Bukan kali pertama ini saya
berlari dini hari, tapi tetap saja ketika melihat informasi lomba di situsnya
(www.cebumarathon.com), saya tetap saja geleng-geleng membayangkan harus bangun
paling tidak pukul 01.00 lalu siap-siap dan berkumpul pukul 02.00 dan mulai
menyiksa diri pukul 03.00. Jam enak-enaknya tidur. Meskipun begitu, saya tetap
saja mendaftarkan diri di Cebu Marathon 2015 ini. Lumayan, saya bisa bilang
kalau sudah pernah ikut marathon di luar negeri huahaha
Karena termasuk orang yang tidak
canggih dalam hal bayar membayar sesuatu melalui internet, saya kemudian
meminjam kartu kredit seorang kawan untuk melakukan pembayaran. Karena hanya
dua system pembayaran yang diterima yaitu melalui kartu kredit atau melalui
pembelian voucher di tempat yang sudah di tentukan dan kemudian dari voucher
itu kita akan mendapatkan kode yang (lagi-lagi) akan dimasukkan ketika
mendaftar melalui internet hehehe. Pendaftaran marathon ini saya lakukan
kira-kira 1.5 bulan sebelum hari H nya.
Pun, karena saya bukan pelari
yang serius dengan segala macam keinginan untuk PB lah atau memperbaiki teknik
berlari, saya tidak mengikuti segala adab latihan yang memerlukan kedisiplinan
tingkat tinggi dalam menyongsong lomba marathon. Yang saya tahu dengan
perhitungan logika otak (dan kecepatan lari) seadanya ini, batas waktu lomba
lari 42K adalah tujuh jam. Berarti sekitar 420 menit. Biar tetap bisa masuk
finish tanpa kena batas waktu, paling tidak saya harus disiplin lari 10 menit
per kilometernya. Sederhana kan? Kalau mau agak santai ya 8 menit per kilometer
jadi bisa diselingi jalan sebentar atau agak lamaan di pos minum hihihi.
Begitulah saya menyebut lomba marathon. Saya cukup sadar dengan segala
kemalasan saya berlatih, untuk tidak (atau belum?) tertarik menyiksa diri
pengen 42K dibawah empat jam atau lima jam atau enam jam. Saya lebih menyukai
lari-lari sambil lihat-lihat orang yang cepet-cepet atau lirik2 cewek-cewek
cakep atau memperhatikan jenis-jenis sepatu lari yang beraneka ragam, atau
jenis-jenis tulisan motivasi di beraneka ragam warga kaos lari dan lain
sebagainya. Hehehe. Lalu foto-foto tentu saja.
Lalu, di Cebu Marathon ini, oh
iya saya baru dua kali ini ikut marathon. Jadi yang bisa saya bandingkan ya
hanya sama Jakarta Marathon 2013. Dan masing-masing punya kelebihan dan
kekurangan dong, saya mendapatkan banyak pelajaran dalam hal lelarian.
Cebu Marathon, saya merasa bosan
dengan jalurnya karena jalur berangkat sama dengan jalur pulang (dikira angkot
apa ya?) dan Jakarta Marathon nggak hehehe. Jadi bagi pelari turis seperti
saya, kalau ikutan marathon itu saya anggap kesempatan berwisata dalam sehari.
Melihat bermacam-macam sudut kota. Jadi kalau diulang lagi, agak malesin.
Meskipun di Cebu Marathon, tiga jam pertama dimulai dengan gelap gulita jadi
tiga jam berikutnya baru keliatan tuh jalur yang dilewatin. Tapi tetap aja isi
kepala bisa ngukur yah baru nyampe sini hahaha
Tapii pos minumnya banyakk. Kira-kira ada sekitar
20 pos minum hihihi. Ada air es dan Gatorade. Trus ada potongan pisang. Garem bisa
di jumput-jumput asin-asin enak (iyalah masa kecut!) lalu ada baskom (eh apasih
itu istilahnya ember gede ya?) berisi air es dan batu-batu nya beserta gayung
biar bisa guyur badan. Lalu ember gede lagi berisi busa buat membasuh kedua
telapak tangan eh maksudnya buat gosok2 badan atau kepala. Pokoknya tiap
melewati pos air rasanya pengen lama-lama disitu atau kalau udah ngelewatin
udah kebayang pengen tiba secepatnya di pos air. Oh iya banyak permen dan
coklat juga hahaha.
Di beberapa titik ada hiburan,
kayak pas Jakarta Marathon 2013. Ada tari-tarian (edan itu anak remaja jam 04.30
pagi joged-joged di dalam terowongan kayak Casablanca, datang kesitu jam berapa
coba? Atau emang karang taruna setempat ya?), sexy dancer (bhuahaha!) dan
tetabuhan ala reggae. Oh iya toiletnya dikit hahaha. Dan karena satu dan lain
hal, koordinasi metabolism tubuh saya kalau pagi-pagi itu agak kurang bagus.
Alhasil, selama enam jam lari ini, saya tiga kali berhenti buang hajat haha. Satu
di toilet lomba, satunya di pom bensin dan terakhir di restoran cepat saji
kakakaka.
Jalurnya melewati jalan-jalan
utama kota Cebu, termasuk kota lama pelabuhan dimana terdapat benteng tua
tempat terbunuhnya Ferdinand Magellan dalam Perang Mactan (kalau nggak salah
ingat dikasih tahu temen, coba cari sendiri di internet ya), termasuk melewati jalur jalan melingkar
seperti Ring road di Jogjakarta tapi ini di tepi laut. Jangan khawatir, ini
lomba mulai jam 3 pagi. Kawasan ini termasuk kilometer 13-32. Masih belum
panass mataharinyaa meskipun pelari siput macam saya kakakaka. Tapi rasanya
bosaaan banget pas lewat sini. Macam dulu Jakarta Marathon 2013 mulai kawasan
deket Gatsu itu. Ujungnya keliatan deket tapi rasanya jauhh (kayak jomblo dan
jodohnya..)
Ada beberapa bagian melewati
tanjakan seperti kayak dari HI ke Dukuh Atas aja sih tanjakan2nya, cincai lah
ya. Trus oh yang asik juga adalah jalur dari start sampai finish itu semuanya,
beneran lho, semuanya steril dari segala macam kendaraan bermotor atau tidak
bermotor. Selama tujuh jam. Dulu pas Jakarta Marathon 2013, saya ingat ketika
masuk di kawasan Senayan, jalanan depan Hotel Mulia – Senayan City sudah penuh
dengan segala macam kendaraan jadi larinya mlipir2 biar nggak kesenggol atau di
klaksonin. Di Cebu Marathon ini, sampai pelari paling akhir pun masih di
kosongin jalannya. Saya tahu banget itu karena saya termasuk yang masuk finish akhir-akhir
hahahaha
Saya termasuk penikmat lari tanpa
sepatu. Dulu sih pakai sepatu yang harga nggak lebih dari 600 ribu tapi
lama-lama, entah karena pengetahuan tentang lelarian yang masih cetek, kaki
suka sakit di tulang kering. Lalu iseng-iseng (bo’ong. Nggak iseng-iseng ding,
tapi baca-baca di internet hehehe) lari nyekeran eh kok enak. Jadilah saya lari
tanpa alas kaki selama di tanah air tercinta. Tapii…kebiasaan itu tak bisa di
lakukan di Cebu. Kondisi jalanannya kayak rambut keriting pengen di rebonding
biar lurus. Aspalnya kayak muka penuh jerawat batu. Ggrrhhhhh!! Lomba pertama
disini yang saya ikutin 16K. Ya amplop itu telapak kaki bisa jadi kapalan kayak
kuda. Belajar dari situ, saya lalu beli sandal lari buatan setempat. Dan, cuma betah
dipakai sampai kilometer 25 hahaha. Habis itu nyeker lagi sampai finish. Tapi
ampun dah tobat lari telanjang kaki disini. Rasanya pengen buka bisnis ekspor
aspal Buton kesini. Tapi saya takjub dengan beberapa orang disini. Nyeker full
42K! Edian! Kakinya udah terlatih pastinya.
Ada kurang lebih 1100 peserta di
kategori 42K dan 1300 peserta di kategori 21K. Lebih lengkapnya silahkan
berkunjung ke situsnya langsung. Kabarnya, setelah membaca koran ke esokan
harinya, Cebu Marathon adalah salah satu dari hanya dua lomba marathon yang
diakui oleh Badan Atletik Dunia (apasih namanya lupa) di Filipina. Satunya lagi
Milo Marathon, yang sama di Indonesia, pesertanya sampai puluhan ribu pelari
(dan pejalan hihihi)
Ketika finish, tentu saja, saya
kram haha. Langsung dikubur dalam timbunan es batu oleh tim medis yag sangat
tanggap pada peserta hura-hura seperti saya (tak boleh ditiru ya). Enak sekali
rasanya badan pegel-pegel sakit lalu dikubur es.
Habis lari, dapat paketnya ada
kaos penamat yang bahannya enak banget. Medali tentu saja dan botol minum
ukuran 500ml. asyik. Lalu majalah olahraga dari sponsor dan beberapa produk
sponsor lainnya. Oh iya kaos singlet larinya bisa dikasih nama kita juga
hihihi. Caranya tapi ya gitu. Habis ngambil race pack (dibuka empat hari
sebelum hari H), nanti belanja di mall, bisa produk atau makanan atau minuman
seharga 500 peso atau sekitar 135 ribu. Trus nanti struk belanjanya dikasih ke
panitia dan kita ngisi formulir buat nama yang tertera di kaos lari. Besok nya
diambil. Meskipun pas lelarian saya pakai kaos kesayangan saya sendiri, tapi
godaan punya kaos lari dengan nama sendiri sangat besar lalu jadilah saya
mencari2 sesuatu yang berguna bisa saya pakai (atau kunyah) seharga 500 peso :D
Ada beberapa peserta dari Negara lain
yang ikut seperti Amerika, Australia dan Indonesia hihihi tapi kayaknya
semuanya nggak datang khusus demi marathon ini deh. Mungkin udah tinggal disini
karena bekerja atau berkeluarga atau pas barengan acara festival tahunan
Sinulog yang sangat meriah. Selama bulan Januari setiap tahun, kota Cebu pasti
ramai turis yang datang ingin menyaksikan Festival Sinulog ini.
Secara umum, lagi-lagi bagi penikmat lari
hura-hura seperti saya yang baru dua kali ini ikutan marathon, saya merasa
nyaman lah dengan lomba ini. Terlepas dari faktor diri sendiri, sejak dari masa
pendaftaran hingga pelulusan (apasih), panitia sigap menjawab pertanyaan,
sosialisasi dimana-mana lalu kerjasamanya dengan departemen pemerintah khusus
lalu lintas itu lho yang jagoan. Yang jaga persimpangan dan titik-titik rawan
itu semuanya petugas pemerintah dan beberapa relawan! Yang murni diisi relawan dari
panitia hanya di jalan2 yang nggak rame atau di puter balik atau di pos minum.
Oh iya, di Filipina, olahraga
lari sangat digemari. Lomba lari di akhir pekan tersedia sangat banyak pilihan.
Mulai 3K-21K. Bahkan 42K sampai ultra marathon. Mau trail atau aspal. Triathlon
sama aja banyaknya. Dan, Pebruari nanti, saya akan ikutan lagi 21K milik salah
satu perusahaan asuransi kesehatan disini. Alasannya karena medali dan kaos
penamatnya pakai Bahasa Tagalog hihihi keren kaann kalau bisa punya.
Sejak membaca liputan tentang
komunitas IndoRunners beberapa tahun silam di Koran Kompas, kalau nggak salah
2011, ketika sedang asyik minum kopi bangun siang-siang macam anak kos mau DO,
entah kenapa lalu membuat saya pengen ikutan lari. Mulai dari mau muntah mata
berair pandangan berkunang-kunang saking semangatnya awal-awal lari dulu sampai
sekarang bisa ikutan 42K, meskipun nggak muntah-muntah tapi betis mau patah, saya
menemukan kesenangan ketika berlari. 1K, 2K, 3K, 4K (video klip musik Raisa-LDR
dibuat dalam format 4K lho ß
apapula ini?) sampai ber KK Tangerang Selatan (halah ini lagi apa coba?), saya sudah menemukan kesenangan itu. Hanya itu yang saya cari. Rasa senang nya.
Sehat? Entahlah. Pas finish yo badan seperti mau pruthul semua tapi rasa senangnya tak terkalahkan. Itu sudah.
![]() |
| hihihi |

No comments:
Post a Comment