Tuesday, December 3, 2013

Mendaki Gunung Rinjani (5)

Malam pun tiba.

Gunung Baru Jari sesekali mengeluarkan lava pijar yang sungguh sangat cantik dipandang di kondisi gelap gulita seperti di tepi danau ini. Sebelum mengeluarkan lava tersebut, gunung berbentuk kerucut dan seperti topi petani ini bergemuruh seperti gempa. Kami sedikit merasakan gonangan kecil tersebut. 
Lava merah mengalir

Malam itu tidur kami sangat lelap. Mungkin karena makan layak hahaha sudah disiapkan oleh mas porter. Oh iya, malam itu ketika dua kawan saya tertidur lelap, mas porter mengajak saya untuk berburu ikan di sisi selatan danau. Tekniknya adalah menyorotkan lampu ke permukaan air, ikan datang karena tertarik cahaya dan boom! Parangnya dihantamkan ke ikan tersebut :) 


Menuju ke sisi selatan itu, saya sempat bertanya tentang beberapa koin-koin berwarna emas yang saya temui. Menurut mas porter, koin-koin emas tersebut adalah bagian dari sesembahan yang diberikan oleh komunitas Hindu ketika datang ke danau ini. Berbagai macam bunga dan sajen lainnya pun banyak ditemukan disini. Hmm....

Keesokan harinya, setelah berkemas-kemas, kami memulai perjalanan. Mas porter membawa dua ransel terbesar kami sehingga kali ini kami senang sekali bisa berjalan dengan ringan dan riang hihihi. Saya meninggalkan sepatu boots disini. Sudah hancur dan tidak bisa dipakai lagi. Beberapa orang masih terlelap dalam tenda mereka. Beberapa lagi sudah duduk menikmati suasana pagi di tepi danau :)

Perjalanan menyisir tepian danau sungguh sangat menggugah rasa kami. Menyisir berpegangan pada bebatuan, jalan setapak yang hanya cukup untuk ukuran tapak kaki kami, kabut tipis menggantung di permukaan danau memberikan nuansa mistis pagi itu. Udara sejuk pun menambah segar perjalanan kami. Saya sangat bersyukur bisa merasakan itu semua :)

Jalan menanjak lalu menyambut kami pagi itu. Edan. Bahkan di beberapa tempat kami harus merayap seperti sedang memanjat tebing. Sayang sekali kabut dan hujan menemani perjalanan kami sehingga pemandangan danau dari Plawangan Senaru yang sangat terkenal itu tidak dapat kami saksikan.

Memanjat tebing
Tiba di plawangan Senaru, hujan lalu deras. Kami lalu membangun tempat berteduh darurat dengan menggunakan dua buah penutup tenda kami. Cukup lama kami berteduh disini bahkan sempat membuat kopi dan teh panas yang kami tawarkan ke beberapa pendaki yang juga sedang menuju ke Senaru. Mereka memilih untuk meneruskan perjalanan dalam hujan :) 

Mendaki di akhir tahun memang memiliki tantangan tersendiri. Cuaca buruk dan hujan deras sudah menjadi jaminan satu paket dengan jalan-jalannya. Dinikmati saja :)

Segera setelah hujan, mas porter lalu bergegas turun dan hendak membangun tenda di pos tiga. Kami lalu setuju untuk bertemu nanti di pos tiga. Sepertinya dia capek karena mengikut ritme langkah siput kami hahaha

Dan oh, dua buah tenda dan bau masakan sudah menunggu di pos tiga hihihi. Kami merasa senang dan seperti orang kaya yang selalu di layani hahaha. Nasi panas, telur dadar, daging goreng serta mi instan rebus sungguh sangat menggugah selera. Di pos 3 ini, kami bertemu dengan rombongan pendaki gunung dari Jakarta. Setelah berkenalan, mereka lalu meminta diambil gambarnya karena baterai kamera mereka sudah habis. Kemudian hari, saya lalu mengirimkan beberapa gambar tersebut ke surel salah satu dari mereka dan pertemanan kami terus hingga kini :)

Habubi dan beberapa orang temannya


Di pos III ini, kami menginap satu malam. Banyak monyet! Mas porter sekedar mengingatkan agar jangan menaruh makanan sembarangan karena mereka dengan sigap akan mengambilnya. Jadilah mas porter yang tidur dalam satu tenda harus berbagi dengan makanan kami hahaha

Keesokan harinya perjalanan turun kami ditemani oleh cuaca yang cerah. Banyak pendaki yang menyertai kami. Hingga tiba di pos pendakian Senaru, saya dan Uchan berlari-larian dan sesekali bersenandung..

Di pos Senaru, kami menumpang mandi dan mencari mobil sewa menuju kota Mataram. Sepertinya, gunung Rinjani selalu ramai oleh pendaki gunung, meskipun musim hujan sudah masuk dan kabut tebal serta hujan lebat sedikit mengurangi pemandangan indah yang bisa dilihat dari atas sana. Namun, tetap saja orang-orang ingin menjejakkan kakinya di gunung ini. Entah berupaya mencapai puncaknya atau sekedar menikmati danau Segara Anak.

Sekarang, gunung Rinjani memiliki satu lagi daya tarik tambahan. Lomba lari gunung ultra 50K yang biasa disebut Mount Rinjani Ultra, yaitu lomba lari yang dimulai dari pos pendakian gunung Rinjani di Senaru, terus hingga Plawangan Senaru, danau Segara Anak, puncak Rinjani dan kembali lagi ke pos Senaru. Dengan batas waktu 20 jam, tidak semua orang berhasil melakukannya :)

Saya berharap bisa kembali lagi kesini suatu saat nanti.. :)








No comments:

Post a Comment