Hari 2
Sore ini, saya tiba di sebuah desa, bermaksud untuk melihat geliat masyarakatnya. Saya diantar oleh Bung Antok menuju ke berugak dimana beberapa orang pria sudah menunggu. Mereka adalah tokoh adat dan kepala dusun serta anggota masyarakat biasa.
Nama desa ini adalah Gumantar. Baru berdiri pada tahun 1998, setelah memekarkan dirinya dari Desa Selengan. Desa yang terdapat di Kecamatan Kayangan ini terdiri dari 12 dusun dan dihuni oleh kurang lebih 1,600 KK. Lokasi desa ini cukup unik. Dengan luas wilayah 38,6 km2 , desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utaranya dan Taman Nasional Gunung Rinjani di sebelah selatan.
Sore ini, saya tiba di sebuah desa, bermaksud untuk melihat geliat masyarakatnya. Saya diantar oleh Bung Antok menuju ke berugak dimana beberapa orang pria sudah menunggu. Mereka adalah tokoh adat dan kepala dusun serta anggota masyarakat biasa.
Nama desa ini adalah Gumantar. Baru berdiri pada tahun 1998, setelah memekarkan dirinya dari Desa Selengan. Desa yang terdapat di Kecamatan Kayangan ini terdiri dari 12 dusun dan dihuni oleh kurang lebih 1,600 KK. Lokasi desa ini cukup unik. Dengan luas wilayah 38,6 km2 , desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utaranya dan Taman Nasional Gunung Rinjani di sebelah selatan.
Dari dokumen analisis risiko
partisipatif yang saya baca, ditemukan bahwa
ada beberapa bahaya bencana yang mengancam wilayah berpenduduk lebih dari 5,900
jiwa ini. Sebut saja kekeringan tahun 1983 di empat dusun, abu letusan Gunung
Rinjani tahun 1993 yang menyebabkan ternak mati dan gangguan pernafasan
masyarakat, bencana longsor yang merusak jaringan pipa air, jembatan, lahan
pertanian pada tahun 2006 dan 2009.
Tingkat kerentanan di desa ini
memang lebih rendah bila di bandingkan dengan desa sekitarnya seperti Desa
Rempek. Namun, menurut saya, ada yang
menarik perihal Desa Gumantar ini.
Dusun San Beleq adalah sebuah perkampungan yang masih menggunakan rumah-rumah adat sebagai tempat tinggal mereka sehari-hari. Rumah-rumah berdinding bambu yang dianyam, atap rumbia atau alang-alang membuat kita seperti melihat rumah jaman dulu. Beberapa ekor anjing tampak berkeliaran. Anjing-anjing ini biasa dipake untuk menemani masyarakat ketika berburu di hutan.
Sebenarnya, menurut Jumayar, salah satu pemuda asli dusun ini, ada jalur yang bisa dipergunakan untuk mendaki gunung Rinjani, namun jalur tersebut belum resmi dan menurutnya, jalur ini masih sangat lebat sehingga hanya cocok untuk para pendaki gunung berpengalaman.
Dusun ini adalah dusun yang terkenal dengan keteguhan mereka terhadap aturan adat terkait
hutan adat di wilayah mereka. Dusun yang berbatasan langsung dengan hutan Taman
Nasional Gunung Rinjani ini memiliki mekanisme yang mengatur pemanfaatan hutan
dan lingkungan termasuk hutan adat mereka.
Sahir, Kepala Dusun Dasan Beleq
menyampaikan mekanisme tersebut.
“Barangsiapa yang menebang pohon
tanpa sepengetahuan dan persetujuan masyarakat, akan dikenakan sangsi/denda,”
ujarnya dengan tegas. Aturan ini berlaku untuk semua warga, termasuk tokoh adat
maupun kepala dusun.
“Saya pernah kena (denda), karena potong pohon,” kata
Yurdin, matan kepala dusun.
“Padahal akan saya pergunakan untuk kebutuhan
rumah,” tambahnya sambil tersenyum.
Namun, aturan tetaplah aturan. Yurdin lalu
menyembelih satu ekor kambing sebagai sangsinya, meskipun kemudian nantinya
kambing tersebut akan dinikmati bersama-sama. Saya dan beberapa orang lainnya tak kuasa tertawa begitu Pak Yurdin dengan malu-malu mengatakan dendanya sambil menggelengkan kepala.
Sebenarnya hutan adat mereka
boleh dimanfaatkan, namun harus dengan tujuan murni kebutuhan warganya, bukan
untuk dikomersilkan, misalnya untuk mengganti tiang kayu rumah. Namun, sekali
lagi, harus dengan kesepakatan warga.
Kini, dusun yang menjadi
penghasil kelapa, kopi dan coklat ini, dianggap oleh masyarakatnya sebagai
dusun yang memiliki aturan adat yang secara tidak langsung menghindarkan mereka
dari risiko bencana alam karena ulah manusia. Aturan adat mereka menjadikan
mereka memiliki lingkungan yang aman dan nyaman.
Mereka sadar bahwa alam telah dan mampu menyediakan segalanya bagi kebutuhan
manusia, namun tidak dengan keserakahan. Kepatuhan mereka terhadap aturan adat menjadikan
alam mereka terjaga dengan baik. Mereka pun mahfum bahwa semuanya untuk
kebaikan mereka sendiri. Sebuah komitmen yang patut mereka banggakan.
Perjalanan menuju dusun yang
dihuni oleh sekitar 390 jiwa ini sesungguhnya menyenangkan. Menuju dataran
tinggi, udara yang sejuk, pemandangan hutan dan pepohonan yang hijau sungguh
sangat memanjakan mata dan membuat perasaan menjadi senang, meskipun di
beberapa bagian masih ditemukan jalan yang rusak dan menjelma menjadi seperti
kubangan kerbau bila di musim hujan.
Aturan yang dibuat oleh manusia
sesungguhnya adalah untuk berkehidupan yang seharusnya
membawa mereka kepada kesejahteraan. Aturan adat di San Beleq ini
seyogyanya ditiru oleh masyarakat lain. Karena, sekali lagi, alam telah cukup
menyediakan kebutuhan bagi umat manusia, kecuali bagi mereka yang serakah.
No comments:
Post a Comment