Monday, July 6, 2015

Gede Pangrango Marathon 2015

Olahraga lari sedang menjadi trend di Indonesia. Setidaknya sejak lima tahun terakhir. Jakarta misalnya, hampir setiap akhir pekan banyak even lomba lari baik di jalanan kota ataupun di gunung hutan, yang biasa disebut trail running atau lari gunung. Pesertanya pun mencapai ratusan mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa hingga pelari atlet profesional

Untuk jenis lari yang terakhir ini, sebuah organisasi penyelenggara lomba lari gunung di Indonesia, Fonesport, pada tanggal 2 Mei 2015 menyelenggarakan lomba lari gunung bertajuk Gede Pangrango Marathon 2015 yang diikuti sekitar 530 penggemar olahraga lari gunung dari dalam maupun luar Indonesia. Tercatat sekitar 15 negara berpartisipasi dalam lomba yang terbagi dalam tiga kategori, 42K, 21K dan 15K ini. Lomba yang dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ini adalah lomba lari pertama di Indonesia yang masuk ke dalam jajaran daftar lomba Asia Trail Master Series, sebuah daftar lomba lari gunung tahunan termasuk pencatat peringkat pelari gunung terbaik di Asia 

Bahkan, untuk kategori 42K, bagi para pelari yang berhasil masuk garis finish sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu 16 jam, akan mendapatkan satu poin dari tujuh poin yang dibutuhkan untuk bisa ikut dalam salah satu lomba lari gunung prestisius di dunia yaitu UTMB (Ultra Trail Mont Blanc) di Benua Eropa yang menempuh jarak sejauh 165K melewati tiga negara dan pegunungan Mont Blanc. Indonesia (baru) memiliki satu orang yang sudah menyelesaikan UTMB ini. 

Tepat pukul 05.30 saya tiba di lokasi lomba. Beberapa peserta sudah terlihat berkumpul. Ada yang terlihat menikmati suasana pagi dengan mengambil gambar memakai telepon pintar atau sekedar ngobrol dengan peserta lainnya. Untuk lomba kali ini, saya mengambil kategori 21K. Ketika melihat berita tentang lomba lari gunung ini beberapa bulan lalu di grup media sosial yang saya ikuti, nyali saya menyuruh saya mendaftar kategori 42K.

“Mumpung masih kuat, bos. Kapan lagi? Nggak tahu kan besok-besok ada waktu lagi atau nggak? Ayo bos, 42K aja!” kira-kira seperti itu nyali saya berbisik.

“Yang bener aja! Kaki tuh kaki, paha sekalian nyadar dong! Gede Pangrango ini! Bukan lari-lari di pematang sawah atau perkebunan teh! Gede Pangrango wooii!” kali ini otak logis saya juga memberi pendapatnya.

“Kapan terakhir lari di gunung, nyet? Terakhir paling cuma lari dua-tiga jam aja di Gunung Ungaran. Itu juga hampir setahun lalu. Nggak ingat, Marathon jalan raya terakhir kamu finish di tenda Pertolongan Pertama hahaha,” otak saya lagi-lagi menyadarkan untuk mengambil keputusan yang benar. Dan saya pun mengalah kepada otak dan kaki saya.

Peserta kategori 21K dan 15K rencananya akan mulai pada pukul enam. Satu jam sebelumnya, peserta kategori 42K sudah terlebih dahulu berangkat. Tidak kurang dari 103 peserta akan berusaha menyelesaikan jarak marathon ini dalam waktu 16 jam. Ketika tiba di lokasi, saya bersyukur sudah mengikuti apa kata kepala saya untuk tidak gegabah mengambil kategori 42K. Tidak terbayang harus berlari, jalan, merayap dan tersiksa selama 16 jam. Melewati dua kali puncak Gunung Gede dan dua kali puncak Gunung Pangrango. Kedua puncak gunung ini tidak kurang dari 3000 meter diatas permukaan laut.

Selayaknya lomba lari, salah satu yang paling menyenangkan adalah lokasi garis start. Banyak tenda-tenda yang dipersiapkan oleh panitia. Mulai dari tenda penitipan barang, minuman energi dan camilan sehat hingga tenda kesehatan. Orang-orang ngobrol, tertawa, berfoto, bercanda dan mengetahui bahwa orang-orang ini bersiap untuk menyiksa diri mereka secara sukarela hahaha. Sesungguhnya, atmosfir seperti ini yang mendasari saya ikut berbagai macam even lomba lari. Kalau hanya ingin berlari, tanpa embel-embel ikut lomba pun, jalur yang sama dapat dilakukan. Entah sendiri maupun bersama kawan. Namun, selalu ada yang menarik dari atmosfir sebuah lomba yang hanya bisa didapatkan dengan mengikuti lomba lari.

Segera setelah pemanasan yang dipimpin oleh beberapa orang panitia, pengarahan dari direktur lomba, para peserta lalu berkumpul dan bersiap di garis start, tepat dibelakang gapura lomba. Detik-detik sebelum pukul enam pun diumumkan oleh pemandu acara. Para peserta seperti tak sabar dan mulai melemaskan kakinya, entah dengan melompat-lompat atau sekedar berdiri tenang berdoa.

Lalu, direktur lomba pun mengangkat bendera startnya dan para pelari cepat yang berada di garis depan, baik kategori 21K dan 15K langsung melesat. Saya? Dan peserta hura-hura lainnya, masih asyik berjalan pelan dan mengambil swafoto hahaha. Tidak kurang dari 200 peserta akan berusaha menyelesaikan lomba sebelum batas waktu tujuh jam untuk kategori 21K dan 200 peserta lainnya untuk kategori 15K dan harus menuntaskan lomba sebelum batas waktu 4,5 jam.

Dimulai dari dalam Kebun Raya Cibodas, para peserta kategori 21K harus melewati jalur pendakian Gunung Gede hingga ke puncak di ketinggian sekitar 2950 meter lalu turun ke Alun-Alun Suryakencana dan kembali ke puncak lalu kembali finisih di Kebun Raya Cibodas. Sedangkan peserta kategori 15K “cukup” sampai di Pos Kandang Badak dan kembali ke Kebun Raya Cibodas. Sungguh jalur yang sangat tidak ramah bagi penggiat lari gunung amatir sepertiku haha.

Pagi itu cuaca cukup cerah. Rimbun nya vegetasi Gunung Gede sungguh membantu memberikan kesejukan pada para pelari yang sedang berjibaku dengan nafas terengah-engah dan kaki yang seolah-olah diikat pada gelondongan kayu jati. Ya, setidaknya itu yang saya rasakan haha. Dilaksanakan di akhir pekan, jalur pendakian pun ramai dengan para pendaki yang hendak menghabiskan liburan dengan berkemah di gunung atau sekedar menikmati Air Terjun Cibeureum. Para pelari pun terkadang harus menyisir tepian jalur pendakian bila ingin bergerak cepat. Namun, seperti saya, pelari yang besarnya semangat tidak berbanding lurus dengan kuatnya kaki, cukup berjalan mengikuti jalur utama haha

Satu jam pertama sejatinya sangat menyiksa. Jalur berundak bebatuan yang terus menanjak membuat saya sedikit frustasi. Berbeda dengan jalur mendaki seperti jalur Selo di Gunung Merbabu yang dari tanah dan mengular, di jalur menuju Puncak Gede ini, penuh dengan batu-batu keras yang berserakan sehingga menyulitkan bagi mereka yang ingin melangkah cepat. Belum lagi tapak kaki yang akan terasa sakit bila berjam-jam menginjak batu dengan penuh hentakan. Betis pun terasa mengeras. Lumut yang menempel di bebatuan pun menjadikan pijakan terkadang tidak stabil dan beberapa kali saya terpeleset. Yang saya lakukan hanyalah bercanda dengan beberapa peserta lainnya.

“Kayaknya kita salah jalan nih. Kok nanjak terus ya?” Canda saya di sela-sela nafas yang terengah-engah.

“Iya nih, eskalatornya di sebelah mana sih?” timpal peserta di belakang saya. Kami pun hanya bisa tertawa. Menertawakan diri kami sendiri.

Lalu tiba-tiba dari atas terdengar sorakan beberapa orang yang terdengar seperti peserta lomba. Tak lama kemudian aku tahu alasan sorakan tersebut. Ternyata itu adalah sorakan mendukung kepada salah satu peserta kategori 15K yang sudah dalam perjalanan menuju garis finish! Aku lalu berhenti sejenak melihat dari jarak sekitar 50 meter peserta itu sedang melompat lincah diantara bebatuan. Saya hanya menggelengkan kepala sembari ikut bersorak. Momen itu lalu entah kenapa seperti menyuntikkan adrenaline ke dalam darahku dan membangkitkan semangat kembali. Sayangnya, tidak membangkitkan kekuatan kakiku hahaha

Tiba di titik putar kategori 15K, saya lalu melapor ke pos pendata peserta. Selain demi kepentingan lomba, juga sangat membantu mencatat posisi peserta demi keamanannya. Oh iya, sepanjang jalur pun ada beberapa panitia khusus tim kesehatan yang ikut berjalan-jalan membawa ransel. Kuduga itu adalah perlengkapan pertolongan pertama. Salut untuk kesiapan panitia. Mereka juga selalu memberi semangat bila berpapasan dengan peserta.

Tanjakan curam pun segera menanti selepas dari pos lapor itu. Namun, tanjakan curam ini masih jauh lebih baik daripada tanjakan bebatuan sebelumnya. Tanjakan curam ini masih lebih menyenangkan karena dari tanah dan banyak akar pepohonan yang bisa dijadikan pegangan yang membantu menarik tubuh keatas. Disini saya bertemu dengan beberapa peserta kategori 42K yang berjalan santai. Mereka lebih memilih menghemat tenaga di jalur tanjakan ini dan menggenjot lari selepas puncak Gede.

Selepas kawasan tanjakan curam ini, adalah kawasan puncak. Jalur menyisir kawah puncak Gunung Gede sungguh sangat indah. Cuaca yang cerah tak berkabut tidak menutupi pemandangan dalam kawah dan lebatnya kawasan Taman Nasional seluas 152 km2 ini. Gunung Pangrango pun terlihat tampak sangat gagah menjulang seperti nasi tumpeng raksasa. Banyak tenda pendaki di dirikan di kawasan perbatasan vegetasi dan jalur pasir ini. Saya tak lupa mengambil gambar. Bukan gambar pemandangan namun gambar diri sendiri :). Tentunya dengan latar belakang Gunung Pangrango haha. Semangat dan kaki saya lalu entah mendapat energi dari mana, lalu terasa makin kuat dan saya bisa sedikit berlari perlahan-lahan.

Tiba di puncak, saya mengikuti penanda jalur lomba yang mengarah ke pos putar balik di Alun-Alun Suryakencana. Saya melirik jam tangan di pergelangan kiri. Sudah sekitar tiga jam saya menyiksa diri. Masih tersisa empat jam lagi sebelum batas waktu yang di perbolehkan. Hati kecil saya berbisik, aman :). Masih bisa makan nasi bungkus yang dijual di puncak gunung hahaha. Ya, hanya di gunung Gede para pengunjung bisa menikmati sarapan nasi uduk serta beragam gorengan hingga telor goreng di puncak. Tidak lupa kopi panas. Penduduk setempat tahu kalau akhir pekan, gunung ini akan penuh dengan para pendaki yang lapar :).  

swafoto di kawasan puncak gunung gede

Perjalanan turun ke Alun-Alun Suryakencana tidak kalah menyiksanya. Terutama bayangan bahwa setelah mengambil gelang penanda lapor, para peserta harus kembali ke jalur menanjak ini lagi haha. Rombongan pendaki dari Jalur Selabintana atau Gunung Putri pun makin banyak. Mereka memenuhi jalur. Saya pun memilih keluar jalur dan mengikuti jalur tanah yang sepertinya dilewati air ketika hujan.

Tiba di Alun-Alun Suryakencana, saya clingak-clinguk mencari pos lapor dan mendapati dua orang panitia mengibar-ngibarkan bendera merah putih sembari berteriak gede pangrango marathon! Lucu sekali :) Saya lalu mengikuti panitia tersebut dan tidak jauh di belakang mereka ada dua buah tenda yang diperuntukan bagi peserta dan panitia lari. Disini peserta dapat beristirahat sejenak, makan pisang dan minum air atau minuman energi. Sayangnya, air minum dibatasi satu botol per orang. Saya lalu meminta panitia menyemprotkan pendingin otot ke paha saya yang sudah mulai kram sejak dari tanjakan curam tadi.

Beberapa peserta kategori 42K yang saya lewati ketika menuju kesini, satu persatu mulai kelihatan. Mereka tidak sempat beristirahat, hanya menanyakan arah jalur yang harus mereka ambil setelah pos ini. Beberapa panitia mulai berteriak-teriak menunjukkan jalur kepada mereka. Semoga Tuhan melindungi perjalanan kalian, deh, ucap saya dalam hati.

Saya hanya menghabiskan sekitar lima menit disini. Saya lalu mengambil satu buah pisang dan mengisi botol minum 600 ml saya dengan minuman energi yang disediakan oleh panitia dan kembali berlari menuju puncak. Hmm.. Tidak lama sih berlarinya, hanya sampai sebelum tanjakan ke puncak haha. Sepanjang perjalanan merayap perlahan-lahan menuju puncak, beberapa peserta mulai terlihat muncul satu persatu, hampir semua dengan pertanyaan yang sama.

“Alun-alun masih jauh nggak?”

Biasanya saya akan jawab dengan bercanda, seperti alun-alun mana? Bogor? Haha. Tapi kali ini wajah kelelahan tampak jelas dan bercanda mungkin tidak tepat :) .

Saya lalu berpapasan dengan salah satu peserta yang kemudian melihat saya agak lama dan menyebut nama saya. Lalu saya teringat bahwa salah satu anggota komunitas lari saya di Semarang ternyata ikut juga di acara ini. Ini kali pertama saya bertemu dengannya meskipun komunikasi sudah kami lakukan lewat media sosial sebelumnya.

“Eh bang, ini Veri. Udah naik aja nih?” ujarnya sembari mengatur nafas.
“Yo, semangat, udah dekat pos putar balik nya,” balasku sembari menyambut uluran jabat tangannya.

Tiba di puncak, saya tak ingin membuang waktu. Membayangkan bahwa saya bisa kemudian berlari dan mencuri waktu dengan turun cepat, setidaknya sampai jalur bebatuan menyebalkan itu.

Entah karena sedang bersemangat, saya berlari kencang disini. Menuruni jalur curam dengan cepat sembari berganti-ganti pegangan pada ranting-ranting pohon. Saya melewati banyak peserta dan pendaki di jalur ini. Saking bersemangatnya, saya kemudian kesasar dari jalur utama haha. Saya nyasar ke jalur Tanjakan Setan, yang saya ketahui di kemudian hari setelah membaca-baca kembali jalur pendakian Gunung Gede Pangrango di internet.

Tanjakan Setan adalah jalur pendakian sekitar 10 meter tebing lurus. Beberapa pendaki memilih jalur ini karena lebih menantang dan tentunya bagus untuk berfoto haha. Saya sempat berpikir untuk kembali naik sekitar 30 meter kembali ke jalur utama namun rasa malas dan sedikit rasa senang karena sensasi yang akan saya dapatkan bila berhasil menuruni tebing ini hihihi

Beberapa pendaki yang sudah bersiap untuk turun menggunakan tali dan webbing kemudian mempersilakan saya untuk turun terlebih dahulu. Tali dan webbing sudah dipasang secara permanen, tampaknya sudah lama terpasang, mungkin oleh pendaki-pendaki baik hati :). Sembari menuruni tebing ini, saya membayangkan video di internet yang pernah saya lihat tentang pelari tingkat dunia Kilian Jornet yang menaklukkan gunung Matterhorn dalam hitugan kurang dari tiga jam. Sebuah rekor yang masih belum terkalahkan hingga kini. Gunung yang biasanya membutuhkan waktu setidaknya 12 jam untuk mencapai puncaknya. Di video itu tampak Kilian menuruni tebing dengan menggunakan tali, persis seperti saya saat itu hahaha *malu*

Setelah kembali ke jalur utama, saya lalu kembali berlari secepat mungkin hingga ke jalur bebatuan menyebalkan itu. Disini, saya berhenti sejenak melurus dan meregangkan kaki yang terasa mulai keram. Sejenak saya merasa takut karena ini pertama kalinya, setelah satu tahun lalu berlatih di gunung Merbabu selama 14 jam, saya lari diatas tiga jam dengan beban otot yang berat. Pengalaman marathon jalan raya saya yang akhirnya berakhir di tenda pertolongan pertama akibat keram dan cidera otot masih menghantui dengan jelas :) Saya lalu berdoa mudah-mudahan bisa masuk garis finish tanpa cidera.


Di jalur batu, saya bertemu dengan tim kesehatan yang kemudian saya minta disemprot pendingin otot. Di jalur bebatuan ini, saya putuskan untuk tidak lagi berlari namun cukup berjalan cepat. Saya perkirakan dengan sisa waktu kurang lebih dua jam dan jarak yang sekitar lima kilometer lagi, saya bisa aman masuk sebelum batas waktu tujuh jam.

Melewati jalur bebatuan ini juga sedikit merepotkan karena disinilah pertemuan antara jalur pendakian dan jalur wisata Air Terjun Cibeureum. Ratusan pengunjung memadati jalur ini dan berjalan berbaris seperti shaf sholat berjamaah. Kondisi lelah dan memburu waktu membuat saya sedikit tidak sabar seperti biasanya. Beberapa kali saya dengan sengaja menyenggol para pengunjung yang berjalan berbaris lebih dari empat atau lima orang memenuhi jalan. Melewati mereka pun saya sedikit sinis.

“Kalau mau sholat, ke musholla, jangan di jalan, minggir!” kata saya sedikit jengkel.

Semangat saya kembali muncul ketika tahu sudah tiba di kawasan pintu masuk Kebun Raya Cibodas. Tidak lama lagi garis finish, dalam hati saya menambah semangat. Beberapa peserta 15K yang sudah berjalan menuju pintu keluar dengan medali penamat di leher mereka, kemudian memberi semangat kepada saya.

Masuk ke garis finish, saya lalu berlari kencang diiringi dengan sambutan semangat dan tepok tangan dari peserta maupun panitia. Istri saya sudah menunggu di garis finisih sembari mengambil gambar video hehehe. Saya melirik waktu di papan tepat diatas gapura finish. Enam jam satu menit. Tidak buruk untuk orang yang selama tujuh bulan terakhir tidak pernah naik ke gunung dan masuk hutan.

Saya langsung menyerbu tenda makan dan minuman yang disediakan dengan baik oleh panitia. Beragam makanan pemulih energi seperti pisang, jagung rebus, kacang-kacangan serta minuman energi tersedia dan bisa dikonsumsi sepuasnya. Bahkan ada satu tenda khusus menyediakan tim pemijat. Segera setelah mengumpulkan makanan dan minuman yang akan saya nikmati, saya mencari tempat istirahat diatas rerumputan sembari meluruskan kaki, membuka sepatu dan mulai mengunyah :)

Beberapa peserta yang sudah finish terlebih dahulu pun sedang beristirahat, menikmati makanan mereka serta mengambil foto bersama teman-teman mereka. Tampak raut wajah kelelahan namun puas terpancar dari wajah mereka. Bahkan, ada satu peserta yang begitu masuk finish, langsung menangis terharu :)

Saya berpikir. Para penggemar olahraga lari gunung seperti saya, yang tidak memiliki jadual atau program khusus sebelum latihan, hanya bermodal keberanian dan sedikit pengalaman. Kami, setidaknya saya, tidak punya keinginan untuk berdiri diatas podium sebagai juara. Bisa menyelesaikan lomba dibawah target waktu saja sudah senangnya bukan main. Kurasa, motivasi lain adalah menaklukkan diri sendiri dan menikmati pengalaman menyusuri alam yang indah menakjubkan. Sebelum hilang.   

Grafik Gunung Gede 21K


Jalur 21K Gede Pangrango Marathon 2015

 



     
     


No comments:

Post a Comment