Tuesday, December 3, 2013

Mendaki Gunung Rinjani (3)

Sepanjang perjalanan mendaki, yang membuat saya dan Isnu semakin lama adalah kami beberapa kali berhenti untuk memasak hahaha. Entah sekedar menikmati kopi atau teh panas hingga roti bakar atau mi instan telur. Sungguh, pendaki semena-mena. Konsekuensinya, saya harus bongkar pasang isi ransel :) 

Setiap ada kesempatan, memasak
Malam itu, saya mengalami keadaan yang tidak menyenangkan. Karena hujan deras sepanjang perjalanan, saya mendaki menggunakan jaket anti air. Hingga hujan reda, jaket tersebut tidak saya lepaskan karena sudah terlalu lelah. Tiba di ujung jalur pendakian pertigaan sebelum ke Danau Segara Anak dan sebelum masuk ke kawasan perkemahan Plawangan Sembalun, saya berhenti dan menunggu Isnu yang masih berada di kawasan hutan. Lampu senter saya mainkan menunggu signal jawaban dari Isnu. Disini kesalahan fatal saya lakukan.

Baju basah tidak saya ganti. Dan saya pun menggigil hebat. Badan dan jari ku kaku. Gemetar seperti orang sedang kena ayan. Bibirku bergetar hebat dan aku terbaring di tanah. Isnu yang datang tidak berapa lama, serta merta membuang ranselnya dan berlari menolongku. Dia lalu menggosok dan memijat kaki dan jariku agar hangat. Karena sudah tidak kuat, aku lalu mendirikan tenda dan memasak sup hangat agar perut terisi dan tidak dingin. Pakaian basah lalu kuganti dengan pakaian kering. Isnu lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari si Uchan. Benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan

Hingga pukul 3 pagi, aku terbangun dan kuputuskan mendaki ke puncak sendirian. Dari jauh aku sudah melihat titik-tititk lampu bergerak keatas. Para pendaki sudah mulai berjalan menuju puncak Rinjani. Perlahan-lahan aku mulai berjalan. Sepatuku yang sudah rusak kutinggalkan dan aku menggunakan sendal jepit. Sungguh tidak nyaman namun daripada berjalan dengan sepatu boots yang basah, aku tidak mau mengambil risiko kedinginan lagi :)

Untungnya aku bertemu dengan dua orang pendaki yang ditemani seorang penunjuk jalan juga baru akan menuju puncak. Kuputuskan untuk mengikuti rombongan tersebut. Tapi, belum mulai masuk ke jalur punggungan puncak, salah satu diantaranya memutuskan untuk turun karena sudah tidak kuat. Kawannya tidak mau mendaki hanya berdua dengan penunjuk jalannya sehingga mereka bertiga memutuskan turun. Saya putuskan untuk terus naik keatas meskipun tidak tahu jalan. Namun dari kata guide tersebut, ikuti saja jalan pasir ini. 

Sungguh, mendaki tanpa persiapan itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Mendaki hanya menggunakan sendal jepit, celana panjang dan kemeja flanel sungguh menunjukkan kebodohan tingkat lanjut. Sebuah senter, kamera dan tanpa air minum menambah daftar kecerobohan saya. 

Ketika setengah perjalanan menuju puncak, GPS yang saya bawa menunjukkan ketinggian sekitar 3500 mpdl, saya merasa sudah tidak mampu lagi berjalan. Trek pasir menanjak, kehausan dan lelah membuat saya memilih untuk duduk di tepi jalan dan berharap ada pendaki yang turun membawa sisa air minum. 

Pagi itu, di lereng Gunung Rinjani, saya duduk sendirian. Dalam dingin dan angin pelan, saya menyaksikan pemandangan yang istimewa. 

Plawangan Senaru terlihat dari jalur menuju puncak Rinjani
Pemandangan spektakuler yang sungguh menenangkan hati. Manusia pasti menyukai melihat pemandangan dari ketinggian. Hanya saja tidak semuanya menyukai proses mencapainya :)

Seorang pendaki bule terlihat lari turun menuju ke Plawangan Sembalun. Lalu saya panggil dan bertanya apakah masih punya persediaan air minum. Dia lalu memberikan botol airnya dan meminta saya untuk meminum sebanyak yang saya mau. Orang baik, salah satunya, bisa diukur ketika sedang berada di gunung :) 

Ketika matahari mulai bersinar terang, saya pun bergegas untuk turun menuju ke lokasi tenda saya, yang ternyata terlihat jelas dari posisi saya sekarang. Tenda kecil tepat di tengah jalan persimpangan dengan terbuka tanpa perlindungan sama sekali hahaha. Sungguh, jangan pernah meremehkan apapun, apalagi pendakian gunung besar seperti Rinjani :)

Titik kecil ditengah jalan itu tenda saya dan
titik dibawah pepohonan itu adalah tenda Isnu haha
Saya lalu menertawakan kebodohan saya dan Isnu yang ternyata tidak sampai mencari Uchan. Barangkali dia pun sudah terlalu letih berjalan dan memutuskan mendirikan tenda di sela-sela pepohonan tidak jauh dari tempat saya mendirikan tenda. Sungguh pendaki yang semena-mena :)


No comments:

Post a Comment