| Membelah diri? |
Dari suatu desa kecil di kabupaten Bima, kami, istri dan saya, menghabiskan suatu sore bermain bersama dengan sekelompok anak-anak kecil di tepi pantai. Saya lalu bergabung dengan anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola. Lalu istri saya memilih bermain dengan anak perempuan yang malu-malu. Istri saya lalu mengambil beberapa gambar dari mereka yang lalu tertawa-tawa melihat wajah mereka di layar kamera. Bahkan, ada yang tertawa cekikikan serta kebingungan melihat wajahnya yang berubah bentuk, ketika istri saya memotret mereka dengan fitur fish eye hahaha.
Dari semua cerita sore itu, yang paling membekas di kepalaku adalah bagaimana reaksi anak-anak perempuan dan laki-laki ketika saya meminta mereka untuk berkumpul menjadi satu agar gambar mereka semua bisa kuabadikan dalam satu bingkai. Ternyata, anak-anak laki-laki menolak dan anak-anak perempuan pun enggan.
Kemudian akhirnya mereka bisa kujadikan satu dalam satu bingkai, pun, tetap dalam posisi dengan ada jarak diantara mereka.
Hal ini tidak akan terjadi di kota besar, benakku. Di kompleks rumah saya, anak perempuan dan laki laki bebas bermain bersama. Dan, meskipun saya belum pernah memotret mereka, saya yakin mereka tidak akan sungkan untuk difoto bersama :)
Kecenderungan memisahkan jenis kelamin seperti ini memang sudah membudaya di Indonesia atau negara-negara berkembang lainnya. Saya bukan ahli di bidang gender studies namun, menurut saya, tidak seharusnya ada pembedaan lagi berdasarkan jenis kelamin. Atau mungkin kesalahan saya juga sih membandingkan cara berkehidupan di kota besar seperti Jakarta dengan Bima :D
Sore itu, kami terlalu sibuk mengambil gambar anak-anak yang bermain dengan seru nya. Istri saya senang sekali. Dia selalu tersenyum lebar sore itu haha
Seperti kebanyakan orang, kami pun selalu suka anak-anak. Entah karena selalu ada sisi anak-anak dalam diri orang dewasa atau memang kami selalu suka bercanda. Atau karena euforia menjadi "turis" aja, kami tidak tahu.
| Senyumm :) |
Seperti kebanyakan orang, kami pun selalu suka anak-anak. Entah karena selalu ada sisi anak-anak dalam diri orang dewasa atau memang kami selalu suka bercanda. Atau karena euforia menjadi "turis" aja, kami tidak tahu.
No comments:
Post a Comment