Monday, April 7, 2014

LibuRun Singapura - South Ridges Trail

Mendengar kata Singapura, yang pertama terbersit di kepala kebanyakan orang pasti wisata belanja, Patung Merlion, Universal Studios, atau Orchard Road. Khusus orang Indonesia kebanyakan, Lucky Plaza pasti masuk daftar hihihi. Baiklah, bila baru pertama kali mengunjungi negara ramah pejalan kaki ini, bolehlah memenuhi daftar lihat atau menghabiskan foto selfie sepanjang jalan Orchard (dengan latar belakang papan nama Orchard Rd tentunya) atau berpose menampung air mancur Patung Merlion. Namun, bila ingin menikmati Singapura dengan cara yang berbeda, apalagi penggemar olahraga lari, jangan pernah melewatkan acara jogging di berbagai macam jalur lari di kota yang jalur transportasinya disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. 

Dari mencari tahu di internet, saya menjadikan tautan ini sebagai pedoman untuk jadual lelarian saya selama disini. Bukan jadual lomba lari, karena sudah banyak acara lomba lari tingkat dunia yang diselenggarakan di negara yang disebut mantan presiden BJ Habibie sebagai "si titik-merah-kecil" seperti Sundown Marathon atau Standard Chartered Marathon sampai yang tingkat ultra yang menempuh jarak lebih dari 50K (ini ada daftarnya). Bahkan negara dengan seluas Jakarta Selatan aja ini pun memiliki beberapa orang Ultra Marathoners, sebutan bagi penggiat lari diatas 50K. 

Lima hari disini, saya menyempatkan diri mencoba dua jalur lari yang, dari membaca tautan tadi, menurut saya paling menarik. 

Yang pertama adalah lari trail. 

South Ridges Trail.

Membaca namanya pertama kali, langsung saya putuskan harus saya coba. Kapan lagi bisa menjajal jalur trail di negara lain? Singapura pula. Tidak pernah terbayangkan ada jalur trail seperti di tempat saya *nada merendahkan hihihi*

Setelah mempelajari jalur transportasinya, pagi itu, sekitar pukul 08.00 saya keluar dari hotel tempat saya menginap. Menggunakan MRT dari Orchard, saya menuju ke St Dhobby Ghaut dan berganti menuju Habour Front. Disini, di bagian belakang St adalah pintu masuk Marang Trail yang akan menghubungkan jalur panjang berikutnya. 

Awal Trail

Trail di tengah kota


Dan, ternyata sedikit berbeda, dengan bayangan saya. Trail yang dimaksud ternyata adalah jalan menanjak yang sudah dibeton dan undak tangga dari papan :). Meskipun demikian, berlari di bawah pepohonan yang rimbun cukup memberikan nuansa hutan. Dan, tetap saja medan menanjak sungguh sangat menguras tenaga. Berjarak sekitar 800 meter, ketinggian 70 meter atau setara gedung 24 lantai, paha saya benar-benar pedes ketika berlari disini. Belum panas kaki, sudah dihajar beginian. Saya sampai tidak ingat membutuhkan waktu berapa lama untuk mencapai puncaknya. Sepertinya sekitar 6 menit dengan keringat bercucuran dan dada kembang kempis. Untungnya pepohonan yang teduh cukup menyejukkan saya.  

Jangan lupa etika ya :)




Sebelum berlari, ketika sedang pemanasan, yang paling jelas kelihatan adalah tanda-tanda aturan yang jelas serta peta lokasi termasuk jalur trekking. Berikutnya pun di beberapa persimpangan, selain tanda arah, juga beberapa peta lokasi yang menunjukkan posisi kita saat itu. Jadi, bila sebelumnya kita sudah memilih jalur pun, saya yakin kita tidak akan tersesat karena penunjuk arah yang memadai. Dan, begitu pula bila kita datang tanpa persiapan dan hanya ingin menjelajahi taman trekking ini. Oh iya, ada beberapa titik keran air bisa minum :)

Penunjuk arah memudahkan pilihan jalur


Peta jalur trekking


Jalur berikutnya adalah jalur datar dan menuruni bukit. Tentu saja tetap dengan permukaan yang sudah diaspal atau beton. Hari itu adalah hari kerja jadi suasana sepi. Hanya ada beberapa pekerja taman yang tampak merawat beberapa mesin dan tanaman. Ada yang sedang jogging dan sekedar berjalan-jalan menikmati udara dan pemandangan. 

Setelah mengikuti beberapa trek, saya lalu menemukan bagian yang paling menarik yaitu Jembatan-Gelombang-Henderson. Jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua taman dan melewati jalan raya diatas ketinggian hampir 40 meter. Struktur jembatannya sangat menarik dan bila malam hari, lampu-lampu yang diletakkan menonjolkan bentuk gelombangnya. Setidaknya begitu yang saya lihat di foto malam harinya di internet hahaha 

Jembatan Gelombang Henderson

Seperti jogging di udara


Melewati Henderson Waves (bukan wifes hihihi bad joke :D), saya mengambil gambar, video dan tentu saja, tidak melewatkan kesempatan menengok ke bawah. Jalan raya dan gedung-gedung bertingkat serta pemandangan pelabuhan menuju Pulau Sentosa. Ada beberapa bagian dimana disediakan tempat duduk dengan atap peneduhnya. 

Pemandangan pelabuhan menuju pulau Sentosa


Dari sini, saya lalu kembali membaca peta dan arah kemana sebaiknya untuk kegiatan jogging saya pagi ini. Banyak pilihan, saya mencoba sebuah perbukitan dan turun menuju jalan raya lalu memutari bukit dan berujung di lokasi peristirahatan. Disini, banyak warga senior yang sedang duduk menikmati pagi yang tenang, melakukan tai-chi atau sekedar membaca koran. Sungguh pemandangan yang biasanya hanya kulihat di televisi :)

Peta menunjukkan bahwa ada jalur trail sesungguhnya dengan sebutan Earth Trail di sisi sebelah bukit ini, kesanalah saya kemudian :). Menyusuri tepian jalan raya pun terasa nyaman dengan bagian khusus pejalan kaki yang banyak tersedia di setiap bagian di negara ini. 

Masuk ke bagian Earth Trail, ada pengumuman bahwa jalur bawah atau Earth Trail sedang diperbaiki sehingga disarankan untuk menggunakan jalur melayang dengan bentuk semacam jalur mangrove di karimunjawa. Namun, beberapa hari hidup dengan banyak aturan, membuat naluri saya tetap ingin mengikuti jalur bawah tanah-tanah ini. Bukan tanah juga sih melainkan aspal bolong-bolong. Yah, miriplah sama jalan raya Semarang-Grobogan atau Pantura hahaha

Seperti bagian dari Jurassic Park
 
Earth Trail
  



Baru dibagian ini, saya bisa berlarian dengan senang, seperti merasakan trail di tempat saya. Tentu saja tidak bisa dibandingkan namun setidaknya nuansa yang dihasilkan serupa :)

Kebersihan. Kata itu benar-benar meresap dipandangan saya. Saya jadi ingat dengan obrolan teman-teman saya dulu di kampus bila kami hendak mendaki gunung. Katanya, bila sedang tersesat di jalur pendakian gunung, cari saja sampah. Pasti akan ketemu jalan pulang karena sampah menunjukkan bahwa titik itu dilewati manusia. Ironis sekali :) Disini, tak kutemukan satupun sampah bawaan manusia. Tersesat? Hanya orang malas melihat2 tanda petunjuk arah atau dengan sengaja menyesatkan dirinya baru tersesat itu bisa terjadi. 

Setelah menikmati taman kota ini selama kurang lebih dua jam, saya putuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk jalan-jalan menikmati bagian lain dari negara dengan luas 697 km persegi ini.

Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah Singapura adalah negara yang sangat menjamin hak-hak para pejalan kaki. Mulai dari kota hingga ke taman-taman atau hutan kota seperti South Ridges ini. Pengguna kendaraan pun sangat menghormati hak-hak ini. Hal ini membuat saya berpikir, kapan negara saya bisa seperti itu? Bila hal seperti itu saja tidak bisa dipenuhi, pemenuhan hak-hak lebih besar seperti kesehatan, pendidikan pun jangan harap akan terjadi :| 



No comments:

Post a Comment