Gantung sepatu biasanya baru akan dilakukan oleh penggiat olahraga profesional entah karena sudah pensiun atau cedera. Namun, bagi penggemar lari kaki telanjang atau barefoot, istilah gantung sepatu sudah dilakukan sejak dini. Mereka biasanya adalah orang-orang yang sebelumnya penggemar olahraga lari dengan bersepatu namun entah dengan alasan yang bermacam-macam, mereka lalu menanggalkan sepatu dan berlari telanjang kaki.
Berbagai kontroversi, teori dan debat dilakukan baik secara profesional dengan segalam macam data-data penelitian apakah lari telanjang kaki baik bagi tubuh atau membahayakan diri sendiri. Atau debat antara mana yang lebih baik dari lari dengan atau tanpa sepatu. Semua dengan argumentasinya masing-masing. Sesungguhnya, saya punya pandangan saya sendiri.
![]() |
| Jakarta International 10K |
Sejak mengenal lari lebih intens dua tahun terakhir ini, saya selalu menggunakan sepatu, terutama jenis-jenis minimalis barefoot seperti ini. Sepatu ini selama setahun selalu saya pergunakan entah lari di permukaan aspal maupun di gunung seperti gunung Gede atau Ungaran. Selalu tidak ada masalah. Saya selalu senang sensasi kaki yang bisa merasakan jalur lari lebih nyata. Lalu saya termakan iklan hahaha. Saya lalu membeli sepatu lagi yang, lagi-lagi termakan iklan, dengan harga terjangkau bisa mendapatkan sepatu nyaman untuk trail running. Beragam review pun saya baca.
Lalu selama dua tahun berlari, saya bergonta ganti memakai dua pasang sepatu itu. Hingga suatu kali, tulang kering bagian dalam kaki kiri saya sakit sekali. Lutut saya pun sama. Berbulan-bulan sakitnya timbul tenggelam. Terkadang saya kuat berlari 10K non-stop namun kadang kurang dari 3K pun sudah tumbang. Dan, akhirnya saya mencoba untuk berlari telanjang kaki.
Dan entah kenapa, rasa sakit itu hilang. Dengan kecepatan lari 6 menit per kilometer, setelah 3-4 kilometer, saya tidak merasakan sakit seperti biasanya. Bahkan nyeri-nyeri pun hilang. Lalu saya tancap gas ke 5 menit/kilometer, saya merasa sangat senang. Satu-satunya hal yang saya khawatirkan adalah batu-batu tajam atau paku atau apalah yang suka ada di jalan-jalan di Indonesia. Mata lebih banyak melirik ke bawah untuk memilih-milih titik menjatuhkan telapak kaki.
![]() |
| peserta nyeker di Jakarta International 10K |
Entah karena pengetahuan teori lelarian saya hampir tidak banyak, saya tidak tahu kenapa bisa hal-hal semacam itu terjadi. Gaya berlari saya adalah mid-foot strike, bukan heel strike. Postur tubuh pun saya coba lakukan dengan baik. Jadi, tidak banyak beda dengan gaya berlari ketika saya masih menggunakan sepatu dengan sekarang tidak bersepatu lagi.
![]() |
| photo: runforiver.com |
![]() |
| hidup telanjang kaki! photo dari facebook :D |
Kulit kaki saya bertambah tebal. Mungkin sakit kaki saya hilang karena syaraf-syaraf yang seperti mendapat akupunktur, entahlah. Saya tidak paham teori-teori seperti itu hahaha.
Sekarang, saya memutuskan untuk menggantung sepatu saya. Lari bertelanjang (kaki) adalah pilihan saya untuk sekedar berlari untuk kesehatan sehari-hari atau untuk berlomba.
Istri saya pun mengalami hal serupa. Tadinya pergelangan kaki dan otot tulang kering depannya suka nyeri. Semenjak ikut-ikut barefoot, dia merasa kakinya sudah tidak sakit lagi. Cuma ya masih suka jerit-jerit kalau kakinya kena tanah-tanah becek lelarian setelah hujan haha.
| Dhika, pelari barefoot cepat! photo dari temannya Dhika |




No comments:
Post a Comment