Selo, 2 Agustus 03.30 WIB
Godaan untuk tetap tidur di Posko
yang hangat sembari merebahkan tubuh sehabis menikmati semangkok mi instan
telor dan teh panas sungguh sangat besar. Belum lagi obrolan dengan teman-teman
baru kami, para pendaki, yang sedang beristirahat dari pendakian mereka dua
hari sebelumnya. Namun, tekad kami sudah bulat. Kami kembali menapaki jalan
panjang dan menanjak menuju puncak Merbabu dari Posko Selo ini.
| jurang! |
Harus kuakui, kakiku sudah mulai
lelah untuk kembali berjalan seperti hari sebelumnya. Semenjak kepindahanku ke
ibukota setahun yang lalu, melakukan kegiatan lari gunung diatas delapan jam,
hampir tidak lagi pernah kulakukan. Di ibukota, butuh waktu ekstra bila ingin
bepergian seperti ini. Praktis, lari di jalan raya adalah satu-satunya pilihan.
Namun, aku tetap bersemangat dan berupaya untuk menyelesaikan niatku datang
kesini. Berada di puncak gunung dua kali dalam satu kali kegiatan pendakian :)
Sekitar 1,5 jam berjalan, salah
satu kawanku yang berjalan di depan berhenti tiba-tiba. Dia lalu menyuruhku
untuk berjalan di depan tanpa alasan. Meskipun aku lebih senang berjalan paling
belakang, entah mengapa dia memaksaku untuk berjalan di paling depan. Aku
kemudian berpindah dan setelah berjalan sekitar 15 menit, aku lalu kembali di
bagian belakang. Tidak ada yang aneh hingga kemudian di Posko Wekas, akhir dari
petualangan kami, dia lalu menceritakan alasan nya. Rupanya dia melihat sesuatu
yang aneh. Dua titik cahaya bundar seperti sepasang mata yang berkilat ketika
memantulkan sinar dari lampu kepalanya kira-kira berjarak 10 meter dari
posisinya saat itu. Sepasang cahaya tersebut tetap diam sampai kemudian kawan tersebut
memintaku untuk berpindah tempat di depan nya. Dan kemudian, sepasanga cahaya
tersebut hilang. Apapun itu, aku selalu menanamkan dalam benak dan mentalku
bahwa berada di gunung dan hutan, melihat hal-hal yang tidak biasanya adalah harus dianggap
biasa. Seperti hal nya kita bertamu ke rumah orang dan melihat hal-hal yang
belum pernah kita lihat sebelumnya, seperti itu hal nya bila “bertamu” ke
gunung hutan. Dinikmati saja :)