Selalu ada perasaan yang berbeda
ketika berjalan-jalan di daerah yang baru, setidaknya itu yang saya rasakan
selama ini bila sedang bepergian. Mengetahui bahwa kita adalah “alien” di
tempat tersebut. Berjalan-jalan berkeliling lokasi baru sambil celingak
celinguk melihat sana sini ini itu mencari sesuatu yang menarik perhatian entah
sesuatu yang unik atau lucu. Atau sesuatu yang terkenal sebagai ikon wisata
atau bahkan hal-hal sederhana yang menarik hati.
Saya selalu menyukai
memperhatikan orang-orang dimanapun saya berada entah itu sedang menjadi
pelancong atau hanya di sekitar rumah tempat tinggal saya. Orang-orang
berinteraksi dengan orang lain, entah sahabat, keluarga atau sekedar teman kerja.
Saya selalu tertarik ingin mengetahui seperti apa yang dibicarakan, apa yang
membuat mereka tertawa. Saya selalu ingin tahu kehidupan manusia lain, kecuali gossip
selebriti tentunya hahaha
Pagi ini sebelum berangkat ke
bandara untuk menuju ke kota tempat saya tinggal enam bulan ke depan, saya
menyempatkan untuk berjalan-jalan di kawasan kota tua tempat dimana hotel saya berada.
Sebenarnya sejak tiga hari lalu saya berada disini, setiap pulang dari kantor
pusat, saya berjalan melewati kawasan yang cukup ramai ini. Namun, selalu pada
jam sore menjelang maghrib dan mulai gelap. Saya mungkin tidak leluasa
menikmati bangunan-bangunan tua nan menawan secara maksimal.
Bila disuruh memilih antara
bepergian seminggu di menikmati kuil-kuil atau candi-candi atau bangunan tua
dengan wisata seminggu di gunung hutan, tentu saya akan memilih seminggu di
gunung hutan. Itu sudah pasti. Namun, kali ini kota tua yang saya lihat sungguh
menawan hati.
![]() |
| Gereja cantik |
Gereja tua dengan batu-batu besar
berdiri kokoh. Jalan-jalan yang tersusun dari batu-batu keras berbentuk kotak. Bangunan
tua dengan konsep eropa lengkap dengan model lampu dinding luarnya, ukiran
jendela nya. Saya seperti sedang berada dalam acara liputan jalan-jalan di
eropa seperti yang saya lihat di televisi. Bahkan, di beberapa gedung, seragam
para petugas keamanannya seperti masa tahun 1900an di Spanyol. Atau seperti
sedang menonton film Zorro hahaha
![]() |
| Seperti di kastil |
Yang menarik adalah di setiap
gedungnya, pasti dilengkapi dengan sebuah papan keterangan tentang bangunan
tersebut. Di sudut-sudut jalan pun demikian. Patung-patung pun dilengkapi
dengan keterangan. Bahkan, nama jalan atau gang nya pun (sepertinya) masih menggunakan
papan asli sejak pertama dibuat.
![]() |
| salah satu gang di dalam kawasan Intramuros |
Seperti hal nya kawasan Kota Lama
di Semarang atau Kota Tua di Jakarta, Kawasan Intramuros ini pun berdekatan
dengan laut atau pelabuhan. Tentunya berhubungan dengan sejarah masing-masing
negara. Indonesia dengan penjajahan Belandanya dan Filipina dengan kependudukan
Spanyolnya. Semua masuk dengan jalur laut dan memulai “peradaban” dari kawasan
pelabuhan.
Bedanya, entah masyarakat atau
pemerintahnya, Filipina sangat menjaga sejarahnya. Ketika saya kemudian mulai
menetap di Propinsi Cebu, rumah-rumah bersejarah sangat dipelihara. Dijadikan
museum dan terbuka untuk umum. Seperti rumah pahlawan nasional Jose Rizal yang
dijadikan perpustakaan umum propinsi Cebu dan museum sejarah perlawanan
penduduk Filipina terhadap penjajah Spanyol. Di Kota Lama Semarang, yang
melekat hanyalah Gereja Blenduk dan Lawang Sewu. Sisanya? Rusak tanpa bekas.
![]() |
| Rumah pahlawan nasional Jose Rizal kini menjadi perpustakaan dan museum |
Kawasan Intramuros ini, meskipun
dibeberapa bagian berbatasan langsung dengan perumahan (sedikit kumuh)
penduduk, namun cukup bersih dan terawat. Beberapa bangunan beralih fungsi menjadi
toko souvenir dan café. Sebagian menjadi perkantoran namun tidak mengubah keseluruhan
struktur asli bangunannya. Di beberapa bagian terlihat perbaikan namun
dilakukan semirip mungkin dengan bangunan aslinya.
Tidak ada coret-coret di dinding
seperti banyak ditemukan di Kota Lama Semarang. Salah satu gereja tua nya
terbuka setiap pagi bagi orang-orang yang ingin berdoa sebelum beraktifitas :)
Bila ingin mendapatkan keterangan
lebih lanjut, pun ada pemandu wisata yang menawarkan jasa berkeliling dengan
berjalan kaki atau menggunakan becak. Mungkin karena penampakan orang Indonesia
yang mirip dengan orang Filipina, saya tidak didekati oleh mereka hahaha.
Sebulan kemudian, ketika kawan saya berkunjung ke Manila untuk urusan
pekerjaan, dia ditawari pemandu wisata. Mungkin karena memang dia berpakaian
seperti turis hahaha
Oh iya, selama tiga hari tinggal
di hotel yang-sangat-nyaman-itu hihihi, saya sebenarnya menyempatkan diri untuk
lari malam hari. Mungkin itu juga kenapa saya sekarang tidak begitu berpikir
untuk mengambil gambar secara “serius” seperti biasanya ketika sedang
jalan-jalan. Sejak tiga tahun terakhir ini saya mulai gandrung lelarian,
sehingga kemana pun saya pergi, yang saya lakukan adalah melakukan pengamatan
apakah kawasan tersebut memungkinkan saya untuk melakukan olahraga lari hahaha
Intramuros yang bersejarah. Saya
ingat, pagi itu, saya menyempatkan diri untuk duduk menikmati kesendirian di
tempat baru pada sebuah taman nan rindang di depan gereja tua. Melihat orang
lalu lalang hendak berangkat ke tempat kerja. Keluar masuk ke gereja untuk
berdoa. Semoga hari ini lancar. Saya pun berdoa. Semoga diberi kemudahan selama
menjadi “alien” disini :).




No comments:
Post a Comment