Jadi, masih tentang LibuRun.
Kali ini saya mencoba menjajaki jalur yang sebenarnya sudah lama ingin saya coba semenjak tahun-tahun yang saya habiskan di Semarang. Kawasan rimbun yang menjadi tempat pelarian saya entah sekedar melemaskan kaki atau kemping di tepi sungai bila sedang kangen pada gunung hutan namun sedang tidak bisa bepergian mendaki gunung :)
 |
| Jalan paving menuju ke areal perkebunan |
Di daerah Banyumanik atau Semarang atas, dimulai dari SPBU Sukun, menyeberang masuk ke gang disamping warung bakso pak ratno, ikuti jalan terus menurun hingga menemukan undak-udakan (agak licin) menuju ke perkebunan yang ditandai dengan pagar pembatas. Jalan menurun bercampur dengan undak-undakan semen yang sudah mulai rusak dan tanah dimulai dari sini. Langkah harus diperhatikan dengan baik bila tidak ingin tergelincir oleh lumut yang menempel di bebatuan. Apalagi di musim hujan.
Disini, jalan lalu berbeluk turun sedikit tajam menuju ke arah kiri yaitu ke sungai. Berkelok hingga mencapai ujung jembatan besi yang sudah mulai dimakan usia. Dibawahnya mengalir sungai yang cukup deras bila sedang musim hujan. Sungai yang berasal dari daerah Ungaran hingga ke tengah kota Semarang. Airnya coklat dan berbuih. Saya sedikit mencurigainya sudah tercemar oleh limbah perumahan atau pabrik yang dilaluinya.
 |
| jalan menurun |
Di tepian sungai, saya menemukan suasana yang sungguh sangat berbeda. Seperti dua sisi mata uang, kurang dari 10 menit yang lalu, saya berada di hiruk pikuknya manusia dan kendaraan mulai dari roda dua hingga roda delapan atau 16. Sekarang, saya merasa damai hanya dengan warna hijau, suara air dan ketenganan yang menyenangkan hati.
 |
| jalan menurun sebelum masuk ke sungai |
 |
| sungai dan jembatan |