Sunday, November 23, 2014

“Alien” di Kota Tua

Selalu ada perasaan yang berbeda ketika berjalan-jalan di daerah yang baru, setidaknya itu yang saya rasakan selama ini bila sedang bepergian. Mengetahui bahwa kita adalah “alien” di tempat tersebut. Berjalan-jalan berkeliling lokasi baru sambil celingak celinguk melihat sana sini ini itu mencari sesuatu yang menarik perhatian entah sesuatu yang unik atau lucu. Atau sesuatu yang terkenal sebagai ikon wisata atau bahkan hal-hal sederhana yang menarik hati.

Saya selalu menyukai memperhatikan orang-orang dimanapun saya berada entah itu sedang menjadi pelancong atau hanya di sekitar rumah tempat tinggal saya. Orang-orang berinteraksi dengan orang lain, entah sahabat, keluarga atau sekedar teman kerja. Saya selalu tertarik ingin mengetahui seperti apa yang dibicarakan, apa yang membuat mereka tertawa. Saya selalu ingin tahu kehidupan manusia lain, kecuali gossip selebriti tentunya hahaha

Pagi ini sebelum berangkat ke bandara untuk menuju ke kota tempat saya tinggal enam bulan ke depan, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan di kawasan kota tua tempat dimana hotel saya berada. Sebenarnya sejak tiga hari lalu saya berada disini, setiap pulang dari kantor pusat, saya berjalan melewati kawasan yang cukup ramai ini. Namun, selalu pada jam sore menjelang maghrib dan mulai gelap. Saya mungkin tidak leluasa menikmati bangunan-bangunan tua nan menawan secara maksimal.


Bila disuruh memilih antara bepergian seminggu di menikmati kuil-kuil atau candi-candi atau bangunan tua dengan wisata seminggu di gunung hutan, tentu saya akan memilih seminggu di gunung hutan. Itu sudah pasti. Namun, kali ini kota tua yang saya lihat sungguh menawan hati.

Gereja cantik

Gereja tua dengan batu-batu besar berdiri kokoh. Jalan-jalan yang tersusun dari batu-batu keras berbentuk kotak. Bangunan tua dengan konsep eropa lengkap dengan model lampu dinding luarnya, ukiran jendela nya. Saya seperti sedang berada dalam acara liputan jalan-jalan di eropa seperti yang saya lihat di televisi. Bahkan, di beberapa gedung, seragam para petugas keamanannya seperti masa tahun 1900an di Spanyol. Atau seperti sedang menonton film Zorro hahaha

Seperti di kastil
Yang menarik adalah di setiap gedungnya, pasti dilengkapi dengan sebuah papan keterangan tentang bangunan tersebut. Di sudut-sudut jalan pun demikian. Patung-patung pun dilengkapi dengan keterangan. Bahkan, nama jalan atau gang nya pun (sepertinya) masih menggunakan papan asli sejak pertama dibuat.

salah satu gang di dalam kawasan Intramuros

Seperti hal nya kawasan Kota Lama di Semarang atau Kota Tua di Jakarta, Kawasan Intramuros ini pun berdekatan dengan laut atau pelabuhan. Tentunya berhubungan dengan sejarah masing-masing negara. Indonesia dengan penjajahan Belandanya dan Filipina dengan kependudukan Spanyolnya. Semua masuk dengan jalur laut dan memulai “peradaban” dari kawasan pelabuhan.

Bedanya, entah masyarakat atau pemerintahnya, Filipina sangat menjaga sejarahnya. Ketika saya kemudian mulai menetap di Propinsi Cebu, rumah-rumah bersejarah sangat dipelihara. Dijadikan museum dan terbuka untuk umum. Seperti rumah pahlawan nasional Jose Rizal yang dijadikan perpustakaan umum propinsi Cebu dan museum sejarah perlawanan penduduk Filipina terhadap penjajah Spanyol. Di Kota Lama Semarang, yang melekat hanyalah Gereja Blenduk dan Lawang Sewu. Sisanya? Rusak tanpa bekas.

Rumah pahlawan nasional Jose Rizal kini menjadi perpustakaan dan museum

Kawasan Intramuros ini, meskipun dibeberapa bagian berbatasan langsung dengan perumahan (sedikit kumuh) penduduk, namun cukup bersih dan terawat. Beberapa bangunan beralih fungsi menjadi toko souvenir dan café. Sebagian menjadi perkantoran namun tidak mengubah keseluruhan struktur asli bangunannya. Di beberapa bagian terlihat perbaikan namun dilakukan semirip mungkin dengan bangunan aslinya.

Tidak ada coret-coret di dinding seperti banyak ditemukan di Kota Lama Semarang. Salah satu gereja tua nya terbuka setiap pagi bagi orang-orang yang ingin berdoa sebelum beraktifitas :)
Bila ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut, pun ada pemandu wisata yang menawarkan jasa berkeliling dengan berjalan kaki atau menggunakan becak. Mungkin karena penampakan orang Indonesia yang mirip dengan orang Filipina, saya tidak didekati oleh mereka hahaha. Sebulan kemudian, ketika kawan saya berkunjung ke Manila untuk urusan pekerjaan, dia ditawari pemandu wisata. Mungkin karena memang dia berpakaian seperti turis hahaha

Oh iya, selama tiga hari tinggal di hotel yang-sangat-nyaman-itu hihihi, saya sebenarnya menyempatkan diri untuk lari malam hari. Mungkin itu juga kenapa saya sekarang tidak begitu berpikir untuk mengambil gambar secara “serius” seperti biasanya ketika sedang jalan-jalan. Sejak tiga tahun terakhir ini saya mulai gandrung lelarian, sehingga kemana pun saya pergi, yang saya lakukan adalah melakukan pengamatan apakah kawasan tersebut memungkinkan saya untuk melakukan olahraga lari hahaha

Intramuros yang bersejarah. Saya ingat, pagi itu, saya menyempatkan diri untuk duduk menikmati kesendirian di tempat baru pada sebuah taman nan rindang di depan gereja tua. Melihat orang lalu lalang hendak berangkat ke tempat kerja. Keluar masuk ke gereja untuk berdoa. Semoga hari ini lancar. Saya pun berdoa. Semoga diberi kemudahan selama menjadi “alien” disini :).  

    


No comments:

Post a Comment