Tuesday, October 8, 2013

Menikmati Kehangatan di Ketinggian 2050 mdpl



Gunung Ungaran
Udara terasa sangat dingin malam ini. Suara gemericik air sungai terdengar beraturan. Angin menderu perlahan menggoyangkan alang-alang tempatku berbaring. Rerumputan basah oleh embun. Bergelung dalam kantung tidur yang kuhamparkan diatas rumput, kurasakan senyumku mengembang. Perasaan senang dan bahagia yang tulus karena perselingkuhan dengan gunung dan hutan.

Akhir pekan telah tiba! Bagi pekerja yang melewatkan kehidupan tiap minggu mereka dengan rutinitas tempat kerja, akhir pekan adalah surga yang selalu dinanti. Seperti hidup itu hanya untuk menunggu akhir pekan berikutnya. Dan kali ini, saya akan mengisi akhir pekan dengan mendaki gunung!
Menggunakan bis umum, perjalanan menuju Gunung Ungaran ditempuh sekitar satu jam dari Kota Semarang. Pemandangan khas kawasan daerah tinggi mulai tampak begitu masuk di kawasan wisata terpadu Bandungan. Jalan berkelok, angin sejuk dan tentu saja beragam jenis penginapan di kiri kanan jalan. Oh iya saya membayar sekitar Rp 7000an untuk ongkosnya.

Turun di Pasar Jimbaran, perjalanan lalu dilanjutkan menggunakan ojek sekitar 20 menit melalui desa dan jalan menanjak menuju Mawar, sebutan masyarakat setempat untuk Posko pendakian. Kondisi jalan bagus, sudah di beton. Di jalan saya melihat ada tempat wisata Umbul sidomukti yang terkenal dengan kolam renang alami empat tingkatnya dan banyak kegiatan outdoor lainnya seperti flying fox, trekking dan rapelling.
Setelah melapor di pos pendakian dan membayar biaya sebesar Rp 2.000/orang, saya mulai berjalan menyusuri jalur menanjak pendakian. Sekitar 20 menit kemudian, saya tiba di sebuah aliran sungai kecil dan memutuskan untuk beristirahat, membasuh wajah dan sekedar duduk menikmati udara sejuk di bawah rindangnya pepohonan. Tidak lama kemudian, perjalanan dihiasi oleh naik turun bukit dan hutan. Tampak di ketinggian seekor burung terbang rendah. Terlihat seperti burung elang sih J


Sekitar 30 menit kemudian, tibalah saya di areal perkebunan teh. Para buruh terlihat sedang melakukan panen dengan beragam aktivitas, seperti memotong pucuk daun teh, menimbang dan mengatur hasil panenan. Kebanyakan adalah perempuan dengan kisaran usia 20-70 tahun. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menyeruak ketika melihat seorang nenek berjalan terbungkuk dengan buntalan karung besar di punggungnya.
Terletak di ketinggian + 1300 mdpl, Dusun Promasan terdiri dari sekitar 20 rumah dan menjadi tempat tinggal bagi sebagian besar buruh. Ada sumber mata air alami bagi bagi warga dusun dan sekitarnya. Di lokasi ini jugaada gua Jepang sepanjang + 400 meter yang didalamnya terdapat ruang-ruang. Bagi para pejalan, dapat menggunakan beberapa rumah penduduk yang bagian dalamnya diberi alas papan hingga dapat dijadikan tempat tidur paling tidak 20 orang. 
nenek pemetik teh

Bila langit sedang cerah, malam hari sangat menarik hati. Taburan bintang memberi ketenangan tersendiri kepada hati. Bibir menyunggingkan senyum, bahkan tanpa alasan apapun. Bahagia itu sederhana bukan?
Malam tiba. Saya mulai berjalan menapaki jalan berbatu menanjak menuju ke hutan. Cahaya dari lampu senter menerangi langkah pastiku. Di jalan saya berpapasan dengan beberapa tim pendaki yang mendirikan kemah di sekitar jalur pendakian. Ramai sekali dengan obrolan hangat. Bukankah kebersamaan terbangun dengan berkegiatan seperti ini? Perkawanan kadang terasa lebih bermakna, bukan? Setelah melemparkan sapaan, saya meneruskan perjalanan.

Memasuki hutan, pepohonan sudah basah oleh embun. Suara angin menderu terdengar seperti gemuruh penonton sepakbola. Ranting pepohonan yang menjulur rendah memaksa beberapa kali harus berjalan menunduk.

30 menit berlalu. Beberapa anak kecil terlihat sedang duduk disekeliling api unggun yang dibuat untuk menghangatkan tubuh. Sepertinya sedang menikmati musim liburan bersama orang tuanya. Sekilas aku melihat wajah kecil mereka yang terlihat mengantuk. Dalam hati aku menyemangati mereka J
Selepas hutan, jalur mulai terbuka dan menanjak berbatu. Angin terasa semakin kencang menerpa. Kabut tebal menyelimuti. Jarak pandang tidak lebih dari lima meter. Aku mulai memperhatikan langkah. Kulirik jam tanganku dan berpikir bahwa sepertinya aku berjalan terlalu cepat.

Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Kutaksir bahwa aku akan tiba di puncak kurang dari 20 menit lagi. Menghindari berada di puncak tanpa tempat untuk berlindung dari angin kencang dan kabut tebal seperti ini, kuputuskan untuk mencari tempat beristirahat sementara hingga cuaca memungkinkan untuk bisa berada di lokasi lebih terbuka.

memilah biji kopi
Sebuah titik sekitar bebatuan dan alang-alang tinggi menjadi pilihanku. Setelah meratakan alang-alang, meletakkan ransel dan mencoba duduk senyaman mungkin, aku lalu memasak air untuk membuat minuman hangat. Segelas kopi panas benar-benar terasa nikmat sekali.

Waktu menunjukkan pukul 05.00 dan kabut tebal masih menyelimuti pandangan. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan dan tidak lama kemudian aku tiba di puncak Gunung Ungaran.

Puncak Gunung Ungaran berada pada ketinggian 2050 mdpl dengan luas kira-kira dua kali lapangan bulu tangkis. Ada monument dengan lambang TNI. Sebelah barat merupakan titik awal jalur menuju Candi Gedong Songo. Angin masih kencang dan kabut masih tebal menyelimuti puncak pagi itu, menghalangi pemandangan indah dari puncak gunung.


Hal paling menarik ketika melakukan perjalanan seperti ini adalah mendapatkan kawan baru. Pagi itu saya berbagi sarapan dengan beberapa orang lainnya. Kawan-kawan baruku pun berbagi perbekalan mereka. Obrolan hangat pun meluncur sehangat kopi dan teh panas kami. Seperti itu seharusnya bukan? Kembali ke alam mengingatkan kita sebagai manusia akan tugas kita berbagi dan hidup selaras dengan sesama. Namun, perbedaan membuat manusia seperti kehilangan jati dirinya. Pagi itu, dalam dinginnya udara pegunungan, kencangnya angin menderu dan kabut tebal yang menyelimuti, saya menemukan kehangatan dalam persaudaraan.

No comments:

Post a Comment