Monday, January 27, 2014

Penyu (tidak) Punya Teluk

Bisa ditebak, hanya dengan mendengar namanya saja, kalau penamaan Teluk Penyu di sebelah selatan kota Cilacap berasal dari banyaknya penyu disana. Hampir benar. Konon kabarnya dulu teluk ini menjadi lokasi bertelurnya para penyu yang datang dari samudera India. Namun, sekarang, yang datang "bertelur" adalah sampah dan para wisatawan. 

Pantai dan lamunan. Dua hal tersebut seperti tidak akan terpisahkan dari manusia dan nafsunya. Melihat pantai seperti secara otomatis meminta manusia untuk duduk sejenak, diam dan menikmati suasana. Lihatlah mereka yang menikmati suasana di pantai. Entah sekedar duduk menunggu matahari terbenam atau terbit. Melihat hingga ke batas cakrawala dalam diam. Bahkan dalam sebuah pesta pantai pun, akan ada yang terlihat duduk santai menikmati suara ombak di tepi pantai. 

dimana ujungnya?

Monday, January 20, 2014

Pulau Kambangan

Saya yakin, ketika ditanya letak atau apa itu Pulau Kambangan, orang-orang akan mengernyitkan kening, berpikir sejenak lalu menjawab ragu-ragu atau balik bertanya. Namun, bila menyebutkan Nusakambangan, pasti akan lebih cepat bereaksi dengan kata "Penjara ya?"

Ya, masyarakat Indonesia mengenal Nusa (berarti Pulau) Kambangan sebagai lokasi penjara dengan tingkat keamanan maksimum dimana penjahat kelas kakap di negara ini dijebloskan. Para terpidana teroris, koruptor tingkat tinggi, penyulut kerusuhan dan para gembong narkoba adalah penghuninya. Pulau yang terletak terpisah dari pulau utama jawa oleh selat Segara Anakan ini terletak tidak jauh dari Pantai Teluk Penyu, Cilacap

Pertama kali melihat pulau ini, sekitar empat tahun silam. Saya hanya melihatnya dari jauh sembari menikmati makan siang di salah satu rumah makan yang banyak terdapat di sepanjang obyek wisata Pantai Teluk Penyu. Saat itu, saya belum sempat menyambangi pulau yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 15 menit dari pantai yang berada di sebelah selatan kota Cilacap ini. Baru setelah dua tahun kemudian saya berkesempatan untuk menyambangi Pulau Kambangan ini.

Thursday, January 16, 2014

Surat Cinta Untukmu

Berangkat menuju ladang

Hai cantik, 

Apa kabarmu? Lama aku tak berjumpa dan mendengar berita tentangmu. Kapan terakhir kita bersua? Sudah lama sekali. Aku sampai lupa dan harus berpikir sejenak untuk mengingatnya kembali. Hmm..sekitar empat tahun lalu ya? Saat itu kalau tidak salah sehari setelah hari raya idul qurban. Kita bertemu hanya semalam. Aku datang ke rumahmu sendirian, biasanya aku bersama teman-teman kita kan, dan kita bebas bercerita banyak malam itu tanpa harus berbagi waktu dengan yang lain. 

Aku ingat pertemuan pertama kita. Aku dikenalkan oleh teman-teman kosku saat itu. Aku masih malu-malu untuk mengenalmu lebih jauh. Maklum, aku masih muda dan baru saja mengenal dunia diluar keseharianku. Saat itu aku lebih banyak diam ya dan susah diajak bicara? hahaha sekarang, lebih banyak bicara dan susah disuruh diam :) 

Cantik,

Sejak pertama kali mengenalmu itu, sudah hampir tak terhitung aku main ke rumahmu. Mungkin lebih dari 10 kali ya? Kadang sendirian tapi lebih banyak bersama kawan-kawanku. Entah itu kawan kuliah atau kawan bermain. Bahkan ada yang khusus minta diantar bertemu denganmu setelah mendengar banyak cerita dariku tentangmu. Ah, kau memang akan selalu punya banyak cerita yang menarik untuk diceritakan kembali ke orang lain.


Sunday, January 12, 2014

Nanjaks di kota Semarang

Jadi, masih tentang LibuRun.

Kali ini saya mencoba menjajaki jalur yang sebenarnya sudah lama ingin saya coba semenjak tahun-tahun yang saya habiskan di Semarang. Kawasan rimbun yang menjadi tempat pelarian saya entah sekedar melemaskan kaki atau kemping di tepi sungai bila sedang kangen pada gunung hutan namun sedang tidak bisa bepergian mendaki gunung :) 
Jalan paving menuju ke areal perkebunan

Di daerah Banyumanik atau Semarang atas, dimulai dari SPBU Sukun, menyeberang masuk ke gang disamping warung bakso pak ratno, ikuti jalan terus menurun hingga menemukan undak-udakan (agak licin) menuju ke perkebunan yang ditandai dengan pagar pembatas. Jalan menurun bercampur dengan undak-undakan semen yang sudah mulai rusak dan tanah dimulai dari sini. Langkah harus diperhatikan dengan baik bila tidak ingin tergelincir oleh lumut yang menempel di bebatuan. Apalagi di musim hujan. 

Disini, jalan lalu berbeluk turun sedikit tajam menuju ke arah kiri yaitu ke sungai. Berkelok hingga mencapai ujung jembatan besi yang sudah mulai dimakan usia. Dibawahnya mengalir sungai yang cukup deras bila sedang musim hujan. Sungai yang berasal dari daerah Ungaran hingga ke tengah kota Semarang. Airnya coklat dan berbuih. Saya sedikit mencurigainya sudah tercemar oleh limbah perumahan atau pabrik yang dilaluinya.  
jalan menurun

Di tepian sungai, saya menemukan suasana yang sungguh sangat berbeda. Seperti dua sisi mata uang, kurang dari 10 menit yang lalu, saya berada di hiruk pikuknya manusia dan kendaraan mulai dari roda dua hingga roda delapan atau 16. Sekarang, saya merasa damai hanya dengan warna hijau, suara air dan ketenganan yang menyenangkan hati. 
jalan menurun sebelum masuk ke sungai
sungai dan jembatan

LibuRun Tahun Baru

Diawal tahun ini, istri dan saya berlibur meninggalkan ibukota untuk mengunjungi saudara dan karib kami :). Bercengkrama di rumah sembari menikmati obrolan, bermain dengan anak mereka adalah salah satu jenis liburan yang sangat saya nikmati. Bahkan mengunjungi rumah karib kami ketika dia sedang tidak ada di rumahnya pun terasa menyenangkan. Bertemu dengan orang tuanya, menikmati buah-buahan dari kebun di halaman belakang rumahnya serta makan siang bersama adalah liburan yang makin tergeser oleh paket wisata di luar negeri, ditambah dengan penerbangan berbiaya murah

Tentu saja, saya tidak melupakan untuk berlari di tempat-tempat baru tersebut. Menyusuri jalur ring road selatan sekitar 15K di pagi buta saya lakukan ketika sedang di Jogjakarta. Tadinya saya berencana untuk lelarian dari rumah karib kami di seputaran Rumah Sakit Wirosaban menuju Candi Prambanan, sekitar 21K. Namun setelah dipikir-pikir, 42K pergi pulang bisa memakan waktu 5 jam dengan padatnya lalu lintas Jogja ketika masa liburan. Belum lagi habis itu, pasti saya akan lelah dan tak mampu lagi ikut jalan-jalan bersama yang lain. Jadilah saya sekedar lelarian manis 15K pergi pulang hehehe

15K Jogjakarta ring road selatan

Di Tayu, Pati, ketika sedang mengunjungi saudara, saya pun tak melewatkan untuk menjajal jalur menuju Benteng Portugis. Meskipun ternyata setelah bertanya ke orang yang saya temui di jalan, jaraknya masih berkisar 35-40K, membuat saya lalu mengurungkan niat dan memilih berlari 13K saja pagi itu hhahahha, pergi pulang dari rumah saudara yang kami tinggali malam sebelumnya. Daripada saya sok melakukan ultra tanpa persiapan dan berakhir merepotkan orang lain? saya cari aman saja :) 

Lelarian di daerah pedesaan ini, terutama di pagi hari, saya mendapatkan nilai tambahan perasaan senang. Melewati areal persawahan dengan kegiatan petani yang sedang panen, sungguh menimbulkan rasa bahagia di hati saya. Menyunggingkan senyum sembari berlari pelan, menyapa bapak-ibu petani yang sedang bercengkrama di tepi sawah atau jalan. Udara segar menyehatkan paru-paru, pemandangan orang-orang tertawa menyenangkan mata saya. Sayangnya saya melakukan kebodohan absolute. Lupa membawa kamera poket yang biasanya selalu saya bawa kemanapun saya pergi.