Diawal tahun ini, istri dan saya berlibur meninggalkan ibukota untuk mengunjungi saudara dan karib kami :). Bercengkrama di rumah sembari menikmati obrolan, bermain dengan anak mereka adalah salah satu jenis liburan yang sangat saya nikmati. Bahkan mengunjungi rumah karib kami ketika dia sedang tidak ada di rumahnya pun terasa menyenangkan. Bertemu dengan orang tuanya, menikmati buah-buahan dari kebun di halaman belakang rumahnya serta makan siang bersama adalah liburan yang makin tergeser oleh paket wisata di luar negeri, ditambah dengan penerbangan berbiaya murah
Tentu saja, saya tidak melupakan untuk berlari di tempat-tempat baru tersebut. Menyusuri jalur ring road selatan sekitar 15K di pagi buta saya lakukan ketika sedang di Jogjakarta. Tadinya saya berencana untuk lelarian dari rumah karib kami di seputaran Rumah Sakit Wirosaban menuju Candi Prambanan, sekitar 21K. Namun setelah dipikir-pikir, 42K pergi pulang bisa memakan waktu 5 jam dengan padatnya lalu lintas Jogja ketika masa liburan. Belum lagi habis itu, pasti saya akan lelah dan tak mampu lagi ikut jalan-jalan bersama yang lain. Jadilah saya sekedar lelarian manis 15K pergi pulang hehehe
Di Tayu, Pati, ketika sedang mengunjungi saudara, saya pun tak melewatkan untuk menjajal jalur menuju Benteng Portugis. Meskipun ternyata setelah bertanya ke orang yang saya temui di jalan, jaraknya masih berkisar 35-40K, membuat saya lalu mengurungkan niat dan memilih berlari 13K saja pagi itu hhahahha, pergi pulang dari rumah saudara yang kami tinggali malam sebelumnya. Daripada saya sok melakukan ultra tanpa persiapan dan berakhir merepotkan orang lain? saya cari aman saja :)
Lelarian di daerah pedesaan ini, terutama di pagi hari, saya mendapatkan nilai tambahan perasaan senang. Melewati areal persawahan dengan kegiatan petani yang sedang panen, sungguh menimbulkan rasa bahagia di hati saya. Menyunggingkan senyum sembari berlari pelan, menyapa bapak-ibu petani yang sedang bercengkrama di tepi sawah atau jalan. Udara segar menyehatkan paru-paru, pemandangan orang-orang tertawa menyenangkan mata saya. Sayangnya saya melakukan kebodohan absolute. Lupa membawa kamera poket yang biasanya selalu saya bawa kemanapun saya pergi.
![]() |
| 15K Jogjakarta ring road selatan |
Di Tayu, Pati, ketika sedang mengunjungi saudara, saya pun tak melewatkan untuk menjajal jalur menuju Benteng Portugis. Meskipun ternyata setelah bertanya ke orang yang saya temui di jalan, jaraknya masih berkisar 35-40K, membuat saya lalu mengurungkan niat dan memilih berlari 13K saja pagi itu hhahahha, pergi pulang dari rumah saudara yang kami tinggali malam sebelumnya. Daripada saya sok melakukan ultra tanpa persiapan dan berakhir merepotkan orang lain? saya cari aman saja :)
Lelarian di daerah pedesaan ini, terutama di pagi hari, saya mendapatkan nilai tambahan perasaan senang. Melewati areal persawahan dengan kegiatan petani yang sedang panen, sungguh menimbulkan rasa bahagia di hati saya. Menyunggingkan senyum sembari berlari pelan, menyapa bapak-ibu petani yang sedang bercengkrama di tepi sawah atau jalan. Udara segar menyehatkan paru-paru, pemandangan orang-orang tertawa menyenangkan mata saya. Sayangnya saya melakukan kebodohan absolute. Lupa membawa kamera poket yang biasanya selalu saya bawa kemanapun saya pergi.
Ketika kembali ke Semarang, karena mertua saya yang tiba-tiba sakit dan sempat di opname tiga hari di rumah sakit, pun, saya dan istri saya tidak melewatkan kegiatan berlari di pagi hari. Oh iya, istri saya sebenarnya bukan (belum menjadi) penggemar olahraga lari. Namun, ia sangat ingin berolahraga. Jadilah saya mengajukan diri menjadi pelatih sekaligus alarm yang bawel untuk selalu menyemangati atau mengingatkan bila sedang malas-malasan. Kami memilih jalur lelarian di kawasan UNDIP Tembalang karena dekat dari rumah dan suasanya menyenangkan dekat dengan hutan kota. Selain itu, kami bisa bernostalgia melihat suasana kampus tempat kami kuliah dulu :)
Oh iya, jalur Tembalang ini termasuk yang saya sukai untuk lari-lari dengan pace santai tapi tetap ingin melatih menanjak. Konturnya yang berbukit-bukit serta pemandangan Semarang Bawah cukup membuat siapapun yang menyukai lelarian pasti akan senang :). Bagi para lelaki, cuci mata dengan adik-adik mahasiswi adalah nilai tambah :D
Sekarang, setiap liburan apapun, saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba lelarian di tempat tersebut. Melihat dan menikmati tempat baru dengan cara yang berbeda? Cobalah berlari menyusuri jalan-jalan tersebut. Tak perlu repot dengan persiapan jalurnya kemana, tembusnya dimana, ikuti saja jalan di hadapanmu entah akan berujung kemana. Kalau ada orang, tanyakan saja ini arahnya kemana. Atau kalau sempat, sebelum berlari, cek saja lokasi-lokasi menarik di peta entah digital atau kertas, lalu tentukan jalur larinya. Bila tidak sempat cek peta, menyasarkan diri juga tak kalah menariknya :)
Jadi, selamat LibuRun ya :)
Jadi, selamat LibuRun ya :)




No comments:
Post a Comment