Ketika salah satu kawan baik saya mengajak untuk menutup tahun 2009 di Gunung Rinjani, saya tidak berpikir dua kali. Segera setelah mengambil libur akhir tahun, saya lalu mencari tahu dan mulai membaca ulasan tentang jalur pendakian yang banyak sekali ditemukan di internet. Tidak lupa mencari tahu transportasi darat dari Jogjakarta menuju ke Sembalun. Ya, kami putuskan untuk naik melalui jalur Sembalun dan turun di Senaru agar bisa pulang lewat pantai Senggigi yang terkenal hingga ke mancanegara itu :)
Saya membawa dua buah ransel. Satu berisi pakaian, tenda, perlengkapan memasak dan lainnya. Ransel satunya berisi perlengkapan foto, bacaan dan lainnya. Rencananya saya akan memanggul ransel ini depan belakang. Terlalu ambisius. Suatu hal yang akan saya sesali ketika mulai mendaki. Namun lagi-lagi, rasa semangat berlebihan dan kenangan akan masa-masa mendaki dulu terlalu kuat hahaha
Kala itu, setahun penuh, saya nyaris tidak pernah berolahraga. Pekerjaan saya benar-benar membuat saya menjadi pemalas yang hanya hidup dari kenangan cerita-cerita pendakian gunung masa kuliah. Saya merasa masih kuat hanya dengan membayangkan jalur-jalur yang dulu kami libas dengan santainya. Bahkan sebulan rencana pendakian Rinjani ini, saya masih juga tidak menyiapkan waktu untuk berlatih fisik. Saya benar-benar hanya bermodalkan semangat, rasa senang bertamu ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan naik gunung! Hanya kata naik gunung yang benar-benar membuat saya senang! Namun, di kemudian hari, ketika sudah di gunung, penyesalan saya tentang tidak pernah berolahraga membayangi hingga berhari-hari :D
Saya membawa dua buah ransel. Satu berisi pakaian, tenda, perlengkapan memasak dan lainnya. Ransel satunya berisi perlengkapan foto, bacaan dan lainnya. Rencananya saya akan memanggul ransel ini depan belakang. Terlalu ambisius. Suatu hal yang akan saya sesali ketika mulai mendaki. Namun lagi-lagi, rasa semangat berlebihan dan kenangan akan masa-masa mendaki dulu terlalu kuat hahaha
Hari pertama, berangkatlah saya ke Jogjakarta menemui kawan saya itu. Rasanya gagah sekali bepergian dengan dua ransel di badan. Bangga sekali. Orang-orang melihat, saya tampak tenang meskipun dalam hati seperti bersorak-sorak :D.
Kami berencana untuk berangkat dari Jogjakarta menggunakan kereta ekonomi ke Surabaya lalu naik kereta lagi ke Banyuwangi dan menyeberang ke Denpasar lalu menyeberang ke Lembar, Lombok. Namun, karena hari itu kawan saya masih di Jakarta dan baru kembali sore hari, jadilah kami naik bus malam ke kota Malang lalu berganti bis Damri ke Denpasar, Bali. Kami benar-benar tidak mempunyai manajemen ekspedisi yang efektif hahaha. Yang penting perjalanannya dinikmati saja :)
Kami berencana untuk berangkat dari Jogjakarta menggunakan kereta ekonomi ke Surabaya lalu naik kereta lagi ke Banyuwangi dan menyeberang ke Denpasar lalu menyeberang ke Lembar, Lombok. Namun, karena hari itu kawan saya masih di Jakarta dan baru kembali sore hari, jadilah kami naik bus malam ke kota Malang lalu berganti bis Damri ke Denpasar, Bali. Kami benar-benar tidak mempunyai manajemen ekspedisi yang efektif hahaha. Yang penting perjalanannya dinikmati saja :)
Malam itu kami berangkat ke Malang. Oh iya kawan saya mengajak adiknya yang baru saja masuk kuliah. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya mendaki gunung. Namun, saya percaya kekuatan fisiknya jauh lebih baik dari kami haha
Perjalanan ini benar-benar menguji kesabaran kami. Betapa tidak, setiba di Malang, Damri yang kami pergunakan menuju ke Denpasar beberapa kali mogok. Dan, namanya juga Damri, apapun dinaikkan ke bus. Tidak hanya penumpang namun barang bawaan yang menumpuk tidak beraturan seperti sayur, kotak-kotak dan lain lain. Malam itu, tiba di Denpasar, saya benar-benar merasakan pantat yang panas dan capek berkepanjangan. Duduk kaku seharian. Kelaparan.
Di terminal Denpasar, hujan deras menyambut kami. Segera setelah makan sepuasnya, kami yang sudah didekati bermacam-macam penawaran carteran kendaraan ke pelabuhan Padang Bai, memutuskan untuk menerima tawaran mereka. Jadilah kami menyewa satu mobil seukuran angkot menuju Pelabuhan Padang Bai. Rasanya senang sekali menunggu kapal dalam kesunyian di pelabuhan.
Di dalam kapal, tanpa berpikir dua kali, kami langsung menempati sisi yang sedikit luas. Ransel-ransel besar kami pasang membentuk area seperti ring gulat. Dan, kami tidur didalamnya, tanpa peduli sekeliling kami. Sepertinya rasa lelah dan mengantuk sudah menguasai kami haha.
Perjalanan tidak kurasakan. Bangun-bangun matahari sudah terang dan kapal siap sandar di Lembar. Badan sudah terasa lebih segar :)
Mandi! itu kata pertama yang keluar dari masing-masing mulut kami. uuhh rasanya ingin masuk ke dalam laut untuk membersihkan kotoran dan keringat yang melekat di badan sejak dari Jogjakarta kemarin. Secara bergantian kami mandi dan menjaga barang. Nah, lagi-lagi disini calo-calo menawarkan mobil sewa menuju Sembalun. Namun, saya banyak mendengar cerita kurang bagus tentang ini. Meskipun harga sewa sudah disepakati diawal, ada banyak cerita yang menyebutkan bahwa di tengah perjalanan, di tengah hutan, mereka akan meminta tambahan dengan nada memaksa atau menekan sehingga kebanyakan tidak ada pilihan selain menuruti kemauan mereka.
Dengan masih berpikir dan belum tahu mau ngapain, kami lalu makan di warung ayam goreng milik bapak-bapak tua. Setelah mencari tahu informasi tentang kendaraan sewa, dia lalu menawarkan mobilnya untuk disewa. Dibawa oleh orang kepercayaannya. Kami merasa lebih aman dan memutuskan untuk menerima tawarannya dengan harga sama. Untuk menjaga perselisihkan dengan calo-calo tersebut, kami bilang bahwa mobil hanya akan di sewa hingga ke terminal bus di kota Mataram. Agak males jgua karena harus sambil sembunyi-sembunyi namun bapak itu berkata lebih baik daripada ada masalah.
No comments:
Post a Comment