Tuesday, August 18, 2015

Bukan Jalan-jalan Biasa

"Ini baju dan celana buat jalan berangkat. Trus ini buat tidur dan ini buat pulangnya."istri saya sedang asyik memilih pakaian yang akan dibawanya selama perjalanan kami akhir pekan ini menuju Perkampungan Suku Baduy di Banten. Dia memang sangat menyukai saat ketika memilih-milih pakaian yang akan dia pergunakan selama bepergian :). Saya? sedang sibuk menunggu memperhatikan jenis baju dan celana seperti apa serta padu padan warna apa yang sekiranya dia sukai hahaha. Setelah selesai, giliran saya mengatur sedemikian rupa ke dalam ransel yang akan berisi seluruh perlengkapan kami selama dua hari perjalanan. 

Perjalanan kami kali ini adalah untuk pertama kalinya mengikuti open trip, begitu kira-kira sebutan popularnya. Open trip berarti bepergian dengan orang-orang yang baru akan dikenal saat itu. Pihak pengelola perjalanan biasanya akan menawarkan satu paket transportasi, makan dan akomodasi dengan jumlah minimal tertentu dalam satu kelompok. Open trip berarti ada dua kemungkinan. satu, kita akan cocok dengan kelompok baru ini atau dua, menyesal hahaha. 

Kebiasaan saya sebelum bepergian, entah ke tempat baru atau yang sudah saya kunjungi, adalah mencari tahu kondisi terkini tempat tersebut. Mulai dari transportasi, karakter tujuan, apa yang bisa di kerjakan, jenis-jenis foto yang kemudian menuntun pada perlengkapan seperti apa yang harus saya bawa. Semua ini saya lakukan agar saya bisa mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keunikan dari setiap perjalanan saya. Dan dari mencari tahu, saya lalu sadar bahwa jalan-jalan ke Perkampungan Baduy ini adalah bukan jalan-jalan biasa, yang bagi saya adalah masuk kategori trekking atau mendaki gunung, berarti perlengkapannya minimal seperti trekking ke gunung hutan di Ungaran. 

Dan, sepertinya mencari tahu lokasi tujuan perjalanan, berikut karakter perjalanannya tidak atau belum menjadi kebiasaan bagi kebanyakan pejalan di Indonesia.

Tuesday, August 11, 2015

Obrolan dengan orang asing

Saya menyukai ngobrol dengan orang asing. Bukan berarti hanya bule dari luar negeri, namun orang yang tak dikenal sebelumnya. Orang-orang yang secara acak (benarkah?) bertemu denganmu di bangku kereta atau bis, dalam perjalanan atau sedang menunggu di stasiun kereta maupun terminal bis. 

Untuk memulainya biasanya sulit karena, terutama di ibukota, berbicara dengan orang tak dikenal memiliki konotasi negatif. Bahkan berkata bahwa "ngobrol dengan orang tak dikenal" saja sudah memberi rasa was-was, curiga, dan memasang tameng waspada. Berita di media massa banyak mempengaruhi pikiran masyarakat, termasuk berita kejahatan yang timbul dari berkenalan dengan orang di terminal, stasiun, atau internet. Namun bagiku, ngobrol dengan orang baru adalah sebuah bagian dari perjalanan (hidup). 

Dulu di usia 20an, saya banyak menghabiskan waktu berkeliling mendaki gunung di pulau Jawa. Seperti kebanyakan anak muda lainnya, mengandalkan sarana transportasi paling murah adalah cara yang paling digemari. Dan, biasanya obrolan yang paling menarik adalah dari para pengguna moda transportasi kampung seperti bis non ac, kereta kelas ekonomi atau kapal laut. Bahkan kini, setelah tinggal di luar negeri, hal yang sama masih berlaku. Bepergian dengan bis antar kota seperti dari Bogo ke Cebu atau Cebu ke Dalaguette, saya beberapa kali berkenalan dan ngobrol dengan orang-orang yang selalu senang bercerita. 

Monday, August 10, 2015

Menjadi muslim di Bogo City, Cebu, Philippines

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan sebuah kota bernama Bogo, sebuah kota berukuran sekitar 100 ribu meter persegi yang terletak sekitar 100 kilometer sebelah utara Kota Cebu, ibukota pulau Cebu, Filipina. Bukan karena saya merindukan kota yang terasa seperti perpaduan antara Jepara (daerah pantainya) dan Grobogan (sepi dan garingnya haha) namun karena di kota itulah saya menghabiskan sekitar tujuh bulan waktu bekerja dan hampir setiap malam berdiskusi dengan dua orang manusia yang selalu melihat dunia dengan kelam, penuh prasangka namun memiliki kebaikan hati yang tulus. 

Tinggal di kota itu adalah pengalaman pertama saya menjadi alien, benar-benar disebut sebagai alien di kantor imigrasi dan bandara, jauh dari kehidupan nyaman saya bertahun-tahun di negara sendiri. Saya belajar untuk beradaptasi lebih cepat dan yang paling penting, menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang memang benar-benar bertanya, bukan menguji atau mencari kesalahan atau memojokkan. It's just a question. Dan, jenis pertanyaan yang hampir bisa saya pastikan tidak akan pernah di tanyakan di negara kami yang masih menjunjung tinggi "nggak enak sama orang" atau "ribet amat ngobrolnya, yang ringan-ringan ajalah". 

Sebagai muslim, meskipun bukan muslim yang menaati aturan agama secara penuh, saya benar-benar merasakan bagaimana hidup menjadi minoritas dari kacamata beragama. 

Saya tidak lagi menemukan suara adzan yang mudah ditemukan di manapun di Indonesia. Penanda waktu sholat saya benar-benar hanya mengandalkan kedisiplinan saya sendiri. Makanan. Sesungguhnya ini lah ujian sebenarnya. Tidak ada satupun warung yang tidak menyajikan menu babi. termasuk di dalamnya alat masak yang menjadi satu. Alhasil, saya mengandalkan memasak sendiri dengan jenis masakan ala kadarnya seperti pasta dan sausnya. Goreng ikan dan ayam. Saya hanya makan ikan, ayam dan sayur dari restoran seafood di sekitar rumah. Harganya lebih mahal dari tempat makan di kota ini. 

Tuesday, August 4, 2015

Bersepeda

Jalur sepeda 18K 
Istri saya dan saya sedang menikmati hobby baru bersama, yaitu bersepeda. Kami bahkan membeli sepasang sepeda lipat yang rencananya akan kami pergunakan untuk berwisata di kota-kota atau tempat-tempat jauh. Bukan menuju ke kota-kota atua tempat-tempat jauh ya, tapi di. hehehe. Rencananya kami akan naik kereta ke Bogor atau Malang atau Surabaya membawa sepeda lipat dan menikmati kota tersebut dengan bersepeda. 

Sebelumnya, kami sudah memiliki sepasang sepeda. Saya memiliki jenis sepeda gunung yang dulu sering saya pakai selama tinggal di kota Semarang. Bersepeda atau berlari dari rumah ke tempat kerja sejauh 10K tiap hari saya lakukan, berganti-gantian. Jalannya naik turun bukit dan kategori city trail. Namun, sejak pindah ke Tangerang Selatan, sepeda gunung itu jarang saya pakai. Sedangkan istri saya, tepatnya ibu mertua saya, memiliki sebuah sepeda mini (entah kenapa disebut sepeda mini padahal ukurannya besar?) yang memiliki keranjang. 

Pernah sekali setelah menikmati suasana pagi dengan bersepeda di hari minggu, kami beristirahat di sebuah rumah makan yang dikenal menjadi tempat kongkow anak muda dan para "eksekutif" yang tergolong masyarakat kelas menengah keatas. Dan, kami lalu tertawa-tawa ketika hendak memarkirkan sepeda. Semua, beneran semua, sepeda yang parkir disitu adalah sepeda yang berharga paling tidak 45 juta rupiah haha. Bukan, kami bukan minder dan malu, namun merasa lucu haha. 

Monday, August 3, 2015

LebaRun di Kendari

Jalur lari 12.5K
Sejak lari menjadi kebiasan dan hobi saya, kemanapun saya pergi, perlengkapan lari tak pernah ketinggalan. Bahkan, mencari tahu di peta atau internet tentang jalur lari di suatu tempat tujuan, sudha menjadi bagian dari persiapan saya bepergian ke tempat baru (atau lama). Termasuk ketika mudik lebaran tahun ini. 

Berlebaran (dan lebaRun) tahun ini istri dan saya pulang ke rumah orang tua saya di Kendari, sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Panas haha, itu ucapan istri saya ketika pertama kali tiba disini tahun 2011. Tentu saja panas. Dekat laut :D 

Kondisi jalanan di kota yang terkenal dengan oleh-oleh kacang mete dan terasi ini beragam. Ada bagian yang sudah dilapisi aspal yang mulus namun ada juga yang masih penuh lobang dan berdebu. Untuk berlari, saya memilih jalan raya sepanjang tepi Teluk Kendari. Di kepala saya sudah seperti menggambar rute jalanan yang akan saya lewati. 

Monday, July 6, 2015

Nisan

Doa mengalir mengenang engkau
Beri penghormatan untuk selamanya
Di lain masa kita akan bertemu

Ngarbone - Komunal

Kehangatan dari Ketinggian 2000 meter

Suara meraung-raung seketika terdengar memekakkan telinga ketika supir memainkan gas dengan kaki kanannya. Asap hitam pekat pun menandai kualitas kendaraan yang kami tumpangi. Tanjakan cukup curam di depan. Sebuah tanda peringatan dengan gambar jalan menanjak kembali mengingatkan pengguna jalan untuk selalu berhati-hati. Aku lalu memperhatikan jalan sembari sesekali melirik supir di sebelah kanan yang terlihat tenang mengemudi sembari menimpali obrolan sang kernet. Dini, teman perjalananku kali ini, melirik sambil tersenyum seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Waah serem ya ngegas bisnya,” tatapan matanya kuartikan seperti itu.

Aku hanya membalas dengan tersenyum sembari menepuk-nepuk punggung tangannya.
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami melewati jalanan menanjak berliku yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan. Salah satu sisi dengan jurang sedalam lebih dari 100 meter dan sisi lainnya dikepung oleh tebing tinggi seperti kanvas para pelukis alam. Bahkan di beberapa titik, salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dahulu agar kendaraan dari arah berlawanan dapat lewat duluan. Aku sendiri beberapa kali sempat mengernyitkan kening bila melihat bis ini akan menyalip kendaraan di depannya. Namun terlepas dari itu semua, kita sebenarnya disuguhkan oleh pemandangan alam yang indah.

Lereng pegunungan yang tampak seperti undakan hijau raksasa yang tertata rapih itu adalah ladang petani yang menyulap tebing-tebing tanah menjadi lahan pertanian. Sungguh, adalah pemandangan yang menakjubkan, meskipun kadang melihatnya membuat bertanya-tanya bila musim hujan tiba. Ancaman tanah longsor bisa menjadi masalah besar.

Gede Pangrango Marathon 2015

Olahraga lari sedang menjadi trend di Indonesia. Setidaknya sejak lima tahun terakhir. Jakarta misalnya, hampir setiap akhir pekan banyak even lomba lari baik di jalanan kota ataupun di gunung hutan, yang biasa disebut trail running atau lari gunung. Pesertanya pun mencapai ratusan mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa hingga pelari atlet profesional

Untuk jenis lari yang terakhir ini, sebuah organisasi penyelenggara lomba lari gunung di Indonesia, Fonesport, pada tanggal 2 Mei 2015 menyelenggarakan lomba lari gunung bertajuk Gede Pangrango Marathon 2015 yang diikuti sekitar 530 penggemar olahraga lari gunung dari dalam maupun luar Indonesia. Tercatat sekitar 15 negara berpartisipasi dalam lomba yang terbagi dalam tiga kategori, 42K, 21K dan 15K ini. Lomba yang dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ini adalah lomba lari pertama di Indonesia yang masuk ke dalam jajaran daftar lomba Asia Trail Master Series, sebuah daftar lomba lari gunung tahunan termasuk pencatat peringkat pelari gunung terbaik di Asia 

Bahkan, untuk kategori 42K, bagi para pelari yang berhasil masuk garis finish sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu 16 jam, akan mendapatkan satu poin dari tujuh poin yang dibutuhkan untuk bisa ikut dalam salah satu lomba lari gunung prestisius di dunia yaitu UTMB (Ultra Trail Mont Blanc) di Benua Eropa yang menempuh jarak sejauh 165K melewati tiga negara dan pegunungan Mont Blanc. Indonesia (baru) memiliki satu orang yang sudah menyelesaikan UTMB ini. 

Tepat pukul 05.30 saya tiba di lokasi lomba. Beberapa peserta sudah terlihat berkumpul. Ada yang terlihat menikmati suasana pagi dengan mengambil gambar memakai telepon pintar atau sekedar ngobrol dengan peserta lainnya. Untuk lomba kali ini, saya mengambil kategori 21K. Ketika melihat berita tentang lomba lari gunung ini beberapa bulan lalu di grup media sosial yang saya ikuti, nyali saya menyuruh saya mendaftar kategori 42K.

Tuesday, June 9, 2015

City Trail: Semarang

Bagi para penggemar lari trail atau lari gunung, bila sedang disela-sela pekerjaan lalu melihat di berbagai media sosial ada yang berbagi foto atau cerita tentang lari gunung mereka, biasanya langsung mencari tahu lokasi tempat tersebut dan sebisa mungkin mencari waktu untuk mencoba jalur lari itu. Masalah timbul bila tidak punya waktu banyak atau dana terbatas untuk keluar kota menyambangi gunung-gunung atau hutan-hutan. Satu hal yang saya pelajari adalah, hal itu bukan menjadi penghalang. Buka mata lebih jeli dan jalur lari trail akan terlihat, tanpa harus pergi jauh :)

Salah satunya adalah di kawasan Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Kawasan yang terkenal dengan kompleks kampus Unviersitas Diponegoro ini memiliki jalur lari trail yang cukup menyenangkan sekaligus menantang. Mulai dari jalur setapak perkebunan milik warga hingga jalur naik turun perbukitan yang terletak di kawasan latihan militer TNI. Sangat cocok untuk memuaskan hobi para pelari trail yang tidak punya cukup waktu untuk keluar kota. 

Sore itu, atas ajakan seorang kawan yang juga penggemar lari trail, saya menjajal jalur 10K yang sudah dipetakan oleh dia dan beberapa kawan lainnya. Area ini sebenarnya bukan area baru bagi saya. Sebagian jalur yang dilewati adalah jalur lari dan sepeda saya dulu ketika masih tinggal di Kota Lumpia ini. Kali ini, dalam rangka liburan ke rumah ibu mertua, sebelum pulang kembali ke ibukota malam harinya, saya ikut berlari-lari sore, sekaligus nostalgia :)

Wednesday, March 18, 2015

menanti lomba lari gunung pertama :)

Akhirnya, saya punya kesempatan juga untuk ikut di lomba lari gunung. Sebenar-benarnya gunung. Bukan sekedar trail running di perbukitan atau jalan setapak.

Ini akan menjadi lomba lari gunung pertama saya hohoho

Tapi, rasa khawatir timbul mengingat gunung ini cukup sulit untuk didaki apalagi dibuat lari. Dan fakta bahwa selama 7 bulan terakhir saya tidak pernah mendaki atau lari di gunung membuat tidak yakin dengan kemampuan untuk finish sebelum tenggat waktu.

Semoga adrenalin dan atmosfir lomba bisa membantu haha

Lomba lari gunung pertama :)


20K PhilHealth Run Cebu City

Seperti biasa, lomba lari di negara 7 ribu pulau ini membutuhkan kesabaran dan tekad yang kuat. Untuk lomba lari marathon jalan raya bukan gunung hutan, startnya paling tidak pukul 3 pagi. Berarti bangun pukul 1 pagi, bersiap2 30 menit dan jam berkumpul di area mulai pukul 2. Butuh tekad yang kuat kan? Ada lagi yang startnya jam 12 malam hahaha. 

Kali ini, saya ikut lomba 20K yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan asuransi kesehatan Filipina. Start pukul 04.30 pagi. Subuhan saya? sekitar 04.15 di sekitar garis start, tepatnya di teras salah satu gedung haha. Biasanya saya lari dengan celana pendek, sekarang, selama disini, membiasakan diri lari dengan compression legging, biar bisa subuhan :) 

Belajar dari pengalaman lomba-lomba sebelumnya, saya lalu mempelajari jalur yang dilewati kali ini. Karena berlari telanjang kaki, saya lalu mewaspadai jalur2 neraka. Sekitar 4K jalur neraka. Jalur neraka ada aspal yang kasar seperti jerawat batu, menyiksa kaki sedemikian rupa. Siasat lalu saya kerahkan. Berlari zigzag melewati teras-teras bangunan atau lompat sana sini seperti tupai. Sisanya cukup bisa dilewati dengan mudah :)

1 jam 49 menit catatan waktu saya kali ini. Tidak buruk, bahkan cukup mengagetkan mengingat 10 hari sebelumnya saya hanya lari 10K dua kali  dan dengan catatan waktu buruk haha, maksudnya tidak seperti biasanya. Mungkin karena adrenaline dan tidak sedang sakit perut seperti ketika terakhir saya ikut marathon sembari menahan sakit diare. 






Thursday, February 19, 2015

Tiga Rute Lari Favorit di Bogo City, Cebu

Lari adalah olahraga yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Tidak percaya? Saya pernah tahu teman lari yang lari keliling kamar kos nya yang berukuran 3x3 meter persegi karena hujan lebat saat itu. Ada lagi yang berlari mengelilingi garasi mobilnya atau keliling rumah nya naik turun lantai 1 dan 2. Semua karena mereka sudah menjadikan lari sebagai kebutuhan dan tidak ada alasan untuk tidak melakukannya ketika kita sedang benar-benar menginginkannya. 

Di kota tempat tinggal saya sekarang, ada banyak jalur-jalur lari yang sudah saya coba. Misalnya menyusuri jalan aspal antar kota atau trail ringan di perbukitan sekitar pantai atau jalan menuju desa, disini disebut barangay, yang berujung di pantai. Saya beruntung bisa tinggal di kota kecil, bukan di kota besar seperti Manila yang melihat bintang di malam hari atau laut biru adalah hal yang sungguh sangat mahal harganya. 

Dari semua rute-rute lari tersebut, saya bisa bilang ada tiga rute yang menyenangkan. Selain lari juga memiliki nilai tambah.

Thursday, January 15, 2015

Kemah di Pantai

Siang ini, disela-sela waktu istirahat dari pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi untuk membuat konsep pelatihan untuk bulan depan, saya lalu mengajak ngobrol kawan-kawan lama saya di grup whatsapp. Kawan-kawan yang sudah saya kenal sejak 15 tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku kuliah. Kawan-kawan yang bersama-sama menghabiskan masa sekitar lima tahun diantaranya dengan bepergian mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa. Kini, sebagian besar mereka sudah berkeluarga dan sudah tidak lagi mendaki gunung :) 

Kawan-kawan saya ini, mungkin tidak seperti pertemanan pada umumnya, kami tidak saling bercerita tentang kehidupan pribadi masing-masing. Tentang keluarga misalnya. Hal-hal semacam itu tidak pernah dijadikan bahan obrolan baik seperti misalnya sahabat dengan sahabat saling curhat. Bukan karena tidak percaya namun jenis kedekatannya berbeda. Kami merasa lebih dekat karena hal-hal bodoh yang kami lakukan di masa lalu. Ketertarikan kami pun berbeda. Ada yang mendengarkan musik metal, dangdut dan pop. Ada yang suka baca buku. Ada yang hanya bekerja saja. Masa lalu yang membuat kami dekat. Nostalgia. Semua manusia menyukai nostalgia. 

Obrolan kami kali ini adalah merencanakan liburan berkemah bersama di Pulau Panjang. Kami punya hubungan sangat dekat dengan pulau ini. Bukan karena keindahannya juga tingkat kesulitan petualangannya namun, sejak tahun 2001 hingga 2005, setiap tahun kami selalu datang kesini. Bahkan beberapa dari kami, dengan kepentingan berbeda, hingga dua kali setahun datang ke pulau ini. 

Tuesday, January 13, 2015

Lari untuk Bersenang-senang. Itu Sudah.

Bukan kali pertama ini saya berlari dini hari, tapi tetap saja ketika melihat informasi lomba di situsnya (www.cebumarathon.com), saya tetap saja geleng-geleng membayangkan harus bangun paling tidak pukul 01.00 lalu siap-siap dan berkumpul pukul 02.00 dan mulai menyiksa diri pukul 03.00. Jam enak-enaknya tidur. Meskipun begitu, saya tetap saja mendaftarkan diri di Cebu Marathon 2015 ini. Lumayan, saya bisa bilang kalau sudah pernah ikut marathon di luar negeri huahaha

Karena termasuk orang yang tidak canggih dalam hal bayar membayar sesuatu melalui internet, saya kemudian meminjam kartu kredit seorang kawan untuk melakukan pembayaran. Karena hanya dua system pembayaran yang diterima yaitu melalui kartu kredit atau melalui pembelian voucher di tempat yang sudah di tentukan dan kemudian dari voucher itu kita akan mendapatkan kode yang (lagi-lagi) akan dimasukkan ketika mendaftar melalui internet hehehe. Pendaftaran marathon ini saya lakukan kira-kira 1.5 bulan sebelum hari H nya.

Pun, karena saya bukan pelari yang serius dengan segala macam keinginan untuk PB lah atau memperbaiki teknik berlari, saya tidak mengikuti segala adab latihan yang memerlukan kedisiplinan tingkat tinggi dalam menyongsong lomba marathon. Yang saya tahu dengan perhitungan logika otak (dan kecepatan lari) seadanya ini, batas waktu lomba lari 42K adalah tujuh jam. Berarti sekitar 420 menit. Biar tetap bisa masuk finish tanpa kena batas waktu, paling tidak saya harus disiplin lari 10 menit per kilometernya. Sederhana kan? Kalau mau agak santai ya 8 menit per kilometer jadi bisa diselingi jalan sebentar atau agak lamaan di pos minum hihihi. Begitulah saya menyebut lomba marathon. Saya cukup sadar dengan segala kemalasan saya berlatih, untuk tidak (atau belum?) tertarik menyiksa diri pengen 42K dibawah empat jam atau lima jam atau enam jam. Saya lebih menyukai lari-lari sambil lihat-lihat orang yang cepet-cepet atau lirik2 cewek-cewek cakep atau memperhatikan jenis-jenis sepatu lari yang beraneka ragam, atau jenis-jenis tulisan motivasi di beraneka ragam warga kaos lari dan lain sebagainya. Hehehe. Lalu foto-foto tentu saja.

Wednesday, January 7, 2015

Biru Malapascua

i just do not want to get out from the water
Dan, pada suatu siang, aku tak mau pulang. 

Tak perlu dipertanyakan lagi, saya lebih menyukai gunung hutan dibanding lautan biru dan segala keindahan bawah air nya. Tidak karena saya bukan perenang yang hebat namun karena saya lebih bisa bergerak bebas ketika berada di gunung, berlari, berkeringat mendaki dan berakhir dengan duduk kedinginan di depan perapian dan langit terang oleh jutaan bintang. 

Namun kebosanan membuat saya pergi menuntut untuk mendapatkan kesenangan ke Pulau Malaspascua. Sebuah pulau yang sudah terkenal seantero Cebu bila ingin melihat keindahan bawah laut. 

Menggunakan mobil sewa (kebetulan sedang ada tamu datang) dari kota tempat saya tinggal, perjalan an menyusuri kota-kota pantai membutuhkan waktu sekitar satu jam hingga diujung utara pulau Cebu. Dari sini, tersedia kapal yang akan membawa para pelancong atau masyarakat setempat menuju pulau berukuran 2.5x1 kilometer ini. Biayanya 80 peso atau sekitar 22 ribu rupiah. Nah, yang perlu dicermati adalah, kadang dengan alasan air sedang surut atau alasan lain, kapal ini akan ngetem di jarak sekitar 250 meter dari pelabuhan, lalu kita akan diangkut oleh kapal kecil dengan biaya tambahan 20 peso atau sekitar 6000 rupiah. Padahal, kalau lihat kedalaman airnya, jarak 250 meter tersebut bisa dengan jalan kaki aja airnya cuma seleher hahaha. 

Bosan.

Jadi, sudah hampir tiga bulan saya menyandang status sebagai perantauan luar negara Indonesia. Jauh dari sanak saudara, secara fisik tentunya karena internet membuat semuanya seperti ada di depan mata, memakan makanan yang masih belum mendapat tempat khusus di hati dan merindukan dengan sangat mendaki gunung :))) 

Kota Bogo seperti Jepara, meskipun secara geografis tidak sebanding dengan luasnya wilayah Jepara, namun rasa-rasanya hampir serupa. Khas kota tepian laut yang panas dan berdebu, dominasi makanan dari hasil laut, meskipun disini produk dari babi menempati urutan nomer satu :D, dan serasa tinggal di kota mati selepas pukul 20.00 hahaha 

Selama tiga bulan disini, saya bisa mengambil kesimpulan. Saya merasa bosan. Ini hal yang menarik karena selama hidup hingga saat ini, saya selalu merasa menjadi orang yang sangat bisa beradaptasi dan menemukan hal-hal yang membuat saya bisa hidup dengan nyaman. Namun, tidak dengan tempat ini.