Sunday, November 23, 2014

“Alien” di Kota Tua

Selalu ada perasaan yang berbeda ketika berjalan-jalan di daerah yang baru, setidaknya itu yang saya rasakan selama ini bila sedang bepergian. Mengetahui bahwa kita adalah “alien” di tempat tersebut. Berjalan-jalan berkeliling lokasi baru sambil celingak celinguk melihat sana sini ini itu mencari sesuatu yang menarik perhatian entah sesuatu yang unik atau lucu. Atau sesuatu yang terkenal sebagai ikon wisata atau bahkan hal-hal sederhana yang menarik hati.

Saya selalu menyukai memperhatikan orang-orang dimanapun saya berada entah itu sedang menjadi pelancong atau hanya di sekitar rumah tempat tinggal saya. Orang-orang berinteraksi dengan orang lain, entah sahabat, keluarga atau sekedar teman kerja. Saya selalu tertarik ingin mengetahui seperti apa yang dibicarakan, apa yang membuat mereka tertawa. Saya selalu ingin tahu kehidupan manusia lain, kecuali gossip selebriti tentunya hahaha

Pagi ini sebelum berangkat ke bandara untuk menuju ke kota tempat saya tinggal enam bulan ke depan, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan di kawasan kota tua tempat dimana hotel saya berada. Sebenarnya sejak tiga hari lalu saya berada disini, setiap pulang dari kantor pusat, saya berjalan melewati kawasan yang cukup ramai ini. Namun, selalu pada jam sore menjelang maghrib dan mulai gelap. Saya mungkin tidak leluasa menikmati bangunan-bangunan tua nan menawan secara maksimal.

Warteg ala Filipina

“Can I have that? and that?” ucap saya perlahan-lahan sembari menunjuk sop ikan dan tumis kangkung dari balik meja kaca ala warteg.

“Isda? Kangkong?” balas mas-mas penjaga warung.

“Yes please, the fish soup and yes, kangkung,” saya sedikit tersenyum karena ternyata kangkung pun bernama kangkung disini, Cuma pakai kangkong :D. Mungkin akan bikin jokes mau kuat kayak kingkong, makanlah kangkong hahaha

Saya sempat bertanya tentang menu lain yang sepertinya menarik. Saya terka itu adalah babi, dan saya tidak boleh makan babi, namun sekedar memastikan siapa tahu itu daging sapi hahaha namun ternyata benar. 85 persen makanan di warung ini memasukkan daging atau lemak babi.

Pilihan saya adalah sop ikan dan tumis kangkung. Biasanya di tumis kangkung diselipkan sedikit potongan daging sapi, setidaknya itu kalau masakan ibu mertua saya, namun kali ini murni hanya sayur kangkung saja.

Tak lama kemudian saya duduk asyik menikmati seporsi nasi, tumis kangkong (bukang kingkong!) dan sop ikan. Harganya 64 peso. Sekitar  17 ribuan rupiah. Itu udah sama air putih dari teko. Bisa nambah sepuasnya. Itu di salah satu warung makan (seperti warteg) di sudut kota Manila. Menu serupa di kabupaten di daerah bisa jauh lebih murah 10 peso atau menjadi 55 peso. 

Sunday, August 10, 2014

Berlari menuju Ketinggian 3142 meter (2)

Selo, 2 Agustus 03.30 WIB

Godaan untuk tetap tidur di Posko yang hangat sembari merebahkan tubuh sehabis menikmati semangkok mi instan telor dan teh panas sungguh sangat besar. Belum lagi obrolan dengan teman-teman baru kami, para pendaki, yang sedang beristirahat dari pendakian mereka dua hari sebelumnya. Namun, tekad kami sudah bulat. Kami kembali menapaki jalan panjang dan menanjak menuju puncak Merbabu dari Posko Selo ini.

jurang!
Harus kuakui, kakiku sudah mulai lelah untuk kembali berjalan seperti hari sebelumnya. Semenjak kepindahanku ke ibukota setahun yang lalu, melakukan kegiatan lari gunung diatas delapan jam, hampir tidak lagi pernah kulakukan. Di ibukota, butuh waktu ekstra bila ingin bepergian seperti ini. Praktis, lari di jalan raya adalah satu-satunya pilihan. Namun, aku tetap bersemangat dan berupaya untuk menyelesaikan niatku datang kesini. Berada di puncak gunung dua kali dalam satu kali kegiatan pendakian :)
  
Sekitar 1,5 jam berjalan, salah satu kawanku yang berjalan di depan berhenti tiba-tiba. Dia lalu menyuruhku untuk berjalan di depan tanpa alasan. Meskipun aku lebih senang berjalan paling belakang, entah mengapa dia memaksaku untuk berjalan di paling depan. Aku kemudian berpindah dan setelah berjalan sekitar 15 menit, aku lalu kembali di bagian belakang. Tidak ada yang aneh hingga kemudian di Posko Wekas, akhir dari petualangan kami, dia lalu menceritakan alasan nya. Rupanya dia melihat sesuatu yang aneh. Dua titik cahaya bundar seperti sepasang mata yang berkilat ketika memantulkan sinar dari lampu kepalanya kira-kira berjarak 10 meter dari posisinya saat itu. Sepasang cahaya tersebut tetap diam sampai kemudian kawan tersebut memintaku untuk berpindah tempat di depan nya. Dan kemudian, sepasanga cahaya tersebut hilang. Apapun itu, aku selalu menanamkan dalam benak dan mentalku bahwa berada di gunung dan hutan, melihat hal-hal  yang tidak biasanya adalah harus dianggap biasa. Seperti hal nya kita bertamu ke rumah orang dan melihat hal-hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya, seperti itu hal nya bila “bertamu” ke gunung hutan. Dinikmati saja :)

Berlari Menuju Ketinggian 3142 meter (1)

Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.56 WIB. Nafasku sudah tersengal-sengal. Tak bisa lagi selaras dengan langkah kakiku. Setengah merayap berusaha menyelesaikan tanjakan dengan kemiringan lebih dari 50 derajat ini. Panas mulai menyengat. Mataku menyipit. Keningku mengernyit. Aku berhenti sejenak. Setelah 1 menit diam, kuhembuskan nafas sekali lagi dan mulai berjalan tertatih-tatih. Hampir 10 jam kami berjalan dan berlari tanpa henti. Puncak gunung ini sudah terlihat.

Kopeng, Salatiga, 1 Agustus 2014 pukul 15.30

Suara knalpot meraung-raung ketika bis antar kota itu mulai berjalan kembali menuju kota Solo. Aku, dan dua orang kawanku, turun di pertigaan Pasar Sapi, kota Salatiga setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dari kota Semarang. Kami bermaksud untuk mendaki cepat dan berlari di Gunung Merbabu dua hari ke depan. Maraknya tren trail running di media sosial yang kami lihat membuat kami penasaran untuk mencoba kegiatan tersebut. Rencananya, kami akan memulai dari pos Cunthel menuju ke puncak Kenteng Songo lalu turun ke pos pendakian Selo. Lalu kemudian kembali ke puncak dan turun ke pos pendakian Wekas J

Setelah mendapatkan bis ke kawasan wisata Kopeng (Rp 7 ribu per orang), kami lalu mencari penginapan murah yang banyak ditemukan disini. Kami memilih penginapan seharga Rp 40 ribu per malam. Itu pun sudah dengan kamar mandi dalam. Yang kami butuhkan hanya tempat untuk menaruh barang-barang selagi kami menikmati gunung Merbabu.

Pukul 16.30, kami mulai berjalan menanjak menuju Posko pendakian Cunthel. Jalan mendaki dengan aspal mulus dan pemandangan alam pegunungan dengan hutan cemara, lahan perkebunan tembakau masyarakat yang bersaing dengan kian tumbuhnya penginapan-penginapan murah ala kawasan wisata. Sore hari menawarkan sinar matahari senja yang menabrak rimbunnya pepohonan. Aku merasa senang :)

Foto di rumah salah satu tokok masyarakat setempat. Foto oleh ucil kriting

Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di Posko pendakian. Oh iya, kami bertemu dengan kawan Jendri, salah satu teman mendakiku kali ini, yang sudah sering mendaki gunung ini. Dia lalu membawa kami ke rumah salah satu tokoh masyarakat di desa Cunthel ini. Menikmati makan malam, teh panas dan obrolan sungguh dapat menghangatkan udara dingin yang kian menusuk pada ketinggian sekitar 1800an meter diatas permukaan laut ini. Sejatinya, perjalanan tidak hanya menyelesaikan tujuan kedatangan kita namun menikmati dan membuka mata serta hati pada hal-hal seperti ini, bukan?

Tuesday, July 15, 2014

Renungan

"Tidak semua  yang kita benar-benar harapkan, pasti akan kita dapatkan. Tapi, hal tersebut tidak akan membuat kita untuk berhenti berusaha" 


Saturday, July 5, 2014

Pagi-sore Cirebon

Bertemu kawan-kawan adalah selalu menyenangkan. Meskipun hanya sebentar. 

Beberapa waktu lalu, istri dan saya, berkunjung ke kota Cirebon. Ceritanya mau menghadiri acara pernikahan adik kelas di kampus dan juga adik angkatan di organisasi pencinta alam kami. Tapi ini juga adalah kesempatan kami untuk dapat bertemu teman-teman lama semasa kuliah dulu. Kebetulan istri juga kenal dengan beberapa teman-teman saya semasa kuliah dulu. Juga, kami banyak mendengar jalan-jalan mengunjungi tempat wisata terkenal di Cirebon dapat dilakukan dalam waktu satu hari. 

Berangkat dari rumah sekitar pukul 04.55 menggunakan kereta dalam kota komuter line, kami tiba di stasiun tanah abang sekitar pukul 05.25 dan langsung menuju ke stasiun Gambir menggunakan bajaj. Kereta Cirebon Ekspress rencananya berangkat pukul 06.05.

Tiba di stasiun, kami langsung masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk kami, dan kejutan pun menyapa kami. Ternyata, tetangga depan rumah pun sedang berada tepat di tempat duduk di samping kami hahaha. Pagi tadi memang kami lihat mereka berdua, sepasang usia muda, keluar pagi-pagi naik taksi, ternyata menuju ke tempat yang sama hehehe. Mereka hendak menghadiri acara pernikahan keluarga si laki-laki. 

Beragam pilihan lauk

Pakai lontong

Wednesday, June 18, 2014

Lari Telanjang (kaki)

Gantung sepatu biasanya baru akan dilakukan oleh penggiat olahraga profesional entah karena sudah pensiun atau cedera. Namun, bagi penggemar lari kaki telanjang atau barefoot, istilah gantung sepatu sudah dilakukan sejak dini. Mereka biasanya adalah orang-orang yang sebelumnya penggemar olahraga lari dengan bersepatu namun entah dengan alasan yang bermacam-macam, mereka lalu menanggalkan sepatu dan berlari telanjang kaki.

Berbagai kontroversi, teori dan debat dilakukan baik secara profesional dengan segalam macam data-data penelitian apakah lari telanjang kaki baik bagi tubuh atau membahayakan diri sendiri. Atau debat antara mana yang lebih baik dari lari dengan atau tanpa sepatu. Semua dengan argumentasinya masing-masing. Sesungguhnya, saya punya pandangan saya sendiri.
Jakarta International 10K

Sejak mengenal lari lebih intens dua tahun terakhir ini, saya selalu menggunakan sepatu, terutama jenis-jenis minimalis barefoot seperti ini. Sepatu ini selama setahun selalu saya pergunakan entah lari di permukaan aspal maupun di gunung seperti gunung Gede atau Ungaran. Selalu tidak ada masalah. Saya selalu senang sensasi kaki yang bisa merasakan jalur lari lebih nyata. Lalu saya termakan iklan hahaha. Saya lalu membeli sepatu lagi yang, lagi-lagi termakan iklan, dengan harga terjangkau bisa mendapatkan sepatu nyaman untuk trail running. Beragam review pun saya baca. 

Tuesday, June 10, 2014

Selingan

Ketika sedang bepergian, membawa alat pemutar musik seperti iPod atau mungkin walkman (hahaha) hampir tidak pernah menjadi daftar barang yang harus saya bawa. Untuk membunuh waktu  dalam perjalan berjam-jam entah dengan kereta api atau bis, saya lebih memilih untuk entah membawa buku atau tidur atau mendengarkan dan melihat apa yang terjadi selama perjalanan. Melihat orang-orang di dalam kendaraan atau di luar jendela. Bila memungkinkan, obrolan dengan kernet atau petugas adalah hal yang paling saya sukai :)

Meskipun sedang sendirian di lokasi perkemahan di gunung yang gelap dan sepi, saya lebih menyukai menyeret keluar matras tidur ke keluar tenda dan berbaring melihat langit yang terang oleh titik-titik cahaya bintang. Biasanya saya akan senyum-senyum sendiri :) Lalu dalam pikiran berkelebatlah cerita-cerita dalam hidup saya bersama kawan-kawan yang sudah mengisi catatan kehidupan beberapa tahun hidup. 

Namun, begitu mendengar lagu ini pertama kali, entah mengapa saya merasa lagu ini sangat cocok untuk di dengarkan ketika sedang melakukan perjalanan dengan bis mengikuti liukan jalan menuju kawasan pegunungan seperti Dieng atau Parakan

Daughter. Photo from here


Tuesday, June 3, 2014

Camp David

Camp David adalah lokasi perkemahan yang berada di kawasan posko pendakian. Letaknya berada di belakang lokasi parkir kendaraan dan berseberangan dengan tempat pemandian air panas. Para pendaki yang hanya ingin mendaki cepat dan tidak ingin menghabiskan malam di gunung, dapat mendirikan tenda disini. Banyak warung yang menyajikan sekedar minuman panas atau mi instan. 

sunda syle!

Entah darimana asalnya nama David bisa diabadikan menjadi nama lokasi perkemahan. Mungkin biar serupa dengan Camp David yang ada di Amerika sana :D

Disini saya mendirikan tenda yang sudah menemani setiap perjalanan kemah selama 2-3 tahun terakhir ini. Terakhir, seingat saya, sekitar awal tahun 2013. Di bumi perkemahan Widoro di Kebumen. 

Malam hari di lokasi perkemahan ini tidak terlalu sepi. Atau mungkin karena sedang akhir pekan sehingga beberapa warung buka sampai malam. Beberapa orang warga sekitar juga tampak tinggal disana. 

Tidak banyak lokasi pendakian, setidaknya setahu saya untuk wilayah Jawa Tengah, yang memiliki fasilitas umum seperti toilet, mushala dan parkir yang tertata dan terawat dengan baik seperti disini. Di lokasi parkir saja ada setidaknya empat toilet bersih. Mushalla yang menyediakan sarung dan mukena. Camping ground yang memadai dan tidak terbuka luas seperti lapangan. Mungkin bagi pendaki yang membawa keluarga juga bisa berkemah disini dan menikmati jalan-jalan trekking ringan setidaknya sampai pondok salada bersama keluarga. 

Bandana setia


Tenda setia

Papandayan Trail Running - 3

15 menit berlari dan berhenti mengambil gambar sejak dari parkiran, saya kemudian tiba di Kawah. Tadinya ketika di bawah, saya sempat kepikiran untuk turun mendekati kawah dan mengambil gambar sebanyak mungkin, namun ketika tiba di tepiannya, bau menyengat khas kawah belerang membuat saya mual dan memilih untuk kabur seketika meninggalkan kawasan kawah hahaha

Kawah Papandayan

Menyisir kawah

Beberapa pendaki terlihat melintasi punggungan kawah yang menyembulkan asap tebal dan aliran sungai kecil dengan air panas. Sepertinya berujung di kolam air panas di dekat lokasi saya mendirikan tenda :)

Papandayan Trail Running - 2

Hingga di posko pendakian, saya masih berencana untuk mendaki hingga Pondok Salada (lokasi perkemahan sekitar 2 jam dari puncak) dan itulah yang terjadi ketika saya mengisi formulir pendaftaran dan informasi pendakian. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar lokasi parkir kendaraan, saya menyadari, mungkin saya terlalu berambisi untuk mendaki memanggul dua buah ransel dengan total seberat + 30 kg hahaha. Dan seketika itu pula saya mengurungkan niat dan memilih mendirikan tenda di kawasan kemah di dekat pemandian air panas hahaha

Pukul 14.30.

Sendirian di lokasi kemah

Segera setelah saya mendirikan tenda, mengatur letak isi tenda saya (salah satu kegiatan yang saya sukai hahaha) saya bersiap untuk melihat-lihat gunung ini. Membawa kamera poket andalan yang akhirnya lebih sering menemani saya bepergian daripada sepaket DSLR hehehe, saya bersiap untuk memulai trail running. Membayangkannya saja, saya sudah senang. Mungkin saya perlu trail running lebih sering biar wajah saya selalu tersenyum hihihi

Menurut setiap catatan perjalan yang saya baca, jalur pendakian dibagi menjadi Posko Pendakian - Kawah - Pondok Salada - Tegal AlunAlun - Puncak. Keseluruhannya membutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan. Bila berlari, biasa membutuhkan waktu setengahnya. Tiga jam. Saya melirik jam tangan. Bisa saja saya tiba ketika matahari masih bersinar terang namun dari puncak, ketika turun, saya pasti sudah malam hari. Saya putuskan sore itu saya cukup berlarian sampai Pondok Salada. 

Ketika mulai berlari, saya melewati beberapa pendaki dengan ransel-ransel berukuran besar. Sungguh, saya tidak yakin apakah masih bisa bersabar memanggul ransel seberat itu hingga berjam - jam hahaha. 

Papandayan Trail Running - 1

Merayakan tanggal dan bulan kelahiran saya tahun ini, saya memilih untuk berlari naik turun Gunung Papandayan. Semenjak kepindahan saya ke pinggiran Ibukota hampir setahun yang lalu, menikmati gunung hutan ketinggian adalah desakan yang selalu berputar-putar di dalam kepala. Di kota besar, tidak ada gunung tinggi. Adanya gedung tinggi :). Lalu, akhir pekan kemarin, setelah mempelajari jalur pendakian dan transportasi umum, saya memilih untuk jalan-jalan ke gunung yang pernah meletus tahun 2002 ini. 

Dari informasi yang banyak tersedia di internet, seperti ini, sebagian besar memilih untuk menggunakan bis langsung ke Garut dari terminal Kampung Rambutan atau Lebak Bulus. Namun, karena saya berpikir untuk menuju ke salah satu terminal tersebut akan merepotkan dengan satu ransel besar dan satu tas punggung harian saya, saya putuskan untuk menggunakan jasa travel dari kawasan rumah saya di seputaran Bintaro untuk menuju ke Bandung dan dari sana saya baru akan mencari angkutan ke Garut. 

Sabtu pagi pukul 08.00 saya tiba di Bandung. Saya pun memilih menggunakan jasa ojek untuk menuju ke Terminal Bis Cicaheum. Disini, saya merasakan senyum saya mengembang. Bukan apa-apa. Dalam ingatan saya, ini kali pertamanya setelah entah berapa tahun saya berada di tempat yang baru bersama dengan ransel saya, yang sudah menemani menjelajahi gunung-gunung di Jawa Tengah selama 10 tahun terakhir. Atmosfir menjadi "orang asing" selalu memberi kesenangan tersendiri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Kesenangan akan kejutan-kejutan yang akan diberikan alam? Untuk itulah manusia merasakan hidup, bukan? :) 

Di Terminal Bis Cicaheum, orang orang mulai menawarkan jasa nya. Dalam bahasa sunda hahaha. Saya hanya bisa senyum senyum sambil mencuri-curi pandangan bis bertuliskan Garut hehehe. Sesekali saya menjawab pertanyaan orang-orang, tentunya dalam bahasa sunda, dengan bahasa indonesia berlogat sunda sebisa saya (modal dari pengalaman suka nongkrong di warung bubur kacang ijo dekat kos saya semasa kuliah hahaha). "Garut, kang, Garut," begitu kira-kira jawab saya hihihi

Sunday, May 18, 2014

Lari Trail di Wonosari (2)

Tiba di Pos 1.

Disini disediakan minuman dan buah-buah. Menurut panitia, peserta terdepan berselang 30 menit dari saya. Saya seperti mendapatkan energi baru untuk kembali melesat hahaha. Oh iya saya sudah tidak lagi memotret sepanjan jalur ini. Fokus saya hanya berlari segera tiba di garis finish. Panasnya sungguh sangat tidak manusiawi *lebay

Jalur berikutnya ternyata lebih menyenangkan. Rimbun oleh pepohonan. Kebun warga dan tanjakan tajam merayap sudah tidak ada! hahaha

Saya mulai agak bisa berlari sedikit lebih cepat dan bersemangat. Terabas dan terabas.

Kira-kira 30 menit, saya tiba di pos 2. Pos terakhir. Saya mengisi botol air minum dan membawa beberapa potong buah untuk di jalan.

Penyiksaan jenis baru segera dimulai. 

Pemandangan dari puncak bukit

Jalan setapak curam menurun menghadang. Saya senang sekali dan berjingkat-jingkat turun bersemangat. Pemandangannya indah dari ketinggian. Saya berteriak-teriak kegirangan. Panas menyengat seperti sudah terlupakan.

Lari Trail di Wonosari (1)

Bermula dari obrolan ringan di media sosial dengan salah satu kawan saya di Jogjakarta tentang rencana liburan ke kota nya, dia lalu berakhir dengan mengajak untuk ikut kegiatan Hash bersama teman-temannya dari komunitas lari IndoRunners Jogjakarta. Sudah lama saya mendengar tentang kegiatan ini dari teman-teman saya di Semarang namun belum pernah sekalipun saya berkesempatan ikut. Tentu saja kali ini ajakan tersebut saya iyakan seketika meskipun sebenarnya saya agak khawatir dengan kemampuan lari trail saya semenjak pindah ke ibukota hahaha. Namun, bodo amat. Saya sudah kangen disiksa di gunung hutan!

Minggu, 20 April.

Siang pukul 11 saya tiba di lokasi berkumpul. Masih sepi. Setelah berkenalan dengan salah satu anggota komunitas IndoRunners Jogja, Luthfi, tidak lama kemudian beberapa orang mulai berdatangan. Beberapa orang ada yang khusus datang dari luar kota hanya untuk mengikuti acara ini. Acara yang digagas oleh salah satu komunitas hash terbesar di Jogjakarta ini memang dilaksanakan secara rutin dan sudah memiliki basis komunitas yang besar. Dan kegiatan hash ini memang sudah memiliki jejaring di hampir seluruh daerah di Indonesia. 

Seperti biasa, kami, sebagai penggemar kegiatan lari dan foto-foto, memulai acara dengan berfoto bersama-sama. Sekitar pukul 12.10 lari dimulai. Saat itu saya berpikir, gila aja acara lelarian dimulai siang tengah hari begini. Wonosari pula! Kulit saya terasa nyeri. Saya tidak peduli dengan kulit menghitam, saya hanya peduli sama otak saya yang bisa jadi mendidih karena panasnya! hahaha

Mari lari!

Jalurnya dimulai dengan melewati pematang sawah. Disini, kami masih berlari bergerombol. Selain karena jalannya sempit, juga karena semua masih segar. Masih terdengar canda tawa saling mencela satu sama lain. Beberapa memang sudah melesat jauh kedepan. Mereka ini yang datang jauh-jauh dari luar kota. Kami sih mencari senang-senangnya saja hehehe *ngeles padahal emang siput :D

Cerah ceria! Belum tahu jalur penyiksa di depannya :D

Monday, May 5, 2014

Menuris di Nusa Kambangan

Kali ini, saya menyambangi Nusa Kambangan (kadang dikenal sebagai Pulau Nusakambangan) untuk ketiga kalinya. Yang pertama ketika bersama dengan kolega kantor (lebih tepatnya bos saya hihihi) mengisi waktu setelah bekerja seharian. Itu pun juga hanya naik perahu wisata dari Pantai Teluk Penyu lalu mendarat di sisi timur Nusa Kambangan, ngeteh di gerbang masuk pulau sampai petang lalu kembali ke Pantai Teluk Penyu hahaha. Kurang kerjaan banget ya? 

Kali kedua ketika sedang menemani kolega (lagi-lagi karena pekerjaan!) dari Ibukota yang ingin menulis tentang profil pekerjaan kami saat itu. Namun, saat itu, saya sempatkan untuk berjalan mengikuti jalan menuju ke Pantai Karang Bolong dan menikmati pantai serta foto-foto. Tidak lebih jauh sebenarnya namun cukuplah menghibur kami hahaha. Ada kok ceritanya sedikit disini

Nah, kali ketiga ini, sudah lumayan menarik :) 

Sebenarnya karena pekerjaan juga sih ke Cilacapnya. Tapi, waktu untuk menikmati wisata sedikit lebih banyak jadi cukup lumayan waktu yang saya gunakan untuk melihat Nusa Kambangan lebih banyak dari sebelumnya. 

Jalan setapak menyisiri tebing, tertutup dedaunan. Lengah sedikit saja,
bisa tersapu turun ke Samudera Indonesia!

Pengunjung tampak menikmati suasana di tepi pantai :)

Monday, April 14, 2014

Jalan-jalan (kaki) di Singapura - 2

Hari kedua.

Pagi ini, tentu saja saya "harus" pergi melihat Patung Merlion, Singapore Flyer dan beberapa obyek wisata standar lainnya. Meskipun sejujurnya, saya tidak mendapatkan kesan mendalam dari obyek wisata yang dimaksud. Saya lebih tertarik untuk merasakan berjalan-jalan dengan MRT atau melihat keseharian orang-orang disini. Sebenarnya, saya sudah punya rencana. Ingin mencoba lelarian di seputaran Singapore River, seperti yang ada di peta wisata di kamar hotel saya. Namun, pagi itu, saya berangkat menuju ke lokasi lelarian tidak dengan berpakaian olahraga saya biasanya jadi segera ketika saya tiba di kawasan Merlion Park, dan melihat ada beberapa orang sedang berlari pagi, saat itu juga saya urungkan niat untuk berjalan-jalan dan berwisata selayaknya turis hahaha. Saya langsung pulang kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk lari di sore harinya. 

Hal ini mungkin akan sulit kulakukan di tempat saya tinggal di Indonesia. Kenapa? karena kondisi transportasi umum membuat sebagian besar orang malas untuk bepergian. Membayangkan bila saya adalah turis, tinggal di sekitar Bintaro lalu pagi hari jalan-jalan ke kawasan Monas lalu kembali lagi saat itu ke Bintaro dan kembali lagi ke Monas, membayangkannya saja saya sudah capek dan malas hahaha. 

Jalanan yang aman untuk parkir sepeda

Disini, tidak terbersitpun pikiran capek dan jauh. Karena semua bisa ditempuh dalam hitungan menit dan cepat. Meskipun harus berganti stasiun dan kereta, tidak terasa melelahkan. Stasiun MRT yang sejuk, informasi yang jelas, frekuensi datangnya MRT yang sangat cepat membuat semuanya terasa mudah. 

Jalan-jalan (kaki) di Singapura - 1

Minggu, 30 Maret 2014, pukul 19.00

"Coba cek tiketnyaa. Iseng-iseng ajaa. Siapa tahu dapat murahh" Ujar istri saya.
"Hihihihi" saya hanya cekikikan sembari membuka laman salah satu maskapai penerbangan yang melayani jalur menuju Singapura hampir 10 kali penerbangan dalam sehari. Setelah memasukkan jadual yang rencananya besok pagi buta, klak klik sana sini, ternyata harga tiketnya setengah dari harga tiket menuju ke kampung saya di Sulawesi hahaha. Tentu saja, kami langsung membeli satu tiket baru untuk saya :) Dan segera kami berkemas-kemas untuk perjalanan lima hari di Singapura. 

Sesungguhnya, saya tidak ada rencana untuk ikut ke Singapura menemani istri yang sedang ada kegiatan dari kantornya. Saya malah berencana untuk mengisi lima hari ke depan selama ditinggalkan, untuk berangkat ke Jogja berburu foto dan cerita sekaligus menjajal jalur trail running di kawasan Gunung Purba, Nglanggeran. Namun, dari hasil iseng-iseng tadi, akhirnya saya ikut juga bepergian. Lumayan, mengisi paspor baru saya hahaha

Senin, 31 Maret 2014. 

Setelah berangkat sekitar pukul lima pagi dari rumah menuju bandara, kami tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar 1,5 jam sebelum jadual keberangkatan. Proses registrasi ulang dan melewati petugas imigrasi tidak memakan waktu lama. Pertanyaan di bagian imigrasi pun menurut saya hanya sekedar formalitas. "dalam rangka apa ke singapura? sendiri atau banyak orang?" terima kasih. tap tap dan stempel imigrasi pun mendarat di halaman paspor saya. 

Kami lalu berjalan-jalan melewati gerai yang menawarkan berbagai macam barang atau sekedar tempat istirahat dengan bermacam-macam fasilitas. Tentunya bila pengunjung memiliki kartu keanggotaan atau beberapa jenis kartu kredit :). Sepi. 

Sepi

Pecahan uang yang sudah tidak laku!
Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah kotak sumbangan untuk beberapa organisasi pemerhati isu sosial. Sembari menunggu istri yang ke toilet, saya berdiri di dekat kotak tersebut. Dan, mengejutkan sekali. Uang yang terdapat didalamnya adalah jenis yang sudah tidak berlaku! Entah kenapa uang yang sudah tidak dapat digunakan lagi itu berakhir disana namun yang pasti tidak bisa digunakan lagi. Ada pecahan seratus rupiah, limaratus dan seribu rupiah. Siapa yang tega menyumbang uang tidak berlaku? Hmm atau mungkin kotak itu sudah terlalu lama disana hingga terlupakan sejak uang tersebut masuk berlaku sampai sekarang sudah tidak dapat digunakan? 

Di dalam pesawat, saya mengeluarkan buku dan siap menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan untuk kemudian berada di negara lain. 

Wednesday, April 9, 2014

LibuRun Singapore - Singapore River

Yang kedua adalah, tentu saja, kawasan Merlion Park dan Singapore River

Singapore River

Ini jalur jogging ringan sembari berwisata. Melewati Patung Merlion si Singa LautMarina Bay Sands, dan Singapore Flyer, jogging disini bisa bikin kacau pace biasanya. Banyak berhenti untuk mengambil foto, meminta orang buat difotoin dan tentu saja, cuci mata lihat cewek-cewek yang juga lelarian#eh. Jalur joggingnya sekitar 8K. Bagian yang paling saya suka adalah jalur memutar yang berada di atap Marina Barrage. Sungguh tempat beristirahat yang menyenangkan. Sembari melihat orang-orang bermain layang-layang, kita disuguhi pemandangan sekitar Sungai Singapura. 

Dari tempat saya menginap, saya naik MRT dari Orchard menuju Raffles Places. Dari sini perjalanan saya lanjutkan dengan berjalan kaki melewati kawasan perkantoran dan hotel menuju Patung Merlion. Sungguh, rasanya agak kikuk ketika kebanyakan orang berpakaian rapih lalu lalang dan saya berjalan dengan celana dan kaos olahraga saya hahaha. Oh iya, saya kali ini memakai kaos olahraga dari komunitas lari saya :) 

Di sekitar patung Merlion, seperti sudah saya tebak, banyak pelancong yang sedang menikmati suasana sore sembari mengambil gambar simbol negara ini dari berbagai sudut. Ada dua-tiga orang juga sih yang lagi jogging tapi tidak begitu banyak. Saya melirik jam di pergelangan, masih pukul 16.00, kebanyakan orang masih di tempat kerjanya masing-masing. 


Halo Singa!
Disini, saya lalu bersiap-siap dengan peregangan terlebih dahulu. Ada perasaan agak kikuk muncul karena merasa satu-satunya orang yang beraktifitas berbeda disana, diantara para turis-turis berbagai negara. 

Monday, April 7, 2014

LibuRun Singapura - South Ridges Trail

Mendengar kata Singapura, yang pertama terbersit di kepala kebanyakan orang pasti wisata belanja, Patung Merlion, Universal Studios, atau Orchard Road. Khusus orang Indonesia kebanyakan, Lucky Plaza pasti masuk daftar hihihi. Baiklah, bila baru pertama kali mengunjungi negara ramah pejalan kaki ini, bolehlah memenuhi daftar lihat atau menghabiskan foto selfie sepanjang jalan Orchard (dengan latar belakang papan nama Orchard Rd tentunya) atau berpose menampung air mancur Patung Merlion. Namun, bila ingin menikmati Singapura dengan cara yang berbeda, apalagi penggemar olahraga lari, jangan pernah melewatkan acara jogging di berbagai macam jalur lari di kota yang jalur transportasinya disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. 

Dari mencari tahu di internet, saya menjadikan tautan ini sebagai pedoman untuk jadual lelarian saya selama disini. Bukan jadual lomba lari, karena sudah banyak acara lomba lari tingkat dunia yang diselenggarakan di negara yang disebut mantan presiden BJ Habibie sebagai "si titik-merah-kecil" seperti Sundown Marathon atau Standard Chartered Marathon sampai yang tingkat ultra yang menempuh jarak lebih dari 50K (ini ada daftarnya). Bahkan negara dengan seluas Jakarta Selatan aja ini pun memiliki beberapa orang Ultra Marathoners, sebutan bagi penggiat lari diatas 50K. 

Lima hari disini, saya menyempatkan diri mencoba dua jalur lari yang, dari membaca tautan tadi, menurut saya paling menarik. 

Yang pertama adalah lari trail. 

South Ridges Trail.

Membaca namanya pertama kali, langsung saya putuskan harus saya coba. Kapan lagi bisa menjajal jalur trail di negara lain? Singapura pula. Tidak pernah terbayangkan ada jalur trail seperti di tempat saya *nada merendahkan hihihi*

Setelah mempelajari jalur transportasinya, pagi itu, sekitar pukul 08.00 saya keluar dari hotel tempat saya menginap. Menggunakan MRT dari Orchard, saya menuju ke St Dhobby Ghaut dan berganti menuju Habour Front. Disini, di bagian belakang St adalah pintu masuk Marang Trail yang akan menghubungkan jalur panjang berikutnya. 

Awal Trail

Wednesday, March 19, 2014

Anak-anak

Membelah diri?




















Dari suatu desa kecil di kabupaten Bima, kami, istri dan saya, menghabiskan suatu sore bermain bersama dengan sekelompok anak-anak kecil di tepi pantai. Saya lalu bergabung dengan anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola. Lalu istri saya memilih bermain dengan anak perempuan yang malu-malu. Istri saya lalu mengambil beberapa gambar dari mereka yang lalu tertawa-tawa melihat wajah mereka di layar kamera. Bahkan, ada yang tertawa cekikikan serta kebingungan melihat wajahnya yang berubah bentuk, ketika istri saya memotret mereka dengan fitur fish eye hahaha.

Dari semua cerita sore itu, yang paling membekas di kepalaku adalah bagaimana reaksi anak-anak perempuan dan laki-laki ketika saya meminta mereka untuk berkumpul menjadi satu agar gambar mereka semua bisa kuabadikan dalam satu bingkai. Ternyata, anak-anak laki-laki menolak dan anak-anak perempuan pun enggan. 

Kemudian akhirnya mereka bisa kujadikan satu dalam satu bingkai, pun, tetap dalam posisi dengan ada jarak diantara mereka. 

Thursday, March 6, 2014

Daun Jendela

Karena aku ingin berada di dalamnya
Jendela, bagi saya, adalah selalu tentang orang yang duduk sembari menikmati waktu. Membaca buku, menyesap minuman hangat, siluet orang memandang ke bawah atau sekedar duduk melamun sore. Entah kenapa. Selalu seperti itu saya melihat jendela. Mungkin terlalu besar pengaruh film atau apalah namanya, namun akan selalu seperti itu. 

Menyenangkan. Seperti Zee Avi - Concrete Wall

Sunday, March 2, 2014

Kebun Raya Bogor

Budayakan membaca 
Berjalan kaki dari Stasiun Kereta Bogor menuju Kebun Raya Bogor sebenarnya cukup nyaman. Trotoar untuk pejalan tersedia dan cukup lebar untuk dilewati. Pohon rindang pun cukup mampu menyejukkan panas. Saya selalu suka berjalan kaki, tentunya bila tidak sedang tergesa-gesa. Banyak yang bisa kita lihat dan selalu lebih mudah untuk memenuhi rasa keingintahuan kita akan hal-hal yang kita lihat, entah itu tulisan menarik atau aktivitas orang. Seperti bapak tua yang sedang membaca kota ini :) atau penjual tales yang sedang tertidur dalam posisi duduk. 

Tertidur menunggu pembeli

Cerita dari Bogor (Tales from Bogor)

Menikmati Naik "Ular Besi" Menuju Bogor

Dulu, sekitar tahun 2005, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Bogor. Ketika itu saya menghadiri undangan kegiatan untuk tempat saya bekerja saat itu. Berangkat dari Semarang dengan kereta, saya turun di Stasiun Besar Gambir dan langsung berganti tujuan menuju Kota Bogor dengan menggunakan kereta Pakuan Ekspress. Saya ingat, saat itu harganya tiketnya sekitar IDR 11.000. Nantinya di Stasiun Bogor, saya akan dijemput kawan kuliah saya dulu dan rencananya dia akan mengantar saya berkeliling kota Hujan ini hingga malam hari sebelum acara saya dimulai. 

Perjalanan dengan Pakuan Ekspress itu cukup memberi kesan. Entah karena itu adalah perjalanan pertama saya dengan kereta rel listrik atau suasana didalamnya seperti yang suka saya lihat di dalam film-film barat. Juga seperti mengingatkan saya ketika kurang lebih sebulan di Korea Selatan bersama karib-karib saya :)  Meski sekarang kereta yang diberi nama dari nama ibukota kerajaan Sunda saat itu, kini sudah tidak ada lagi, namun moda transportasi "ular besi" ini tetap beroperasi dengan nama baru menjadi Commuter Line, yang melayani jalur Jakarta-Bogor setiap harinya. 

Suatu hari, saya bermaksud untuk menyambangi Kebun Raya Bogor. Tempat suaka saya dari kebisingan dan hiruk pikuk ibukota. 

ibu-ibu terlihat menyeberang rel kereta

Monday, February 24, 2014

Jalan-jalan di Bandung selama tiga jam

Sabtu, 28 September 2013.

Pagi sekali, kira-kira pukul 05.30 pagi, istri dan saya sudah menunggu di tepi jalan sekitar Lebak Bulus menunggu jemputan teman istri saya. Biasanya akhir pekan, bila tidak ada rencana keluar kota, kami menghabiskan waktu di tempat tidur hingga siang. Eits.. benar-benar tidur. Menikmati bangun siang :). Namun, kali ini, saya diajak (lebih tepatnya sedikit memaksa :) ) istri untuk menemani tugas ke Kota Bandung. Sebenarnya, kantornya mengirimkan dia bersama satu orang koleganya, namun sepertinya istri saya tidak rela saya menghabiskan waktu tidur dan bermalas-malasan di akhir pekan ini sedangkan dia harus bangun subuh dan berangkat bekerja hahaha. 

Perjalanan sekitar dua jam menuju kota Bandung sungguh membuat kami sedikit tersiksa. Karena merasa tidak enak bila tidur dalam perjalanan sedangkan teman istri saya menyetir mobil, jadilah kami ngobrol sambil melawan kantuk. Tahukan rasanya melawan kantuk? Namun, yah begitulah. Tidak ada salahnya berbuat baik. Di akhir hari itu, saya ngomong ke istri besok-besok kita naik travel saja biar bisa tidur hehehe

Tiba di Bandung, kami langsung menuju ke universitas dimana sekitar empat - lima jam ke depan, istri dan koleganya akan menjadi narasumber pada sebuah diskusi. Saya? Tentu saja kesempatan jalan-jalan sendirian hahaha 

Sunday, February 16, 2014

Luar Negeri

"Wah pasang nih pasang di facebook!" seru istri saya ketika menemukan foto lama kami sedang berpose di depan Seoul Olympic Park. Wajah sumringah dan tertawanya seketika muncul ketika melihat-lihat lagi album lama kami, terutama perjalanan kami ke Korea Selatan sekitar 10 tahun lalu. Malam itu istri dan saya sedang membuka-buka lemari buku di rumah ibunya untuk mengumpulkan buku-buku kami yang masih banyak di rumah ibu untuk kami bawa ke rumah kami sendiri. 

Saat itu sekitar satu bulan, akhir bulan Juli-akhir bulan Agustus 2003, adalah perjalanan pertama kami serta dua orang kawan kami lainnya ke luar negeri. Ketika itu, kami sedang aktif-aktifnya menjadi relawan di sebuah lembaga sosial di kota Semarang dan ketika kami mendapat penugasan untuk menjadi fasilitator sebuah camp musim panas bagi siswa siswa sekolah menengah pertama disana, wah senangnya akhirnya kami bisa merasakan ke luar negeri hahaha. Selain ikut di kemah musim panas itu, kami juga rencananya akan mengikuti pertemuan pemuda dunia yang ke 14. 

Kami, saat itu berempat, masih duduk di bangku kuliah dengan fakultas yang berbeda-beda. Istri saya, kala itu masih berstatus pacar, adalah mahasiswi Psikologi. Karib saya berasal dari Fakultas Ekonomi namun beda universitas. Saya sendiri adalah mahasiswa pemalas dari fakultas perikanan hahaha. Meninggalkan bangku kuliah selama lebih kurang dua bulan? sudah biasa bagi kami hihihi

Bagi kami, perjalanan ini adalah kesempatan yang jarang kami dapatkan. Betapa tidak, ini akan menjadi perjalanan pertama kami, dan kami lakukan bersama-sama! Biasanya kami ditugaskan mengelola camp di Indonesia secara terpisah karena kami dianggap sebagai relawan senior. Dan seperti bisa kami tebak, perjalanan ini dikemudian hari adalah kenangan paling berkesan dari kami baik secara bersama-sama maupun ke diri kami masing-masing :)

Di depan Seoul Olympic Park

Monday, January 27, 2014

Penyu (tidak) Punya Teluk

Bisa ditebak, hanya dengan mendengar namanya saja, kalau penamaan Teluk Penyu di sebelah selatan kota Cilacap berasal dari banyaknya penyu disana. Hampir benar. Konon kabarnya dulu teluk ini menjadi lokasi bertelurnya para penyu yang datang dari samudera India. Namun, sekarang, yang datang "bertelur" adalah sampah dan para wisatawan. 

Pantai dan lamunan. Dua hal tersebut seperti tidak akan terpisahkan dari manusia dan nafsunya. Melihat pantai seperti secara otomatis meminta manusia untuk duduk sejenak, diam dan menikmati suasana. Lihatlah mereka yang menikmati suasana di pantai. Entah sekedar duduk menunggu matahari terbenam atau terbit. Melihat hingga ke batas cakrawala dalam diam. Bahkan dalam sebuah pesta pantai pun, akan ada yang terlihat duduk santai menikmati suara ombak di tepi pantai. 

dimana ujungnya?

Monday, January 20, 2014

Pulau Kambangan

Saya yakin, ketika ditanya letak atau apa itu Pulau Kambangan, orang-orang akan mengernyitkan kening, berpikir sejenak lalu menjawab ragu-ragu atau balik bertanya. Namun, bila menyebutkan Nusakambangan, pasti akan lebih cepat bereaksi dengan kata "Penjara ya?"

Ya, masyarakat Indonesia mengenal Nusa (berarti Pulau) Kambangan sebagai lokasi penjara dengan tingkat keamanan maksimum dimana penjahat kelas kakap di negara ini dijebloskan. Para terpidana teroris, koruptor tingkat tinggi, penyulut kerusuhan dan para gembong narkoba adalah penghuninya. Pulau yang terletak terpisah dari pulau utama jawa oleh selat Segara Anakan ini terletak tidak jauh dari Pantai Teluk Penyu, Cilacap

Pertama kali melihat pulau ini, sekitar empat tahun silam. Saya hanya melihatnya dari jauh sembari menikmati makan siang di salah satu rumah makan yang banyak terdapat di sepanjang obyek wisata Pantai Teluk Penyu. Saat itu, saya belum sempat menyambangi pulau yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 15 menit dari pantai yang berada di sebelah selatan kota Cilacap ini. Baru setelah dua tahun kemudian saya berkesempatan untuk menyambangi Pulau Kambangan ini.

Thursday, January 16, 2014

Surat Cinta Untukmu

Berangkat menuju ladang

Hai cantik, 

Apa kabarmu? Lama aku tak berjumpa dan mendengar berita tentangmu. Kapan terakhir kita bersua? Sudah lama sekali. Aku sampai lupa dan harus berpikir sejenak untuk mengingatnya kembali. Hmm..sekitar empat tahun lalu ya? Saat itu kalau tidak salah sehari setelah hari raya idul qurban. Kita bertemu hanya semalam. Aku datang ke rumahmu sendirian, biasanya aku bersama teman-teman kita kan, dan kita bebas bercerita banyak malam itu tanpa harus berbagi waktu dengan yang lain. 

Aku ingat pertemuan pertama kita. Aku dikenalkan oleh teman-teman kosku saat itu. Aku masih malu-malu untuk mengenalmu lebih jauh. Maklum, aku masih muda dan baru saja mengenal dunia diluar keseharianku. Saat itu aku lebih banyak diam ya dan susah diajak bicara? hahaha sekarang, lebih banyak bicara dan susah disuruh diam :) 

Cantik,

Sejak pertama kali mengenalmu itu, sudah hampir tak terhitung aku main ke rumahmu. Mungkin lebih dari 10 kali ya? Kadang sendirian tapi lebih banyak bersama kawan-kawanku. Entah itu kawan kuliah atau kawan bermain. Bahkan ada yang khusus minta diantar bertemu denganmu setelah mendengar banyak cerita dariku tentangmu. Ah, kau memang akan selalu punya banyak cerita yang menarik untuk diceritakan kembali ke orang lain.