“Can I have that? and that?” ucap
saya perlahan-lahan sembari menunjuk sop ikan dan tumis kangkung dari balik
meja kaca ala warteg.
“Isda? Kangkong?” balas mas-mas
penjaga warung.
“Yes please, the fish soup and
yes, kangkung,” saya sedikit tersenyum karena ternyata kangkung pun bernama
kangkung disini, Cuma pakai kangkong :D. Mungkin akan bikin jokes mau kuat
kayak kingkong, makanlah kangkong hahaha
Saya sempat bertanya tentang menu
lain yang sepertinya menarik. Saya terka itu adalah babi, dan saya tidak boleh
makan babi, namun sekedar memastikan siapa tahu itu daging sapi hahaha namun
ternyata benar. 85 persen makanan di warung ini memasukkan daging atau lemak
babi.
Pilihan saya adalah sop ikan dan
tumis kangkung. Biasanya di tumis kangkung diselipkan sedikit potongan daging
sapi, setidaknya itu kalau masakan ibu mertua saya, namun kali ini murni hanya
sayur kangkung saja.
Tak lama kemudian saya duduk
asyik menikmati seporsi nasi, tumis kangkong (bukang kingkong!) dan sop ikan. Harganya
64 peso. Sekitar 17 ribuan rupiah. Itu
udah sama air putih dari teko. Bisa nambah sepuasnya. Itu di salah satu warung
makan (seperti warteg) di sudut kota Manila. Menu serupa di kabupaten di daerah
bisa jauh lebih murah 10 peso atau menjadi 55 peso.
Malam ini adalah malam kedua
(bukan lirik lagu dangdutt!) saya di
Kota Manila. Kemarin malam saya tiba disini namun dijemput oleh kolega tempat
kerja saya dan kami menikmati makan malam di restoran bagus dan mahal di hotel.
Bukannya saya tidak menyukai makan di hotel mewah, namun bila boleh memilih,
saya lebih menyukai makan di warteg atau warung tepi jalan. Sesekali boleh lah
makan di tempat mewah, apalagi kalau dibayarin hihihi. Sejak dulu, mungkin
karena terbiasa dengan gaya hidup sederhana (kata halus dari ngirit hahaha) dan
lingkungan saya pun seperti itu, sehingga terbawa hingga sekarang meskipun saya
sudah bekerja dan berkeluarga.
Filipina adalah negara mayoritas
beragama Katolik, berarti dalam hal makan di restoran atau warteg (warphil kita
sebutnya sekarang!), saya harus membiasakan diri untuk melihat menu dari babi,
entah sop, tumis atau bakaran, entah daging atau lemak atau kuping atau
tengkleng babi, di mana-mana. Saya sadar bahwa sulit untuk mendapatkan warung
makan halal di negara ini, kecuali bila saya menemukan restoran timur tengah
atau Malaysia. Atau, ketika jumatan karena biasanya komunitas muslim akan makan
siang bersama sebelum atau sesudah jumatan (akan saya ceritakan di bagian lain J ). Jadi, saya mencoba
untuk bertoleransi dan hanya akan memesan menu makanan laut atau sayur atau
ayam, meskipun di warung itu juga menjual menu babi. Bismillah aja deh J
Seperti halnya warteg di
Indonesia, di warphil pun orang-orang duduk santai makan sambil ngobrol. Kaki
naik ke bangku panjang. Ketawa sepuasnya. Namun, jangan heran, tidak sekalipun saya menjumpai
orang merokok di dalam warphil! respect! Di kemudian hari, begitu juga di
jalan-jalan. Baik di Manila maupun Cebu, tidak sekali pun saya menemukan orang
merokok sembarangan. keren ya?
Di setiap warphil, disediakan panci
berisi air hangat untuk merendam sendok dan garpu. Kita bisa mengambil
peralatan makan tersebut disitu. Bila ingin makan pakai jari-jari, sejauh ini,
di warphil yang saya cobain, pasti disediakan wastafel. Bila tidak ingin
tangannya kotor, pun disediakan sarung tangan plastik.
Rasa kedua jenis masakan tersebut
hampir mirip dengan sop ikan batam yang biasa di mall-mall di ibukota. Tumis
kangkungnya pun mirip. Namun sedikit lebih kecut. Belakangan saya baru tahu
kalau disini, orang-orang banyak menggunakan kecap asin dan cuka untuk memasak
atau sekedar memberi cita rasa ketika menyantap makanan.
Malam ini televisi menayangkan acara
semacam sinetron. Ibu penjual tampak menikmati dengan tekun. Mungkin serial
kesukaannya. Mas-mas penjaga tampak sibuk menata gelas dan piring. Diluar,
orang-orang tampak guyub menanti dengan sabar camilan sate pesanan mereka. Ya,
camilan sate seperti sosis atau bakso yang ditusuk bilah bambu atau kayu seperti
sate. Malam ini saya seperti sedang berada di lingkungan kos saya dulu di salah
satu gang kecil di Jakarta J
No comments:
Post a Comment