Wednesday, March 19, 2014

Anak-anak

Membelah diri?




















Dari suatu desa kecil di kabupaten Bima, kami, istri dan saya, menghabiskan suatu sore bermain bersama dengan sekelompok anak-anak kecil di tepi pantai. Saya lalu bergabung dengan anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola. Lalu istri saya memilih bermain dengan anak perempuan yang malu-malu. Istri saya lalu mengambil beberapa gambar dari mereka yang lalu tertawa-tawa melihat wajah mereka di layar kamera. Bahkan, ada yang tertawa cekikikan serta kebingungan melihat wajahnya yang berubah bentuk, ketika istri saya memotret mereka dengan fitur fish eye hahaha.

Dari semua cerita sore itu, yang paling membekas di kepalaku adalah bagaimana reaksi anak-anak perempuan dan laki-laki ketika saya meminta mereka untuk berkumpul menjadi satu agar gambar mereka semua bisa kuabadikan dalam satu bingkai. Ternyata, anak-anak laki-laki menolak dan anak-anak perempuan pun enggan. 

Kemudian akhirnya mereka bisa kujadikan satu dalam satu bingkai, pun, tetap dalam posisi dengan ada jarak diantara mereka. 

Thursday, March 6, 2014

Daun Jendela

Karena aku ingin berada di dalamnya
Jendela, bagi saya, adalah selalu tentang orang yang duduk sembari menikmati waktu. Membaca buku, menyesap minuman hangat, siluet orang memandang ke bawah atau sekedar duduk melamun sore. Entah kenapa. Selalu seperti itu saya melihat jendela. Mungkin terlalu besar pengaruh film atau apalah namanya, namun akan selalu seperti itu. 

Menyenangkan. Seperti Zee Avi - Concrete Wall

Sunday, March 2, 2014

Kebun Raya Bogor

Budayakan membaca 
Berjalan kaki dari Stasiun Kereta Bogor menuju Kebun Raya Bogor sebenarnya cukup nyaman. Trotoar untuk pejalan tersedia dan cukup lebar untuk dilewati. Pohon rindang pun cukup mampu menyejukkan panas. Saya selalu suka berjalan kaki, tentunya bila tidak sedang tergesa-gesa. Banyak yang bisa kita lihat dan selalu lebih mudah untuk memenuhi rasa keingintahuan kita akan hal-hal yang kita lihat, entah itu tulisan menarik atau aktivitas orang. Seperti bapak tua yang sedang membaca kota ini :) atau penjual tales yang sedang tertidur dalam posisi duduk. 

Tertidur menunggu pembeli

Cerita dari Bogor (Tales from Bogor)

Menikmati Naik "Ular Besi" Menuju Bogor

Dulu, sekitar tahun 2005, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Bogor. Ketika itu saya menghadiri undangan kegiatan untuk tempat saya bekerja saat itu. Berangkat dari Semarang dengan kereta, saya turun di Stasiun Besar Gambir dan langsung berganti tujuan menuju Kota Bogor dengan menggunakan kereta Pakuan Ekspress. Saya ingat, saat itu harganya tiketnya sekitar IDR 11.000. Nantinya di Stasiun Bogor, saya akan dijemput kawan kuliah saya dulu dan rencananya dia akan mengantar saya berkeliling kota Hujan ini hingga malam hari sebelum acara saya dimulai. 

Perjalanan dengan Pakuan Ekspress itu cukup memberi kesan. Entah karena itu adalah perjalanan pertama saya dengan kereta rel listrik atau suasana didalamnya seperti yang suka saya lihat di dalam film-film barat. Juga seperti mengingatkan saya ketika kurang lebih sebulan di Korea Selatan bersama karib-karib saya :)  Meski sekarang kereta yang diberi nama dari nama ibukota kerajaan Sunda saat itu, kini sudah tidak ada lagi, namun moda transportasi "ular besi" ini tetap beroperasi dengan nama baru menjadi Commuter Line, yang melayani jalur Jakarta-Bogor setiap harinya. 

Suatu hari, saya bermaksud untuk menyambangi Kebun Raya Bogor. Tempat suaka saya dari kebisingan dan hiruk pikuk ibukota. 

ibu-ibu terlihat menyeberang rel kereta