Dulu, sekitar tahun 2005, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Bogor. Ketika itu saya menghadiri undangan kegiatan untuk tempat saya bekerja saat itu. Berangkat dari Semarang dengan kereta, saya turun di Stasiun Besar Gambir dan langsung berganti tujuan menuju Kota Bogor dengan menggunakan kereta Pakuan Ekspress. Saya ingat, saat itu harganya tiketnya sekitar IDR 11.000. Nantinya di Stasiun Bogor, saya akan dijemput kawan kuliah saya dulu dan rencananya dia akan mengantar saya berkeliling kota Hujan ini hingga malam hari sebelum acara saya dimulai.
Perjalanan dengan Pakuan Ekspress itu cukup memberi kesan. Entah karena itu adalah perjalanan pertama saya dengan kereta rel listrik atau suasana didalamnya seperti yang suka saya lihat di dalam film-film barat. Juga seperti mengingatkan saya ketika kurang lebih sebulan di Korea Selatan bersama karib-karib saya :) Meski sekarang kereta yang diberi nama dari nama ibukota kerajaan Sunda saat itu, kini sudah tidak ada lagi, namun moda transportasi "ular besi" ini tetap beroperasi dengan nama baru menjadi Commuter Line, yang melayani jalur Jakarta-Bogor setiap harinya.
Suatu hari, saya bermaksud untuk menyambangi Kebun Raya Bogor. Tempat suaka saya dari kebisingan dan hiruk pikuk ibukota.
| ibu-ibu terlihat menyeberang rel kereta |
Tiba di Stasiun Tanah Abang pun tidak sulit. Tinggal berganti ke jalur no 3 lalu menunggu setiap 30an menit, kereta ke Bogor pun datang :) . Perjalanan dari sini menuju Stasiun Bogor sekitar 1 jam 10 menit. Mau membandingkan dengan perjalanan mobil atau bus? sekitar 60 km? Jawab sendiri ya :)
| Tertidur sambil menikmati goncangan kereta seperti ayunan bayi :) |
Perjalanan dengan kereta selalu mengesankanku. Entah kenapa sejak dulu selalu begitu. Sejak pertama kali naik kereta sekitar 14 tahun yang lalu, saat kepindahanku pertama kali ke Pulau Jawa, alat transportasi ini telah mencuri hatiku. Duduk tenang membaca buku atau memperhatikan orang-orang. Atau sekedar ngobrol dengan teman seperjalanan atau baru dikenal, semuanya hal-hal yang selalu saya suka.
Ada sekitar lebih kurang 20 stasiun yang saya lewati sebelum akhirnya berhenti di Stasiun Bogor. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih sekitar IDR 8.000! Seandainya saja Jawa-Sumatera atau Jawa-Madura atau Jawa-Bali dapat dilewati oleh kereta api, niscaya liburan ke Bali tidak lagi hanya didominasi dengan berburu tiket pesawat terbang, namun juga berburu tiket kereta api :)
Setiap hari, sekitar 400 ribuan manusia menggunakan KRL. Semua dengan alasan yang sama. Cepat dan murah. Sama seperti orang selalu mencari tempat makan yang enak dan murah hehehe
| Pegangan bila tidak mendapat tempat duduk |
Kereta ini, dalam satu perjalanan, biasanya terdiri dari delapan gerbong. Gerbong paling depan dan belakang dikhusukan untuk penumpang perempuan. Hmm..Aturan ini mulai diberlakukan semenjak maraknya pelecehan terhadap penumpang perempuan. Namun semenjak terjadi kecelakaan tabrakan KRL dengan truk pengangkut bahan bakar milik Pertamina, entahlah apakah aturan ini akan ditinjau ulang atau tidak. Istri saya suka berkelakar tentang aturan ini. Menurutnya. lebih nyaman naik gerbong campuran karena lelaki suka ngasih kursinya buat perempuan. Tapi kalau di gerbong perempuan, mungkin karena sesamanya, nggak pernah dikasih. Jadi, mending naik gerbong campuran dengan risiko bau keringat laki-laki hahahaha
Hal lain yang selalu saya sukai ketika naik kereta adalah melihat pemandangan dari balik jendela. Gubuk reyot di sekitar rel kereta kontras dengan gedung-gedung pencakar langi dari kejauhan. Pakaian dijemur diatas kerikil rel. Anak kecil bermain di tepi rel. Semuanya seperti rol film yang bergerak.
| Hidup itu bekerja keras! |
| Seperti parasit yang menempel pada tanaman |
Obrolan pun mengalir. Bapak tersebut adalah petani yang baru saja kembali dari Pasar Tanah Abang menjual hasil taninya. Sayuran dan buah-buahan. Beliau pun menceritakan kisah hidupnya, suka duka menjadi petani seolah-seolah didahi saya tertera jelas tulisan "Silahkan Curhat" hahaha Sungguh menyenangkan :)
Kereta lalu tiba di Stasiun Bogor. Saya lalu bersiap-siap untuk menikmati Kebun Raya Bogor. Siap untuk meresapi kesunyian dan rimbunnya pepohonan :)
| Stasiun Bogor |
motret di pulic area macam CL pake apa,kak? saya pernah dilirik sinis oleh pengguna CL karena lupa silent shutter sound :p
ReplyDeleteEtikanya sih minta ijin dulu atau kalau candid, trus ketahuan, kasih senyum manis aja atau tunjukin hasil gambarnya. Kalau ngamuk, ya hapus aja :D. Saya sih pakai kamera poket aja hahaha
ReplyDelete