Monday, April 14, 2014

Jalan-jalan (kaki) di Singapura - 1

Minggu, 30 Maret 2014, pukul 19.00

"Coba cek tiketnyaa. Iseng-iseng ajaa. Siapa tahu dapat murahh" Ujar istri saya.
"Hihihihi" saya hanya cekikikan sembari membuka laman salah satu maskapai penerbangan yang melayani jalur menuju Singapura hampir 10 kali penerbangan dalam sehari. Setelah memasukkan jadual yang rencananya besok pagi buta, klak klik sana sini, ternyata harga tiketnya setengah dari harga tiket menuju ke kampung saya di Sulawesi hahaha. Tentu saja, kami langsung membeli satu tiket baru untuk saya :) Dan segera kami berkemas-kemas untuk perjalanan lima hari di Singapura. 

Sesungguhnya, saya tidak ada rencana untuk ikut ke Singapura menemani istri yang sedang ada kegiatan dari kantornya. Saya malah berencana untuk mengisi lima hari ke depan selama ditinggalkan, untuk berangkat ke Jogja berburu foto dan cerita sekaligus menjajal jalur trail running di kawasan Gunung Purba, Nglanggeran. Namun, dari hasil iseng-iseng tadi, akhirnya saya ikut juga bepergian. Lumayan, mengisi paspor baru saya hahaha

Senin, 31 Maret 2014. 

Setelah berangkat sekitar pukul lima pagi dari rumah menuju bandara, kami tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar 1,5 jam sebelum jadual keberangkatan. Proses registrasi ulang dan melewati petugas imigrasi tidak memakan waktu lama. Pertanyaan di bagian imigrasi pun menurut saya hanya sekedar formalitas. "dalam rangka apa ke singapura? sendiri atau banyak orang?" terima kasih. tap tap dan stempel imigrasi pun mendarat di halaman paspor saya. 

Kami lalu berjalan-jalan melewati gerai yang menawarkan berbagai macam barang atau sekedar tempat istirahat dengan bermacam-macam fasilitas. Tentunya bila pengunjung memiliki kartu keanggotaan atau beberapa jenis kartu kredit :). Sepi. 

Sepi

Pecahan uang yang sudah tidak laku!
Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah kotak sumbangan untuk beberapa organisasi pemerhati isu sosial. Sembari menunggu istri yang ke toilet, saya berdiri di dekat kotak tersebut. Dan, mengejutkan sekali. Uang yang terdapat didalamnya adalah jenis yang sudah tidak berlaku! Entah kenapa uang yang sudah tidak dapat digunakan lagi itu berakhir disana namun yang pasti tidak bisa digunakan lagi. Ada pecahan seratus rupiah, limaratus dan seribu rupiah. Siapa yang tega menyumbang uang tidak berlaku? Hmm atau mungkin kotak itu sudah terlalu lama disana hingga terlupakan sejak uang tersebut masuk berlaku sampai sekarang sudah tidak dapat digunakan? 

Di dalam pesawat, saya mengeluarkan buku dan siap menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan untuk kemudian berada di negara lain. 


Singapura.

Tidak banyak hal yang menarik ketika keluar dari garbarata di bandara Changi, Singapura. Namun, kesan saya seketika berubah ketika masuk ke gedungnya. Rapih, informasi yang jelas. Sejuk. Dan kejutan yang mengejutkan.

Entah kenapa, saya hampir tidak lolos pemeriksaan imigrasi. Di loket biasa, petugas mengajak saya ke ruang tunggu. Ketika saya tanya ada apa, dia hanya tersenyum dan berkata kalau komputernya sedikit bermasalah. Saya hanya mengernyitkan kening sedikit tidak percaya. Lalu saya minta untuk boleh berpindah ke loket/petugas sebelah, namun petugas tersebut mengarahkan saya ke kantor mereka. Disini saya lalu bertanya ada apa namun lagi-lagi petugas tersebut hanya tersenyum dan meminta ibu jari saya kanan dan kiri untuk dipindai di alat mereka. Karena ragu-ragu takut ada apa-apa, saya hanya menuruti mereka. Setelah itu saya lalu diminta duduk di kursi ruang tunggu. Beberapa saat. Saya mencoba untuk tenang. Pikiran saya lalu mengingat acara-acara menangkap para penyelundup yang kerap saya lihat di saluran National Geographic hahaha. Saya membayangkan ada kamera pengawas yang mempelajari  bahasa tubuh saya hahaha

Paspor saya lalu dibawa ke bagian belakang. Beberapa saat. Saya lalu dipanggil. Dan tak tek tok paspor saya dicap visa Singapura dan diminta keluar melewati loket tertentu. Saya tanya apakah ada masalah, lagi-lagi petugas tersebut mengatakan tidak apa-apa. 

Istri saya sudah menunggu, dengan bagasi kami, di dekat pintu keluar. Lalu memberondong dengan pertanyaan ada apa? Kok lama banget? Aku khawatir ada apa-apa. Saya lalu bilang kalau juga bingung. Mungkin karena nama saya yang terlalu "radikal"? seradikal pimpinan Hezbollah? hahahaha entahlah. Yang pasti, saya akhirnya sedikit banyak pernah merasakan deg-degan takut bermasalah di negara orang haha

Kami lalu naik taksi menuju ke hotel. Ada MRT namun karena kami berempat, dua orang lagi teman kantor istri saya, kami rasa tak ada salahnya sedikit merasakan kemewahan hehehe. 

melewati terowongan
Tentu saja saya terkagumg-kagum melihat transportasi dan jalan raya yang sangat bersih, teratur dan tanpa kemacetan! Seketika saya melupakan rasa penasaran dan deg-degan saya tadi hahaha 

dari jembatan penyeberangan yang tertutup dan sejuk
 Sungguh sangat menyenangkan berkendara disini. 

Sekitar kurang dari satu jam kami tiba di hotel di kawasan Scotts Rd. Hotel mewah bintang lima. Namun, itu tidak membuat kami serta merta menikmati fasilitas ini meskipun ketika check in, resepsionis menawarkan kami spa gratis selama dua jam. Kami, ingin langsung berangkat menuju ke salah satu tujuan kami yaitu supermarket canggih untuk para penyuka mengisi rumah hahaah IKEA. Meskipun kami tahu kami mungkin tidak akan membeli apapun, namun melihat-lihat nya saja kadang-kadang sudah menyenangkan. 


Setelah mencari tahu lokasinya, kami mulai berpetualang. Masuk ke underpass menuju ke stasiun MRT terdekat, kami mencoba mencari tahu ke bagian informasi bagaimana cara menuju ke lokasi tersebut. Ternyata menurut mereka lebih baik menggunakan bis karena IKEA terletak di depan salah satu halte bus. Kami lalu keluar dan mencari halte bis terdekat. Disini pun kami lalu kebingungan karena tidak satupun yang tahu tujuan kami. Dan lalu salah satu orang menyarankan kami naik taksi saja karena menurutnya lebih cepat dan tidak terlalu mahal sekitar 6 SGD. Dasar tidak mau repot, jadilah kami mengantri taksi di salah satu pintu keluar pusat perbelanjaan. 

Suasana di dalam kereta bawah tanah tadi sungguh sangat "luar negeri" haha. Orang-orang berjalan dengan cepat. Tahu dengan pasti hendak menuju kemana. Informasi bergerak seperti berita berjalan di stasiun tv memberitahukan pengguna transportasi tentang jadual kereta berikutnya. 

Saya lalu membandingkan dengan sistem komuter line di tempat saya. Sudahlah, tidak usah membandingkan. Bukan tandingannya :) 

Perjalanan menuju ke IKEA sekitar 20 menit kurang. Jalanan sepi. Udara gerah. Matahari bersinar terik memicingkan mata. Dan kemudian, bangunan berwarna biru terang tampak terang dari kejauhan. Kami tibaa hahaha. Macam pelaut terombang ambing berhari-hari dan akhirnya melihat daratan hehehe

Tidak perlu saya jelaskan apa yang terjadi kemudian. Yang pasti, hampir tiga jam kami disini dan tanpa membawa pulang apapun hahahaha.

yang baju merah jangan sampai lolos
Dari ini, kami putuskan untuk pulang menggunakan MRT. Dari bertanya-tanya, kami melihat ada sekitar 700 meter ada lokasi MRT terdekat. Queenstown. Disinilah saya merasakan hal menyenangkan berikutnya. Pertama, saya akan naik MRT. Kedua, trotoar sangat nyaman bagi pencinta jalan kakii. Trotoar jelas, nyaman dan aman adalah hal yang sangat didamba oleh orang-orang yang tinggal di kota seperti Jakarta atau kebanyakan kota di Indonesia. Trotoar yang bebas dari kegiatan lain selain jalan kaki. 

Dari tempat saya berasal, menjadikan jalanan adalah tempat yang nyaman bagi semua orang adalah bukan prioritas. Masih banyak masalah lebih utama yang harus diselesaikan dengan negara berpenduduk lebihd ari 250 juta dan masalah korupsi berkepanjangan. Jangankan trotoar, hal mendasar seperti pemenuhan hak kesehatan, pendidikan dan lainnya saja masih pekerjaan besar. Namun, itu bukan alasan untuk berkilah bukan? Ya, sudah seharusnya kita selalu bersikap positif daripada sekedar protes tanpa tindakan (entah ini ungkapan jujur atau sarkasme)

Tiba di stasiun MRT tersebut, kami lalu membeli kartu pass yang ternyata diakhir pemakaian bisa dikembalikan dan sisa saldo didalamnya bisa diuangkan. Jadii, jangan takut bila sudah waktunya pulang kampung dan saldo kartu masih banyak. Datang saja ke stasiun terdekat dan dapatkan uang kembali! Yiihaa!

Dari peta MRT yang didapatkan secara gratis, kami harus turun di st Raffless lalu berganti menuju Orchard.

berfoto lagi
Tiba di hotel, kami hanya butuh waktu kurang dari 10 menit :) Seharusnya, Ternyata, dua orang ini tergoda untuk mampir di salah satu toko sepatu obralan di dalam stasiun di Orchard *tepok jidat

Hari ini, sudah cukup orientasinya. Besok saya akan menikmati berjalan kaki di negara seluas Jakarta Selatan ini :)))







No comments:

Post a Comment