Thursday, October 24, 2013

Berlari ke Puncak Gunung Ungaran

Sabtu, 23 Februari 2013 pukul 10.00 WIB

Begitu tiba di puncak gunung ini, aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Aku sudah berlari selama satu jam. Sembari mencoba mengatur nafas yang masih tersengal-sengal akibat mencoba berlari tanpa berhenti di jalur yang terus menanjak ini, aku kemudian mengambil gambar sebuah tugu yang berdiri tegak di tengah-tengah dataran seluas 2-3 kali lapangan bulu tangkis ini. Tugu penanda puncak gunung Ungaran. Kabut tebal menutupi pandanganku. Pagi itu, dengan tersenyum senang, aku lalu tersadar. Aku sendirian di ketinggian + 2050 mdpl. Aku “memiliki” gunung ini untuk diriku sendiri J

Pukul 07.30. Posko pendakian Gunung Ungaran
Dengan sengaja aku seperti terengah-engah bernafas, berharap mengisi paru-paruku dengan udara segar pegunungan, menumpuknya dengan udara penuh polusi perkotaan. Udara sejuk membelai kulitku. Matakupun seperti dimanjakan oleh pemandangan alam dari ketinggian. Nun jauh disana terlihat siluet gunung Telomoyo dan Merbabu dan atap-atap rumah dari desa sekitar kaki gunung ini. Pepohonan cemara menjulang tinggi seperti ingin memaku langit yang biru. Sungguh, suasana yang selalu ingin kualami setiap pagi dalam keseharianku.
Bersama teman-teman baru dari Jogja dan Salatiga

Beberapa kawan yang datang bersamaku pagi ini terlihat mulai bercengkrama dengan kawan-kawan baru kami. Ya, pagi ini kami untuk pertama kalinya bertemu muka langsung setelah beberapa waktu sebelumnya berkenalan di sebuah group sosial media bagi penggemar olahraga lari. Kami mengajak mereka untuk bergabung bersama berlari di Gunung Ungaran. Tunggu. Berlari di gunung? Berlari? Bukan di jalanan kota atau dalam stadion olahraga pada umumnya?
Kegiatan lari gunung atau biasa disebut trail running menjadi popular di Indonesia setelah organisasi Trail Runners Indonesia dibentuk oleh segelintir “orang gila”, begitu mereka biasa menyebut diri mereka dalam beberapa sosial media. Mereka adalah penggemar lari lintas gunung nusantara yang gemar mendatangi gunung-gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 meter dpl dengan jarak bervariasi hingga lebih dari 100 km. Di kala para pendaki gunung menghabiskan waktu berhari-hari untuk mendaki Gunung Rinjani misalnya, “orang-orang gila” ini bahkan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 jam untuk berlari dengan jarak lebih dari 50 km menanjak hingga merangkak untuk tiba di puncak.

Pagi itu, kami ingin mencoba berlari dengan jarak kurang lebih 13 km dari Posko pendakian hingga ke puncak dan kembali lagi ke Posko pendakian.

Yang menarik adalah,  tidak semua kawan-kawan kami termasuk dalam kategori “orang gila” itu. Bahkan ada yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Namun, kami masuk dalam kategori bersenang-senang bersama. Jangan meninggalkan teman sepelarian, apalagi teman yang baru mau mengenal trail running. Kalau mau cepat, berlarilah sendiri atau ikutlah lomba J.

Tentu saja, berfoto bersama tidak akan lupa kami lakukan. Seperti anak sekolah yang sedang liburan bersama, kami seperti datang kesini hanya untuk berfoto bersama dengan latar belakang pepohonan dan siap dipamerkan di sosial media kami J.
Bahagia itu sederhana, bukan?


Tepat pukul 08.00, kami mulai berlari. Beberapa kawan baru kami yang memang sudah terbiasa berlari di gunung mulai melesat. Pagi itu mereka memang datang dari jauh untuk mencari teman berlatih dan juga karena siang ini mereka harus segera kembali ke kota mereka.

Di awal, jalur yang dilewati adalah datar dengan pepohonan cemara di tepi jalan setapaknya. Tidak lama kemudian jalur menanjak terus menerus menghadang. Disini, beberapa kawan banyak berjalan dan mulai menyesali keseharian mereka yang jarang meluangkan waktu untuk berolahraga. Aku lalu mulai menghibur mereka dengan naik turun mengambil gambar mereka. Tentu saja mereka tidak ingin terlihat lemah, jadi mengambil gambar mereka adalah salah satu cara agar mereka selalu semangat berjalan terus.

Tidak berapa lama, jalur mulai datar. Menyusuri jalur air pegunungan. Disini beberapa kawan mulai berlari dan yang lainnya sekedar berjalan sembari berusaha mengatur nafas setelah jalan menanjak sebelumnya.

Segar!

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit (tentu saja dengan hitungan waktu banyak berjalan J ), tibalah kami di sungai kecil yang memotong jalur pendakian. Ada yang membasuh wajahnya merasakan air segar pegunungan, bahkan ada yang mencoba meminum langsung seperti liputan yang sering mereka lihat di acara-acara petualangan di televisi J.

Perjalanan lalu kami lanjutkan dengan mulai berlari dengan teratur. Jalur naik turun bukit, pemandangan pepohonan rimbut dan perbukitan dari jauh sungguh sangat menghibur mata kami. Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di Dusun Promasan, dusun terakhir yang terletak di kaki gunung Ungaran, tepat sebelum jalur menuju puncak gunung.

Dusun Promasan ini terletak di tengah-tengah perkebunan teh. Sejauh mata memandang, kita akan di manjakan oleh hijaunya pohon teh yang menutupi perbukitan di sekitar area ini. Sekitar 25an rumah berderetan membentuk kompleks seperti rumah-rumah kecil di permainan monopoli J.

Beberapa kawan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Mereka memilih untuk menikmati sejuknya udara dan pemandangan indah di perkebunan teh ini. Beberapa rumah pun sudah disulap menjadi warung yang menyajikan teh panas dan panganan kecil. Setelah mengantarkan kawan-kawan ini ke kompleks perumahan desa ini, aku putuskan untuk berlari ke puncak sendirian setelah bayangan untuk menikmati puncak gunung sendirian terlintas di pikiranku J. Tentu saja alasan sebenarnya adalah aku ingin mengukur kemampuan lari gunung ku :D

09.00 Dusun Promasan
Jalur menuju puncak sungguh melelahkan. Tidak menyisakan jalur datar untuk sekedar mengambil nafas. Jalur pendek sekitar 2,5 km ini penuh dengan tanjakan dan sempit seperti jalur air. Di beberapa titik bahkan aku harus menggunakan tangan untuk menarik tubuhku.

Yang juga menyulitkan adalah perubahan cuaca yang tiba-tiba. Angin kencang menderu datang tanpa memberi tanda. Mendekati puncak, aku harus sesekali merebahkan tubuhku mendekati tanah ketika mulai merasa angin terlalu kencang. Beberapa kali aku berteriak untuk terus memberikan semangat kepada diri sendiri. Dan, sesungguhnya dengan hanya menggunakan kaos kutung dan celana pendek, sungguh tidak sesuai berlari dengan kondisi cuaca seperti ini.

Hingga kemudian jalan menanjak sudah mulai habis, aku pun mulai berada di kawasan puncak. Sedikit lagi, bibirku berkata dengan perlahan untuk, sekali lagi, memberikan semangat. Dan ketika tugu itu tampak, perasaan lepas itu lalu datang. Aku tiba di puncak.

Sekitar 10 menit aku menikmati kesendirianku. Semua  lelah seperti hilang ketika berjalan-jalan mengitari puncak gunung ini. Sayang, cuaca tidak bersahabat. Kabut tebal menyambutku. Menutupi pemandangan indah yang pernah aku lihat sebelumnya beberapa tahun lalu ketika masih gemar mendaki gunung.
Kuputuskan untuk segera turun. Dengan penuh semangat, aku berlari turun, melompat dan sesekali bergelayut di pepohonan. Sungguh, rasanya seperti mendapatkan tenaga baru. Dan, kurang dari 40 menit aku sudah tiba di Dusun Promasan J.

10.45 WIB Dusun Promasan
Kawan-kawanku rupanya sudah meninggalkan dusun ini. Setelah membeli air mineral dan mengambil gambar beberapa anak kecil yang bermain di lapangan tengah dusun, aku mulai berlari menuju Posko pendakian. Beberapa pendaki mulai tampak berjalan beriringan dengan ransel besar mereka menuju ke dusun ini. Kami lalu saling menyapa dan aku menanyakan rombongan kawan-kawanku. Rupanya mereka masih berjalan turun dan menurut rombongan pendaki ini, dengan berlari, aku bisa menyusul mereka 10 menit kemudian.
Dan ternyata benar. Dari kejauhan aku sudah bisa mendengar gurauan mereka. Orang-orang yang beruntung, pikirku sambil tersenyum. Bagiku, orang-orang yang mau meluangkan waktunya untuk menikmati alam entah dengan mendaki gunung, berlari gunung atau sekedar berkemah adalah orang-orang yang beruntung dalam hidup mereka J

Akhirnya kami tiba di Posko pendakian bersama-sama. Para pendaki akhir pekan sudah ramai berkumpul. Anak-anak muda yang dengan perlengkapan pendakiannya memenuji ransel besar di punggung mereka. Aku lalu berpikir apakah masih sanggup memanggul ransel yang ukurannya hampir menutupi postur tubuh mereka itu hingga ke puncak gunung J.   

11.30 WIB Posko pendakian

Beberapa dari kami sudah siap untuk pulang. Kawan-kawan baru kami dari luar kota sudah berganti pakaian dan siap untuk berkendara kembali pulang. Kami memang belum bisa dikategorikan sebagai “orang gila” seperti pelari gunung itu, namun yang kami tahu adalah kami sudah masuk dalam proses menuju kesana. “Kegilaan” yang kami anggap lebih waras dari kegilaan sebagian pengurus negara kami yang semakin  hari semakin permanen J
Ceria bersama kawan
11.5K Posko Pendakian - Puncak Ungaran - Posko Pendakian

2 comments: