Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah
menunjukkan pukul 07.56 WIB. Nafasku sudah tersengal-sengal. Tak bisa lagi
selaras dengan langkah kakiku. Setengah merayap berusaha menyelesaikan tanjakan
dengan kemiringan lebih dari 50 derajat ini. Panas mulai menyengat. Mataku
menyipit. Keningku mengernyit. Aku berhenti sejenak. Setelah 1 menit diam,
kuhembuskan nafas sekali lagi dan mulai berjalan tertatih-tatih. Hampir 10 jam
kami berjalan dan berlari tanpa henti. Puncak gunung ini sudah terlihat.
Kopeng, Salatiga, 1 Agustus 2014
pukul 15.30
Suara knalpot meraung-raung
ketika bis antar kota itu mulai berjalan kembali menuju kota Solo. Aku, dan dua
orang kawanku, turun di pertigaan Pasar Sapi, kota Salatiga setelah menempuh
perjalanan lebih kurang satu jam dari kota Semarang. Kami bermaksud untuk
mendaki cepat dan berlari di Gunung Merbabu dua hari ke depan. Maraknya tren trail running di media sosial yang kami
lihat membuat kami penasaran untuk mencoba kegiatan tersebut. Rencananya, kami
akan memulai dari pos Cunthel menuju ke puncak Kenteng Songo lalu turun ke pos
pendakian Selo. Lalu kemudian kembali ke puncak dan turun ke pos pendakian
Wekas J
Setelah mendapatkan bis ke
kawasan wisata Kopeng (Rp 7 ribu per orang), kami lalu mencari penginapan murah
yang banyak ditemukan disini. Kami memilih penginapan seharga Rp 40 ribu per
malam. Itu pun sudah dengan kamar mandi dalam. Yang kami butuhkan hanya tempat
untuk menaruh barang-barang selagi kami menikmati gunung Merbabu.
Pukul 16.30, kami mulai berjalan
menanjak menuju Posko pendakian Cunthel. Jalan mendaki dengan aspal mulus dan
pemandangan alam pegunungan dengan hutan cemara, lahan perkebunan tembakau
masyarakat yang bersaing dengan kian tumbuhnya penginapan-penginapan murah ala
kawasan wisata. Sore hari menawarkan sinar matahari senja yang menabrak
rimbunnya pepohonan. Aku merasa senang :)
| Foto di rumah salah satu tokok masyarakat setempat. Foto oleh ucil kriting |
Sekitar 1,5 jam kemudian kami
tiba di Posko pendakian. Oh iya, kami bertemu dengan kawan Jendri, salah satu
teman mendakiku kali ini, yang sudah sering mendaki gunung ini. Dia lalu
membawa kami ke rumah salah satu tokoh masyarakat di desa Cunthel ini.
Menikmati makan malam, teh panas dan obrolan sungguh dapat menghangatkan udara
dingin yang kian menusuk pada ketinggian sekitar 1800an meter diatas permukaan
laut ini. Sejatinya, perjalanan tidak hanya menyelesaikan tujuan kedatangan
kita namun menikmati dan membuka mata serta hati pada hal-hal seperti ini,
bukan?
Setelah melapor di Posko
pendakian, tepat pukul 20.00 kami mulai mendaki. Berlari ringan dengan kepulan
asap yang keluar dari bibir kami seperti para perokok dan hanya mengandalkan
sinar lampu dari headlamp kami.
Sesungguhnya, baru kali ini saya
melakukan berlari gunung dan mendaki cepat di malam hari. Meskipun cuaca cerah,
namun minimnya cahaya membuat kami benar-benar harus memiliki koordinasi yang
baik (dan cepat) antara mata dan langkah kaki. Sesekali saya berhenti dan
menoleh ke belakang. Taburan titik-titik cahaya dari lampu-lampu rumah dan
jalan raya sangat indah. Titik-titik terang serupa berserakan di langit.
Sungguh, mampu membuat saya tersenyum hanya dengan melihatnya saja :)
| Lari malam hari |
Jalur masih terus menanjak.
Heningnya malam. Aku bisa merasakan nafasku dengan jelas.
Di beberapa pos, kami melewati
tim pendaki yang sedang berkemah. Mereka pun sedang asyik menikmati api unggun
dan canda tawa. Menyenangkan sekali melihat banyak anak muda Indonesia yang
keluar dan menghabiskan waktu untuk menikmati alam negara ini.
Jalur terus menanjak. Aku masih
merasa segar dan sangat bersemangat. Keringat bercucuran. Hembusan angin gunung
mulai membuat tubuhku sesekali merinding karena dinginnya.
Sekitar 2 jam kemudian, kami tiba
di pos percabangan. Dari sini, yang aku ingat semenjak 12-13 tahun lalu
terakhir menginjakkan kaki di gunung ini, kami tinggal menyusuri jalan menurun,
lalu landai dan tanjakan curam untuk tiba di puncak pertama yaitu puncak
syarif. Ternyata, tidak sesederhana itu hahaha
Tiba di bagian menanjak curam,
kami lalu mengumpulkan semangat dan mencari-cari jalur merayap yang tidak
terlalu berbahaya untuk dilewati, terutama di tengah malam gelap seperti ini.
Dan, aku pun merasakan adrenalin yang meningkat seketika. Aku terjatuh dari
tebing yang hampir vertikal, sekitar 3 meter, merosot kebawah seperti papan
luncur. Untungnya, beberapa bagian batu menahanku. Lututku terantuk dan membuat
kulitku robek. Beberapa ujung jariku pun lecet karena berusaha menahan dan
mencari pegangan. Anehnya, hal ini justru membuatku bersemangat hahaha
Kawanku pun lalu memperingatkan
untuk lebih berhati-hati. Mereka tidak mau repot mengurusku kalau terjadi
sesuatu hahaha
Mencapai persilangan antara
menuju puncak syarif dan puncak kenteng songo, kami putuskan untuk terus menuju
puncak kenteng songo karena perjalanan kami masih panjang sehingga tujuan kami
hanyalah puncak tertinggi.
| merayap tebing |
Bagian paling menarik sebelum
mencapai puncak Kenteng Songo adalah, sebuah tebing terbuka sepanjang lebih
kurang 6-7 meter, dengan jurang mengaga dibawahnya. Kita harus merayap sebelum
kemudian kembali ke jalur menanjak dan tiba di kawasan puncak. Dengan minimnya
pencahayaan, merayap tebing di malam hari memiliki tingkat kesulitan yang
lebih.
| Puncak di malam hari |
Setelah lebih kurang empat jam
mendaki, kami pun tiba di puncak Kenteng Songo. Rasanya puas sekali. Beberapa
tenda telah berdiri. Penghuninya mungkin sedang menikmati kehangatan dalam
jaket tebal dan kantung tidur. Bermimpi bahagia setelah lelah mendaki dan perut
kenyang walau mungkin hanya diisi dengan menu seadanya. Perasaan senang karena
berada di gunung membuat tidur lebih nyenyak :) Kami tak menghabiskan waktu lama
di puncak. Selain karena dingin, juga karena kami ingin secepatnya tiba di Posko
Selo untuk beristirahat dan mengisi perut dengan makanan hangat.
Perjalanan turun ke Posko Selo
sungguh menyenangkan. Jalur yang landai di beberapa bagian cukup membuat kami
mampu berlari lebih leluasa. “Hanya” dua jam waktu yang kami butuhkan untuk berlari dari
puncak menuju ke Posko.
No comments:
Post a Comment