Hari kedua.
Pagi ini, tentu saja saya "harus" pergi melihat Patung Merlion, Singapore Flyer dan beberapa obyek wisata standar lainnya. Meskipun sejujurnya, saya tidak mendapatkan kesan mendalam dari obyek wisata yang dimaksud. Saya lebih tertarik untuk merasakan berjalan-jalan dengan MRT atau melihat keseharian orang-orang disini. Sebenarnya, saya sudah punya rencana. Ingin mencoba lelarian di seputaran Singapore River, seperti yang ada di peta wisata di kamar hotel saya. Namun, pagi itu, saya berangkat menuju ke lokasi lelarian tidak dengan berpakaian olahraga saya biasanya jadi segera ketika saya tiba di kawasan Merlion Park, dan melihat ada beberapa orang sedang berlari pagi, saat itu juga saya urungkan niat untuk berjalan-jalan dan berwisata selayaknya turis hahaha. Saya langsung pulang kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk lari di sore harinya.
Hal ini mungkin akan sulit kulakukan di tempat saya tinggal di Indonesia. Kenapa? karena kondisi transportasi umum membuat sebagian besar orang malas untuk bepergian. Membayangkan bila saya adalah turis, tinggal di sekitar Bintaro lalu pagi hari jalan-jalan ke kawasan Monas lalu kembali lagi saat itu ke Bintaro dan kembali lagi ke Monas, membayangkannya saja saya sudah capek dan malas hahaha.
| Jalanan yang aman untuk parkir sepeda |
Disini, tidak terbersitpun pikiran capek dan jauh. Karena semua bisa ditempuh dalam hitungan menit dan cepat. Meskipun harus berganti stasiun dan kereta, tidak terasa melelahkan. Stasiun MRT yang sejuk, informasi yang jelas, frekuensi datangnya MRT yang sangat cepat membuat semuanya terasa mudah.
Sebelum kembali lagi ke Taman Merlion untuk lari sore, saya menikmati jalan-jalan seputaran kawasan Orchard Rd. Tidak sampai ujung ke ujung tapi cukup jauh sampai ke kawasan Plaza Singapura. Dan ternyata, disana adalah St MRT Dhobby Ghaut. Seketika saya sadar kalau ternyata jarak antar stasiun itu cukup dekat satu sama lain.
| di atas trotoar |
Saya menyukai ketika orang-orang dengan sabar menunggu menyeberang jalan, saya menyukai para pengendara pun dengan baik mendahulukan pejalan kaki dan saya menyukai ada beberapa petugas yang menjaga setiap persimpangan tanpa lampu merah seperti lokasi jalan masuk kendaraan ke mall dan sangat tegas terhadap mereka, baik pengendara maupun pejalan kaki, yang tidak sabar dan mengikuti aba-aba darinya.
Kawan saya pernah cerita tentang temannya yang sekarang bermukim di Singapura. Selain mendapatkan gaji yang besar, dia sudah tidak membayangkan untuk kembali bermukim dan bekerja di Jakarta. Temannya tidak tahan dengan tekanan di jalan raya. Macet dan kesemrawutan. Beruntung dia memiliki kesempatan dan pilihan untuk tinggal di negara yang teratur, namun beberapa juta warga ibukota dan sekitarnya pasti merasakan hal yang sama. Kemacetan yang parah dan hampir tanpa jeda membuat orang-orang di kota Jakarta dan sekitarnya entah menjadi makin pasrah atau tidak peduli lagi.
Udara panas sebenarnya cukup membuat saya gerah. Berkeringat. Mungkin setengah hari itu sudah kuhabiskan sekitar tiga botol air mineral berukuran 600 ml.
Dimana-mana sepanjang jalan, Orchard Rd penuh dengan orang-orang hilir mudik dengan kantong belanja dengan merk terkenal yang bahkan bagi mereka yang belum pernah tahu bisa mengatakan itu merk mahal karena logo nya dapat dengan mudah terlihat di terangnya lampu-lampu di depan pusat perbelanjaan.
| gedung menusuk langit |
Saya hampir, seingat saya, hampir tidak pernah mendengar suara klakson dari kendaraan yang lewat. Semua pengendara sangat tertib. Entah karena sudah menjadi sebuah budaya kesadaran atau tertekan, hasilnya adalah semua pengguna jalan aman. Budaya antri membuat segalanya menjadi lebih lancar. Yang terdengar hanyalah suara peluit dari penjaga penyeberangan atau suara halus bus atau mobil.
Saya tidak berbelanja di sini. Tentu saja, selain karena mahal, juga karena berjalan-jalan menikmati trotoar lebih menarik untuk dilakukan daripada keluar masuk pusat perbelanjaan.
Setelah kembali ke Jakarta, saya benar-benar merindukan bisa berjalan kaki menikmati kota. Tidak menjadi buas di jalan raya karena situasi yang ganas di jalanan ibukota.
No comments:
Post a Comment