Sabtu, 23 Februari 2013 pukul
10.00 WIB
Begitu tiba di puncak gunung ini, aku melirik jam tangan di
pergelangan tangan kiriku. Aku sudah berlari selama satu jam. Sembari mencoba
mengatur nafas yang masih tersengal-sengal akibat mencoba berlari tanpa
berhenti di jalur yang terus menanjak ini, aku kemudian mengambil gambar sebuah
tugu yang berdiri tegak di tengah-tengah dataran seluas 2-3 kali lapangan bulu
tangkis ini. Tugu penanda puncak gunung Ungaran. Kabut tebal menutupi
pandanganku. Pagi itu, dengan tersenyum senang, aku lalu tersadar. Aku sendirian di
ketinggian + 2050 mdpl. Aku “memiliki” gunung ini untuk diriku sendiri J.
Pukul 07.30. Posko pendakian Gunung Ungaran
Dengan sengaja aku seperti
terengah-engah bernafas, berharap mengisi paru-paruku dengan udara segar
pegunungan, menumpuknya dengan udara penuh polusi perkotaan. Udara sejuk
membelai kulitku. Matakupun seperti dimanjakan oleh pemandangan alam dari
ketinggian. Nun jauh disana terlihat siluet gunung Telomoyo dan Merbabu dan
atap-atap rumah dari desa sekitar kaki gunung ini. Pepohonan cemara menjulang
tinggi seperti ingin memaku langit yang biru. Sungguh, suasana yang selalu
ingin kualami setiap pagi dalam keseharianku.
| Bersama teman-teman baru dari Jogja dan Salatiga |
Beberapa kawan yang datang
bersamaku pagi ini terlihat mulai bercengkrama dengan kawan-kawan baru kami.
Ya, pagi ini kami untuk pertama kalinya bertemu muka langsung setelah beberapa
waktu sebelumnya berkenalan di sebuah group sosial media bagi penggemar
olahraga lari. Kami mengajak mereka untuk bergabung bersama berlari di Gunung
Ungaran. Tunggu. Berlari di gunung? Berlari? Bukan di jalanan kota atau dalam
stadion olahraga pada umumnya?
Pagi itu, kami ingin mencoba
berlari dengan jarak kurang lebih 13 km dari Posko pendakian hingga ke puncak
dan kembali lagi ke Posko pendakian.
Yang menarik adalah, tidak semua kawan-kawan kami termasuk dalam
kategori “orang gila” itu. Bahkan ada yang belum pernah mendaki gunung
sebelumnya. Namun, kami masuk dalam kategori bersenang-senang bersama. Jangan
meninggalkan teman sepelarian, apalagi teman yang baru mau mengenal trail
running. Kalau mau cepat, berlarilah sendiri atau ikutlah lomba J.
Tentu saja, berfoto bersama tidak
akan lupa kami lakukan. Seperti anak sekolah yang sedang liburan bersama, kami
seperti datang kesini hanya untuk berfoto bersama dengan latar belakang
pepohonan dan siap dipamerkan di sosial media kami J.
| Bahagia itu sederhana, bukan? |
Tepat pukul 08.00, kami mulai
berlari. Beberapa kawan baru kami yang memang sudah terbiasa berlari di gunung
mulai melesat. Pagi itu mereka memang datang dari jauh untuk mencari teman
berlatih dan juga karena siang ini mereka harus segera kembali ke kota mereka.
Di awal, jalur yang dilewati
adalah datar dengan pepohonan cemara di tepi jalan setapaknya. Tidak lama
kemudian jalur menanjak terus menerus menghadang. Disini, beberapa kawan banyak
berjalan dan mulai menyesali keseharian mereka yang jarang meluangkan waktu
untuk berolahraga. Aku lalu mulai menghibur mereka dengan naik turun mengambil
gambar mereka. Tentu saja mereka tidak ingin terlihat lemah, jadi mengambil
gambar mereka adalah salah satu cara agar mereka selalu semangat berjalan
terus.
Tidak berapa lama, jalur mulai
datar. Menyusuri jalur air pegunungan. Disini beberapa kawan mulai berlari dan
yang lainnya sekedar berjalan sembari berusaha mengatur nafas setelah jalan
menanjak sebelumnya.
| Segar! |
Setelah berjalan kurang lebih 20
menit (tentu saja dengan hitungan waktu banyak berjalan J ), tibalah kami di sungai
kecil yang memotong jalur pendakian. Ada yang membasuh wajahnya merasakan air
segar pegunungan, bahkan ada yang mencoba meminum langsung seperti liputan yang
sering mereka lihat di acara-acara petualangan di televisi J.
Perjalanan lalu kami lanjutkan
dengan mulai berlari dengan teratur. Jalur naik turun bukit, pemandangan
pepohonan rimbut dan perbukitan dari jauh sungguh sangat menghibur mata kami.
Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di Dusun Promasan, dusun terakhir yang
terletak di kaki gunung Ungaran, tepat sebelum jalur menuju puncak gunung.
Dusun Promasan ini terletak di
tengah-tengah perkebunan teh. Sejauh mata memandang, kita akan di manjakan oleh
hijaunya pohon teh yang menutupi perbukitan di sekitar area ini. Sekitar 25an
rumah berderetan membentuk kompleks seperti rumah-rumah kecil di permainan
monopoli J.
Beberapa kawan memutuskan untuk
tidak melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Mereka memilih untuk menikmati
sejuknya udara dan pemandangan indah di perkebunan teh ini. Beberapa rumah pun
sudah disulap menjadi warung yang menyajikan teh panas dan panganan kecil.
Setelah mengantarkan kawan-kawan ini ke kompleks perumahan desa ini, aku
putuskan untuk berlari ke puncak sendirian setelah bayangan untuk menikmati
puncak gunung sendirian terlintas di pikiranku J.
Tentu saja alasan sebenarnya adalah aku ingin mengukur kemampuan lari gunung ku
:D
09.00 Dusun Promasan
Jalur menuju puncak sungguh
melelahkan. Tidak menyisakan jalur datar untuk sekedar mengambil nafas. Jalur
pendek sekitar 2,5 km ini penuh dengan tanjakan dan sempit seperti jalur air. Di
beberapa titik bahkan aku harus menggunakan tangan untuk menarik tubuhku.
Yang juga menyulitkan adalah
perubahan cuaca yang tiba-tiba. Angin kencang menderu datang tanpa memberi
tanda. Mendekati puncak, aku harus sesekali merebahkan tubuhku mendekati tanah
ketika mulai merasa angin terlalu kencang. Beberapa kali aku berteriak untuk
terus memberikan semangat kepada diri sendiri. Dan, sesungguhnya dengan hanya
menggunakan kaos kutung dan celana pendek, sungguh tidak sesuai berlari dengan
kondisi cuaca seperti ini.
Hingga kemudian jalan menanjak
sudah mulai habis, aku pun mulai berada di kawasan puncak. Sedikit lagi,
bibirku berkata dengan perlahan untuk, sekali lagi, memberikan semangat. Dan
ketika tugu itu tampak, perasaan lepas itu lalu datang. Aku tiba di puncak.
Sekitar 10 menit aku menikmati
kesendirianku. Semua lelah seperti
hilang ketika berjalan-jalan mengitari puncak gunung ini. Sayang, cuaca tidak
bersahabat. Kabut tebal menyambutku. Menutupi pemandangan indah yang pernah aku
lihat sebelumnya beberapa tahun lalu ketika masih gemar mendaki gunung.
Kuputuskan untuk segera turun. Dengan
penuh semangat, aku berlari turun, melompat dan sesekali bergelayut di
pepohonan. Sungguh, rasanya seperti mendapatkan tenaga baru. Dan, kurang dari
40 menit aku sudah tiba di Dusun Promasan J.
10.45 WIB Dusun Promasan
Kawan-kawanku rupanya sudah
meninggalkan dusun ini. Setelah membeli air mineral dan mengambil gambar
beberapa anak kecil yang bermain di lapangan tengah dusun, aku mulai berlari
menuju Posko pendakian. Beberapa pendaki mulai tampak berjalan beriringan
dengan ransel besar mereka menuju ke dusun ini. Kami lalu saling menyapa dan
aku menanyakan rombongan kawan-kawanku. Rupanya mereka masih berjalan turun dan
menurut rombongan pendaki ini, dengan berlari, aku bisa menyusul mereka 10
menit kemudian.
Dan ternyata benar. Dari kejauhan
aku sudah bisa mendengar gurauan mereka. Orang-orang yang beruntung, pikirku
sambil tersenyum. Bagiku, orang-orang yang mau meluangkan waktunya untuk
menikmati alam entah dengan mendaki gunung, berlari gunung atau sekedar
berkemah adalah orang-orang yang beruntung dalam hidup mereka J
Akhirnya kami tiba di Posko pendakian
bersama-sama. Para pendaki akhir pekan sudah ramai berkumpul. Anak-anak muda
yang dengan perlengkapan pendakiannya memenuji ransel besar di punggung mereka.
Aku lalu berpikir apakah masih sanggup memanggul ransel yang ukurannya hampir
menutupi postur tubuh mereka itu hingga ke puncak gunung J.
11.30 WIB Posko pendakian
Beberapa dari kami sudah siap
untuk pulang. Kawan-kawan baru kami dari luar kota sudah berganti pakaian dan
siap untuk berkendara kembali pulang. Kami memang belum bisa dikategorikan
sebagai “orang gila” seperti pelari gunung itu, namun yang kami tahu adalah
kami sudah masuk dalam proses menuju kesana. “Kegilaan” yang kami anggap lebih
waras dari kegilaan sebagian pengurus negara kami yang semakin hari semakin permanen J.
| Ceria bersama kawan |
![]() |
| 11.5K Posko Pendakian - Puncak Ungaran - Posko Pendakian |

kata orang timur "kalaassss"
ReplyDeletebisa diagendakan lagi mas
Bisa :) nanti kalau pulang Semarang ya
ReplyDelete