Suara
meraung-raung seketika terdengar memekakkan telinga ketika supir memainkan gas
dengan kaki kanannya. Asap hitam pekat pun menandai kualitas kendaraan yang
kami tumpangi. Tanjakan cukup curam di depan. Sebuah tanda peringatan dengan
gambar jalan menanjak kembali mengingatkan pengguna jalan untuk selalu
berhati-hati. Aku lalu memperhatikan jalan sembari sesekali melirik supir di
sebelah kanan yang terlihat tenang mengemudi sembari menimpali obrolan sang
kernet. Dini, teman perjalananku kali ini, melirik sambil tersenyum seperti
hendak mengatakan sesuatu.
“Waah
serem ya ngegas bisnya,” tatapan matanya kuartikan seperti itu.
Aku
hanya membalas dengan tersenyum sembari menepuk-nepuk punggung tangannya.
Menempuh
perjalanan kurang lebih satu jam, kami melewati jalanan menanjak berliku yang hanya
cukup untuk dilalui dua kendaraan. Salah satu sisi dengan jurang sedalam lebih dari 100
meter dan sisi lainnya dikepung oleh tebing tinggi seperti kanvas para pelukis
alam. Bahkan
di beberapa titik, salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dahulu agar
kendaraan dari arah berlawanan dapat lewat duluan. Aku sendiri
beberapa kali sempat mengernyitkan kening bila melihat bis ini akan menyalip
kendaraan di depannya. Namun
terlepas dari itu semua, kita sebenarnya disuguhkan oleh pemandangan alam yang
indah.
Lereng
pegunungan yang tampak seperti undakan hijau raksasa yang tertata rapih itu
adalah ladang petani yang menyulap tebing-tebing tanah menjadi lahan pertanian.
Sungguh, adalah pemandangan yang menakjubkan, meskipun kadang melihatnya
membuat bertanya-tanya bila musim hujan tiba. Ancaman tanah longsor bisa
menjadi masalah besar.
Angin
menyeruak masuk ke dalam bis dari sela-sela kaca jendela. Sejuk. Ketinggian
sudah mencapai lebih dari 1700 mdpl. Sore itu langit tampak cerah. Warna biru
memenuhi langit. Kurasakan senyumku mengembang sendiri. Dini merapatkan jaket biru nya yang dipakai
tidak berapa lama setelah masuk ke bis kecil ini.
Tidak
berapa lama bis ¾ berpintu satu ini tiba di pertigaan Dataran Tinggi Dieng. Kami pun
segera turun dan melemaskan seluruh badan kami. Perjalanan sekitar enam dari
Kota Semarang cukup melelahkan, meskipun sekitar dua jam yang lalu kami sudah
menikmati jalan-jalan singkat di Kota Wonosobo. Lihatlah, jalanan ramai oleh lalu lalang
petani yang pulang dari ladang.
Bis
kecil itu kembali melanjutkan perjalanan. Meninggalkan raungan keras dan asap
tebal dari knalpot tua. Bergerak
menuju ke kota berikutnya. Dalam sehari entah berapa kali mereka melewati jalan
yang sama. Mungkin ribuan kali dalam setahun. Setiap hari mengantarkan penduduk
yang bepergian atau pelancong yang ingin melihat keindahan tempat
peristirahatan para dewa.
“Yuk, langsung ke Telaga Warna. Jalan aja bisa kan? Sambil lihat-lihat dan
foto-foto,”ajak
si Dini sembari mengatur ransel kecil berwarna hijau yang baru saja di belinya
seminggu
lalu. Tubuh mungilnya tampak lucu dengan
ransel yang hampir sebesar badannya. Aku sedikit tersenyum begitu melihatnya
memanggul ransel yang masih sangat terlihat baru.
“Apasih lihat-lihat?” Tanya
Dini ketika melihatku menyunggingkan senyum kepadanya.
Aku lalu tertawa.
“Nggak papa, kok. Kayak ada
kura-kura lagi jalan-jalan ke gunung hahaha,”jawabku sambil menggodanya.
Dini tertawa dan mengeratkan
ranselnya. Kami memutuskan untuk berjalan kaki menikmati sore yang sejuk
sembari mengambil gambar dengan kamera kami.
“Enak ini,” ujarku sambil
berjalan. “Nanti disana kita bisa bikin teh panas dan bikin
roti bakar sambil duduk-duduk di danau,”ujarku sembari mengeratkan ransel.
Dini menoleh ke arahku dan
mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Cuaca
cukup bersahabat sore ini.
Setelah berjalan sekitar kira-kira berjarak 1,4
km, kami tiba di Telaga Warna.
Warna hijau tosca yang terlihat di permukaan
telaga ini sungguh sangat menawan hati. Di beberapa bagian asap
tipis keluar dari danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang ini.
Kandungan minreal sulfur yang tinggilah yang menyebabkan pewarnaan telaga ini. Kabut tipis yang kadang terlihat mengambang di permukaan air memberikan
kesan mistis. Udara sejuk mendekati dingin semakin menambah istimewa tempat
ini. Jalan setapak yang mengelilingi telaga, pepohonan yang rindang memberi
kenyamanan bagi pelancong yang hendak menikmati kesejukan dan keindahannya.
Kami tidak banyak bicara.
Dari tepi telaga, kami berdua larut dalam suasana dan pikiran kami
masing-masing. Menikmati suasana sore yang indah dan alam yang menakjubkan.
Sesekali aku melirik Dini dan mendapatinya tersenyum sembari menyapu
pemandangan alam dengan kedua matanya. Wajahnya menyiratkan rasa bahagia dan
senang. Sesekali dia merapatkan jaketnya dengan kedua tangan yang sudah masuk
ke dalam saku jaket kesayangannya itu. Kedua tapak kaki sesekali jinjit ketika
kedua tangannya merapatkan jaketnya. Aku pun merasakan bibirnya menyunggingkan
senyum. Menatap ke Telaga Warna. Namun senyumku sesungguhnya ada karena melihat
ekspresi wajah Dini. Aku sesekali mencuri mengambil gambarnya.
“Ayo kita naik ke
sana, dari situ pemandangannya lebih keren. Kita bisa duduk-duduk bikin kopi
dan roti bakar disitu,” ajakku ke Dini sembari mulai melangkahkan kaki.
“Ayo!” ujarnya makin bersemangat.
Tidak begitu banyak orang mengunjungi telaga sore itu. Suasana
sangat tenang dengan angin berhembus perlahan membawa dingin menyeruak di
sela-sela daun pepohonan yang mengelilingi telaga. Sesekali suara kendaraan
terdengar dari kejauhan. Kami perlahan mulai menapaki jalan menanjak menuju ke
bukit tepat di belakang telaga. Dini masih bersemangat meskipun aku tahu dia
merasa kelelahan. Dia masih mencoba untuk tersenyum meskipun keringat mulai
tampak di keningnya.
Tidak lama kemudian, kami tiba di puncak bukit.
Pemandangan dari sini benar-benar luar biasa. Warna hijau tosca terlihat
semakin jelas. Beberapa bukit dapat terlihat dengan jelas dari sini. Ada yang
lerengnya masih hijau oleh pepohonan dan sebagian menjadi teras berundak yang
ditanami sayuran. Sembari mengatur nafas, kami menikmati pemandangan indah yang
menjadi tempat pilihan para dewa untuk beristirahat. Dini sibuk mengambil foto
dengan kamera dan seperti biasa, swafoto untuk beragam media sosialnya hahaha.
“Waah cantik banget yaa dari sini kelihatan semuanya,”
seru Dini sembari melepaskan jaketnya.
“Bener kan? Itu kalau kabutnya nggak ada, Gunung Sindoro bisa
terlihat dari sini,” ujarku sambil menunjuk ke arah gunung yang terkenal dengan
triple S Jawa Tengah, yaitu Gunung Sindoro, Sumbing dan Slamet, tujuan para
penggemar pendakian gunung.
“Oh ya? Kamu udah pernah ke sana kan?,” timpal Dini
sembari melepaskan sepatu bootsnya. Kurasa dia ingin merasakan tapak kakinya
menikmati rerumputan.
“Udah beberapa kali. Salah satunya dengan si Kris.”
Jawabku sambil menyebutkan salah satu nama yang dia kenal. Dini tidak begitu
mengenalnya. Mereka hanya sesekali bertemu di tempat kostku.
Aku lalu mengeluarkan perlengkapan memasak yang sudah
kupersiapkan sejak dari Semarang. Kami memang tidak akan berkemah disini.
Terlalu dingin. Bahkan, di bulan Juli-Agustus, kabarnya suhu bisa sampai 00C.
Malam ini kami akan tidur di penginapan murah di dekat pertigaan tempat bus
menurunkan kami beberapa waktu yang lalu. Aku bersiap membuat kopi instant
manis kesukaannya, dan kopi hitam pahit yang cocok dengan roti bakar coklat
keju.
“Enak ya sore-sore begini duduk-duduk. Bengong-bengong
sekedar menikmati suasana,” ujar Dini memecah kesunyian sembari menyeruput
kopinya. Kami berdua sedang duduk memandang Telaga Warna dari atas. Udara
semakin dingin mulai menyeruak.
“Iya, benar..,” Timpalku sembari merapatkan kedua telapak
tanganku pada gelas berisi kopi panas.
“Eh lihat nih...keluar asapnya,” Dini lalu bermain-main
dengan hembusan asap yang keluar dari mulutnya. Udara benar-benar terasa
dingin.
Kami lalu bermain-main dengan asap itu. Seperti asap
rokok yang mengepul dari bibir kernet bus kota beradu dengan asap knalpot bus
tua yang meliuk-liuk di jalanan ibukota.
Pikiranku mulai melayang-layang seiring pandanganku yang
menyapu alam dataran tinggi sekitar 2000 meter diatas permukaan laut ini.
Betapa beruntungnya manusia yang kini bisa menikmati keindahan alam dan
atmosfir pegunungan yang sudah terkenal hingga ke luar negeri ini. Lihatlah
kabut yang bergerak seperti dewa yang meniupkan nafasnya ke bumi dan
menggerakkan permukaan air di danau itu. Dengarlah suara burung-burung kecil
yang bernyanyi seperti pertunjukan musik di pagi hari. Lereng-lereng bukit yang
disulap menjadi ladang yang indah oleh karya tangan manusia, meskipun
sebenarnya mengandung risiko berbahaya bila tidak dikerjakan dengan benar.
Kubayangkan bila lereng-lereng itu tak lagi diisi dengan
pepohonan yang lebat dan ketika hujan deras datang, longsor lalu masuk ke dalam
telaga membawa tanah coklat lalu menutupi warna-warna indah di dasar telaga.
Entah berapa tahun lagi pasti akan terjadi. Ah, kenapa aku malah memikirkan hal
seperti itu. Nikmati saja saat ini. Aku berpaling menatap Dini yang juga sedang
termenung. Entah apa yang dipikirkannya.
“Din..Terima kasih ya udah mau ikutan
jalan-jalan..”kataku memecah kesunyian. Sembari menghembuskan nafas kedalam
kepalan tanganku agar mendapatan sedikit kehangatan. Entah dia menyadarinya
atau tidak, kurasakan suaranya seperti bergetar.
Dini lalu menoleh. Menatapku sejenak. Wajahnya datar
tanpa ekspresi.
“Apaan sih.. Harusnya aku yang ngomong gitu. Udah boleh
ikutan jalan-jalan. Meskipun kayaknya banyak ngerepotinnya..,”Balasnya yang
kemudian diakhiri dengan senyum manis.
Aku hanya bisa tersenyum dan kembali menikmati udara
dingin.
Tiba-tiba, setelah berapa lama, Dini berdiri dan
meregangkan otot tubuhnya.
“Yuk balik yuk ke penginapan, mulai dingin banget
nih,”ajaknya sembari menaikkan kerah jaketnya. Dia hanya menggunakan selembar
syal untuk menutupi kepalanya.
Aku mengiyakan dan lalu bergegas merapikan semua perlengkapan
memasak. Dini menghabiskan waktu untuk mengambil beberapa gambar lagi ke dalam
kameranya.
Berjalan kembali ke arah penginapan, udara semakin terasa
dingin. Matahari yang sejak tadi kalah oleh kabut mulai meredup. Menyisakan
langit yang berselimut cahaya redup. Beberapa orang petani bergegas pulang
dengan langkah cepat. Membawa pulang perlengkapan perang mereka setiap hari.
Membungkus diri dengan sarung untuk menahan dingin. Semua berjalan gagah dengan
sepatu boots karet mereka.
Kami berjalan berdampingan. Sambil bercerita dan bercanda
tentang apa saja. Mengomentari jenis-jenis sayuran dan pepohonan yang kami
lihat di sepanjang tepian jalan.
“Ih, tanaman kol banyak banget ya?”
“Iya, tuh kentang
tuh lagi diangkut ke truk. Mau dibawa ke Semarang tuh. Dibuat french fries yang suka kamu makan di
mall,” komentarku sekenanya.
Dini tertawa mendengar komentarku.
“Kamu sok tahuu hahaha,” tawanya seketika dari balik viewfinder kameranya.
Dini lalu menundukkan punggungnya dan mengambil gambar
setangkai bunga berwarna kuning yang banyak ditemukan di tepi jalan. Mereka
tumbuh liar dengan suburnya seakan tahu bahwa warna cerah mereka memberi
keceriaan pada manusia.
“Ini untukmu, karena sudah mau membawaku kesini,” Dini
tiba-tiba menyodorkan bunga berwarna kuning itu kepadaku. Aku lalu menarik
wajahku dari balik kamera dan memandang wajahnya yang tersenyum simpul sambil
memainkan bibirnya.
Beberapa saat aku mencoba membaca maksudnya.
“Udah cepetan diambil bunganya,” ujarnya kemudian dengan
sedikit memaksa namun manja.
Aku hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Kami lalu melanjutkan berjalan menuju ke area penginapan.
Dalam diam, kuberanikan diri meraih tangannya dan menggenggam erat. Dia tidak
menolak. Dini melemparkan pandangannya ke arah lain, namun aku tahu dia sedang tersenyum.
Sore itu, udara dingin menyeruak menyapu semua yang
dilewatinya. Namun, aku tidak merasakan dingin. Hatiku penuh dengan kehangatan.
Di ketinggian 2000 meter.
No comments:
Post a Comment