Monday, August 3, 2015

LebaRun di Kendari

Jalur lari 12.5K
Sejak lari menjadi kebiasan dan hobi saya, kemanapun saya pergi, perlengkapan lari tak pernah ketinggalan. Bahkan, mencari tahu di peta atau internet tentang jalur lari di suatu tempat tujuan, sudha menjadi bagian dari persiapan saya bepergian ke tempat baru (atau lama). Termasuk ketika mudik lebaran tahun ini. 

Berlebaran (dan lebaRun) tahun ini istri dan saya pulang ke rumah orang tua saya di Kendari, sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Panas haha, itu ucapan istri saya ketika pertama kali tiba disini tahun 2011. Tentu saja panas. Dekat laut :D 

Kondisi jalanan di kota yang terkenal dengan oleh-oleh kacang mete dan terasi ini beragam. Ada bagian yang sudah dilapisi aspal yang mulus namun ada juga yang masih penuh lobang dan berdebu. Untuk berlari, saya memilih jalan raya sepanjang tepi Teluk Kendari. Di kepala saya sudah seperti menggambar rute jalanan yang akan saya lewati. 

Dari rumah saya berjarak sekitar 13.5K pergi pulang untuk titik balik di ujung pantai Kendari, begitu orang disini menyebut jalur sepanjang 1.5K yang sering menjadi pilihan masyarakat setempat untuk menikmati senja. Pantai yang tidak berpasir melainkan pembatas dari tembok setinggi satu meter. Semacam penahan gelombang seperti di Pantai Losari, Sulawesi Selatan. 

Tepat pukul 05.30 saya mulai bergerak pelan keluar halaman rumah. Masih gelap. Kendaraan masih satu-dua. Beberapa orang terlihat menikmati jalan pagi. Kebanyakan orang tua. 

Saya melewati pintu depan Taman Walikota Kendari yang menjadi salah satu tempat favorit saya ketika pulang kampung (atau kota?). Saya merencanakan untuk mengakhiri lari pagi saya disini nanti. 

Tepat di depan gedung perpustakaan daerah, saya berbelok menuju jalan bebas hambatan di teluk. Ingatan saya sekilas berbalik sekitar 20-25 tahun lalu. Saya banyak menghabiskan waktu sendirian di gedung tua ini. Melihat-lihat koleksi buku-buku cerita bergambar. Tidak banyak teman-teman saya yang tertarik sehingga hampir bisa dipastikan bila saya kesini, pasti sendirian. Di pojok kiri tepat di sisi luar samping pagar gedung bagian depan, dulu ada lapak buku, majalah dan koran bekas. saya juga menyukai kesana. Namun sekarang, sudah hilang berganti gerai telepon genggam. 

Tidak berapa lama, saya tiba di jalan bebas hambatan. Dulu, saya ingat, rasanya jauuhh banget kalau main ke daerah sini. Masih rimbun oleh tanaman mangrove di atas air. Bila malam gelap gulita tak ada lampu jalan. Menakutkan haha. 

Lihatlah sekarang. Sepanjang jalan, berdiri hotel-hotel berkelas yang biasa ditemukan di kota besar di pulau Jawa, perumahan elit berharga milyaran rupiah dan beberapa tempat hiburan karaoke. 

sekitar 30 menit berlari, seorang bapak-bapak yang juga sedang menikmati lari pagi menyapa dari belakang.

"wah bawa beban ya?" 

"Oh nggak pak, ini cuma rompi untuk isi air minum dan telepon," jawabku sembari menoleh ke belakang. 

Kami lalu secara otomatis saling menyamakan kecepatan lari. Dan menikmati obrolan pagi.

Sekitar 20 menit kemudian kami berpisah dan saya meneruskan perlarian menuju ke Taman Walikota. 

  





No comments:

Post a Comment