Monday, July 6, 2015

Nisan

Doa mengalir mengenang engkau
Beri penghormatan untuk selamanya
Di lain masa kita akan bertemu

Ngarbone - Komunal

Kehangatan dari Ketinggian 2000 meter

Suara meraung-raung seketika terdengar memekakkan telinga ketika supir memainkan gas dengan kaki kanannya. Asap hitam pekat pun menandai kualitas kendaraan yang kami tumpangi. Tanjakan cukup curam di depan. Sebuah tanda peringatan dengan gambar jalan menanjak kembali mengingatkan pengguna jalan untuk selalu berhati-hati. Aku lalu memperhatikan jalan sembari sesekali melirik supir di sebelah kanan yang terlihat tenang mengemudi sembari menimpali obrolan sang kernet. Dini, teman perjalananku kali ini, melirik sambil tersenyum seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Waah serem ya ngegas bisnya,” tatapan matanya kuartikan seperti itu.

Aku hanya membalas dengan tersenyum sembari menepuk-nepuk punggung tangannya.
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami melewati jalanan menanjak berliku yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan. Salah satu sisi dengan jurang sedalam lebih dari 100 meter dan sisi lainnya dikepung oleh tebing tinggi seperti kanvas para pelukis alam. Bahkan di beberapa titik, salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dahulu agar kendaraan dari arah berlawanan dapat lewat duluan. Aku sendiri beberapa kali sempat mengernyitkan kening bila melihat bis ini akan menyalip kendaraan di depannya. Namun terlepas dari itu semua, kita sebenarnya disuguhkan oleh pemandangan alam yang indah.

Lereng pegunungan yang tampak seperti undakan hijau raksasa yang tertata rapih itu adalah ladang petani yang menyulap tebing-tebing tanah menjadi lahan pertanian. Sungguh, adalah pemandangan yang menakjubkan, meskipun kadang melihatnya membuat bertanya-tanya bila musim hujan tiba. Ancaman tanah longsor bisa menjadi masalah besar.

Gede Pangrango Marathon 2015

Olahraga lari sedang menjadi trend di Indonesia. Setidaknya sejak lima tahun terakhir. Jakarta misalnya, hampir setiap akhir pekan banyak even lomba lari baik di jalanan kota ataupun di gunung hutan, yang biasa disebut trail running atau lari gunung. Pesertanya pun mencapai ratusan mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa hingga pelari atlet profesional

Untuk jenis lari yang terakhir ini, sebuah organisasi penyelenggara lomba lari gunung di Indonesia, Fonesport, pada tanggal 2 Mei 2015 menyelenggarakan lomba lari gunung bertajuk Gede Pangrango Marathon 2015 yang diikuti sekitar 530 penggemar olahraga lari gunung dari dalam maupun luar Indonesia. Tercatat sekitar 15 negara berpartisipasi dalam lomba yang terbagi dalam tiga kategori, 42K, 21K dan 15K ini. Lomba yang dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ini adalah lomba lari pertama di Indonesia yang masuk ke dalam jajaran daftar lomba Asia Trail Master Series, sebuah daftar lomba lari gunung tahunan termasuk pencatat peringkat pelari gunung terbaik di Asia 

Bahkan, untuk kategori 42K, bagi para pelari yang berhasil masuk garis finish sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu 16 jam, akan mendapatkan satu poin dari tujuh poin yang dibutuhkan untuk bisa ikut dalam salah satu lomba lari gunung prestisius di dunia yaitu UTMB (Ultra Trail Mont Blanc) di Benua Eropa yang menempuh jarak sejauh 165K melewati tiga negara dan pegunungan Mont Blanc. Indonesia (baru) memiliki satu orang yang sudah menyelesaikan UTMB ini. 

Tepat pukul 05.30 saya tiba di lokasi lomba. Beberapa peserta sudah terlihat berkumpul. Ada yang terlihat menikmati suasana pagi dengan mengambil gambar memakai telepon pintar atau sekedar ngobrol dengan peserta lainnya. Untuk lomba kali ini, saya mengambil kategori 21K. Ketika melihat berita tentang lomba lari gunung ini beberapa bulan lalu di grup media sosial yang saya ikuti, nyali saya menyuruh saya mendaftar kategori 42K.