Sunday, November 23, 2014

Warteg ala Filipina

“Can I have that? and that?” ucap saya perlahan-lahan sembari menunjuk sop ikan dan tumis kangkung dari balik meja kaca ala warteg.

“Isda? Kangkong?” balas mas-mas penjaga warung.

“Yes please, the fish soup and yes, kangkung,” saya sedikit tersenyum karena ternyata kangkung pun bernama kangkung disini, Cuma pakai kangkong :D. Mungkin akan bikin jokes mau kuat kayak kingkong, makanlah kangkong hahaha

Saya sempat bertanya tentang menu lain yang sepertinya menarik. Saya terka itu adalah babi, dan saya tidak boleh makan babi, namun sekedar memastikan siapa tahu itu daging sapi hahaha namun ternyata benar. 85 persen makanan di warung ini memasukkan daging atau lemak babi.

Pilihan saya adalah sop ikan dan tumis kangkung. Biasanya di tumis kangkung diselipkan sedikit potongan daging sapi, setidaknya itu kalau masakan ibu mertua saya, namun kali ini murni hanya sayur kangkung saja.

Tak lama kemudian saya duduk asyik menikmati seporsi nasi, tumis kangkong (bukang kingkong!) dan sop ikan. Harganya 64 peso. Sekitar  17 ribuan rupiah. Itu udah sama air putih dari teko. Bisa nambah sepuasnya. Itu di salah satu warung makan (seperti warteg) di sudut kota Manila. Menu serupa di kabupaten di daerah bisa jauh lebih murah 10 peso atau menjadi 55 peso. 

Malam ini adalah malam kedua (bukan lirik lagu dangdutt!) saya  di Kota Manila. Kemarin malam saya tiba disini namun dijemput oleh kolega tempat kerja saya dan kami menikmati makan malam di restoran bagus dan mahal di hotel. Bukannya saya tidak menyukai makan di hotel mewah, namun bila boleh memilih, saya lebih menyukai makan di warteg atau warung tepi jalan. Sesekali boleh lah makan di tempat mewah, apalagi kalau dibayarin hihihi. Sejak dulu, mungkin karena terbiasa dengan gaya hidup sederhana (kata halus dari ngirit hahaha) dan lingkungan saya pun seperti itu, sehingga terbawa hingga sekarang meskipun saya sudah bekerja dan berkeluarga.

Filipina adalah negara mayoritas beragama Katolik, berarti dalam hal makan di restoran atau warteg (warphil kita sebutnya sekarang!), saya harus membiasakan diri untuk melihat menu dari babi, entah sop, tumis atau bakaran, entah daging atau lemak atau kuping atau tengkleng babi, di mana-mana. Saya sadar bahwa sulit untuk mendapatkan warung makan halal di negara ini, kecuali bila saya menemukan restoran timur tengah atau Malaysia. Atau, ketika jumatan karena biasanya komunitas muslim akan makan siang bersama sebelum atau sesudah jumatan (akan saya ceritakan di bagian lain J ). Jadi, saya mencoba untuk bertoleransi dan hanya akan memesan menu makanan laut atau sayur atau ayam, meskipun di warung itu juga menjual menu babi. Bismillah aja deh J

Seperti halnya warteg di Indonesia, di warphil pun orang-orang duduk santai makan sambil ngobrol. Kaki naik ke bangku panjang. Ketawa sepuasnya. Namun,  jangan heran, tidak sekalipun saya menjumpai orang merokok di dalam warphil! respect! Di kemudian hari, begitu juga di jalan-jalan. Baik di Manila maupun Cebu, tidak sekali pun saya menemukan orang merokok sembarangan. keren ya?

Di setiap warphil, disediakan panci berisi air hangat untuk merendam sendok dan garpu. Kita bisa mengambil peralatan makan tersebut disitu. Bila ingin makan pakai jari-jari, sejauh ini, di warphil yang saya cobain, pasti disediakan wastafel. Bila tidak ingin tangannya kotor, pun disediakan sarung tangan plastik.

Rasa kedua jenis masakan tersebut hampir mirip dengan sop ikan batam yang biasa di mall-mall di ibukota. Tumis kangkungnya pun mirip. Namun sedikit lebih kecut. Belakangan saya baru tahu kalau disini, orang-orang banyak menggunakan kecap asin dan cuka untuk memasak atau sekedar memberi cita rasa ketika menyantap makanan.

Malam ini televisi menayangkan acara semacam sinetron. Ibu penjual tampak menikmati dengan tekun. Mungkin serial kesukaannya. Mas-mas penjaga tampak sibuk menata gelas dan piring. Diluar, orang-orang tampak guyub menanti dengan sabar camilan sate pesanan mereka. Ya, camilan sate seperti sosis atau bakso yang ditusuk bilah bambu atau kayu seperti sate. Malam ini saya seperti sedang berada di lingkungan kos saya dulu di salah satu gang kecil di Jakarta J

  



No comments:

Post a Comment