Namanya adalah Nik Nasrullah.
Umurnya sekitar 34 tahun. Orangnya ramah, selalu tersenyum dan senang ngobrol dengan orang lain.
Berperawakan tinggi, kulit coklat mendekati gelap :), Nik begitu kemudian saya
memanggilnya, adalah asli dari Malaysia. Ini kali keduanya ke Indonesia, dan
kedua-duanya adalah untuk liburan, namun kali ini dia mengisinya dengan liburan
unik. Mengikuti acara lomba lari mengejar kereta uap :). Tunggu dulu. Lari ngejar kereta? *mengernyitkan kening. Hehehe. Sabar, nanti saya ceritakan deh.
![]() |
| Peserta di titik start |
Nik mengaku baru senang dengan
kegiatan berlari setahun terakhir ini. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu
dengan bekerja, mengurus bisnisnya, seperti kebanyakan kita. Pola hidup tak sehat pun menjadi santapan
sehari-harinya. Bertahun-tahun hidup seperti itu, Nik mengaku ada yang kosong
dalam hidupnya. Meskipun secara ekonomi berkecukupan, namun kualitas bersama anak
dan istrinya berkurang. Tubuhnya seperti setiap hari menjadi “rusak”. Hingga
suatu hari, ketika sedang berada di sebuah hotel di luar kota, dia memutuskan
untuk berlari mendaki bukit yang dia lihat dari balik jendela hotelnya.
Seperti yang sudah ia duga sebelumnya,
Nik merasa ingin berhenti dan kembali ke hotelnya. Rasa capek yang tak
tertahankan membuatnya lebih banyak berjalan daripada berlari. Namun, ia tak
ingin menyerah dan jarak sekitar 5 km pun ia selesaikan dengan catatan waktu
lebih dari 1 jam, Nik mencoba mengingat pengalaman lari pertamanya disela-sela
obrolan kami malam itu di teras. Udara sejuk ala daerah tinggi membuat kami berkali-kali menarik rapat jaket tipis kami.
Sejak saat itu, Nik mulai rajin
berolahraga dan mengikuti berbagai macam perlombaan di Malaysia. Bahkan kini,
dia sudah mengikuti perlombaan lari mulai dari 10 km hingga marathon 42K. Nik
merasa hidupnya jauh lebih berkualitas sekarang.
Mungkin, mereka yang tidak sempat
berolahraga perlu sesekali melihat diluar keseharian mereka. Tengoklah,
misalnya, orang-orang ini. Ya, sekitar 200 orang berdatangan dari penjuru
Indonesia bahkan dari luar Indonesia, berkumpul bersama pagi itu untuk
mengikuti acara lomba lari trail to rails yang diadakan oleh Mesastila Hotels and Resorts.
Rencananya, mereka akan berlari sejauh
21 km menyusuri rel kereta api, menyusuri pematang sawah,
perbukitan menanjak dan pedesaan. Lomba yang dimulai dari stasiun kereta uap Ambarawa
ini adalah ajang tahunan yang sudah dimulai sejak 2011 silam. HIngga kini,
peminatnya selalu bertambah setiap tahunnya. Uniknya, diawal perlombaan, peserta akan mengejar kereta api uap yang berjalan sekitar 30 menit sebelum bendera start dikibarkan :)
![]() |
| teman-teman Semarang Runners |
![]() |
| Berfoto dengan peserta lain |
Tidak banyak lomba lari yang unik
seperti ini. Hal itulah yang membuat Nik dan peserta dari luar Indonesia
lainnya untuk ikut serta berlari mengejar kereta uap wisata ini.
Ambarawa adalah salah satu kota
yang terdapat di Propinsi Jawa Tengah. Terkenal dengan istilah Palagan
Ambarawanya, kota ini menawarkan keindahan daerah khas di kaki gunung. Bila
cuaca sedang cerah, gunung Merbabu, Ungaran dan Telomoyo dapat terlihat dengan
gagahnya. di kota ini pula terdapat sebuah museum kereta api yang menjadi salah
satu tujuan wisata. Sebuah kereta uap tua dua gerbong melayani wisatawan dengan
jalur rel menanjak. Jalur yang nantinya akan menjadi jalur lomba lari kami pagi
ini.
Tepat pukul 07.30, lomba dimulai.
Peserta tercepat sudah melesat. Saya dan beberapa peserta penggembira lainnya
bahkan masih menghabiskan waktu untuk berfoto bersama teman-teman baru kami
hehehe.
Cuaca panas, jalur kerikil dan
rel kereta adalah kombinasi yang tepat untuk menyulitkan peserta. Betapa tidak,
peserta harus senantian melihat kebawah untuk memastikan pijakan mereka pas dan
tidak membuat kaki tergelincir atau keseleo. Jalan menanjak dan sesekali
melewati jembatan rusak dengan ketinggian mencapai 10 m sungguh membuat orang
jadi lebih waspada. Hanya mereka yang terlatih yang benar-benar bisa lari melewati titik-titik seperti ini.
Pemandangan menarik mulai menarik
perhatian saya. Beberapa kali saya berhenti untuk mengambil gambar areal
persawahan dengan latar belakang jejeran perbukitan dan langit yang sungguh
sangat cerah. Anak-anak kecil yang menonton kami di tepi rel kereta api pun
bertepuk tangan dan itu seperti memberikan kami semangat untuk terus berlari.
![]() |
| Antri :) |
Jalan menanjak sejauh 10 km sesungguhnya belum terasa melelahkan karena pemandangan yang indah dan tentu saja, saya masih semangat untuk mengambil gambar dan video. Pos pemberhentian pun cukup banyak dengan menyediakan air mineral dan energy. Buah pisang pun diberikan di pos-pos tertentu.
Setelah kurang lebih 1,5 jam
berlari, saya mulai merasa lelah. Pertama, karena cuaca mulai terasa panas.
Kedua, jalur di km 13 ini sungguh membosankan. Perumahan di desa, jalan aspal
yang itu-itu saja membuat saya cepat merasa lelah. Saya lebih menyukai jalan
tanah atau trail meskipun menanjak namun menyenangkan hati. Kecepatan lari saya mulai menurun. Mungkin 8
menit per km.
Mendekati finish, sekitar 800
meter, adalah jalan menanjak berundak-undak. Ini benar-benar membuat saya
seperti kehabisan nafas. Langkah saya sudah seperti tidak bertenaga lagi.
Lagi-lagi, cuaca panas benar-benar membuat saya lelah.
2 jam 50 menit adalah waktu tempuh
saya untuk 21 km. Bukan catatan waktu yang bagus sebenarnya, namun tidak masalah. Saya menikmati lelarian sambil mengambil gambar orang-orang yang sedang bersenang-senang :) *cara ngeles nihh hahaha.
Di titik finish, saya lalu mencari petugas medis untuk memberikan obat pada luka di lutut saya yang berdarah dan sedikit bengkak. Konyolnya, ini bukan karena jatuh di jalur lari tapi di tangga berbatu pagi ini di penginapan :) . Jadi sebenarnya saya berlari dengan sedikit menahan rasa sakit akibat lutut yang bengkak hehehe.
Di titik finish, saya lalu mencari petugas medis untuk memberikan obat pada luka di lutut saya yang berdarah dan sedikit bengkak. Konyolnya, ini bukan karena jatuh di jalur lari tapi di tangga berbatu pagi ini di penginapan :) . Jadi sebenarnya saya berlari dengan sedikit menahan rasa sakit akibat lutut yang bengkak hehehe.
![]() |
| melewati rel kereta api |
Saya melihat Nik sudah terlebih
dahulu tiba. Dia sedang duduk di kursi sembari memijit betisnya. Kami lalu
bersalaman dan berangkulan saling memberi selamat. Dia tiba 10 menit lebih dulu
dari saya.
![]() |
| Shoes on and run!
Mungkin, bagi orang seperti Nik
dan saya, mengikuti lomba lari seperti ini adalah bagian dari cara kami untuk
bersenang-senang, bukan untuk mengejar hadiah atau gelar. Kami sadar, ada orang
yang memang hidup dari lomba-lomba seperti ini sehingga untuk bersaing dengan
mereka, adalah hal terakhir yang ingin kami lakukan. Mengikuti lomba lari
adalah cara kami untuk menikmati hidup, mendapatkan kawan baru dan
syukur-syukur ikut mempromosikan perdamaian dunia melalui olahraga lari :)
|






Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!
ReplyDelete