Tuesday, December 3, 2013

Mendaki Gunung Rinjani (4)

Saya memang tidak berhasil mencapai puncak Rinjani. Namun, saya belajar satu hal lagi disini. Bahwa mendaki gunung, bagi beberapa orang seperti saya, bukan hanya perkara mencapai puncaknya namun juga bagaimana memberi rasa senang kepada hati kita. Jangan pernah menyesal bila tidak mampu mencapai puncaknya. Bila bisa berada di gunung saja sudah membuatmu senang, itu sudah :) Mencapai puncak adalah nilai tambahnya :)

Pagi itu, karena kemarin kami banyak makan selama perjalanan, logistik kami sudah mulai menipis. Kami perkirakan hingga tiga malam kedepan, bisa-bisa kami harus berburu dan meramu seperti masa presejarah dulu hehehe. Lalu keputusan besar hadir. Kami menyetop rombongan yang akan turun dan bermaksud meminta sisa logistik mereka. Kalau perlu, kami beli hihihi. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada satu orang porter yang bermaksud turun setelah mengantarkan tamunya. Setelah kami cegat, porter itu kami beri uang untuk dibelanjakan logistik bagi kami tiga hari ke depan sekaligus kami tawarkan untuk menjadi porter kami hahaha. Rupanya dia bersedia dan berjanji akan menyusul kami keesokan harinya di danau. Malam ini dia ingin beristirahat dulu di rumahnya setelah beberapa hari di gunung. Sepertinya, hanya di gunung tempatnya kita memegang janji. Hampir bisa saya pastikan bahwa kalau di kota besar, begitu pegang uang, susah mendapat jaminan hanya dengan omongan seperti itu :)


Keesokan harinya, berangkatlah kami turun menuju Danau Segara Anak. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu dua jam, kami libas habis dengan semangat hingga... empat jam hahaha. Lagi-lagi, berhenti istirahat dan duduk memasak adalah hobi kami, dan sungguh tidak boleh menahan hobby seseorang kan? hahahaha

Duduk manis menikmati pemandangan (atau mengatur nafas?)
Dan yang mengejutkan, sekitar 15 menit sebelum kami tiba di danau Segara Anak, mas porter yang kemarin sudah menyusul kami hahaha. Dan dia baru saja naik dari posko pagi ini. Jadi bagi dia, hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat jam perjalanan dari bawah hingga ke danau. ck ck ck ck ..

Kemunculan mas porter yang saya lupa namanya itu seperti mendapatkan air minum setelah berlari 30 km :p. Dia menyiapkan kemah dan memasak untuk kami yang kemudian mempunyai waktu untuk mengambil gambar dan menikmati danau dengan sukacita. Ini seperti orang Jakarta yang sangat senang mendapati asisten rumah mereka kembali setelah lebaran hahahaha

Si Uchan menikmati air Danau Segara Anak

Sore itu, kami diajak oleh mas porter menuju ke pemandian air panas yang berada tidak begitu jauh dari danau. Oh sungguh sangat membuat kami terharu bisa menikmati kemewahan air panas di kolam alami. 

Ada tiga tingkatan air panas disini. Masing-masing mewakili tingkat panas nya. Yang paling pertama adalah tidak begitu panas hingga yang paling dengan sumber utamanya yang konon kabarnya telur bisa matang bila dimasukkan beberapa lama. 

Ketika sedang menikmati air panas tersebut, ada beberapa orang dari rombongan komunitas agama Hindu yang sedang bersiap melakukan upacara di tepi Danau. Setelah berkenalan dan ngobrol-ngobrol, kami ditantang untuk masuk ke dalam kolam yang paling panas. Oh menyentuh airnya saja seperti air panas untuk menyeduh kopi. Butuh waktu lamaaaa dan berendam lamaaa di kolam lainnya hingga kami memutuskan untuk melompat masuk karena tidak mau dianggap penakut hahaha

Ketika melompat masuk, saya berharap dalamnya tidak seberapa sehingga bisa berjalan di dasarnya, ternyata salah. Kita harus berenang dan mengambang untuk tiba di sisi sebelahnya. Sial. Panasnya benar-benar seperti merebus telur. Tidak sampai 10 detik saya tidak tahan lalu naik keatas dan membenamkan diri di dalam kolam lainnya yang kemudian tidak lagi terasa panas. Rombongan bapaka-bapak itu lalu tertawa keras dan memberi jempol sembari berteriak:"Anak-anak Jogjakarta hebat!" hahaha

Gila! Airnya panas mendidih!
Setelah berendam beberapa jam disana, rasa pegal saya serta merta hilang! saya seperti mendapatkan energi baru lagi! edan!

Sore menjelang petang itu, hujan kecil pun turun. Tidak jauh dari tenda kami, komunitas Hindu tersebut sedang melakukan upacara keagamaan. Syahdu sekali :) Saya lalu mengambil beberapa gambar sembari menutup untuk melindungi diri dari rintik hujan. Saya berusaha untuk menjaga jarak agar tidak mengganggu kekhusukan beribadah mereka.. 

Beribadah di tepi danau

mempersiapkan upacara

mempersiapkan upacara
syahdu dalam kabut

bersiap-siap
Oh iya, karena sesudah upacara, saya menawarkan diri untuk mengambil gambar mereka setelah mereka bergantian satu sama lain, saya pun diajak untuk berfoto bersama rombongan mereka. Bahkan, mereka menawarkan untuk makan bersama. Nasi panas, ikan bakar dan goreng, sayur dan teh panas? hohohoho

Mejeng.com hehehe









No comments:

Post a Comment