Wednesday, June 18, 2014

Lari Telanjang (kaki)

Gantung sepatu biasanya baru akan dilakukan oleh penggiat olahraga profesional entah karena sudah pensiun atau cedera. Namun, bagi penggemar lari kaki telanjang atau barefoot, istilah gantung sepatu sudah dilakukan sejak dini. Mereka biasanya adalah orang-orang yang sebelumnya penggemar olahraga lari dengan bersepatu namun entah dengan alasan yang bermacam-macam, mereka lalu menanggalkan sepatu dan berlari telanjang kaki.

Berbagai kontroversi, teori dan debat dilakukan baik secara profesional dengan segalam macam data-data penelitian apakah lari telanjang kaki baik bagi tubuh atau membahayakan diri sendiri. Atau debat antara mana yang lebih baik dari lari dengan atau tanpa sepatu. Semua dengan argumentasinya masing-masing. Sesungguhnya, saya punya pandangan saya sendiri.
Jakarta International 10K

Sejak mengenal lari lebih intens dua tahun terakhir ini, saya selalu menggunakan sepatu, terutama jenis-jenis minimalis barefoot seperti ini. Sepatu ini selama setahun selalu saya pergunakan entah lari di permukaan aspal maupun di gunung seperti gunung Gede atau Ungaran. Selalu tidak ada masalah. Saya selalu senang sensasi kaki yang bisa merasakan jalur lari lebih nyata. Lalu saya termakan iklan hahaha. Saya lalu membeli sepatu lagi yang, lagi-lagi termakan iklan, dengan harga terjangkau bisa mendapatkan sepatu nyaman untuk trail running. Beragam review pun saya baca. 

Tuesday, June 10, 2014

Selingan

Ketika sedang bepergian, membawa alat pemutar musik seperti iPod atau mungkin walkman (hahaha) hampir tidak pernah menjadi daftar barang yang harus saya bawa. Untuk membunuh waktu  dalam perjalan berjam-jam entah dengan kereta api atau bis, saya lebih memilih untuk entah membawa buku atau tidur atau mendengarkan dan melihat apa yang terjadi selama perjalanan. Melihat orang-orang di dalam kendaraan atau di luar jendela. Bila memungkinkan, obrolan dengan kernet atau petugas adalah hal yang paling saya sukai :)

Meskipun sedang sendirian di lokasi perkemahan di gunung yang gelap dan sepi, saya lebih menyukai menyeret keluar matras tidur ke keluar tenda dan berbaring melihat langit yang terang oleh titik-titik cahaya bintang. Biasanya saya akan senyum-senyum sendiri :) Lalu dalam pikiran berkelebatlah cerita-cerita dalam hidup saya bersama kawan-kawan yang sudah mengisi catatan kehidupan beberapa tahun hidup. 

Namun, begitu mendengar lagu ini pertama kali, entah mengapa saya merasa lagu ini sangat cocok untuk di dengarkan ketika sedang melakukan perjalanan dengan bis mengikuti liukan jalan menuju kawasan pegunungan seperti Dieng atau Parakan

Daughter. Photo from here


Tuesday, June 3, 2014

Camp David

Camp David adalah lokasi perkemahan yang berada di kawasan posko pendakian. Letaknya berada di belakang lokasi parkir kendaraan dan berseberangan dengan tempat pemandian air panas. Para pendaki yang hanya ingin mendaki cepat dan tidak ingin menghabiskan malam di gunung, dapat mendirikan tenda disini. Banyak warung yang menyajikan sekedar minuman panas atau mi instan. 

sunda syle!

Entah darimana asalnya nama David bisa diabadikan menjadi nama lokasi perkemahan. Mungkin biar serupa dengan Camp David yang ada di Amerika sana :D

Disini saya mendirikan tenda yang sudah menemani setiap perjalanan kemah selama 2-3 tahun terakhir ini. Terakhir, seingat saya, sekitar awal tahun 2013. Di bumi perkemahan Widoro di Kebumen. 

Malam hari di lokasi perkemahan ini tidak terlalu sepi. Atau mungkin karena sedang akhir pekan sehingga beberapa warung buka sampai malam. Beberapa orang warga sekitar juga tampak tinggal disana. 

Tidak banyak lokasi pendakian, setidaknya setahu saya untuk wilayah Jawa Tengah, yang memiliki fasilitas umum seperti toilet, mushala dan parkir yang tertata dan terawat dengan baik seperti disini. Di lokasi parkir saja ada setidaknya empat toilet bersih. Mushalla yang menyediakan sarung dan mukena. Camping ground yang memadai dan tidak terbuka luas seperti lapangan. Mungkin bagi pendaki yang membawa keluarga juga bisa berkemah disini dan menikmati jalan-jalan trekking ringan setidaknya sampai pondok salada bersama keluarga. 

Bandana setia


Tenda setia

Papandayan Trail Running - 3

15 menit berlari dan berhenti mengambil gambar sejak dari parkiran, saya kemudian tiba di Kawah. Tadinya ketika di bawah, saya sempat kepikiran untuk turun mendekati kawah dan mengambil gambar sebanyak mungkin, namun ketika tiba di tepiannya, bau menyengat khas kawah belerang membuat saya mual dan memilih untuk kabur seketika meninggalkan kawasan kawah hahaha

Kawah Papandayan

Menyisir kawah

Beberapa pendaki terlihat melintasi punggungan kawah yang menyembulkan asap tebal dan aliran sungai kecil dengan air panas. Sepertinya berujung di kolam air panas di dekat lokasi saya mendirikan tenda :)

Papandayan Trail Running - 2

Hingga di posko pendakian, saya masih berencana untuk mendaki hingga Pondok Salada (lokasi perkemahan sekitar 2 jam dari puncak) dan itulah yang terjadi ketika saya mengisi formulir pendaftaran dan informasi pendakian. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar lokasi parkir kendaraan, saya menyadari, mungkin saya terlalu berambisi untuk mendaki memanggul dua buah ransel dengan total seberat + 30 kg hahaha. Dan seketika itu pula saya mengurungkan niat dan memilih mendirikan tenda di kawasan kemah di dekat pemandian air panas hahaha

Pukul 14.30.

Sendirian di lokasi kemah

Segera setelah saya mendirikan tenda, mengatur letak isi tenda saya (salah satu kegiatan yang saya sukai hahaha) saya bersiap untuk melihat-lihat gunung ini. Membawa kamera poket andalan yang akhirnya lebih sering menemani saya bepergian daripada sepaket DSLR hehehe, saya bersiap untuk memulai trail running. Membayangkannya saja, saya sudah senang. Mungkin saya perlu trail running lebih sering biar wajah saya selalu tersenyum hihihi

Menurut setiap catatan perjalan yang saya baca, jalur pendakian dibagi menjadi Posko Pendakian - Kawah - Pondok Salada - Tegal AlunAlun - Puncak. Keseluruhannya membutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan. Bila berlari, biasa membutuhkan waktu setengahnya. Tiga jam. Saya melirik jam tangan. Bisa saja saya tiba ketika matahari masih bersinar terang namun dari puncak, ketika turun, saya pasti sudah malam hari. Saya putuskan sore itu saya cukup berlarian sampai Pondok Salada. 

Ketika mulai berlari, saya melewati beberapa pendaki dengan ransel-ransel berukuran besar. Sungguh, saya tidak yakin apakah masih bisa bersabar memanggul ransel seberat itu hingga berjam - jam hahaha. 

Papandayan Trail Running - 1

Merayakan tanggal dan bulan kelahiran saya tahun ini, saya memilih untuk berlari naik turun Gunung Papandayan. Semenjak kepindahan saya ke pinggiran Ibukota hampir setahun yang lalu, menikmati gunung hutan ketinggian adalah desakan yang selalu berputar-putar di dalam kepala. Di kota besar, tidak ada gunung tinggi. Adanya gedung tinggi :). Lalu, akhir pekan kemarin, setelah mempelajari jalur pendakian dan transportasi umum, saya memilih untuk jalan-jalan ke gunung yang pernah meletus tahun 2002 ini. 

Dari informasi yang banyak tersedia di internet, seperti ini, sebagian besar memilih untuk menggunakan bis langsung ke Garut dari terminal Kampung Rambutan atau Lebak Bulus. Namun, karena saya berpikir untuk menuju ke salah satu terminal tersebut akan merepotkan dengan satu ransel besar dan satu tas punggung harian saya, saya putuskan untuk menggunakan jasa travel dari kawasan rumah saya di seputaran Bintaro untuk menuju ke Bandung dan dari sana saya baru akan mencari angkutan ke Garut. 

Sabtu pagi pukul 08.00 saya tiba di Bandung. Saya pun memilih menggunakan jasa ojek untuk menuju ke Terminal Bis Cicaheum. Disini, saya merasakan senyum saya mengembang. Bukan apa-apa. Dalam ingatan saya, ini kali pertamanya setelah entah berapa tahun saya berada di tempat yang baru bersama dengan ransel saya, yang sudah menemani menjelajahi gunung-gunung di Jawa Tengah selama 10 tahun terakhir. Atmosfir menjadi "orang asing" selalu memberi kesenangan tersendiri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Kesenangan akan kejutan-kejutan yang akan diberikan alam? Untuk itulah manusia merasakan hidup, bukan? :) 

Di Terminal Bis Cicaheum, orang orang mulai menawarkan jasa nya. Dalam bahasa sunda hahaha. Saya hanya bisa senyum senyum sambil mencuri-curi pandangan bis bertuliskan Garut hehehe. Sesekali saya menjawab pertanyaan orang-orang, tentunya dalam bahasa sunda, dengan bahasa indonesia berlogat sunda sebisa saya (modal dari pengalaman suka nongkrong di warung bubur kacang ijo dekat kos saya semasa kuliah hahaha). "Garut, kang, Garut," begitu kira-kira jawab saya hihihi