Sunday, August 10, 2014

Berlari menuju Ketinggian 3142 meter (2)

Selo, 2 Agustus 03.30 WIB

Godaan untuk tetap tidur di Posko yang hangat sembari merebahkan tubuh sehabis menikmati semangkok mi instan telor dan teh panas sungguh sangat besar. Belum lagi obrolan dengan teman-teman baru kami, para pendaki, yang sedang beristirahat dari pendakian mereka dua hari sebelumnya. Namun, tekad kami sudah bulat. Kami kembali menapaki jalan panjang dan menanjak menuju puncak Merbabu dari Posko Selo ini.

jurang!
Harus kuakui, kakiku sudah mulai lelah untuk kembali berjalan seperti hari sebelumnya. Semenjak kepindahanku ke ibukota setahun yang lalu, melakukan kegiatan lari gunung diatas delapan jam, hampir tidak lagi pernah kulakukan. Di ibukota, butuh waktu ekstra bila ingin bepergian seperti ini. Praktis, lari di jalan raya adalah satu-satunya pilihan. Namun, aku tetap bersemangat dan berupaya untuk menyelesaikan niatku datang kesini. Berada di puncak gunung dua kali dalam satu kali kegiatan pendakian :)
  
Sekitar 1,5 jam berjalan, salah satu kawanku yang berjalan di depan berhenti tiba-tiba. Dia lalu menyuruhku untuk berjalan di depan tanpa alasan. Meskipun aku lebih senang berjalan paling belakang, entah mengapa dia memaksaku untuk berjalan di paling depan. Aku kemudian berpindah dan setelah berjalan sekitar 15 menit, aku lalu kembali di bagian belakang. Tidak ada yang aneh hingga kemudian di Posko Wekas, akhir dari petualangan kami, dia lalu menceritakan alasan nya. Rupanya dia melihat sesuatu yang aneh. Dua titik cahaya bundar seperti sepasang mata yang berkilat ketika memantulkan sinar dari lampu kepalanya kira-kira berjarak 10 meter dari posisinya saat itu. Sepasang cahaya tersebut tetap diam sampai kemudian kawan tersebut memintaku untuk berpindah tempat di depan nya. Dan kemudian, sepasanga cahaya tersebut hilang. Apapun itu, aku selalu menanamkan dalam benak dan mentalku bahwa berada di gunung dan hutan, melihat hal-hal  yang tidak biasanya adalah harus dianggap biasa. Seperti hal nya kita bertamu ke rumah orang dan melihat hal-hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya, seperti itu hal nya bila “bertamu” ke gunung hutan. Dinikmati saja :)

Berlari Menuju Ketinggian 3142 meter (1)

Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.56 WIB. Nafasku sudah tersengal-sengal. Tak bisa lagi selaras dengan langkah kakiku. Setengah merayap berusaha menyelesaikan tanjakan dengan kemiringan lebih dari 50 derajat ini. Panas mulai menyengat. Mataku menyipit. Keningku mengernyit. Aku berhenti sejenak. Setelah 1 menit diam, kuhembuskan nafas sekali lagi dan mulai berjalan tertatih-tatih. Hampir 10 jam kami berjalan dan berlari tanpa henti. Puncak gunung ini sudah terlihat.

Kopeng, Salatiga, 1 Agustus 2014 pukul 15.30

Suara knalpot meraung-raung ketika bis antar kota itu mulai berjalan kembali menuju kota Solo. Aku, dan dua orang kawanku, turun di pertigaan Pasar Sapi, kota Salatiga setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dari kota Semarang. Kami bermaksud untuk mendaki cepat dan berlari di Gunung Merbabu dua hari ke depan. Maraknya tren trail running di media sosial yang kami lihat membuat kami penasaran untuk mencoba kegiatan tersebut. Rencananya, kami akan memulai dari pos Cunthel menuju ke puncak Kenteng Songo lalu turun ke pos pendakian Selo. Lalu kemudian kembali ke puncak dan turun ke pos pendakian Wekas J

Setelah mendapatkan bis ke kawasan wisata Kopeng (Rp 7 ribu per orang), kami lalu mencari penginapan murah yang banyak ditemukan disini. Kami memilih penginapan seharga Rp 40 ribu per malam. Itu pun sudah dengan kamar mandi dalam. Yang kami butuhkan hanya tempat untuk menaruh barang-barang selagi kami menikmati gunung Merbabu.

Pukul 16.30, kami mulai berjalan menanjak menuju Posko pendakian Cunthel. Jalan mendaki dengan aspal mulus dan pemandangan alam pegunungan dengan hutan cemara, lahan perkebunan tembakau masyarakat yang bersaing dengan kian tumbuhnya penginapan-penginapan murah ala kawasan wisata. Sore hari menawarkan sinar matahari senja yang menabrak rimbunnya pepohonan. Aku merasa senang :)

Foto di rumah salah satu tokok masyarakat setempat. Foto oleh ucil kriting

Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di Posko pendakian. Oh iya, kami bertemu dengan kawan Jendri, salah satu teman mendakiku kali ini, yang sudah sering mendaki gunung ini. Dia lalu membawa kami ke rumah salah satu tokoh masyarakat di desa Cunthel ini. Menikmati makan malam, teh panas dan obrolan sungguh dapat menghangatkan udara dingin yang kian menusuk pada ketinggian sekitar 1800an meter diatas permukaan laut ini. Sejatinya, perjalanan tidak hanya menyelesaikan tujuan kedatangan kita namun menikmati dan membuka mata serta hati pada hal-hal seperti ini, bukan?