Sunday, January 12, 2014

Nanjaks di kota Semarang

Jadi, masih tentang LibuRun.

Kali ini saya mencoba menjajaki jalur yang sebenarnya sudah lama ingin saya coba semenjak tahun-tahun yang saya habiskan di Semarang. Kawasan rimbun yang menjadi tempat pelarian saya entah sekedar melemaskan kaki atau kemping di tepi sungai bila sedang kangen pada gunung hutan namun sedang tidak bisa bepergian mendaki gunung :) 
Jalan paving menuju ke areal perkebunan

Di daerah Banyumanik atau Semarang atas, dimulai dari SPBU Sukun, menyeberang masuk ke gang disamping warung bakso pak ratno, ikuti jalan terus menurun hingga menemukan undak-udakan (agak licin) menuju ke perkebunan yang ditandai dengan pagar pembatas. Jalan menurun bercampur dengan undak-undakan semen yang sudah mulai rusak dan tanah dimulai dari sini. Langkah harus diperhatikan dengan baik bila tidak ingin tergelincir oleh lumut yang menempel di bebatuan. Apalagi di musim hujan. 

Disini, jalan lalu berbeluk turun sedikit tajam menuju ke arah kiri yaitu ke sungai. Berkelok hingga mencapai ujung jembatan besi yang sudah mulai dimakan usia. Dibawahnya mengalir sungai yang cukup deras bila sedang musim hujan. Sungai yang berasal dari daerah Ungaran hingga ke tengah kota Semarang. Airnya coklat dan berbuih. Saya sedikit mencurigainya sudah tercemar oleh limbah perumahan atau pabrik yang dilaluinya.  
jalan menurun

Di tepian sungai, saya menemukan suasana yang sungguh sangat berbeda. Seperti dua sisi mata uang, kurang dari 10 menit yang lalu, saya berada di hiruk pikuknya manusia dan kendaraan mulai dari roda dua hingga roda delapan atau 16. Sekarang, saya merasa damai hanya dengan warna hijau, suara air dan ketenganan yang menyenangkan hati. 
jalan menurun sebelum masuk ke sungai
sungai dan jembatan
Di tepian sungai ini saya pernah menghabiskan waktu hanya berjalan-jalan santai atau kemping satu malam bersama beberapa kawan. Saya sudah lupa kapan pertama kali datang ke lokasi ini. Sudah lama sekali. Tidak ada yang istimewa seperti halnya obyek wisata sungai yang biasanya bisa dibuat memasak atau sekedar berenang berendam. Namun, bila kau sudah mencintai alam terbuka, hanya sekedar duduk manis diam di taman hutan kota di kawasan perumahan elit dan ramai seperti BSD di Tangerang Selatan pun, akan terasa damai :) 
Ini di Semarang lho!

Pagi itu saya berlari dengan hati yang riang. Sepatu yang basah oleh embun dari rerumputan atau dedaunan, semangat yang mencoba mengurangi otot kaki dan nafas yang mulai menggoda hati untuk berhenti atau berjalan. Tanjakan berliku, licin dan benar-benar miring ini membuat saya harus bekerja ekstra keras :) 

Namun, semua orang setuju bahwa pemandangan dari atas itu indah. Meskipun tidak semua orang mau melakukannya, mendaki gunung adalah kegiatan yang diakui atau tidak, adalah salah satu kegiatan yang banyak menjadi bucket list setiap manusia. Kembali ke alam, istilah kerennya. Melihat pemandangan dari atas gunung atau bukit setelah bekerja keras berjalan atau berlari, itu seperti setengah mati menunggu Sate Klathak Pak Pong dihidangkan. Sebandinglah hahaha. 

tampak sungai dari lereng bukit
Sembari mengambil gambar, saya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Betapa kebahagiaan itu sebenarnya sederhana. Pergilah ke alam dan tanpa alasan apapun, kau akan tersenyum bahagia. Dari hati. 

Dulu, ketika saya masih suka menghabiskan waktu ditepian sungai itu, belum pernah sekalipun saya mencoba untuk mendaki hingga disini. Berlatih boulder atau panjat tebing dibeberapa titik di tepi sungai saat itu masih menjadi tujuan. Bersama beberapa orang karib, kami menyusur sungai mencari titik-titik tebing yang bisa kami rayapi dengan teknik boulder atau memanjat tanpat peralatan, karena ketinggiannya tidak lebih dari 3-4 meter dari permukaan tanah. 

musim rambutan
Lelarian lalu saya lanjutkan hingga puncak bukit yang membawa saya ke perkampungan Patebon, Gunung Pati. Jalur yang tadi saya lewati sebenarnya adalah jalur cepat bila masyarkat ingin menuju ke Semarang atas tanpa harus memutar, namun tidak banyak orang mau menggunakannya. Terjal dan licin adalah alasan orang lebih memilih berputar menuju UNNES, turun ke Sampangan lalu menuju ke Semarang kota. Jalur itulah yang rencananya pagi ini akan saya jajaki dengan berlari :) 

Disini, saya mulai mencari-cari jalan tembus ke jalur utama Ungaran- UNNES. Saya tidak lagi lari dengan ritme biasa namun lebih banyak jalan sembari lirik kanan dan kiri mencari tahu apakah ada orang yang bisa ditanya arah. Setelah bertanya dan bertanya serta mengikuti arah yang diberikan, saya pun tiba di jalur utama yang saya cari. Berikutnya adalah mencari tahu apakah belok ke kanan atau ke kiri. Disini saya sempat menunggu agak lama karena tidak ada satu orang pun yang bisa saya tanya hingga kemudian seorang bapak dan pemuda lewat menggunakan motor dan saya cegat dengan melambaikan tangan sembari sedikit berteriak arah UNNES? arah UNNES? hahaha 

Lelarian lalu mulai masuk ke kawasan jalan raya. Telinga saya mulai bawel. "kenapa nggak muter-muter aja di kawasan hutan tadi sih?" atau pikiran saya mulai ikut-ikutan "balik lagi aja, menyisir sungai sampe ke Ungaran!" beragam macam godaan datang ketika saya merasa kaget terkena sambaran angin motor atau mobil yang melaju sedikit kencang karena jalanan masih sepi. 

Tibalah di kawasan Universitas Negeri Semarang. Saya dulu sekali, sekitar 13-14 tahun lalu pernah beberapa kali ke daerah sini. Ada kawan kuliah yang tinggal di sekitar sini. Tapi saya sudah lupa dimana. 

bangunan tinggi itu adalah jalur saya nanti :)
Jalur berikutnya adalah jalur menurun menuju Jembatan Besi Sampangan. Pemandangannya menyenangkan. Bangunan di kota Semarang bawah tampak seperti rumah-rumah monopoli. Sekali lagi, kendaraan bermotor yang mulai rame memaksa saya berlari di luar aspal. Sisi jalan yang berumput, bebatuan adalah lebih baik daripada diatas aspal namun berisiko disambar mobil atau motor. 

Beberapa pengendara yang melewati saya atau pun dari arah berlawanan seperti melirik sekilas (bukan geer tapi memang kelihatan hahaha) mungkin berpikir ada orang aneh sedang lelarian melintas tanjakan yang bahkan motor pun ogah-ogahan. Anak-anak kecil yang sedang berdiri berombongan di tepi jalan pun tertawa malu-malu ketika kuambil gambarnya :)

Gunung Sumbing dan Sindoro tampak damai :)
Saya tidak ingat dulu jalur ini seperti apa, namun saya yakin bahwa dulu jalur ini hijau! Rimbun dengan pepohonan di kiri kanannya. Membuat saya sedikit takut kalau mau berkendara naik motor sendirian. Kini? gerbang masuk perumahan sudah seperti saling berlomba untuk meramaikan jalanan menanjak ini :| 

Tiba di Jembatan Besi Sampangan, saya berbelok masuk ke toko swalayan. Sekedar membasahi tenggoroan dengan minuman dingin dan sepotong coklat :) Tidak lama, sekitar 10 menit kemudian lelarin saya lanjutkan berbelok menuju jalur Tinjomoyo-UNIKA-Jatingaleh atau jalur menanjak perlahan hahaha 

jalanan rimbun 
Jalur ini tidak begitu menyenangkan karena jalannya sempit, hampir tidak menyisakan tempat untuk pejalan kaki. Berlari dengan track menanjak bersaing dengan angkutan umum dan motor bukan hal yang menyenangkan. Untungnya di beberapa titik, jalur ini masih sedikit rimbun dengan kelompok bambu besar-besar di tepi jalan.

Dari sini tanjakan panjang dan melelahkan dimulai. Setelah lelarian kurang lebih satu jam, jalur nanjak seperti ini, seperti hendak memijat kaki saya lebih keras. 
Hingga tiba di Jatingaleh, saya beristirahat sejenak, mulai menikmati keruwetan jalan raya, kendaraan bising membunyikan klakson karena pengendara yang tidak sabar, atau asap yang keluar dari saluran pembuangan mobil dan motor. Tetapi sesungguhnya, saya sedang mengumpulkan semangat untuk lari menuju tanjakan Gombel.

Bahkan kendaraan pun seperti dipaksa bekerja lebih keras bila melewati Tanjakan Gombel ini. Kawan saya pernah cerita ketika bersepeda pertama kali disini, dia berhenti di tengah-tengah dan muntah :D . Saya tidak mau seperti itu. Jadilah perlahan-lahan saya berlari melawan arah karena tidak ingin ditabrak dari belakang oleh kendaraan yang pasti terburu-buru ingin segera tiba diujung tanjakan. 

Tiba diatas, kaki saya seperti gemetaran. Keringat bercucuran. Saya curiga, pencinta olahraga lari jauh seperti marathoners atau ultra trail runners itu adalah bentuk sadomasokis terselubung. Raga tersiksa namun hati gembira.

pasar tradisional di sudut kota
Godaan untuk naik angkutan sampai ke titik awal saya tadi terus terang sangat besar hahaha. Apalagi mengingat sekitar 1,5 jam lagi saya sudah ada berjanji untuk pergi bersama ibu. Akhirnya, saya teruskan untuk berlari hingga sekitar 2.5K sebelum tiba di rumah. 2.5K terakhir saya putuskan untuk naik angkutan hahahaha. Itulah mengapa saya hanya menyelesaikan 18.5K lari pagi ini. Tidak 21k seperti yang saya harapkan :) 

18.5K

6 comments:

  1. Wow ternyata ada trek menarik start dari banyumanik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang ini startnya dari pom bensin sukun lalu menyeberang masuk ke perkampungan

      Delete
  2. Di dekitar undip atau ke timur ada trek trail lainkah? Maklum pendatang. Rumahku sendangmulyo biasanya ambil rute sendangmulyo-pandanaran hill-sigarbencah-kecamatan tembalang. Tapi road, bukan trail, nasip, berbagi jalan sama asep kendaraan. Tapi alkhamdulilllah kendaraan g gitu ramai n lumayan teduh.

    ReplyDelete
  3. Halo Satrian. Di sekitar UNDIP ada jalur menarik. Biasanya saya start di pom bensin dekat gedung GSG. lalu ke arah fakultas ekonomi lewat jalan yang rimbun pepohonan samping jalan tol trus ke rumah sakit belok kiri ke kawasan latihan tempur TNI. trus muter2 disana. ini ada peta nya di tulisan ini

    http://gununghutanketinggian.blogspot.com/2013/12/trail-running-curhat-galau.html

    Sudah gabung sama teman-teman Semarang Runners? Mereka tau lokasi-lokasi lari yang enak di Semarang

    ReplyDelete
  4. Belum dan pengen banget. Udah dapet pin bb dari semarangrunner. Sebelum puasa ada agenda lari kemana? Thanks ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tinggal di luar Semarang sekarang. Lelarian di Semarang cuma kalau pas mudik aja.

      Delete