Sunday, November 23, 2014

“Alien” di Kota Tua

Selalu ada perasaan yang berbeda ketika berjalan-jalan di daerah yang baru, setidaknya itu yang saya rasakan selama ini bila sedang bepergian. Mengetahui bahwa kita adalah “alien” di tempat tersebut. Berjalan-jalan berkeliling lokasi baru sambil celingak celinguk melihat sana sini ini itu mencari sesuatu yang menarik perhatian entah sesuatu yang unik atau lucu. Atau sesuatu yang terkenal sebagai ikon wisata atau bahkan hal-hal sederhana yang menarik hati.

Saya selalu menyukai memperhatikan orang-orang dimanapun saya berada entah itu sedang menjadi pelancong atau hanya di sekitar rumah tempat tinggal saya. Orang-orang berinteraksi dengan orang lain, entah sahabat, keluarga atau sekedar teman kerja. Saya selalu tertarik ingin mengetahui seperti apa yang dibicarakan, apa yang membuat mereka tertawa. Saya selalu ingin tahu kehidupan manusia lain, kecuali gossip selebriti tentunya hahaha

Pagi ini sebelum berangkat ke bandara untuk menuju ke kota tempat saya tinggal enam bulan ke depan, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan di kawasan kota tua tempat dimana hotel saya berada. Sebenarnya sejak tiga hari lalu saya berada disini, setiap pulang dari kantor pusat, saya berjalan melewati kawasan yang cukup ramai ini. Namun, selalu pada jam sore menjelang maghrib dan mulai gelap. Saya mungkin tidak leluasa menikmati bangunan-bangunan tua nan menawan secara maksimal.

Warteg ala Filipina

“Can I have that? and that?” ucap saya perlahan-lahan sembari menunjuk sop ikan dan tumis kangkung dari balik meja kaca ala warteg.

“Isda? Kangkong?” balas mas-mas penjaga warung.

“Yes please, the fish soup and yes, kangkung,” saya sedikit tersenyum karena ternyata kangkung pun bernama kangkung disini, Cuma pakai kangkong :D. Mungkin akan bikin jokes mau kuat kayak kingkong, makanlah kangkong hahaha

Saya sempat bertanya tentang menu lain yang sepertinya menarik. Saya terka itu adalah babi, dan saya tidak boleh makan babi, namun sekedar memastikan siapa tahu itu daging sapi hahaha namun ternyata benar. 85 persen makanan di warung ini memasukkan daging atau lemak babi.

Pilihan saya adalah sop ikan dan tumis kangkung. Biasanya di tumis kangkung diselipkan sedikit potongan daging sapi, setidaknya itu kalau masakan ibu mertua saya, namun kali ini murni hanya sayur kangkung saja.

Tak lama kemudian saya duduk asyik menikmati seporsi nasi, tumis kangkong (bukang kingkong!) dan sop ikan. Harganya 64 peso. Sekitar  17 ribuan rupiah. Itu udah sama air putih dari teko. Bisa nambah sepuasnya. Itu di salah satu warung makan (seperti warteg) di sudut kota Manila. Menu serupa di kabupaten di daerah bisa jauh lebih murah 10 peso atau menjadi 55 peso.