| Pemandangan di puncak gunung Prahu kala pagi hari |
“ Kenapa para pendaki pada nggak
mau ranselnya dibawakan ya mas? Apa takut dibawa lari ya?” tanya Rafiq, pemandu
saya dini hari itu. Berjalan perlahan di belakangnya, saya hanya tersenyum dan
memikirkan jawaban apa yang sekiranya paling masuk akal yang bisa kuberikan
padanya.
“Mungkin para pendaki itu merasa tidak lengkap mendaki gunung kalau tidak bersusah payah memanggul ranselnya hingga ke puncak gunung, mas ”Jawabku sembari tetap memperhatikan pijakan menanjak dalam gelapnya malam. Angin dingin yang menusuk tulang mulai membekukan jari-jariku.
“Mungkin para pendaki itu merasa tidak lengkap mendaki gunung kalau tidak bersusah payah memanggul ranselnya hingga ke puncak gunung, mas ”Jawabku sembari tetap memperhatikan pijakan menanjak dalam gelapnya malam. Angin dingin yang menusuk tulang mulai membekukan jari-jariku.
“Ooo.. gitu ya mas. Soalnya
anak-anak (teman-teman pemandu, penulis)
disini nggak mungkin macam-macam mas sama tamu. Itu sama aja menghilangkan
rejekinya sendiri. Anak-anak pasti berusaha membuat tamunya puas, mas, biar
kalau kesini, mereka mau sama kita lagi..” jawabnya sembari mengarahkan lampu
senternya mungkin sekedar mengecek apakah saya butuh istirahat atau tetap
melanjutkan perjalanan menanjak dan berdebu ini. Kalimat Rafiq terakhir sempat
membuat saya tersenyum geli, mengingat kembali masa-masa ketika saya masih
aktif melakukan pendampingan pekerja seks di kota Semarang. Kalimat dan
tujuannya sama namun dalam konteks yang berbeda J
Perkenalan saya dengan Rafiq sore
hari sebelumnya membawa saya kepada perjalanan pendakian kali ini. Setelah
mengungkapkan keinginan untuk berada di salah satu puncak gunung di kawasan
Dataran Tinggi Dieng ini, Rafiq lalu bersedia mengantarkan saya menuju salah
satu lokasi untuk menyaksikan matahari terbit paling indah disini.
| Rafiq melangkah turun |
Gunung Prahu terletak di perbatasan
dua kabupaten yaitu Kendal dan Wonosobo, gunung yang memiliki ketinggian puncak
hingga 2.565 m dpl ini masih belum sepopuler obyek wisata lainnya di Dataran
Tinggi Dieng. Para pelancong lebih mengenal Telaga Warna, Kawah Sikidang atau
Komplek Candi Arjuna. Untuk menyaksikan matahari terbit, mereka lebih cenderung
menunggu dari Gunung Sikunir yang relatif lebih mudah untuk dikunjungi.
Menurut Rafiq, biasanya yang
datang ke Gunung Prahu adalah mereka yang sudah terbiasa dengan kegiatan
mendaki gunung atau berkemah. “ Setidaknya butuh waktu dua jam untuk sampai di
puncak dan 30 menit lagi untuk tiba di lokasi paling bagus untuk melihat
matahari terbit,” Jelas Rafiq. “Jalurnya banyak menanjak meskipun lewat sini
lebih mudah daripada lewat Patak Banteng. Menanjak terus mas. Mas mungkin
bakalan setengah mati, nggak bisa jalan secepat ini, ” tambahnya sambil terkekeh-kekeh.
Saya hanya tersenyum dan kembali mengatur nafas. Tas punggung berisi
perlengkapan foto saya terasa makin berat seiring dengan makin menanjaknya
jalur pendakian ini.
Melewati jalur tanjakan pertama,
saya meminta Rafiq untuk berhenti sejenak beristirahat. Kami lalu berbagi air
minum. Sembari mengatur nafas, saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling
tempat agak terbuka ini. Senyum saya seketika mengembang melihat titik-titik
cahaya dari kejauhan dan ketinggian yang membentuk sebuah koloni seperti
kurang-kurang yang bergerombol. Kumpulang titik-titik cahaya yang berasal dari
rumah-rumah desa itu terhubung dengan lampu jalanan yang berujung pada kumpulan
titik-titik cahaya lagi. Gelapnya malam, terangnya cahaya bintang di langit dan
terpaan angin dingin di wajahku seketika menyeruakkan perasaan bahagia.
Bukankah bahagia itu sederhana, kawan?
5 menit berlalu, kami lalu
memutuskan kembali berjalan. Angin dingin mulai menggigit mengingatkanku untuk
kembali berjalan. Tanjakan lain menunggu di depan.
| matahari mulai bersinar terik |
Setelah berjalan sekitar satu
jam, tibalah kami di puncak Gunung Prahu. Titik puncak pertama ini dipenuhi
oleh tiang-tiang menara repeater milik
beberapa institusi pemerintah seperti TNI dan POLRI untuk keperluan komunikasi
radio mereka. Lokasi Gunung Prahu yang terletak di dataran tinggi perbatasan
beberapa kabupaten sangat membantu melancarkan signal komunikasi. Rafiq lalu
bercerita proses pembangunannya.
“ Saya dan sekitar 15 penduduk
sini yang memikul tiang-tiang besi ini, mas. Belum lagi sak semen dan peralatan
lainnya, “ ceritanya sambil memegang pagar besi yang mengelilingi kompleks
menara ini. “ Dalam sehari saya bisa naik sampe tiga kali memanggul besi atau
semen. Bikin ini sampe 10, mas ,” tambahnya. “ “Satu kali pikulan sampe 50 kg
lho mas. Karena jalan menanjak, rasanya lebih berat, “ jelasnya.
Membayangkannya saja saya sudah lemas. “ Yang paling susah dibawa itu yang ini
mas ,” tambah Rafiq sambil memegang pagar besi pembatas. “ Bentuknya sudah
seperti ini jadi ya bawa kesini butuh waktu lama,” ceritanya.
Sayup-sayup aku mendengar suara dari masjid. Kulirik jam
tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.00.
Masih lama hingga matahari terbit. Di kawasan puncak Gunung Prahu ini
hampir tidak ada titik untuk berlindung dari terpaan angin kencang. Rafiq lalu
mengajak untuk mulai berjalan menyisiri punggunggan puncak gunung menuju lokasi
paling baik menyaksikan matahari terbit. Jalur relatif datar membuat jalan kami
lebih cepat. Tidak sampai 15 menit kami tiba di tempat yang seperti
berbukit-bukit luas ala savanna di perjalanan dari Sembalun menuju Plawangan
Sembalun di Gunung Rinjani.
Angin terasa semakin kencang.
Dingin tak tertahankan lagi. Seperti biasanya para pengantar jalan, Rafiq hanya
berbekal jaket biasa dan sarung. “ Baru kali ini mas anginnya sekencang ini.
Minggu lalu saya mengantar tamu, tidak seperti ini,” ceritanya sembari menahan
dingin dengan membungkus dirinya dengan sarung. “ Makanya saya cuma pakai
celana panjang lapis satu. Tau gini sedingin ini, saya pakai dua lapis,”
tambahnya sambil berjalan-jalan disekitar lokasi duduk kami di balik
semak-semak.
Kurang lebih satu jam kami
tersiksa dihantam kencangnya angin di puncak Gunung Prahu hingga semburat garis
merah perlahan mulai terlihat. Siluet gunung dari kejauhan mulai tampak. Kabut
yang menyelimutinya pun mulai terlihat. Warna hangatnya mentari mulai memenuhi
permukaan rerumputan dan bunga daisy yang bertebaran di permukaan tanah. Samar-samar
bangunan rumah di desa perlahan terlihat. Begitu pula dengan Telaga Warna.
Sekitar pukul 05.30, matahari
mulai terlihat. Bulat seperti kuning telur mata sapi raksasa. Mulai terlihat
hanya setengah hingga bulat utuhnya memenuhi siklus harian alam semesta.
Semuanya terjadi hanya dalam hitungan menit. Bisa kurasakan senyumku mengembang
dari balik kamera yang sedari tadi sudah kupersiapkan diatas kaki tiga.
Jari-jariku yang beku sejak tiba disini sudah tidak kuhiraukan lagi. Ujung jari
telunjukku sibuk menekan tombol shutter, sembari melawan kencangnya angin yang
menggoyangkan kameraku.
Tidak berapa lama hingga matahari
terlihat jelas dan mulai menyilaukan. Rafiq pun sibuk mengambil gambar dengan
kamera dari telepon selulernya. Untuk ditunjukkan kepada tamu-tamunya, begitu
katanya ketika aku mengambil gambarnya.
Saya menyambut pagi dengan
perasaan senang. Ketika pagi sudah terang, terlihat jelas gunung-gunung di Jawa
Tengah dan Telaga Warna yang warna hijaunya tampak kecil seperti kolam ikan
yang jarang dibersihkan. Bukit-bukit yang berjejer bergelombang mengingatkanku
akan serial animasi anak-anak Teletubbies. Saya berusaha untuk menjaga langkah
kaki agar tidak menginjak bunga yang memiliki daun putih dan ungu ini yang
banyak ditemukan di area puncak gunung ini. Jalur khusus yang dilewati pendaki
memang belum tersedia disini. Jalur yang jelas berhenti diawal memasukin
kawasan bukit Teletubbies ini.
Langit biru menghiasi pegunungan.
Menara repeater tampak jelas di punggungan sebelah utara. Udara mulai terasa
hangat. Jari-jari yang seperti beku mulai tampak memerah oleh aliran darah.
Pukul 06.30 kami bersiap untuk
turun. Saya hendak mengejar bis ke Semarang pagi ini untuk kembali ke ibukota
sore harinya. Berjalan dengan riang seperti anak kecil yang hendak main ke
sungai beramai-ramai, tampak dari kejauhan jalur pendakian berkelok-kelok.
Pemandangan menakjubkan dengan udara segar pegunungan sungguh sangat sayang
untuk saya tinggalkan. Sungguh, saya tidak ingin pergi meninggalkan pagi di
Gunung Prahu J
asik kali !!
ReplyDeletekali asik !!
ReplyDelete