Tuesday, August 18, 2015

Bukan Jalan-jalan Biasa

"Ini baju dan celana buat jalan berangkat. Trus ini buat tidur dan ini buat pulangnya."istri saya sedang asyik memilih pakaian yang akan dibawanya selama perjalanan kami akhir pekan ini menuju Perkampungan Suku Baduy di Banten. Dia memang sangat menyukai saat ketika memilih-milih pakaian yang akan dia pergunakan selama bepergian :). Saya? sedang sibuk menunggu memperhatikan jenis baju dan celana seperti apa serta padu padan warna apa yang sekiranya dia sukai hahaha. Setelah selesai, giliran saya mengatur sedemikian rupa ke dalam ransel yang akan berisi seluruh perlengkapan kami selama dua hari perjalanan. 

Perjalanan kami kali ini adalah untuk pertama kalinya mengikuti open trip, begitu kira-kira sebutan popularnya. Open trip berarti bepergian dengan orang-orang yang baru akan dikenal saat itu. Pihak pengelola perjalanan biasanya akan menawarkan satu paket transportasi, makan dan akomodasi dengan jumlah minimal tertentu dalam satu kelompok. Open trip berarti ada dua kemungkinan. satu, kita akan cocok dengan kelompok baru ini atau dua, menyesal hahaha. 

Kebiasaan saya sebelum bepergian, entah ke tempat baru atau yang sudah saya kunjungi, adalah mencari tahu kondisi terkini tempat tersebut. Mulai dari transportasi, karakter tujuan, apa yang bisa di kerjakan, jenis-jenis foto yang kemudian menuntun pada perlengkapan seperti apa yang harus saya bawa. Semua ini saya lakukan agar saya bisa mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keunikan dari setiap perjalanan saya. Dan dari mencari tahu, saya lalu sadar bahwa jalan-jalan ke Perkampungan Baduy ini adalah bukan jalan-jalan biasa, yang bagi saya adalah masuk kategori trekking atau mendaki gunung, berarti perlengkapannya minimal seperti trekking ke gunung hutan di Ungaran. 

Dan, sepertinya mencari tahu lokasi tujuan perjalanan, berikut karakter perjalanannya tidak atau belum menjadi kebiasaan bagi kebanyakan pejalan di Indonesia.

Tuesday, August 11, 2015

Obrolan dengan orang asing

Saya menyukai ngobrol dengan orang asing. Bukan berarti hanya bule dari luar negeri, namun orang yang tak dikenal sebelumnya. Orang-orang yang secara acak (benarkah?) bertemu denganmu di bangku kereta atau bis, dalam perjalanan atau sedang menunggu di stasiun kereta maupun terminal bis. 

Untuk memulainya biasanya sulit karena, terutama di ibukota, berbicara dengan orang tak dikenal memiliki konotasi negatif. Bahkan berkata bahwa "ngobrol dengan orang tak dikenal" saja sudah memberi rasa was-was, curiga, dan memasang tameng waspada. Berita di media massa banyak mempengaruhi pikiran masyarakat, termasuk berita kejahatan yang timbul dari berkenalan dengan orang di terminal, stasiun, atau internet. Namun bagiku, ngobrol dengan orang baru adalah sebuah bagian dari perjalanan (hidup). 

Dulu di usia 20an, saya banyak menghabiskan waktu berkeliling mendaki gunung di pulau Jawa. Seperti kebanyakan anak muda lainnya, mengandalkan sarana transportasi paling murah adalah cara yang paling digemari. Dan, biasanya obrolan yang paling menarik adalah dari para pengguna moda transportasi kampung seperti bis non ac, kereta kelas ekonomi atau kapal laut. Bahkan kini, setelah tinggal di luar negeri, hal yang sama masih berlaku. Bepergian dengan bis antar kota seperti dari Bogo ke Cebu atau Cebu ke Dalaguette, saya beberapa kali berkenalan dan ngobrol dengan orang-orang yang selalu senang bercerita. 

Monday, August 10, 2015

Menjadi muslim di Bogo City, Cebu, Philippines

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan sebuah kota bernama Bogo, sebuah kota berukuran sekitar 100 ribu meter persegi yang terletak sekitar 100 kilometer sebelah utara Kota Cebu, ibukota pulau Cebu, Filipina. Bukan karena saya merindukan kota yang terasa seperti perpaduan antara Jepara (daerah pantainya) dan Grobogan (sepi dan garingnya haha) namun karena di kota itulah saya menghabiskan sekitar tujuh bulan waktu bekerja dan hampir setiap malam berdiskusi dengan dua orang manusia yang selalu melihat dunia dengan kelam, penuh prasangka namun memiliki kebaikan hati yang tulus. 

Tinggal di kota itu adalah pengalaman pertama saya menjadi alien, benar-benar disebut sebagai alien di kantor imigrasi dan bandara, jauh dari kehidupan nyaman saya bertahun-tahun di negara sendiri. Saya belajar untuk beradaptasi lebih cepat dan yang paling penting, menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang memang benar-benar bertanya, bukan menguji atau mencari kesalahan atau memojokkan. It's just a question. Dan, jenis pertanyaan yang hampir bisa saya pastikan tidak akan pernah di tanyakan di negara kami yang masih menjunjung tinggi "nggak enak sama orang" atau "ribet amat ngobrolnya, yang ringan-ringan ajalah". 

Sebagai muslim, meskipun bukan muslim yang menaati aturan agama secara penuh, saya benar-benar merasakan bagaimana hidup menjadi minoritas dari kacamata beragama. 

Saya tidak lagi menemukan suara adzan yang mudah ditemukan di manapun di Indonesia. Penanda waktu sholat saya benar-benar hanya mengandalkan kedisiplinan saya sendiri. Makanan. Sesungguhnya ini lah ujian sebenarnya. Tidak ada satupun warung yang tidak menyajikan menu babi. termasuk di dalamnya alat masak yang menjadi satu. Alhasil, saya mengandalkan memasak sendiri dengan jenis masakan ala kadarnya seperti pasta dan sausnya. Goreng ikan dan ayam. Saya hanya makan ikan, ayam dan sayur dari restoran seafood di sekitar rumah. Harganya lebih mahal dari tempat makan di kota ini. 

Tuesday, August 4, 2015

Bersepeda

Jalur sepeda 18K 
Istri saya dan saya sedang menikmati hobby baru bersama, yaitu bersepeda. Kami bahkan membeli sepasang sepeda lipat yang rencananya akan kami pergunakan untuk berwisata di kota-kota atau tempat-tempat jauh. Bukan menuju ke kota-kota atua tempat-tempat jauh ya, tapi di. hehehe. Rencananya kami akan naik kereta ke Bogor atau Malang atau Surabaya membawa sepeda lipat dan menikmati kota tersebut dengan bersepeda. 

Sebelumnya, kami sudah memiliki sepasang sepeda. Saya memiliki jenis sepeda gunung yang dulu sering saya pakai selama tinggal di kota Semarang. Bersepeda atau berlari dari rumah ke tempat kerja sejauh 10K tiap hari saya lakukan, berganti-gantian. Jalannya naik turun bukit dan kategori city trail. Namun, sejak pindah ke Tangerang Selatan, sepeda gunung itu jarang saya pakai. Sedangkan istri saya, tepatnya ibu mertua saya, memiliki sebuah sepeda mini (entah kenapa disebut sepeda mini padahal ukurannya besar?) yang memiliki keranjang. 

Pernah sekali setelah menikmati suasana pagi dengan bersepeda di hari minggu, kami beristirahat di sebuah rumah makan yang dikenal menjadi tempat kongkow anak muda dan para "eksekutif" yang tergolong masyarakat kelas menengah keatas. Dan, kami lalu tertawa-tawa ketika hendak memarkirkan sepeda. Semua, beneran semua, sepeda yang parkir disitu adalah sepeda yang berharga paling tidak 45 juta rupiah haha. Bukan, kami bukan minder dan malu, namun merasa lucu haha. 

Monday, August 3, 2015

LebaRun di Kendari

Jalur lari 12.5K
Sejak lari menjadi kebiasan dan hobi saya, kemanapun saya pergi, perlengkapan lari tak pernah ketinggalan. Bahkan, mencari tahu di peta atau internet tentang jalur lari di suatu tempat tujuan, sudha menjadi bagian dari persiapan saya bepergian ke tempat baru (atau lama). Termasuk ketika mudik lebaran tahun ini. 

Berlebaran (dan lebaRun) tahun ini istri dan saya pulang ke rumah orang tua saya di Kendari, sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Panas haha, itu ucapan istri saya ketika pertama kali tiba disini tahun 2011. Tentu saja panas. Dekat laut :D 

Kondisi jalanan di kota yang terkenal dengan oleh-oleh kacang mete dan terasi ini beragam. Ada bagian yang sudah dilapisi aspal yang mulus namun ada juga yang masih penuh lobang dan berdebu. Untuk berlari, saya memilih jalan raya sepanjang tepi Teluk Kendari. Di kepala saya sudah seperti menggambar rute jalanan yang akan saya lewati.