Ini cerita tentang pengalaman mendaki
gunung saya yang pertama sejak kepindahan saya ke ibukota tujuh bulan
lalu.
Tentu saja, Gunung Gede Pangrango adalah
tujuan saya. Gunung yang berlokasi paling dekat dengan Jakarta. Gunung yang
terletak di Jawa Barat ini seperti gunung yang wajib didaki oleh penggemar
olahraga mendaki gunung yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Lebih luas
lagi, bagi pendaki di seluruh Indonesia. Gunung ini semakin terkenal semenjak film GIE ditayangkan di layar lebar, hingga
mereka yang belum pernah mendaki gunung pun menjadi penasaran untuk mencobanya.
Sekarang, giliran saya :)
Berada di gunung atau hutan adalah salah satu dari tidak banyak hal yang membuat hati saya menjadi nyaman dan bahagian. Sejak pertama kali diperkenalkan oleh beberapa kawan lama saya, saya langsung jatuh cinta. Mendaki atau berlari di gunung dan ketinggian lalu menjadi definisi saya tentang kata nyaman :)
Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan dari setiap melakukan kegiatan pendakian gunung. Tentu saja. Bukan hal yang baru lagi. Namun, kali ini, saya belajar untuk lebih tertib administrasi. Pasalnya, untuk mendaki gunung Gede Pangrango, kita harus melakukan booking terlebih dahulu. Padahal, untuk mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah misalnya, kita tinggal datang ke Posko pendakian, mencatat data dan mebayar uang retribusi. Bila cuaca sedang bagus dan petugas Posko membolehkan, kita dapat langsung naik.
Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan dari setiap melakukan kegiatan pendakian gunung. Tentu saja. Bukan hal yang baru lagi. Namun, kali ini, saya belajar untuk lebih tertib administrasi. Pasalnya, untuk mendaki gunung Gede Pangrango, kita harus melakukan booking terlebih dahulu. Padahal, untuk mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah misalnya, kita tinggal datang ke Posko pendakian, mencatat data dan mebayar uang retribusi. Bila cuaca sedang bagus dan petugas Posko membolehkan, kita dapat langsung naik.
Untungnya, suami salah satu kawan di
tempat kerja saya adalah penduduk asli Cibodas, titik pendakian yang saya
rencanakan, sehingga bisa membantu untuk pengurusan SIMAKSI atau Surat Masuk Kawasan Konservasi sebagai syarat utama untuk
bisa melakukan pendakian. Biasanya para pendaki dapat mengurus secara
online di situs Taman Nasional Gede Pangrango, baru kemudian
melapor kembali bila sudah berada di lokasi pendakian.
| Ucapan Selamat Datang di TNGP |
Jumat sore selepas kerja, saya dan seorang
kawan dari lantai bawah gedung tempat kerja saya lalu bergegas menuju lokasi
parkir kendaraan kantor kami. Disana telah menunggu teman kantor kami dan
suaminya yang kebetulan hendak pulang ke Cibodas untuk urusan keluarga. Mereka
menawarkan untuk memberi kami tumpangan hingga Pasar Cipanas, lalu menginap
semalam di perpustakaan sederhana yang mereka dirikan untuk anak-anak di
sekitar Pasar Cipanas. Bagi kami, tentu saja ini adalah sebuah tawaran yang
tidak akan kami tolak :)
Malam itu kami tiba di Pasar Cipanas
dengan sukacita. Perjalanan padat merayap dari Jakarta menuju Bogor yang penuh
dengan kendaraan tidak membuat kami gusar. Sebaliknya di mobil kami banyak
bercanda dan bercerita, meskipun sebenarnya antara kami bukan kawan yang biasa
bergaul selepas waktu kerja. Namun, ketertarikan kami akan kegiatan luar ruang
lah yang mungkin membuat kami cepat akrab.
| Makan malam yang nikmat |
Makan malam kami adalah nasi panas, sayur
lalapan dan ikan pepes. Tak lupa sambel khas Sunda yang sungguh sangat
menggugah selera. Kalau tidak ingat besok akan mendaki gunung dan tidak mau
repot dengan urusan perut, saya bisa menghabiskan semangkok sambel nikmat itu
sendirian J. Teh panas manis terasa lebih sedap di
udara dingin seperti Cipanas
Malam ini kami tidur dengan nyenyak. Udara dingin dan sejuk malah membuat tidur kami sangat menyenangkan. Mungkin karena selama ini susah mendapatkan tidur dengan udara segar di ibukota J.
Pukul 7 pagi, kami lalu bergegas berjalan
menuju jalur angkutan yang akan membawa kami ke Pos pendakian Gunung Gede di
Cibodas. Rencananya kami akan berlari dari pos menuju puncak lalu kembali lagi
ke pos siang atau sore harinya. Dan, malam harinya, kami akan kembali lagi ke
puncak menemani rombongan kawan-kawan kami yang baru bisa datang kesini sekitar
pukul 19.00 . Rencana yang terdengar muluk-muluk, namun hanya itu satu-satunya
cara agar semua keinginan kami tercapai J. Saya bisa lari gunung dan kawan saya
bisa mendaki gunung bersama-sama tanpa harus melakukannya sendirian J
Nah, yang perlu diperhatikan adalah, dan
sebenarnya ini tidak boleh dilakukan, karena aturan mendaki gunung memerlukan
SIMAKSI dan minimal tiga orang pendaki, jadi sebenarnya pagi itu kami hanya
diperbolehkan membeli tiket menuju Air Terjun Cibeureum yang berada di kawasan
kaki gunung Gede Pangrango ini. Tidak boleh lebih dari situ. Namun, kami dengan
nakalnya, membeli tiket ke air terjun namun dalam perjalanan pulang dari air
terjun, kami berencana untuk tidak langsung turun ke pos pendakian, melainkan meneruskan
lelarian kami ke puncak gunung J. Kami sebenarnya mempunyai SIMAKSI
sehingga bisa ke puncak pagi itu juga, namun tidak kami perlihatkan karena baru
akan kami pergunakan malam ini ketika mendaki bersama kawan-kawan lainnya.
Perjalanan menuju air terjun sebenarnya
hanya berjarak sekitar 2,6 km. Namun, jalur yang berbatu dan sedikit menanjak
serta licin, sedikit menyulitkan kami untuk memilih langkah untuk berlari.
Tidak lebih dari 30 menit kami pun tiba di lokasi Air Terjun Cibeurum ini.
Segar sekali rasanya ketika membasuh muka dan menyiramkan air dingin pegunungan
keseluruh tubuh yang sedang berkeringat. Disini, saya sempat buang hajat.
Mungkin akibat dari sambal nikmat semalam J
| Pengunjung melihat hasil foto di Air Terjun Cibeureum |
Di persimpangan antara jalur ke pos
pendakian dan ke puncak, kami sempat mendiskusikan kembali apakah akan naik terus atau turun
saja. Saya lalu menyarankan untuk naik terus, bila bertemu petugas dan disuruh
kembali, mari kita kembali. Namun bila tidak, ya teruskan saja. Tentu saja hal ini tidak boleh ditiru J
Menuju ke Pos Air Panas, sungguh menyebalkan. Jalur berundak berbatu dan licin adalah jalur berlari yang selalu saya hindari. Susah untuk meletakkan pijakan yang nyaman dan lama kelamaan tapak kaki saya merasa sakit akibat benturan bebatuan ini. Saya tidak banyak berlari, hanya berjalan cepat saja.
Satu jam kemudian kami tiba di pos air
panas. Oh sungguh sangat menyenangkan sekali ketika duduk di sisi jalur
pendakian, dengan menghadap jurang menganga sembari merasakan air panas yang
keluar dari bebatuan dari tebing sisi kira. Aliran airnya cukup deras. Disini,
saya melepas sepatu. Mengambil gambar dan video kawan saya yang ternyata sebenarnya suka difoto namun terkesan malu-malu hahaha.
| Berfoto dengan malu-malu |
Sekitar 30 menit waktu kami habiskan disini. Duduk di tepi jalur, berpegangan pada kawat pembatas jurang dan menyapa para pendaki yang mulai bermunculan. Sepanjang perjalanan tadi kami memang banyak melewati rombongan pendaki dengn ransel besar mereka. Kami berlarian berlompatan dengan niat menggoda mereka dan sepertinya kami sedikit membuat mereka kesal. Setidaknya itu yang akan saya rasakan hahaha
Dengan pertimbangan bahwa jangan terlalu
bernafsu sebab malam ini kami akan kembali kesini, kami putuskan untuk turun.
Mencari makan enak dan duduk-duduk hingga sore hari menikmati senja dari Pasar
Cipanas.
Sore itu kami habiskan dengan duduk santai
di beranda belakang perpustakaan sembari berbincang-bincang dengan beberapa
pemuda yang menjadi relawan disitu, dengan teh panas manis. Mendengarkan cerita mereka dengan bermain dengan anak-anak yang datang ke perpustakaan atau sekedar bercengkrama dengan remaja-remaja sekitar pasar, sungguh membuatku berpikir bahwa masih ada celah untuk menyelamatkan negara ini dari para pengurus negara yang tidak becus itu. Hhh..Udara sejuk
membelai kulit kami. Sungguh, sore yang menyenangkan.
Selepas maghrib, kawan-kawan kami mulai
bermunculan. Mereka menjemput kami di perpustakaan dan langsung menuju Posko
pendakian di Cibodas. Setelah memarkir kendaraan di kawasan Posko pendakian,
kami lalu mulai berjalan dengan ransel-ransel kami. Dari keterangan di Posko,
malam ini hanya tim kami yang memulai pendakian. Kebanyakan sudah mulai mendaki
sedari pagi. Saya hanya mengangguk-angguk mengiyakan padahal dalam hati berkata
tentu saja saya tahu, kan saya baru dari atas pagi tadi hihihi
Berjalan dengan ransel di punggung sudah
lama tidak saya lakukan. Terakhir ketika melakukan pendakian ke Gunung Merapi
tahun 2010, tepat lima bulan sebelum Merapi meletus dan meluluhlantakkan kota
Jogjakarta dan sekitarnya. Mendaki gunung sekarang banyak saya lakukan dengan
cara berlari sehingga perbekalan dan perlengkapan pun secukupnya. Kini, saya
berjalan dengan perlahan dan sedikit tidak sabar hahaha.
Tiba di pos air panas saya putuskan
beristirahat selama 30 menit. Kami lalu bertemu dengan beberapa tim pendaki
yang sudah terlebih dahulu tiba dan mendirikan tenda. Mereka lalu menawarkan
untuk menikmati teh dan kopi panas bersama-sama. Di gunung, kita adalah
saudara, bukan? Di gunung, kita akan selalu mendapatkan kehangatan dari
persaudaran dalam udara yang dingin menusuk seperti ini.
| Pos Air Panas |
Begitu dia menjawab pertanyaanku tentang
angkatan sekolah dasarnya, serta merta aku menyorotkan lampu senterku ke
wajahnya dan bertanya namamu xxx siapa lengkapnya? Dia pun menyorotkan lampu
senternya ke wajahku dan bertanya namamu xxx siapa lengkapnya? Setelah kami
saling menyebutkan nama lengkap, tertawalah kami terbahak-bahak. Ternyata kami
adalah kawan sekelas sewaktu Sekolah Dasar hahaha. Kami lalu berdiri dan saling
berangkulan erat. Meskipun bukan kawan dekat semasa SD dulu tapi kami cukup
saling mengenal. Dia terkenal sebagai anak yang jago beladiri dan cukup sering
berkelahi dengan anak SD lain haha. Dan seperti bisa ditebak. kawan-kawan kami
lalu tertawa terbahak-bahak melihat drama yang terjadi di hadapan mereka. Kami
lalu berfoto selayaknya anak hilang yang akhirnya bertemu J.
Sungguh suatu pengalaman yang tidak
terduga. lebih dari 20 tahun tidak berjumpa dan kami bertemu muka di gelapnya
malam dan dinginnya udara Gunung Gede Pangrango. Alam bekerja dengan
mengejutkan bukan?
Kami pun lalu melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 3 pagi, kami tiba di lokasi
perbatasan vegetasi hutan dan kawasan puncak dengan kawah dan jalur
berpasirnya. Kami putuskan untuk berhenti disini, beristirahat sembari menunggu
waktu matahari terbit. Bekal makan malam yang kami bawa lalu ludes habis masuk
ke dalam perut lapar kami. Perasaan kami jadi lebih baik setelah perut terisi
penuh J
Perjalanan menuju puncak Gunung Gede
adalah melalui jalur berpasir dan menyisiri kawah. Sisi kawah sudah diberi
pengaman pagar pembatas untuk mengurangi risiko pendaki tergelincir dan masuk
ke dalam kawah.
| Menyisiri puncak gunung gede |
Pukul 4 pagi kami mulai berjalan menuju
puncak. Rupanya sudah banyak sekali orang diatas. Beberapa tenda bahwa di
dirikan di jalur pendakian sehingga menyulitkan untuk berjalan. Tidak berapa
lama, dari sisi kiri kami, cahaya kemerahan mulai muncul dari garis horizon.
Senyumku mulai mengembang dan mencoba menyesap nikmatnya udara dan rasa nyaman
yang mulai masuk ke dalam hati.
| Kawah gunung Gede |
Di puncak gunung, langit tampak cerah.
Biru. Gunung Pangrango tampak jelas. Lebat oleh pepohonan. Alun-alun Suryakencana
pun terlihat indah dengan tanaman edelweiss nya. Warna warni tenda yang
berjejer di camping ground memberi
kesan menarik.
| Tenda warna warni dari Puncak Gunung Gede |
Setujuu...Naek gunung itu emang "candu" meskipun medan berat selalu saja menimbulkan hasrat utk lagi..dan lagi mengexplore keindahan alamnya dari ketinggian
ReplyDeletetiap perjalanan naik, pasti nyesel karena capek :) tapi pas udah diatas, males turun hehehe
Delete