Perjalanan menuju Sembalun ternyata cukup menyenangkan. Menyisir pulau sebelah timur, melewati hutan rimbun sungguh menyenangkan hati sekaligus mendebarkan jantung. Tanjakan curam dan kondisi jalan yang kurang baik sungguh perpaduan yang pas :) Biasanya , bila sedang dalam perjalanan di suatu daerah baru, saya akan betah untuk melamun dan memperhatikan apa saja dari balik kaca mobil. Membaca tulisan yang tertera di iklan atau papan penanda wilayah. Namun, kali ini saya puaskan untuk tidur :)
Pos Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani
| Isnu sedang mendengarkan penjelasan dari salah satu anggota TNI yang sedang berada di kantor TNGR |
Sekitar siang hari kami tiba di posko pendakian. Setelah melapor dan mendapatkan penjelasan tentang jalur dan kondisi terbaru dari petugas Taman Nasional, kami lalu menikmati suasana yang cukup cerah. Ransel kami letakkan di salah satu ruangan yang nantinya akan kami pergunakan sebagai tempat tidur kami malam ini sampai besok pagi mulai mendaki.
Hingga sore menjelang, ada beberapa orang pendaki juga yang mulai tampak berdatangan. Pasangan muda dari Jakarta dan satu tim keluarga dengan anak perempuan mereka berumur sekitar 12 tahun yang rencananya akan diajak mendaki besok pagi :)
Malam itu, kami akhirnya merasakan dinginnya udara pegunungan setelah sekian lama bergelut dengan cuaca panasnya kota Jogjakarta dan Semarang. Dan tidur saya pun tidak nyenyak karena seharian tadi sudah menghabiskan waktu dengan banyak tidur di perjalanan. Kawan saya dan adiknya sudah molor entah sejak jam berapa tadi.
Suasana disekitar posko ini cukup lengang meskipun sebenarnya ada perkampungan warga. Namun siapa yang tertarik duduk di berugak malam-malam di udara dingin seperti ini? Mending di dalam rumah yang hangat haha
Mulai mendaki
| Berpose sebelum mulai mendaki |
Pagi hari setelah sarapan di salah satu warung warga, kami mulai mendaki. Tanpa porter! Masing masing dari kami membawa beban sekitar hampir 30 kg. Dengan kondisi fisik yang tanpa persiapan sama sekali, kami sebenarnya mencari mati hahaha. Namun, inilah yang kami tahu tentang mendaki gunung. Kami menyukai membawa barang kami sendiri karena menurut kami, disitulah seninya :). Parahnya, sebelum mendaki, kami sempatkan dulu duduk-duduk manis sambil menikmati rokok di pagi hari menghadap gunung Rinjani yang tampak sangat gagah sekali :)
Dan bisa ditebak, perjalanan kami sungguh sangat menyiksa hahahaha. berkali-kali kami harus berhenti mengambil nafas dan langkah kami benar-benar seperti bayi yang baru belahar berjalan. Perlahan. Satu persatu. Namun si Uchan, adik kawan saya, sudah melesat jauh ke depan. Seperti yang sudah kami tebak, dia mungkin tidak sabar mengikuti langkah keong siput kami :)
| Lagi-lagi, berhenti untuk menarik nafas :) |
| Pendaki dengan porternya :) |
No comments:
Post a Comment