Setelah didesak, dan diringi oleh tawa terbahak-bahak kawan-kawannya, pak Yurdin lalu mulai bercerita tentang pernyataannya akan satu pohon, satu sapi. Tidak butuh waktu lama hingga saya pun ikut tertawa bersama dengan yang lain. Sore itu, di sebuah berugak tua di tengah desa, kami bersenda gurau bersama meskipun saya baru berkenalan dengan mereka setengah jam yang lalu.
Hari 1
Kali ini, perjalanan saya sedikit berbeda. Saya sedang mendapatkan sebuah penugasan dari salah satu lembaga kemanusiaan internasional yang berkantor di Jakarta untuk mendokumentasikan geliat masyarakat di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya pengurangan risiko bencana. Tanpa berpikir dua kali, tugas ini saya terima. Selama seminggu kedepan, saya akan berkeliling di kabupaten yang memiliki salah satu pesona alam terlengkap di Indonesia ini, termasuk dengan ancaman bencananya.
Pulau Lombok. Ketik saja dua kata itu di mesin pencari internet dan bisa dipastikan mata dan senyum anda akan mengembang secara otomatis. Laut dua warna mengelilingi pulau-pulau kecil, langit biru, gagahnya Gunung Rinjani dan nikmatnya sajian tradisional sesungguhnya akan membuat anda lupa segala kesusahan dalam hidup atau carut-marutnya kota besar di negara ini.
Segera setelah saya mendarat di bandara udara international Praya di Mataram, mencari transportasi menuju ke penginapan adalah langkah berikutnya. Staff dari mitra organisasi yang menugaskan saya belum terlihat. Seharusnya, seperti kesepakatan kami kemarin, dia akan menjemput sembari memberi gambaran tentang lokasi yang akan kami kunjungi seminggu ke depan. Damri adalah pilihan saya. Ada beberapa orang yang menawarkan jasa taksi plat hitam dan juga tersedia gerai taksi resmi namun, menikmati transportasi umum adalah cara paling efektif untuk mengenal daerah baru, sekaligus orang-orangnya.
Dengan membayar sejumlah uang Rp 20 ribu, saya sudah duduk manis di dalam bis 3/4 berpendingin udara dan kursi empuk. Hmm.. nyaman juga, pikir saya saat itu. Biasanya saya akan mengajak berkenalan orang yang duduk bersebelahan dengan saya ketika saya berada di daerah baru, namun kali ini, saya seperti ingin menikmati pemandangan dari balik jendela, bagaimana perjalanan menuju ke kota Mataram.
Sekitar 45 menit kemudian saya tiba di pemberhentian terakhir bis Damri ini, untuk jalur ibukota propinsi. Sesungguhnya bis ini akan menuju ke kawasan Senggigi, kawasan wisata yang paling diminati oleh pelancong baik dalam maupun luar negeri. Oh iya, tadi sepanjang jalan, saya tertidur di bis hihihi
Dari terminal bis Damri ini, saya lalu naik taksi menuju ke penginapan saya kali ini. Sang staff, sudah menghubungi saya dan ternyata dia ketiduran sehingga tidak bisa menjemput saya di bandara. Kami sepakat untuk bertemu di penginapan siang ini.
Setelah check in dan masuk kamar, saya lalu bergegas menemui sang staff di lobby. Bung Antok, begitu kemudian saya memanggilnya. Lelaki berambut sepundak, berbadan kecil namun terlihat kekar. Kulit coklatnya terasa kuat sekali, Kupikir akibat terlalu banyak "main" ke desa-desa dan hutan-hutan seperti kegiatan lembaganya 20 tahun terakhir ini. Kami pun kembali sepakat untuk kembali bertemu pukul 4 sore dan segera menuju ke rumah salah satu narasumber saya.
Ah, mandi terasa segar sekali. Sepiring nasi campur pun tandas. Es teh manis seperti meredakan konflik kekeringan di tenggorokan saya. Cuaca di Mataram sungguh sangat terlalu panasnya :)
sore pukul 4.
Perjalanan menuju ke Kabupaten Lombok Utara dapat ditempuh melalui dua jalur. Jalur Senggigi dan Pusuk. Masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Senggigi, tentu saja pantai yang indah sudah menanti. Akan saya ceritakan nanti. Sedangkan Pusuk adalah jalur berkelok menembus hutan pegunungan dan oh ya, obyek wisata Monkey Forest. Banyak monyet liar menunggu di tepi jalan untuk diberi makanan. Ah, semoga mereka bukan calon penghuni ibukota yang kemudian menjadi kurus tidak terurus. Jangan mau ikut manusia ya, nyet, kalau diajak kerja di Jakarta.
Sesungguhnya, penugasan saya kali ini akan meliput berbagai aspek masyarakat terkait geliat mereka dalam upaya pengurangan risiko bencana. Hal tersebut akan membawa saya mengunjungi berbagai desa mulai dari pesisir laut hingga ke kaki gunung perbatasan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ah, seandainya tidak dikejar tenggat waktu liputan, saya berharap bisa meneruskan tinggal disini hingga 2-3 hari. Cukuplah untuk trail running di Gunung Rinjani.
Kali ini, perjalanan saya sedikit berbeda. Saya sedang mendapatkan sebuah penugasan dari salah satu lembaga kemanusiaan internasional yang berkantor di Jakarta untuk mendokumentasikan geliat masyarakat di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya pengurangan risiko bencana. Tanpa berpikir dua kali, tugas ini saya terima. Selama seminggu kedepan, saya akan berkeliling di kabupaten yang memiliki salah satu pesona alam terlengkap di Indonesia ini, termasuk dengan ancaman bencananya.
Pulau Lombok. Ketik saja dua kata itu di mesin pencari internet dan bisa dipastikan mata dan senyum anda akan mengembang secara otomatis. Laut dua warna mengelilingi pulau-pulau kecil, langit biru, gagahnya Gunung Rinjani dan nikmatnya sajian tradisional sesungguhnya akan membuat anda lupa segala kesusahan dalam hidup atau carut-marutnya kota besar di negara ini.
Segera setelah saya mendarat di bandara udara international Praya di Mataram, mencari transportasi menuju ke penginapan adalah langkah berikutnya. Staff dari mitra organisasi yang menugaskan saya belum terlihat. Seharusnya, seperti kesepakatan kami kemarin, dia akan menjemput sembari memberi gambaran tentang lokasi yang akan kami kunjungi seminggu ke depan. Damri adalah pilihan saya. Ada beberapa orang yang menawarkan jasa taksi plat hitam dan juga tersedia gerai taksi resmi namun, menikmati transportasi umum adalah cara paling efektif untuk mengenal daerah baru, sekaligus orang-orangnya.
Dengan membayar sejumlah uang Rp 20 ribu, saya sudah duduk manis di dalam bis 3/4 berpendingin udara dan kursi empuk. Hmm.. nyaman juga, pikir saya saat itu. Biasanya saya akan mengajak berkenalan orang yang duduk bersebelahan dengan saya ketika saya berada di daerah baru, namun kali ini, saya seperti ingin menikmati pemandangan dari balik jendela, bagaimana perjalanan menuju ke kota Mataram.
Sekitar 45 menit kemudian saya tiba di pemberhentian terakhir bis Damri ini, untuk jalur ibukota propinsi. Sesungguhnya bis ini akan menuju ke kawasan Senggigi, kawasan wisata yang paling diminati oleh pelancong baik dalam maupun luar negeri. Oh iya, tadi sepanjang jalan, saya tertidur di bis hihihi
Dari terminal bis Damri ini, saya lalu naik taksi menuju ke penginapan saya kali ini. Sang staff, sudah menghubungi saya dan ternyata dia ketiduran sehingga tidak bisa menjemput saya di bandara. Kami sepakat untuk bertemu di penginapan siang ini.
Setelah check in dan masuk kamar, saya lalu bergegas menemui sang staff di lobby. Bung Antok, begitu kemudian saya memanggilnya. Lelaki berambut sepundak, berbadan kecil namun terlihat kekar. Kulit coklatnya terasa kuat sekali, Kupikir akibat terlalu banyak "main" ke desa-desa dan hutan-hutan seperti kegiatan lembaganya 20 tahun terakhir ini. Kami pun kembali sepakat untuk kembali bertemu pukul 4 sore dan segera menuju ke rumah salah satu narasumber saya.
Ah, mandi terasa segar sekali. Sepiring nasi campur pun tandas. Es teh manis seperti meredakan konflik kekeringan di tenggorokan saya. Cuaca di Mataram sungguh sangat terlalu panasnya :)
sore pukul 4.
Perjalanan menuju ke Kabupaten Lombok Utara dapat ditempuh melalui dua jalur. Jalur Senggigi dan Pusuk. Masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Senggigi, tentu saja pantai yang indah sudah menanti. Akan saya ceritakan nanti. Sedangkan Pusuk adalah jalur berkelok menembus hutan pegunungan dan oh ya, obyek wisata Monkey Forest. Banyak monyet liar menunggu di tepi jalan untuk diberi makanan. Ah, semoga mereka bukan calon penghuni ibukota yang kemudian menjadi kurus tidak terurus. Jangan mau ikut manusia ya, nyet, kalau diajak kerja di Jakarta.
Sesungguhnya, penugasan saya kali ini akan meliput berbagai aspek masyarakat terkait geliat mereka dalam upaya pengurangan risiko bencana. Hal tersebut akan membawa saya mengunjungi berbagai desa mulai dari pesisir laut hingga ke kaki gunung perbatasan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ah, seandainya tidak dikejar tenggat waktu liputan, saya berharap bisa meneruskan tinggal disini hingga 2-3 hari. Cukuplah untuk trail running di Gunung Rinjani.
No comments:
Post a Comment