Wednesday, October 30, 2013

Karena Mendaki Gunung adalah Candu

Ini cerita tentang pengalaman mendaki gunung saya yang pertama sejak kepindahan saya ke ibukota tujuh bulan lalu. 

Tentu saja, Gunung Gede Pangrango adalah tujuan saya. Gunung yang berlokasi paling dekat dengan Jakarta. Gunung yang terletak di Jawa Barat ini seperti gunung yang wajib didaki oleh penggemar olahraga mendaki gunung yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Lebih luas lagi, bagi pendaki di seluruh Indonesia. Gunung ini  semakin terkenal semenjak film GIE ditayangkan di layar lebar, hingga mereka yang belum pernah mendaki gunung pun menjadi penasaran untuk mencobanya. Sekarang, giliran saya :)

Berada di gunung atau hutan adalah salah satu dari tidak banyak hal yang membuat hati saya menjadi nyaman dan bahagian. Sejak pertama kali diperkenalkan oleh beberapa kawan lama saya, saya langsung jatuh cinta. Mendaki atau berlari di gunung dan ketinggian lalu menjadi definisi saya tentang kata nyaman :)

Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan dari setiap melakukan kegiatan pendakian gunung. Tentu saja. Bukan hal yang baru lagi. Namun, kali ini, saya belajar untuk lebih tertib administrasi. Pasalnya, untuk mendaki gunung Gede Pangrango, kita harus melakukan booking terlebih dahulu. Padahal, untuk mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah misalnya, kita tinggal datang ke Posko pendakian, mencatat data dan mebayar uang retribusi. Bila cuaca sedang bagus dan petugas Posko membolehkan, kita dapat langsung naik.

Untungnya, suami salah satu kawan di tempat kerja saya adalah penduduk asli Cibodas, titik pendakian yang saya rencanakan, sehingga bisa membantu untuk pengurusan SIMAKSI atau Surat Masuk Kawasan Konservasi sebagai syarat utama untuk bisa melakukan pendakian. Biasanya para pendaki dapat mengurus secara online di situs Taman Nasional Gede Pangrango, baru kemudian melapor kembali bila sudah berada di lokasi pendakian.

Ucapan Selamat Datang di TNGP

Ya, kawasan Gunung Gede Pangrango adalah termasuk kawasan konservasi yang mengharuskan pengunjung untuk memiliki surat masuk khusus sebagai bentuk pertanggungjawaban kita bila masuk dan beraktivitas di kawasan yang mendapat perlindungan khusus dari pemerintah. Hal yang serupa pun pernah saya alami ketika ingin mendaki Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan menjelajahi Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara.

Jumat sore selepas kerja, saya dan seorang kawan dari lantai bawah gedung tempat kerja saya lalu bergegas menuju lokasi parkir kendaraan kantor kami. Disana telah menunggu teman kantor kami dan suaminya yang kebetulan hendak pulang ke Cibodas untuk urusan keluarga. Mereka menawarkan untuk memberi kami tumpangan hingga Pasar Cipanas, lalu menginap semalam di perpustakaan sederhana yang mereka dirikan untuk anak-anak di sekitar Pasar Cipanas. Bagi kami, tentu saja ini adalah sebuah tawaran yang tidak akan kami tolak :)

Malam itu kami tiba di Pasar Cipanas dengan sukacita. Perjalanan padat merayap dari Jakarta menuju Bogor yang penuh dengan kendaraan tidak membuat kami gusar. Sebaliknya di mobil kami banyak bercanda dan bercerita, meskipun sebenarnya antara kami bukan kawan yang biasa bergaul selepas waktu kerja. Namun, ketertarikan kami akan kegiatan luar ruang lah yang mungkin membuat kami cepat akrab.

Makan malam yang nikmat
Makan malam kami adalah nasi panas, sayur lalapan dan ikan pepes. Tak lupa sambel khas Sunda yang sungguh sangat menggugah selera. Kalau tidak ingat besok akan mendaki gunung dan tidak mau repot dengan urusan perut, saya bisa menghabiskan semangkok sambel nikmat itu sendirian J. Teh panas manis terasa lebih sedap di udara dingin seperti Cipanas



Malam ini kami tidur dengan nyenyak. Udara dingin dan sejuk malah membuat tidur kami sangat menyenangkan. Mungkin karena selama ini susah mendapatkan tidur dengan udara segar di ibukota J.

Pukul 7 pagi, kami lalu bergegas berjalan menuju jalur angkutan yang akan membawa kami ke Pos pendakian Gunung Gede di Cibodas. Rencananya kami akan berlari dari pos menuju puncak lalu kembali lagi ke pos siang atau sore harinya. Dan, malam harinya, kami akan kembali lagi ke puncak menemani rombongan kawan-kawan kami yang baru bisa datang kesini sekitar pukul 19.00 . Rencana yang terdengar muluk-muluk, namun hanya itu satu-satunya cara agar semua keinginan kami tercapai J. Saya bisa lari gunung dan kawan saya bisa mendaki gunung bersama-sama tanpa harus melakukannya sendirian J

Nah, yang perlu diperhatikan adalah, dan sebenarnya ini tidak boleh dilakukan, karena aturan mendaki gunung memerlukan SIMAKSI dan minimal tiga orang pendaki, jadi sebenarnya pagi itu kami hanya diperbolehkan membeli tiket menuju Air Terjun Cibeureum yang berada di kawasan kaki gunung Gede Pangrango ini. Tidak boleh lebih dari situ. Namun, kami dengan nakalnya, membeli tiket ke air terjun namun dalam perjalanan pulang dari air terjun, kami berencana untuk tidak langsung turun ke pos pendakian, melainkan meneruskan lelarian kami ke puncak gunung J. Kami sebenarnya mempunyai SIMAKSI sehingga bisa ke puncak pagi itu juga, namun tidak kami perlihatkan karena baru akan kami pergunakan malam ini ketika mendaki bersama kawan-kawan lainnya.

Perjalanan menuju air terjun sebenarnya hanya berjarak sekitar 2,6 km. Namun, jalur yang berbatu dan sedikit menanjak serta licin, sedikit menyulitkan kami untuk memilih langkah untuk berlari. Tidak lebih dari 30 menit kami pun tiba di lokasi Air Terjun Cibeurum ini. Segar sekali rasanya ketika membasuh muka dan menyiramkan air dingin pegunungan keseluruh tubuh yang sedang berkeringat. Disini, saya sempat buang hajat. Mungkin akibat dari sambal nikmat semalam J
Pengunjung melihat hasil foto di Air Terjun Cibeureum


Di persimpangan antara jalur ke pos pendakian dan ke puncak, kami sempat mendiskusikan kembali apakah akan naik terus atau turun saja. Saya lalu menyarankan untuk naik terus, bila bertemu petugas dan disuruh kembali, mari kita kembali. Namun bila tidak, ya teruskan saja.  Tentu saja hal ini tidak boleh ditiru J



Menuju ke Pos Air Panas, sungguh menyebalkan. Jalur berundak berbatu dan licin adalah jalur berlari yang selalu saya hindari. Susah untuk meletakkan pijakan yang nyaman dan lama kelamaan tapak kaki saya merasa sakit akibat benturan bebatuan ini. Saya tidak banyak berlari, hanya berjalan cepat saja.

Satu jam kemudian kami tiba di pos air panas. Oh sungguh sangat menyenangkan sekali ketika duduk di sisi jalur pendakian, dengan menghadap jurang menganga sembari merasakan air panas yang keluar dari bebatuan dari tebing sisi kira. Aliran airnya cukup deras. Disini, saya melepas sepatu. Mengambil gambar dan video kawan saya yang ternyata sebenarnya suka difoto namun terkesan malu-malu hahaha.
Berfoto dengan malu-malu

Sekitar 30 menit waktu kami habiskan disini. Duduk di tepi jalur, berpegangan pada kawat pembatas jurang dan menyapa para pendaki yang mulai bermunculan. Sepanjang perjalanan tadi kami memang banyak melewati rombongan pendaki dengn ransel besar mereka. Kami berlarian berlompatan dengan niat menggoda mereka dan sepertinya kami sedikit membuat mereka kesal. Setidaknya itu yang akan saya rasakan hahaha      
Dengan pertimbangan bahwa jangan terlalu bernafsu sebab malam ini kami akan kembali kesini, kami putuskan untuk turun. Mencari makan enak dan duduk-duduk hingga sore hari menikmati senja dari Pasar Cipanas.

Sore itu kami habiskan dengan duduk santai di beranda belakang perpustakaan sembari berbincang-bincang dengan beberapa pemuda yang menjadi relawan disitu, dengan teh panas manis. Mendengarkan cerita mereka dengan bermain dengan anak-anak yang datang ke perpustakaan atau sekedar bercengkrama dengan remaja-remaja sekitar pasar, sungguh membuatku berpikir bahwa masih ada celah untuk menyelamatkan negara ini dari para pengurus negara yang tidak becus itu. Hhh..Udara sejuk membelai kulit kami. Sungguh, sore yang menyenangkan.

Selepas maghrib, kawan-kawan kami mulai bermunculan. Mereka menjemput kami di perpustakaan dan langsung menuju Posko pendakian di Cibodas. Setelah memarkir kendaraan di kawasan Posko pendakian, kami lalu mulai berjalan dengan ransel-ransel kami. Dari keterangan di Posko, malam ini hanya tim kami yang memulai pendakian. Kebanyakan sudah mulai mendaki sedari pagi. Saya hanya mengangguk-angguk mengiyakan padahal dalam hati berkata tentu saja saya tahu, kan saya baru dari atas pagi tadi hihihi

Berjalan dengan ransel di punggung sudah lama tidak saya lakukan. Terakhir ketika melakukan pendakian ke Gunung Merapi tahun 2010, tepat lima bulan sebelum Merapi meletus dan meluluhlantakkan kota Jogjakarta dan sekitarnya. Mendaki gunung sekarang banyak saya lakukan dengan cara berlari sehingga perbekalan dan perlengkapan pun secukupnya. Kini, saya berjalan dengan perlahan dan sedikit tidak sabar hahaha.

Tiba di pos air panas saya putuskan beristirahat selama 30 menit. Kami lalu bertemu dengan beberapa tim pendaki yang sudah terlebih dahulu tiba dan mendirikan tenda. Mereka lalu menawarkan untuk menikmati teh dan kopi panas bersama-sama. Di gunung, kita adalah saudara, bukan? Di gunung, kita akan selalu mendapatkan kehangatan dari persaudaran dalam udara yang dingin menusuk seperti ini.

Pos Air Panas
Ada hal yang mengejutkan terjadi di pos air panas ini. Dalam kondisi gelap gulita dan penerangan seadanya dengan lampu senter, ketika kami sedang menikmati obrolan dengan kawan-kawan baru kami tersebut, salah satu diantaranya memperkenalkan diri sebagai orang Sulawesi yang sudah lama tinggal di Tangerang. Saya pun lalu menyebutkan bahwa saya sama dengannya, asli Sulawesi namun sudah lama tinggal di pulau Jawa. Kawan tersebut pun hanya sekedar ooohh. Begitu pula ketika dia menyebutkan bahwa dia asli Sulawesi Tenggara dan tinggal di sekitar Wua-Wua, sebuah kecamatan di bagian Kendari atas. Masih hal yang biasa. Namun, begitu dia menyebutkan bahwa dulu sekolah di Sekolah Dasar ini dan SMP ini, dahiku mulai mengernyit. Karena saya pun berasal dari Sekolah Dasar yang sama.

Begitu dia menjawab pertanyaanku tentang angkatan sekolah dasarnya, serta merta aku menyorotkan lampu senterku ke wajahnya dan bertanya namamu xxx siapa lengkapnya? Dia pun menyorotkan lampu senternya ke wajahku dan bertanya namamu xxx siapa lengkapnya? Setelah kami saling menyebutkan nama lengkap, tertawalah kami terbahak-bahak. Ternyata kami adalah kawan sekelas sewaktu Sekolah Dasar hahaha. Kami lalu berdiri dan saling berangkulan erat. Meskipun bukan kawan dekat semasa SD dulu tapi kami cukup saling mengenal. Dia terkenal sebagai anak yang jago beladiri dan cukup sering berkelahi dengan anak SD lain haha. Dan seperti bisa ditebak. kawan-kawan kami lalu tertawa terbahak-bahak melihat drama yang terjadi di hadapan mereka. Kami lalu berfoto selayaknya anak hilang yang akhirnya bertemu J.

Sungguh suatu pengalaman yang tidak terduga. lebih dari 20 tahun tidak berjumpa dan kami bertemu muka di gelapnya malam dan dinginnya udara Gunung Gede Pangrango. Alam bekerja dengan mengejutkan bukan?
  
Kami pun lalu melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 3 pagi, kami tiba di lokasi perbatasan vegetasi hutan dan kawasan puncak dengan kawah dan jalur berpasirnya. Kami putuskan untuk berhenti disini, beristirahat sembari menunggu waktu matahari terbit. Bekal makan malam yang kami bawa lalu ludes habis masuk ke dalam perut lapar kami. Perasaan kami jadi lebih baik setelah perut terisi penuh J

Perjalanan menuju puncak Gunung Gede adalah melalui jalur berpasir dan menyisiri kawah. Sisi kawah sudah diberi pengaman pagar pembatas untuk mengurangi risiko pendaki tergelincir dan masuk ke dalam kawah.
Menyisiri puncak gunung gede


Pukul 4 pagi kami mulai berjalan menuju puncak. Rupanya sudah banyak sekali orang diatas. Beberapa tenda bahwa di dirikan di jalur pendakian sehingga menyulitkan untuk berjalan. Tidak berapa lama, dari sisi kiri kami, cahaya kemerahan mulai muncul dari garis horizon. Senyumku mulai mengembang dan mencoba menyesap nikmatnya udara dan rasa nyaman yang mulai masuk ke dalam hati.

Kawah gunung Gede
Dan kini, kami sudah tiba di puncak. Ramai seperti orang sedang menunggu pintu konser musik dibuka. Bahkan di beberapa titik terlihat penduduk lokal menjajakan panganan untuk sarapan seperti gorengan, mi instan, kopi dan teh bahkan nasi bungkus hahaha. Sungguh, sebuah pelajaran baru bagiku. Lain kali, tidak perlu membawa perbekalan bila mendaki Gunung Gede Pangrango pada akhir pekan. Cukup bawa uang dan beli sarapan di puncak nya hahaha.

Di puncak gunung, langit tampak cerah. Biru. Gunung Pangrango tampak jelas. Lebat oleh pepohonan. Alun-alun Suryakencana pun terlihat indah dengan tanaman edelweiss nya. Warna warni tenda yang berjejer di camping ground memberi kesan menarik.
Tenda warna warni dari Puncak Gunung Gede
Saya percaya, setiap manusia, meskipun mereka yang mempunyai ketakutan akan tempat tinggi, pasti menikmati pemandangan dari ketinggian, setidaknya bila hanya menyaksikannya dari layar televisi. Semua orang pasti akan berdecak kagum bila melihat tayangan ekspedisi pendakian di National Geographic atau Jejak Petualang. Semua orang pasti memilih duduk di kursi jendela bila naik pesawat. Semua karena manusia, entah mengapa, menyukai melihat sesuatu dari ketinggian. Pemandangan dari lereng dan puncak Gunung Sindoro di Jawa Tengah yang kusaksikan sekitar 15 tahun lalu, pada pendakian gunung pertamaku, tidak pernah hilang dari ingatanku. Hal itu lah yang membuatku terus melakukan pendakian gunung-gunung dimanapun aku berada. Karena bagiku, berada di atas gunung dan ketinggian adalah candu. 



2 comments:

  1. Setujuu...Naek gunung itu emang "candu" meskipun medan berat selalu saja menimbulkan hasrat utk lagi..dan lagi mengexplore keindahan alamnya dari ketinggian

    ReplyDelete
    Replies
    1. tiap perjalanan naik, pasti nyesel karena capek :) tapi pas udah diatas, males turun hehehe

      Delete