Monday, November 18, 2013

Satu pohon, satu kambing (2)

Hari 2

Sore ini, saya tiba di sebuah desa, bermaksud untuk melihat geliat masyarakatnya. Saya diantar oleh Bung Antok menuju ke berugak dimana beberapa orang pria sudah menunggu. Mereka adalah tokoh adat dan kepala dusun serta anggota masyarakat biasa. 

Nama desa ini adalah Gumantar. Baru berdiri pada tahun 1998, setelah memekarkan dirinya dari Desa Selengan. Desa yang terdapat di Kecamatan Kayangan ini terdiri dari 12 dusun dan dihuni oleh kurang lebih 1,600 KK. Lokasi desa ini cukup unik. Dengan luas wilayah 38,6 km2 , desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utaranya dan Taman Nasional Gunung Rinjani di sebelah selatan.


Dari dokumen analisis risiko partisipatif yang saya baca,  ditemukan bahwa ada beberapa bahaya bencana yang mengancam wilayah berpenduduk lebih dari 5,900 jiwa ini. Sebut saja kekeringan tahun 1983 di empat dusun, abu letusan Gunung Rinjani tahun 1993 yang menyebabkan ternak mati dan gangguan pernafasan masyarakat, bencana longsor yang merusak jaringan pipa air, jembatan, lahan pertanian pada tahun 2006 dan 2009.

Tingkat kerentanan di desa ini memang lebih rendah bila di bandingkan dengan desa sekitarnya seperti Desa Rempek. Namun, menurut saya, ada yang menarik perihal Desa Gumantar ini.

Dusun San Beleq adalah sebuah perkampungan yang masih menggunakan rumah-rumah adat sebagai tempat tinggal mereka sehari-hari. Rumah-rumah berdinding bambu yang dianyam, atap rumbia atau alang-alang membuat kita seperti melihat rumah jaman dulu. Beberapa ekor anjing tampak berkeliaran. Anjing-anjing ini biasa dipake untuk menemani masyarakat ketika berburu di hutan. 

Sebenarnya, menurut Jumayar, salah satu pemuda asli dusun ini, ada jalur yang bisa dipergunakan untuk mendaki gunung Rinjani, namun jalur tersebut belum resmi dan menurutnya, jalur ini masih sangat lebat sehingga hanya cocok untuk para pendaki gunung berpengalaman.


Dusun ini adalah dusun yang terkenal dengan keteguhan mereka terhadap aturan adat terkait hutan adat di wilayah mereka. Dusun yang berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani ini memiliki mekanisme yang mengatur pemanfaatan hutan dan lingkungan termasuk hutan adat mereka.

Sahir, Kepala Dusun Dasan Beleq menyampaikan mekanisme tersebut.

“Barangsiapa yang menebang pohon tanpa sepengetahuan dan persetujuan masyarakat, akan dikenakan sangsi/denda,” ujarnya dengan tegas. Aturan ini berlaku untuk semua warga, termasuk tokoh adat maupun kepala dusun.

“Saya pernah kena (denda), karena potong pohon,” kata Yurdin, matan kepala dusun.

“Padahal akan saya pergunakan untuk kebutuhan rumah,” tambahnya sambil tersenyum. 

Namun, aturan tetaplah aturan. Yurdin lalu menyembelih satu ekor kambing sebagai sangsinya, meskipun kemudian nantinya kambing tersebut akan dinikmati bersama-sama. Saya dan beberapa orang lainnya tak kuasa tertawa begitu Pak Yurdin dengan malu-malu mengatakan dendanya sambil menggelengkan kepala. 

Sebenarnya hutan adat mereka boleh dimanfaatkan, namun harus dengan tujuan murni kebutuhan warganya, bukan untuk dikomersilkan, misalnya untuk mengganti tiang kayu rumah. Namun, sekali lagi, harus dengan kesepakatan warga.

Kini, dusun yang menjadi penghasil kelapa, kopi dan coklat ini, dianggap oleh masyarakatnya sebagai dusun yang memiliki aturan adat yang secara tidak langsung menghindarkan mereka dari risiko bencana alam karena ulah manusia. Aturan adat mereka menjadikan mereka memiliki lingkungan yang aman dan nyaman.
Mereka sadar bahwa alam telah dan mampu menyediakan segalanya bagi kebutuhan manusia, namun tidak dengan keserakahan. Kepatuhan mereka terhadap aturan adat menjadikan alam mereka terjaga dengan baik. Mereka pun mahfum bahwa semuanya untuk kebaikan mereka sendiri. Sebuah komitmen yang patut mereka banggakan.

Perjalanan menuju dusun yang dihuni oleh sekitar 390 jiwa ini sesungguhnya menyenangkan. Menuju dataran tinggi, udara yang sejuk, pemandangan hutan dan pepohonan yang hijau sungguh sangat memanjakan mata dan membuat perasaan menjadi senang, meskipun di beberapa bagian masih ditemukan jalan yang rusak dan menjelma menjadi seperti kubangan kerbau bila di musim hujan. 

Aturan yang dibuat oleh manusia sesungguhnya adalah untuk berkehidupan yang seharusnya membawa mereka kepada kesejahteraan. Aturan adat di San Beleq ini seyogyanya ditiru oleh masyarakat lain. Karena, sekali lagi, alam telah cukup menyediakan kebutuhan bagi umat manusia, kecuali bagi mereka yang serakah. 

No comments:

Post a Comment