Tuesday, October 22, 2013

Berlari Mengejar Kereta Uap

Namanya adalah Nik Nasrullah. Umurnya sekitar 34 tahun. Orangnya ramah, selalu tersenyum dan senang ngobrol dengan orang lain. Berperawakan tinggi, kulit coklat mendekati gelap :), Nik begitu kemudian saya memanggilnya, adalah asli dari Malaysia. Ini kali keduanya ke Indonesia, dan kedua-duanya adalah untuk liburan, namun kali ini dia mengisinya dengan liburan unik. Mengikuti acara lomba lari mengejar kereta uap :). Tunggu dulu. Lari ngejar kereta? *mengernyitkan kening. Hehehe. Sabar, nanti saya ceritakan deh.

Peserta di titik start
Nik mengaku baru senang dengan kegiatan berlari setahun terakhir ini. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu dengan bekerja, mengurus bisnisnya, seperti kebanyakan kita. Pola hidup tak sehat pun menjadi santapan sehari-harinya. Bertahun-tahun hidup seperti itu, Nik mengaku ada yang kosong dalam hidupnya. Meskipun secara ekonomi berkecukupan, namun kualitas bersama anak dan istrinya berkurang. Tubuhnya seperti setiap hari menjadi “rusak”. Hingga suatu hari, ketika sedang berada di sebuah hotel di luar kota, dia memutuskan untuk berlari mendaki bukit yang dia lihat dari balik jendela hotelnya.

Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, Nik merasa ingin berhenti dan kembali ke hotelnya. Rasa capek yang tak tertahankan membuatnya lebih banyak berjalan daripada berlari. Namun, ia tak ingin menyerah dan jarak sekitar 5 km pun ia selesaikan dengan catatan waktu lebih dari 1 jam, Nik mencoba mengingat pengalaman lari pertamanya disela-sela obrolan kami malam itu di teras. Udara sejuk ala daerah tinggi membuat kami berkali-kali menarik rapat jaket tipis kami.

Sejak saat itu, Nik mulai rajin berolahraga dan mengikuti berbagai macam perlombaan di Malaysia. Bahkan kini, dia sudah mengikuti perlombaan lari mulai dari 10 km hingga marathon 42K. Nik merasa hidupnya jauh lebih berkualitas sekarang.

Cerita Nik adalah pengalaman yang banyak dirasakan oleh orang awam. Berolahraga di sela-sela kesibukan kaum pekerja hampir bisa dikatakan hal yang mustahil. Berangkat dari rumah pukul 06.00, terjebak kemacetan jalanan, pulang hampir petang dengan kemacetan yang sama adalah cerita umum yang membuat orang malas berolahraga. Akhir pekan pun kemudian diisi dengan jalan-jalan bersama keluarga ke mall atau luar kota. Olahraga, kata beberapa orang, hanya konsumsi mereka yang sudah kaya atau pengangguran :)

Mungkin, mereka yang tidak sempat berolahraga perlu sesekali melihat diluar keseharian mereka. Tengoklah, misalnya, orang-orang ini. Ya, sekitar 200 orang berdatangan dari penjuru Indonesia bahkan dari luar Indonesia, berkumpul bersama pagi itu untuk mengikuti acara lomba lari trail to rails yang diadakan oleh Mesastila Hotels and Resorts. Rencananya,  mereka akan berlari sejauh 21 km menyusuri rel kereta api, menyusuri pematang sawah, perbukitan menanjak dan pedesaan. Lomba yang dimulai dari stasiun kereta uap Ambarawa ini adalah ajang tahunan yang sudah dimulai sejak 2011 silam. HIngga kini, peminatnya selalu bertambah setiap tahunnya. Uniknya, diawal perlombaan, peserta akan mengejar kereta api uap yang berjalan sekitar 30 menit sebelum bendera start dikibarkan :)


teman-teman Semarang Runners


Berfoto dengan peserta lain
Tidak banyak lomba lari yang unik seperti ini. Hal itulah yang membuat Nik dan peserta dari luar Indonesia lainnya untuk ikut serta berlari mengejar kereta uap wisata ini.

Ambarawa adalah salah satu kota yang terdapat di Propinsi Jawa Tengah. Terkenal dengan istilah Palagan Ambarawanya, kota ini menawarkan keindahan daerah khas di kaki gunung. Bila cuaca sedang cerah, gunung Merbabu, Ungaran dan Telomoyo dapat terlihat dengan gagahnya. di kota ini pula terdapat sebuah museum kereta api yang menjadi salah satu tujuan wisata. Sebuah kereta uap tua dua gerbong melayani wisatawan dengan jalur rel menanjak. Jalur yang nantinya akan menjadi jalur lomba lari kami pagi ini.

Tepat pukul 07.30, lomba dimulai. Peserta tercepat sudah melesat. Saya dan beberapa peserta penggembira lainnya bahkan masih menghabiskan waktu untuk berfoto bersama teman-teman baru kami hehehe.

Cuaca panas, jalur kerikil dan rel kereta adalah kombinasi yang tepat untuk menyulitkan peserta. Betapa tidak, peserta harus senantian melihat kebawah untuk memastikan pijakan mereka pas dan tidak membuat kaki tergelincir atau keseleo. Jalan menanjak dan sesekali melewati jembatan rusak dengan ketinggian mencapai 10 m sungguh membuat orang jadi lebih waspada. Hanya mereka yang terlatih yang benar-benar bisa lari melewati titik-titik seperti ini.

Pemandangan menarik mulai menarik perhatian saya. Beberapa kali saya berhenti untuk mengambil gambar areal persawahan dengan latar belakang jejeran perbukitan dan langit yang sungguh sangat cerah. Anak-anak kecil yang menonton kami di tepi rel kereta api pun bertepuk tangan dan itu seperti memberikan kami semangat untuk terus berlari.


Antri :)



Jalan menanjak sejauh 10 km sesungguhnya belum terasa melelahkan karena pemandangan yang indah dan tentu saja, saya masih semangat untuk mengambil gambar dan video. Pos pemberhentian pun cukup banyak dengan menyediakan air mineral dan energy. Buah pisang pun diberikan di pos-pos tertentu.


jalurnya unik :)

Setelah kurang lebih 1,5 jam berlari, saya mulai merasa lelah. Pertama, karena cuaca mulai terasa panas. Kedua, jalur di km 13 ini sungguh membosankan. Perumahan di desa, jalan aspal yang itu-itu saja membuat saya cepat merasa lelah. Saya lebih menyukai jalan tanah atau trail meskipun menanjak namun menyenangkan hati.  Kecepatan lari saya mulai menurun. Mungkin 8 menit per km.

Mendekati finish, sekitar 800 meter, adalah jalan menanjak berundak-undak. Ini benar-benar membuat saya seperti kehabisan nafas. Langkah saya sudah seperti tidak bertenaga lagi. Lagi-lagi, cuaca panas benar-benar membuat saya lelah.

2 jam 50 menit adalah waktu tempuh saya untuk 21 km. Bukan catatan waktu yang bagus sebenarnya, namun tidak masalah. Saya menikmati lelarian sambil mengambil gambar orang-orang yang sedang bersenang-senang :) *cara ngeles nihh hahaha. 

Di titik finish, saya lalu mencari petugas medis untuk memberikan obat pada luka di lutut saya yang berdarah dan sedikit bengkak. Konyolnya, ini bukan karena jatuh di jalur lari tapi di tangga berbatu pagi ini di penginapan :) . Jadi sebenarnya saya berlari dengan sedikit menahan rasa sakit akibat lutut yang bengkak hehehe.

melewati rel kereta api

Saya melihat Nik sudah terlebih dahulu tiba. Dia sedang duduk di kursi sembari memijit betisnya. Kami lalu bersalaman dan berangkulan saling memberi selamat. Dia tiba 10 menit lebih dulu dari saya.

Shoes on and run!

Mungkin, bagi orang seperti Nik dan saya, mengikuti lomba lari seperti ini adalah bagian dari cara kami untuk bersenang-senang, bukan untuk mengejar hadiah atau gelar. Kami sadar, ada orang yang memang hidup dari lomba-lomba seperti ini sehingga untuk bersaing dengan mereka, adalah hal terakhir yang ingin kami lakukan. Mengikuti lomba lari adalah cara kami untuk menikmati hidup, mendapatkan kawan baru dan syukur-syukur ikut mempromosikan perdamaian dunia melalui olahraga lari :)



1 comment:

  1. Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!

    ReplyDelete