gunung, hutan dan ketinggian. Terima kasih untuk cinta pertama saya. Untuk selamanya :)

Barilo Team



    

No comments:

Post a Comment