Sunday, August 10, 2014

Berlari Menuju Ketinggian 3142 meter (1)

Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.56 WIB. Nafasku sudah tersengal-sengal. Tak bisa lagi selaras dengan langkah kakiku. Setengah merayap berusaha menyelesaikan tanjakan dengan kemiringan lebih dari 50 derajat ini. Panas mulai menyengat. Mataku menyipit. Keningku mengernyit. Aku berhenti sejenak. Setelah 1 menit diam, kuhembuskan nafas sekali lagi dan mulai berjalan tertatih-tatih. Hampir 10 jam kami berjalan dan berlari tanpa henti. Puncak gunung ini sudah terlihat.

Kopeng, Salatiga, 1 Agustus 2014 pukul 15.30

Suara knalpot meraung-raung ketika bis antar kota itu mulai berjalan kembali menuju kota Solo. Aku, dan dua orang kawanku, turun di pertigaan Pasar Sapi, kota Salatiga setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dari kota Semarang. Kami bermaksud untuk mendaki cepat dan berlari di Gunung Merbabu dua hari ke depan. Maraknya tren trail running di media sosial yang kami lihat membuat kami penasaran untuk mencoba kegiatan tersebut. Rencananya, kami akan memulai dari pos Cunthel menuju ke puncak Kenteng Songo lalu turun ke pos pendakian Selo. Lalu kemudian kembali ke puncak dan turun ke pos pendakian Wekas J

Setelah mendapatkan bis ke kawasan wisata Kopeng (Rp 7 ribu per orang), kami lalu mencari penginapan murah yang banyak ditemukan disini. Kami memilih penginapan seharga Rp 40 ribu per malam. Itu pun sudah dengan kamar mandi dalam. Yang kami butuhkan hanya tempat untuk menaruh barang-barang selagi kami menikmati gunung Merbabu.

Pukul 16.30, kami mulai berjalan menanjak menuju Posko pendakian Cunthel. Jalan mendaki dengan aspal mulus dan pemandangan alam pegunungan dengan hutan cemara, lahan perkebunan tembakau masyarakat yang bersaing dengan kian tumbuhnya penginapan-penginapan murah ala kawasan wisata. Sore hari menawarkan sinar matahari senja yang menabrak rimbunnya pepohonan. Aku merasa senang :)

Foto di rumah salah satu tokok masyarakat setempat. Foto oleh ucil kriting

Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di Posko pendakian. Oh iya, kami bertemu dengan kawan Jendri, salah satu teman mendakiku kali ini, yang sudah sering mendaki gunung ini. Dia lalu membawa kami ke rumah salah satu tokoh masyarakat di desa Cunthel ini. Menikmati makan malam, teh panas dan obrolan sungguh dapat menghangatkan udara dingin yang kian menusuk pada ketinggian sekitar 1800an meter diatas permukaan laut ini. Sejatinya, perjalanan tidak hanya menyelesaikan tujuan kedatangan kita namun menikmati dan membuka mata serta hati pada hal-hal seperti ini, bukan?

Setelah melapor di Posko pendakian, tepat pukul 20.00 kami mulai mendaki. Berlari ringan dengan kepulan asap yang keluar dari bibir kami seperti para perokok dan hanya mengandalkan sinar lampu dari headlamp kami.

Sesungguhnya, baru kali ini saya melakukan berlari gunung dan mendaki cepat di malam hari. Meskipun cuaca cerah, namun minimnya cahaya membuat kami benar-benar harus memiliki koordinasi yang baik (dan cepat) antara mata dan langkah kaki. Sesekali saya berhenti dan menoleh ke belakang. Taburan titik-titik cahaya dari lampu-lampu rumah dan jalan raya sangat indah. Titik-titik terang serupa berserakan di langit. Sungguh, mampu membuat saya tersenyum hanya dengan melihatnya saja :)

Lari malam hari
Jalur masih terus menanjak. Heningnya malam. Aku bisa merasakan nafasku dengan jelas.
Di beberapa pos, kami melewati tim pendaki yang sedang berkemah. Mereka pun sedang asyik menikmati api unggun dan canda tawa. Menyenangkan sekali melihat banyak anak muda Indonesia yang keluar dan menghabiskan waktu untuk menikmati alam negara ini.

Jalur terus menanjak. Aku masih merasa segar dan sangat bersemangat. Keringat bercucuran. Hembusan angin gunung mulai membuat tubuhku sesekali merinding karena dinginnya.

Sekitar 2 jam kemudian, kami tiba di pos percabangan. Dari sini, yang aku ingat semenjak 12-13 tahun lalu terakhir menginjakkan kaki di gunung ini, kami tinggal menyusuri jalan menurun, lalu landai dan tanjakan curam untuk tiba di puncak pertama yaitu puncak syarif. Ternyata, tidak sesederhana itu hahaha

Tiba di bagian menanjak curam, kami lalu mengumpulkan semangat dan mencari-cari jalur merayap yang tidak terlalu berbahaya untuk dilewati, terutama di tengah malam gelap seperti ini. Dan, aku pun merasakan adrenalin yang meningkat seketika. Aku terjatuh dari tebing yang hampir vertikal, sekitar 3 meter, merosot kebawah seperti papan luncur. Untungnya, beberapa bagian batu menahanku. Lututku terantuk dan membuat kulitku robek. Beberapa ujung jariku pun lecet karena berusaha menahan dan mencari pegangan. Anehnya, hal ini justru membuatku bersemangat hahaha

Kawanku pun lalu memperingatkan untuk lebih berhati-hati. Mereka tidak mau repot mengurusku kalau terjadi sesuatu hahaha

Mencapai persilangan antara menuju puncak syarif dan puncak kenteng songo, kami putuskan untuk terus menuju puncak kenteng songo karena perjalanan kami masih panjang sehingga tujuan kami hanyalah puncak tertinggi.
merayap tebing

Bagian paling menarik sebelum mencapai puncak Kenteng Songo adalah, sebuah tebing terbuka sepanjang lebih kurang 6-7 meter, dengan jurang mengaga dibawahnya. Kita harus merayap sebelum kemudian kembali ke jalur menanjak dan tiba di kawasan puncak. Dengan minimnya pencahayaan, merayap tebing di malam hari memiliki tingkat kesulitan yang lebih.
Puncak di malam hari
Setelah lebih kurang empat jam mendaki, kami pun tiba di puncak Kenteng Songo. Rasanya puas sekali. Beberapa tenda telah berdiri. Penghuninya mungkin sedang menikmati kehangatan dalam jaket tebal dan kantung tidur. Bermimpi bahagia setelah lelah mendaki dan perut kenyang walau mungkin hanya diisi dengan menu seadanya. Perasaan senang karena berada di gunung membuat tidur lebih nyenyak :) Kami tak menghabiskan waktu lama di puncak. Selain karena dingin, juga karena kami ingin secepatnya tiba di Posko Selo untuk beristirahat dan mengisi perut dengan makanan hangat.


Perjalanan turun ke Posko Selo sungguh menyenangkan. Jalur yang landai di beberapa bagian cukup membuat kami mampu berlari lebih leluasa. “Hanya” dua jam  waktu yang kami butuhkan untuk berlari dari puncak menuju ke Posko. 

No comments:

Post a Comment