Sunday, December 1, 2013

Masai

Masai adalah nama yang kuberikan pada boneka singa berukuran gantungan kunci ini. Bonek yang diberikan oleh beberapa orang kawan saya sewaktu kami masih tinggal di Jogja. Sebenarnya, mereka memberikan boneka singa itu secara tidak sengaja. Sejatinya, mereka sedang berada di sebuah toko boneka untuk mencarikan hadiah ulang tahun bagi kawan saya yang lain, namun, tampang singa kusut itu seperti mengingatkan mereka tentangku, jadilah singa berambut kusut berwarna coklat itu dibelikan juga untukku.

Hingga kini, lima tahun lebih, si masai ini sudah menemaniku dalam berbagai perjalanan. Ke Gunung Ungaran,  Dataran Tinggi Dieng bahkan hingga ke Gunung Rinjani. 

Masai di jalur pendakian gunung Rinjani
 Saya ingat dulu ketika masih kuliah, ada kawan saya dari NTT. Tinggi, berambut gondrong, dan berkulit hitam. Bila sedang diam, tatapan wajahnya akan membuat anak kecil yang sedang rewel pasti duduk diam. Namun, setiap kali kami mendaki gunung, kawan saya ini akan selalu membawa boneka monyet berukuran telapak tangan dewasa. Muka rambo hati rinto, saya menyebutnya. 

Tidak ada yang istimewa dari si masai ini. Rambutnya semakin kusut. Kulit coklatnya sudah lusuh entah oleh tanah atau kotoran dari bis ekonomi. Kadang kalau lupa, si masai aku gantung di ritsleting ransel sampe tergencet-gencet di tumpukan bagasi :)) .   

memandang Gunung Sindoro dari Bukit Sikunir

duduk menyendiri di tepi danau Segara Anak di Gunung Rinjani
memancing ikan sama pak dhe Isnu di danau Segara Anak

No comments:

Post a Comment