Bagi penggemar olahraga lari, salah satu hal yang pasti keluar ditanyakan begitu tiba di tempat yang baru adalah tempat masyarakat biasa berolahraga lari. Atau ketika ngobrol dengan orang, pasti disela-sela obrolan tersebut, akan mencari benang merah bisa-buat-lari-nggak-ya pasti akan terlintas di pikiran mereka. Begitu juga ketika Bung Tony, supir saya hari itu bercerita tentang lokasi menyaksikan matahari terbenam di Pantai Ampenan, pantai terdekat dari kota Mataram.
Awalnya dia hanya bercerita pengalamannya sebagai supir wisatawan.
"Saya pernah bawa Ari Lasso ke Pantai Ampenan karena dia pengen lihat matahari terbenam," ceritanya sembari menyetir mobil menyusuri Pantai Senggigi siang itu.
"Dekat kok pak, paling enam atau tujuh kilo dari penginapan bapak," tambahnya.
Segera, saya lalu berniat untuk berlari sore ini dengan tujuan matahari terbenam di Pulau Lombok. Cuaca sepertinya mendukung, dan sudah dua hari saya disini dan saya belum sempat untuk lari karena jadual keliling yang menghabiskan waktu mulai dari pukul 7 hingga 9 malam. Dan lagi, kamar hotel yang sungguh sangat nyaman membuat saya lebih malas bangun pagi untuk lari :D
Setelah tiba di penginapan, saya lalu membuka program peta dari Garmin dan mencoba mencari jalan menuju Ampenan, sebuah kawasan kota lama di Mataram. Hmm.. setelah mempeljari jalan, nama dan arah persimpangan, saya lalu bersiap-siap. Tentu saja semua akan lebih mudah dengan beragam aplikasi di telepon pintar, namun saya tidak punya. Dan yang lebih utama adalah berlari dengan menyesatkan diri adalah hal yang paling saya sukai. Perasaan kesasar dan menemukan hal baru sungguh membuat saya menyukai jalan-jalan.
Enam-tujuh kilo berlari biasanya saya selesaikan dalam waktu kurang lebih 40-45 menit. Namun, kali ini saya putuskan untuk berlari santai saja menikmati sore dan mengambil gambar sesukanya. Dengan perkiraan waktu matahari terbenam pukul 18.00, saya putuskan untuk mulai lari keluar dari penginapan pukul 17.00.