Tuesday, October 8, 2013

Naik Prahu di Dataran Tinggi Dieng


Pemandangan di puncak gunung Prahu kala pagi hari
“ Kenapa para pendaki pada nggak mau ranselnya dibawakan ya mas? Apa takut dibawa lari ya?” tanya Rafiq, pemandu saya dini hari itu. Berjalan perlahan di belakangnya, saya hanya tersenyum dan memikirkan jawaban apa yang sekiranya paling masuk akal yang bisa kuberikan padanya.

“Mungkin para pendaki itu merasa tidak lengkap mendaki gunung kalau tidak bersusah payah memanggul ranselnya hingga ke puncak gunung, mas ”Jawabku  sembari tetap memperhatikan pijakan menanjak dalam gelapnya malam. Angin dingin yang menusuk tulang mulai membekukan jari-jariku.

“Ooo.. gitu ya mas. Soalnya anak-anak (teman-teman pemandu, penulis) disini nggak mungkin macam-macam mas sama tamu. Itu sama aja menghilangkan rejekinya sendiri. Anak-anak pasti berusaha membuat tamunya puas, mas, biar kalau kesini, mereka mau sama kita lagi..” jawabnya sembari mengarahkan lampu senternya mungkin sekedar mengecek apakah saya butuh istirahat atau tetap melanjutkan perjalanan menanjak dan berdebu ini. Kalimat Rafiq terakhir sempat membuat saya tersenyum geli, mengingat kembali masa-masa ketika saya masih aktif melakukan pendampingan pekerja seks di kota Semarang. Kalimat dan tujuannya sama namun dalam konteks yang berbeda J


Perkenalan saya dengan Rafiq sore hari sebelumnya membawa saya kepada perjalanan pendakian kali ini. Setelah mengungkapkan keinginan untuk berada di salah satu puncak gunung di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini, Rafiq lalu bersedia mengantarkan saya menuju salah satu lokasi untuk menyaksikan matahari terbit paling indah disini.

Rafiq melangkah turun
Gunung Prahu terletak di perbatasan dua kabupaten yaitu Kendal dan Wonosobo, gunung yang memiliki ketinggian puncak hingga 2.565 m dpl ini masih belum sepopuler obyek wisata lainnya di Dataran Tinggi Dieng. Para pelancong lebih mengenal Telaga Warna, Kawah Sikidang atau Komplek Candi Arjuna. Untuk menyaksikan matahari terbit, mereka lebih cenderung menunggu dari Gunung Sikunir yang relatif lebih mudah untuk dikunjungi.  

Menurut Rafiq, biasanya yang datang ke Gunung Prahu adalah mereka yang sudah terbiasa dengan kegiatan mendaki gunung atau berkemah. “ Setidaknya butuh waktu dua jam untuk sampai di puncak dan 30 menit lagi untuk tiba di lokasi paling bagus untuk melihat matahari terbit,” Jelas Rafiq. “Jalurnya banyak menanjak meskipun lewat sini lebih mudah daripada lewat Patak Banteng. Menanjak terus mas. Mas mungkin bakalan setengah mati, nggak bisa jalan secepat ini, ” tambahnya sambil terkekeh-kekeh. Saya hanya tersenyum dan kembali mengatur nafas. Tas punggung berisi perlengkapan foto saya terasa makin berat seiring dengan makin menanjaknya jalur pendakian ini.

Melewati jalur tanjakan pertama, saya meminta Rafiq untuk berhenti sejenak beristirahat. Kami lalu berbagi air minum. Sembari mengatur nafas, saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat agak terbuka ini. Senyum saya seketika mengembang melihat titik-titik cahaya dari kejauhan dan ketinggian yang membentuk sebuah koloni seperti kurang-kurang yang bergerombol. Kumpulang titik-titik cahaya yang berasal dari rumah-rumah desa itu terhubung dengan lampu jalanan yang berujung pada kumpulan titik-titik cahaya lagi. Gelapnya malam, terangnya cahaya bintang di langit dan terpaan angin dingin di wajahku seketika menyeruakkan perasaan bahagia. Bukankah bahagia itu sederhana, kawan?

5 menit berlalu, kami lalu memutuskan kembali berjalan. Angin dingin mulai menggigit mengingatkanku untuk kembali berjalan. Tanjakan lain menunggu di depan.

matahari mulai bersinar terik
Setelah berjalan sekitar satu jam, tibalah kami di puncak Gunung Prahu. Titik puncak pertama ini dipenuhi oleh tiang-tiang menara repeater milik beberapa institusi pemerintah seperti TNI dan POLRI untuk keperluan komunikasi radio mereka. Lokasi Gunung Prahu yang terletak di dataran tinggi perbatasan beberapa kabupaten sangat membantu melancarkan signal komunikasi. Rafiq lalu bercerita proses pembangunannya.

“ Saya dan sekitar 15 penduduk sini yang memikul tiang-tiang besi ini, mas. Belum lagi sak semen dan peralatan lainnya, “ ceritanya sambil memegang pagar besi yang mengelilingi kompleks menara ini. “ Dalam sehari saya bisa naik sampe tiga kali memanggul besi atau semen. Bikin ini sampe 10, mas ,” tambahnya. “ “Satu kali pikulan sampe 50 kg lho mas. Karena jalan menanjak, rasanya lebih berat, “ jelasnya. Membayangkannya saja saya sudah lemas. “ Yang paling susah dibawa itu yang ini mas ,” tambah Rafiq sambil memegang pagar besi pembatas. “ Bentuknya sudah seperti ini jadi ya bawa kesini butuh waktu lama,” ceritanya.

Sayup-sayup aku  mendengar suara dari masjid. Kulirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.00.  Masih lama hingga matahari terbit. Di kawasan puncak Gunung Prahu ini hampir tidak ada titik untuk berlindung dari terpaan angin kencang. Rafiq lalu mengajak untuk mulai berjalan menyisiri punggunggan puncak gunung menuju lokasi paling baik menyaksikan matahari terbit. Jalur relatif datar membuat jalan kami lebih cepat. Tidak sampai 15 menit kami tiba di tempat yang seperti berbukit-bukit luas ala savanna di perjalanan dari Sembalun menuju Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani.

Angin terasa semakin kencang. Dingin tak tertahankan lagi. Seperti biasanya para pengantar jalan, Rafiq hanya berbekal jaket biasa dan sarung. “ Baru kali ini mas anginnya sekencang ini. Minggu lalu saya mengantar tamu, tidak seperti ini,” ceritanya sembari menahan dingin dengan membungkus dirinya dengan sarung. “ Makanya saya cuma pakai celana panjang lapis satu. Tau gini sedingin ini, saya pakai dua lapis,” tambahnya sambil berjalan-jalan disekitar lokasi duduk kami di balik semak-semak.

Kurang lebih satu jam kami tersiksa dihantam kencangnya angin di puncak Gunung Prahu hingga semburat garis merah perlahan mulai terlihat. Siluet gunung dari kejauhan mulai tampak. Kabut yang menyelimutinya pun mulai terlihat. Warna hangatnya mentari mulai memenuhi permukaan rerumputan dan bunga daisy yang bertebaran di permukaan tanah. Samar-samar bangunan rumah di desa perlahan terlihat. Begitu pula dengan Telaga Warna.

Sekitar pukul 05.30, matahari mulai terlihat. Bulat seperti kuning telur mata sapi raksasa. Mulai terlihat hanya setengah hingga bulat utuhnya memenuhi siklus harian alam semesta. Semuanya terjadi hanya dalam hitungan menit. Bisa kurasakan senyumku mengembang dari balik kamera yang sedari tadi sudah kupersiapkan diatas kaki tiga. Jari-jariku yang beku sejak tiba disini sudah tidak kuhiraukan lagi. Ujung jari telunjukku sibuk menekan tombol shutter, sembari melawan kencangnya angin yang menggoyangkan kameraku.

Tidak berapa lama hingga matahari terlihat jelas dan mulai menyilaukan. Rafiq pun sibuk mengambil gambar dengan kamera dari telepon selulernya. Untuk ditunjukkan kepada tamu-tamunya, begitu katanya ketika aku mengambil gambarnya.

Saya menyambut pagi dengan perasaan senang. Ketika pagi sudah terang, terlihat jelas gunung-gunung di Jawa Tengah dan Telaga Warna yang warna hijaunya tampak kecil seperti kolam ikan yang jarang dibersihkan. Bukit-bukit yang berjejer bergelombang mengingatkanku akan serial animasi anak-anak Teletubbies. Saya berusaha untuk menjaga langkah kaki agar tidak menginjak bunga yang memiliki daun putih dan ungu ini yang banyak ditemukan di area puncak gunung ini. Jalur khusus yang dilewati pendaki memang belum tersedia disini. Jalur yang jelas berhenti diawal memasukin kawasan bukit Teletubbies ini.

Langit biru menghiasi pegunungan. Menara repeater tampak jelas di punggungan sebelah utara. Udara mulai terasa hangat. Jari-jari yang seperti beku mulai tampak memerah oleh aliran darah.

Pukul 06.30 kami bersiap untuk turun. Saya hendak mengejar bis ke Semarang pagi ini untuk kembali ke ibukota sore harinya. Berjalan dengan riang seperti anak kecil yang hendak main ke sungai beramai-ramai, tampak dari kejauhan jalur pendakian berkelok-kelok. Pemandangan menakjubkan dengan udara segar pegunungan sungguh sangat sayang untuk saya tinggalkan. Sungguh, saya tidak ingin pergi meninggalkan pagi di Gunung Prahu J




2 comments: