Friday, November 22, 2013

Cinta Pertama

Entah kenapa, sore ini, ketika sedang membaca lagi artikel yang sedang saya kerjakan oleh penugasan bulan ini, tiba-tiba pengalaman mendaki gunung saya yang pertama kali 14 tahun lalu melintas di dalam kepala. Pengalaman yang mengenalkan saya satu hal. Gunung hutan dan ketinggian. Satu-satunya hal yang di kemudian hari, benar-benar menenangkan saya, dalam situasi apapun. 

Saya ingat, saat itu, karena ingin mendapatkan pengalaman mendaki gunung, saya menerima ajakan beberapa orang mahasiswa angkatan tua, begitu saya menyebut mereka, untuk ikut dalam rencana mereka mendaki Gunung Sindoro akhir pekan ketika itu. Agustus 1999. Cerita mereka tetnang perasaan menjejakkan kaki di gunung yang tingginya diatas 3000 meter, berjalan lebih dari lima jam, merasakan dingin mendekati 5 derajat celcius dan sensasi berdiri diatas awan, membuat saya penasaran dan tanpa berpikir dua kali, menyanggupi ajakan mereka. 

Tuesday, November 19, 2013

Karena sesungguhnya, oleh oleh terbaik dari setiap perjalanan adalah cerita. Banyak cerita :)

http://adventureblog.nationalgeographic.com/2013/11/19/video-adventurers-of-the-year-manifesto/


Kenangan sebuah Air Terjun

Saya pernah membaca bahwa manusia menyukai mengingat atau menyimpan kenangan karena hanya itu yang tidak pernah berubah, sedangkan manusia pasti berubah. Ya, kenangan akan indahnya pemandangan hutan dan air terjun yang kulihat ketika usia kanak-kanak itulah yang selalu membawaku ke tempat ini. Air Terjun Moramo.

Kira-kira 20 tahun lalu saya menyaksikan pemandangan yang paling melekat di pikiranku tentang hutan, pohon yang berukuran sangat besar hingga sinar matahari seperti berhenti di ujungnya, atau suara air sungai yang menenangkan hati dan betapa menakutkannya air deras yang mengalir dibebatuan seperti tangga itu. Entah mengapa, dari semua kenangan liburan masa kecilku, pengalaman jalan-jalan keluarga ke tempat itu selalu membekas. Hingga kini aku tidak tinggal lagi di kampung halaman, salah satu tempat yang wajib saya kunjungi setiap kali pulang menengok orang tua, adalah Suaka Alam Tanjung Peropa ini.



Senangnya dia hahaha
Kini, setelah saya berkeluarga, saya ingin berbagi jenis tempat indah yang jarang di temukan di Pulau Jawa ini kepada istri tercinta :). Jadi, dengan mengendarai motor, jadilah kami menikmati perjalanan sekitar 1,5 jam melalui pantai dan pegunungan. Cuaca cerah, mendekati panas menggila, mendukung perjalanan kami. 

Oh satu hal lagi, meskipun saya dilahirkan di kota ini, namun, saya tidak ubahnya seperti pelancong dari jauh :). Buta arah jalan membuat kami harus berhenti beberapa kali dan bertanya kepada penduduk yang kami temui. Karena tidak mau malu dianggap penduduk durhaka, yang bertanya adalah istri saya yang asli penghuni Pulau Jawa hahaha

Sebenarnya, kami juga melewati salah satu obyek wisata terkenal di kota Kendari yaitu Pantai Nambo, namun terus terang saja kami berdua bukan penggemar laut. Yes kami memang menyukainya tapi kami merasa cepat bosan bila di pantai hehehe jadi, kami putuskan untuk sekedar menengok dari balik helm kami dan meneruskan perjalanan. 

Monday, November 18, 2013

Berlari Menuju Matahari Terbenam

Bagi penggemar olahraga lari, salah satu hal yang pasti keluar ditanyakan begitu tiba di tempat yang baru adalah tempat masyarakat biasa berolahraga lari. Atau ketika ngobrol dengan orang, pasti disela-sela obrolan tersebut, akan mencari benang merah bisa-buat-lari-nggak-ya pasti akan terlintas di pikiran mereka. Begitu juga ketika Bung Tony, supir saya hari itu bercerita tentang lokasi menyaksikan matahari terbenam di Pantai Ampenan, pantai terdekat dari kota Mataram. 

Awalnya dia hanya bercerita pengalamannya sebagai supir wisatawan. 

"Saya pernah bawa Ari Lasso ke Pantai Ampenan karena dia pengen lihat matahari terbenam," ceritanya sembari menyetir mobil menyusuri Pantai Senggigi siang itu. 

"Dekat kok pak, paling enam atau tujuh kilo dari penginapan bapak," tambahnya. 

Segera, saya lalu berniat untuk berlari sore ini dengan tujuan matahari terbenam di Pulau Lombok. Cuaca sepertinya mendukung, dan sudah dua hari saya disini dan saya belum sempat untuk lari karena jadual keliling yang menghabiskan waktu mulai dari pukul 7 hingga 9 malam. Dan lagi, kamar hotel yang sungguh sangat nyaman membuat saya lebih malas bangun pagi untuk lari :D

Setelah tiba di penginapan, saya lalu membuka program peta dari Garmin dan mencoba mencari jalan menuju Ampenan, sebuah kawasan kota lama di Mataram. Hmm.. setelah mempeljari jalan, nama dan arah persimpangan, saya lalu bersiap-siap. Tentu saja semua akan lebih mudah dengan beragam aplikasi di telepon pintar, namun saya tidak punya. Dan yang lebih utama adalah berlari dengan menyesatkan diri adalah hal yang paling saya sukai. Perasaan kesasar dan menemukan hal baru sungguh membuat saya menyukai jalan-jalan. 

Enam-tujuh kilo berlari biasanya saya selesaikan dalam waktu kurang lebih 40-45 menit. Namun, kali ini saya putuskan untuk berlari santai saja menikmati sore dan mengambil gambar sesukanya. Dengan perkiraan waktu matahari terbenam pukul 18.00, saya putuskan untuk mulai lari keluar dari penginapan pukul 17.00. 

Satu pohon, satu kambing (2)

Hari 2

Sore ini, saya tiba di sebuah desa, bermaksud untuk melihat geliat masyarakatnya. Saya diantar oleh Bung Antok menuju ke berugak dimana beberapa orang pria sudah menunggu. Mereka adalah tokoh adat dan kepala dusun serta anggota masyarakat biasa. 

Nama desa ini adalah Gumantar. Baru berdiri pada tahun 1998, setelah memekarkan dirinya dari Desa Selengan. Desa yang terdapat di Kecamatan Kayangan ini terdiri dari 12 dusun dan dihuni oleh kurang lebih 1,600 KK. Lokasi desa ini cukup unik. Dengan luas wilayah 38,6 km2 , desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utaranya dan Taman Nasional Gunung Rinjani di sebelah selatan.


Dari dokumen analisis risiko partisipatif yang saya baca,  ditemukan bahwa ada beberapa bahaya bencana yang mengancam wilayah berpenduduk lebih dari 5,900 jiwa ini. Sebut saja kekeringan tahun 1983 di empat dusun, abu letusan Gunung Rinjani tahun 1993 yang menyebabkan ternak mati dan gangguan pernafasan masyarakat, bencana longsor yang merusak jaringan pipa air, jembatan, lahan pertanian pada tahun 2006 dan 2009.

Tingkat kerentanan di desa ini memang lebih rendah bila di bandingkan dengan desa sekitarnya seperti Desa Rempek. Namun, menurut saya, ada yang menarik perihal Desa Gumantar ini.

satu pohon, satu kambing (1)

Setelah didesak, dan diringi oleh tawa terbahak-bahak kawan-kawannya, pak Yurdin lalu mulai bercerita tentang pernyataannya akan satu pohon, satu sapi. Tidak butuh waktu lama hingga saya pun ikut tertawa bersama dengan yang lain. Sore itu, di sebuah berugak tua di tengah desa, kami bersenda gurau bersama meskipun saya baru berkenalan dengan mereka setengah jam yang lalu. 

Hari 1

Kali ini, perjalanan saya sedikit berbeda. Saya sedang mendapatkan sebuah penugasan dari salah satu lembaga kemanusiaan internasional yang berkantor di Jakarta untuk mendokumentasikan geliat masyarakat di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya pengurangan risiko bencana. Tanpa berpikir dua kali, tugas ini saya terima. Selama seminggu kedepan, saya akan berkeliling di kabupaten yang memiliki salah satu pesona alam terlengkap di Indonesia ini, termasuk dengan ancaman bencananya. 


Pulau Lombok. Ketik saja dua kata itu di mesin pencari internet dan bisa dipastikan mata dan senyum anda akan mengembang secara otomatis. Laut dua warna mengelilingi pulau-pulau kecil, langit biru, gagahnya Gunung Rinjani dan nikmatnya sajian tradisional sesungguhnya akan membuat anda lupa segala kesusahan dalam hidup atau carut-marutnya kota besar di negara ini. 


Segera setelah saya mendarat di bandara udara international Praya di Mataram, mencari transportasi menuju ke penginapan adalah langkah berikutnya. Staff dari mitra organisasi yang menugaskan saya belum terlihat. Seharusnya, seperti kesepakatan kami kemarin, dia akan menjemput sembari memberi gambaran tentang lokasi yang akan kami kunjungi seminggu ke depan. Damri adalah pilihan saya. Ada beberapa orang yang menawarkan jasa taksi plat hitam dan juga tersedia gerai taksi resmi namun, menikmati transportasi umum adalah cara paling efektif untuk mengenal daerah baru, sekaligus orang-orangnya. 

Dengan membayar sejumlah uang Rp 20 ribu, saya sudah duduk manis di dalam bis 3/4 berpendingin udara dan kursi empuk. Hmm.. nyaman juga, pikir saya saat itu. Biasanya saya akan mengajak berkenalan orang yang duduk bersebelahan dengan saya ketika saya berada di daerah baru, namun kali ini, saya seperti ingin menikmati pemandangan dari balik jendela, bagaimana perjalanan menuju ke kota Mataram. 

Sekitar 45 menit kemudian saya tiba di pemberhentian terakhir bis Damri ini, untuk jalur ibukota propinsi. Sesungguhnya bis ini akan menuju ke kawasan Senggigi, kawasan wisata yang paling diminati oleh pelancong baik dalam maupun luar negeri. Oh iya, tadi sepanjang jalan, saya tertidur di bis hihihi

Dari terminal bis Damri ini, saya lalu naik taksi menuju ke penginapan saya kali ini. Sang staff, sudah menghubungi saya dan ternyata dia ketiduran sehingga tidak bisa menjemput saya di bandara. Kami sepakat untuk bertemu di penginapan siang ini. 

Setelah check in dan masuk kamar, saya lalu bergegas menemui sang staff di lobby. Bung Antok, begitu kemudian saya memanggilnya. Lelaki berambut sepundak, berbadan kecil namun terlihat kekar. Kulit coklatnya terasa kuat sekali, Kupikir akibat terlalu banyak "main" ke desa-desa dan hutan-hutan seperti kegiatan lembaganya 20 tahun terakhir ini. Kami pun kembali sepakat untuk kembali bertemu pukul 4 sore dan segera menuju ke rumah salah satu narasumber saya. 

Ah, mandi terasa segar sekali. Sepiring nasi campur pun tandas. Es teh manis seperti meredakan konflik kekeringan di tenggorokan saya. Cuaca di Mataram sungguh sangat terlalu panasnya :)