Monday, August 10, 2015

Menjadi muslim di Bogo City, Cebu, Philippines

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan sebuah kota bernama Bogo, sebuah kota berukuran sekitar 100 ribu meter persegi yang terletak sekitar 100 kilometer sebelah utara Kota Cebu, ibukota pulau Cebu, Filipina. Bukan karena saya merindukan kota yang terasa seperti perpaduan antara Jepara (daerah pantainya) dan Grobogan (sepi dan garingnya haha) namun karena di kota itulah saya menghabiskan sekitar tujuh bulan waktu bekerja dan hampir setiap malam berdiskusi dengan dua orang manusia yang selalu melihat dunia dengan kelam, penuh prasangka namun memiliki kebaikan hati yang tulus. 

Tinggal di kota itu adalah pengalaman pertama saya menjadi alien, benar-benar disebut sebagai alien di kantor imigrasi dan bandara, jauh dari kehidupan nyaman saya bertahun-tahun di negara sendiri. Saya belajar untuk beradaptasi lebih cepat dan yang paling penting, menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang memang benar-benar bertanya, bukan menguji atau mencari kesalahan atau memojokkan. It's just a question. Dan, jenis pertanyaan yang hampir bisa saya pastikan tidak akan pernah di tanyakan di negara kami yang masih menjunjung tinggi "nggak enak sama orang" atau "ribet amat ngobrolnya, yang ringan-ringan ajalah". 

Sebagai muslim, meskipun bukan muslim yang menaati aturan agama secara penuh, saya benar-benar merasakan bagaimana hidup menjadi minoritas dari kacamata beragama. 

Saya tidak lagi menemukan suara adzan yang mudah ditemukan di manapun di Indonesia. Penanda waktu sholat saya benar-benar hanya mengandalkan kedisiplinan saya sendiri. Makanan. Sesungguhnya ini lah ujian sebenarnya. Tidak ada satupun warung yang tidak menyajikan menu babi. termasuk di dalamnya alat masak yang menjadi satu. Alhasil, saya mengandalkan memasak sendiri dengan jenis masakan ala kadarnya seperti pasta dan sausnya. Goreng ikan dan ayam. Saya hanya makan ikan, ayam dan sayur dari restoran seafood di sekitar rumah. Harganya lebih mahal dari tempat makan di kota ini. 

Di kemudian hari saya lalu bertanya-tanya kepada kolega di tempat kerja tentang masjid karena saya ingin melaksanakan ibadah sholat jumat. Jaraknya sekitar 15 kilometer dengan dua kali naik angkutan umum dan berjalan kaki sekitar 2 kilometer. butuh sekitar 30 menit untuk tiba di masjid tersebut dari kantor kami. Disitulah saya benar-benar bisa makan enak dengan jaminan 100 persen halal haha. Saya lupa nama masjidnya namun letaknya di kecamatan Hagnaya, kabupaten San Remigio. Disini komunitas muslim berjumlah sekitar 100 jiwa. Masih lebih banyak dari yang ada di kecamatan Odlot, Kota Bogo. Masjidnya pun berukuran besar. Seperti masjid-masjid kebanyakan di Indonesia, meskipun masih belum sempurna dengan dinding dan atap masih dalam tahap pengerjaan.

Masjid berikutnya ada di kecamatan Odlot. Lebih tepatnya di sebut mushalla. Dari keterangan Mustafa, sang penjaga masjid yang seorang muallaf dan pendatang dari propinsi lain, mushalla ini awalnya adalah sebuah rumah yang dimiliki oleh warga kampung yang kemudian memeluk agama islam dan mewakafkan tanah dan rumahnya untuk dijadikan tempat ibadah. 

Di kemudian hari, sebelum saya pulang ke Indonesia, saya lebih menyukai untuk sholat jumat di mushalla kecil ini. Orangnya lebih ramah dan makanannya lebih enak. hahaha nggak lah. 

Oh iya, di Bogo ini, ada tradisi setiap habis sholat jumat, pasti akan ada acara makan siang bersama. Sumber dananya dari patungan dan sumbangan umat muslim sendiri. 

Sebagai orang asing, dan muslim, saya cukup menarik perhatian mereka. Berbagai komentar dan pertanyaan tentang bagaimana menjadi muslim di Indonesia, pasti enak menjadi minoritas dan bebas untuk beribadah. Kadang saya ingin memulai diskusi tentang bagaimana beberapa hal yang mereka sebutkan adalah bumerang bagi umat islam itu sendiri. Namun, melihat mereka yang "masih" dalam tahap belajar tentang apa islam itu, bacaan sholat, apa aja jenis ibadah dll yang berbau syariat, membuat saya belum siap yang menjelaskan dengan baik bila mana terjadi pertanyaan-pertanyaan yang "krusial". Dan alasan sesungguhnya adalah status pekerjaan saya yang sangat sensitif, menjadikan saya harus berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Salah persepsi bisa berakibat fatal. 

Namun, secara pandang islam, saya akan sangat senang menjelaskan pendapat kepada mereka. Selagi belum terisi oleh cara pandang tanpa toleransi, saya tertantang untuk berbagi pengalaman tentang toleransi, keberagaman kepada saudara-saudara baru saya tersebut. 


No comments:

Post a Comment