Tuesday, June 3, 2014

Papandayan Trail Running - 1

Merayakan tanggal dan bulan kelahiran saya tahun ini, saya memilih untuk berlari naik turun Gunung Papandayan. Semenjak kepindahan saya ke pinggiran Ibukota hampir setahun yang lalu, menikmati gunung hutan ketinggian adalah desakan yang selalu berputar-putar di dalam kepala. Di kota besar, tidak ada gunung tinggi. Adanya gedung tinggi :). Lalu, akhir pekan kemarin, setelah mempelajari jalur pendakian dan transportasi umum, saya memilih untuk jalan-jalan ke gunung yang pernah meletus tahun 2002 ini. 

Dari informasi yang banyak tersedia di internet, seperti ini, sebagian besar memilih untuk menggunakan bis langsung ke Garut dari terminal Kampung Rambutan atau Lebak Bulus. Namun, karena saya berpikir untuk menuju ke salah satu terminal tersebut akan merepotkan dengan satu ransel besar dan satu tas punggung harian saya, saya putuskan untuk menggunakan jasa travel dari kawasan rumah saya di seputaran Bintaro untuk menuju ke Bandung dan dari sana saya baru akan mencari angkutan ke Garut. 

Sabtu pagi pukul 08.00 saya tiba di Bandung. Saya pun memilih menggunakan jasa ojek untuk menuju ke Terminal Bis Cicaheum. Disini, saya merasakan senyum saya mengembang. Bukan apa-apa. Dalam ingatan saya, ini kali pertamanya setelah entah berapa tahun saya berada di tempat yang baru bersama dengan ransel saya, yang sudah menemani menjelajahi gunung-gunung di Jawa Tengah selama 10 tahun terakhir. Atmosfir menjadi "orang asing" selalu memberi kesenangan tersendiri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Kesenangan akan kejutan-kejutan yang akan diberikan alam? Untuk itulah manusia merasakan hidup, bukan? :) 

Di Terminal Bis Cicaheum, orang orang mulai menawarkan jasa nya. Dalam bahasa sunda hahaha. Saya hanya bisa senyum senyum sambil mencuri-curi pandangan bis bertuliskan Garut hehehe. Sesekali saya menjawab pertanyaan orang-orang, tentunya dalam bahasa sunda, dengan bahasa indonesia berlogat sunda sebisa saya (modal dari pengalaman suka nongkrong di warung bubur kacang ijo dekat kos saya semasa kuliah hahaha). "Garut, kang, Garut," begitu kira-kira jawab saya hihihi


Perjalanan ke Garut kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam. Itu belum terhitung berhenti ngetem menunggu penumpang. Total sekitar tiga jam saya berada dalam bis. Membosankan memang, namun saya jadi tahu jalur Nagreg yang terkenal itu. Terkenal dengan berita kemacetan terutama di masa liburan Idul Fitri hehehe. 

Tiba di Terminal Guntur, Garut, saya lalu menuju ke warung nasi terdekat. Beberapa pendaki baru saja turun dan beristirahat di warung yang sama. Kesempatan tersebu saya gunakan untuk bertanya-tanya cuaca dan ongkos angkutan menuju ke Pertigaan Cisurupan, lokasi terakhir menuju posko pendakian. 

Menuju Pertigaan Cisurupan, mengingatkan saya akan perjalanan menuju Kledung, Parakan, Temanggung di Jawa Tengah. Kotanya panas namun udaranya sejuk. Pemandangan khas kota di kaki gunung seperti ladang, kerucut gunung yang tertutup kabut. Sungguh, sesak di dalam angkutan tidak lagi menyebalkan meskipun kaki saya seperti jepitan rambut dan panas gerahnya keringat terasa mengalir di kulit saya, melengket ke kain kemeja hahaha

Mencari aman, setelah saya membeli beberapa perbekalan di Pertigaan Cisurupan, ojek lagi lagi menjadi pilihan saya. Menurut Misbah (19), pengemudi ojek saya saat itu, jalan menanjak ini sekitar sembilan kilometer. Aspal rusak dan dibeberapa titik bahkan kubangan sedalam sekitar 30 cm. Dan seperti hal nya jasa ojek di kota di kaki gunung lainnya, keterampilan mengendarai motor tidak berbeda jauh dengan pengendara motor cross hahaha. 

Petualangan menanti, bung!

Lalu, tiba lah saya di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Tempat yang akan menjadi lahan saya bermain-main dan bersenang-senang dua hari mendatang :)

"Selamat datang di Papandayan, kang," ucap Misbah sembari menjabat erat tangan saya ketika kami tiba di posko pendakian :)





No comments:

Post a Comment