Saya pernah membaca bahwa manusia menyukai mengingat atau menyimpan kenangan karena hanya itu yang tidak pernah berubah, sedangkan manusia pasti berubah. Ya, kenangan akan indahnya pemandangan hutan dan air terjun yang kulihat ketika usia kanak-kanak itulah yang selalu membawaku ke tempat ini. Air Terjun Moramo.
Kira-kira 20 tahun lalu saya menyaksikan pemandangan yang paling melekat di pikiranku tentang hutan, pohon yang berukuran sangat besar hingga sinar matahari seperti berhenti di ujungnya, atau suara air sungai yang menenangkan hati dan betapa menakutkannya air deras yang mengalir dibebatuan seperti tangga itu. Entah mengapa, dari semua kenangan liburan masa kecilku, pengalaman jalan-jalan keluarga ke tempat itu selalu membekas. Hingga kini aku tidak tinggal lagi di kampung halaman, salah satu tempat yang wajib saya kunjungi setiap kali pulang menengok orang tua, adalah Suaka Alam Tanjung Peropa ini.
Kini, setelah saya berkeluarga, saya ingin berbagi jenis tempat indah yang jarang di temukan di Pulau Jawa ini kepada istri tercinta :). Jadi, dengan mengendarai motor, jadilah kami menikmati perjalanan sekitar 1,5 jam melalui pantai dan pegunungan. Cuaca cerah, mendekati panas menggila, mendukung perjalanan kami.
Oh satu hal lagi, meskipun saya dilahirkan di kota ini, namun, saya tidak ubahnya seperti pelancong dari jauh :). Buta arah jalan membuat kami harus berhenti beberapa kali dan bertanya kepada penduduk yang kami temui. Karena tidak mau malu dianggap penduduk durhaka, yang bertanya adalah istri saya yang asli penghuni Pulau Jawa hahaha
Sebenarnya, kami juga melewati salah satu obyek wisata terkenal di kota Kendari yaitu Pantai Nambo, namun terus terang saja kami berdua bukan penggemar laut. Yes kami memang menyukainya tapi kami merasa cepat bosan bila di pantai hehehe jadi, kami putuskan untuk sekedar menengok dari balik helm kami dan meneruskan perjalanan.
Tidak sulit untuk mencapai lokasi air terjun ini, jalanan yang hanya satu tidak banyak bercabang cukup memudahkan bagi anda yang bahkan baru pertama kali kesini. Hanya saja, jalanan yang sepi dan rumah yang agak jarang, membuat kadang-kadang anda berpikiran apakah jalannya sudah benar, bagaimana kalau kesasar dan lain sebagainya. Namun, bukankah tersesat adalah jalan-jalan yang sebenarnya? rasakan debaran dada ketika kita merasa ragu-ragu atau takut :D
Begitu kami tiba di ujung jalan dan lokasi parkir kendaraan, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat makan. Dan, istri saya pun senang. Karena ternyata penjual warung nasi nya adalah orang Jawa. Langsung saja istri saya ber cas cis cus dalam bahasa ibunya.
Untuk menuju Air Terjun Moramo ini, kita harus berjalan kaki kurang lebih dua kilometer, melewati hutan dengan pepohonan dan sungai di tepiannya. Kami berjalan dengan santai, sesuka hati berhenti dimana saja kami rasa ada titik menarik untuk difoto atau direkam sebagai gambar bergerak.
Sepi. Tenang. Suara air membuat hati dan pikiran saya bahagia. Udara yang segar kuhirup tanpa henti. Orkestra dari serangga hutan membersihkan pikiran saya akan suara klakson kendaraan di kota. Senyum istri saya mengembang. Dia sedang mengunyah kacang rebus dari warung tadi. Langkahnya ringan sekali seperti anak sekolah dasar yang baru pulang dari sekolahnya.
Sesekali saya menerobos rimbunnya pepohonan untuk bisa masuk ke sungai dan sekedar menyentuh dinginnya air dari alam.
Kami lalu meneruskan berjalan. Sedikit menanjak. Di ujung jalan ada undak-undakan yang mengantar pengunjung ke lokasi terakhir, yaitu air terjun bertingkat, Moramo.
Tidak banyak yang berubah dari ingatanku akan tempat ini, kecuali bangunan yang mulai rusak, beberapa timbunan sampah dan retakan besar di salah satu batu aliran airnya. Retakan yang timbul dari akibat gempa bumi beberapa bulan sebelumnya. Debit airnya tidak sederas dulu namun efek yang ditimbulkannya tetap sama. Air terjun ini tidak hanya indah namun juga membangkitkan kenangan masa kecil saya akan hutan yang membuat saya selalu mencintai gunung dan hutan hingga kini.
Kira-kira 20 tahun lalu saya menyaksikan pemandangan yang paling melekat di pikiranku tentang hutan, pohon yang berukuran sangat besar hingga sinar matahari seperti berhenti di ujungnya, atau suara air sungai yang menenangkan hati dan betapa menakutkannya air deras yang mengalir dibebatuan seperti tangga itu. Entah mengapa, dari semua kenangan liburan masa kecilku, pengalaman jalan-jalan keluarga ke tempat itu selalu membekas. Hingga kini aku tidak tinggal lagi di kampung halaman, salah satu tempat yang wajib saya kunjungi setiap kali pulang menengok orang tua, adalah Suaka Alam Tanjung Peropa ini.
| Senangnya dia hahaha |
Oh satu hal lagi, meskipun saya dilahirkan di kota ini, namun, saya tidak ubahnya seperti pelancong dari jauh :). Buta arah jalan membuat kami harus berhenti beberapa kali dan bertanya kepada penduduk yang kami temui. Karena tidak mau malu dianggap penduduk durhaka, yang bertanya adalah istri saya yang asli penghuni Pulau Jawa hahaha
Sebenarnya, kami juga melewati salah satu obyek wisata terkenal di kota Kendari yaitu Pantai Nambo, namun terus terang saja kami berdua bukan penggemar laut. Yes kami memang menyukainya tapi kami merasa cepat bosan bila di pantai hehehe jadi, kami putuskan untuk sekedar menengok dari balik helm kami dan meneruskan perjalanan.
Tidak sulit untuk mencapai lokasi air terjun ini, jalanan yang hanya satu tidak banyak bercabang cukup memudahkan bagi anda yang bahkan baru pertama kali kesini. Hanya saja, jalanan yang sepi dan rumah yang agak jarang, membuat kadang-kadang anda berpikiran apakah jalannya sudah benar, bagaimana kalau kesasar dan lain sebagainya. Namun, bukankah tersesat adalah jalan-jalan yang sebenarnya? rasakan debaran dada ketika kita merasa ragu-ragu atau takut :D
Begitu kami tiba di ujung jalan dan lokasi parkir kendaraan, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat makan. Dan, istri saya pun senang. Karena ternyata penjual warung nasi nya adalah orang Jawa. Langsung saja istri saya ber cas cis cus dalam bahasa ibunya.
| Berpose dulu |
Sepi. Tenang. Suara air membuat hati dan pikiran saya bahagia. Udara yang segar kuhirup tanpa henti. Orkestra dari serangga hutan membersihkan pikiran saya akan suara klakson kendaraan di kota. Senyum istri saya mengembang. Dia sedang mengunyah kacang rebus dari warung tadi. Langkahnya ringan sekali seperti anak sekolah dasar yang baru pulang dari sekolahnya.
Kami lalu meneruskan berjalan. Sedikit menanjak. Di ujung jalan ada undak-undakan yang mengantar pengunjung ke lokasi terakhir, yaitu air terjun bertingkat, Moramo.
Tidak banyak yang berubah dari ingatanku akan tempat ini, kecuali bangunan yang mulai rusak, beberapa timbunan sampah dan retakan besar di salah satu batu aliran airnya. Retakan yang timbul dari akibat gempa bumi beberapa bulan sebelumnya. Debit airnya tidak sederas dulu namun efek yang ditimbulkannya tetap sama. Air terjun ini tidak hanya indah namun juga membangkitkan kenangan masa kecil saya akan hutan yang membuat saya selalu mencintai gunung dan hutan hingga kini.
No comments:
Post a Comment